Meli yang kepo dengan siapa yang diliat Umaya langsung menepuk pundak Umaya dan bertanya, "Siapa?" tanya Meli.
Umaya diam, dia masih terpaku melihat seseorang yang ada di hadapannya saat ini.
"Heh!! kok kamu diam aja sih? siapa yang datang?" tanya Meli penasaran.
Bukannya menjawab, Umaya malah langsung bergerak cepat keluar pintu.
Umaya berdiri dan langsung berkacak pinggang. "Hey!! ternyata kamu yang mencet bel dari tadi!! kok kamu berisik banget sih? ribet banget. Biasanya juga langsung nyelonong masuk. Kamu kayak gitu buat aku sama mama takut tau. Aku sama mama pikir kamu itu orang jahat. Kurang kerjaan banget sih kamu!" Umaya mengomel saat menemukan Raka yang berdiri tanpa rasa bersalah di depan pintu.
"Hah? Raka? jadi yang mencet bel dari tadi itu Raka?" tanya Meli dalam hati.
"Emang si Raka kurang kerjaan banget, dia buat aku sama Umay takut aja. Biasanya juga dia main masuk aja ke dalam rumah gak pake mencet-mencet bel segala." Meli menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.
Melihat berjalan keluar rumah, dia menatap Raka dengan tatapan yang tak biasa.
"Kamu kenapa sih, Raka? biasanya main masuk aja gak pernah mencet bel. Sekarang kamu mencet bel uda kayak orang yang lagi neror seseorang. Tante sama Umay sampe ketakutan banget loh di dalam rumah." Meli juga ikut mengomeli Raka.
Bukannya merasa bersalah, Raka malah memasang senyuman lebar di bibirnya. "Hehehe ... maaf, tante. Raka ke sini tuh bawa kejutan spesial, jadi mau tes ombak aja," ujar Raka tanya rasa bersalah.
"Kejutan spesial kejutan spesial, kejutan spesial berasa ner-"
Ucapan Umaya berhenti saat Bima muncul dari balik badan Raka.
Umaya langsung membelalakkan matanya lebar. Sama seperti Umaya, Meli juga sangat terkejut dengan kemunculan Bima yang sangat tiba-tiba.
Tanpa pikir panjang Meli dan Umaya langsung balik badan dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
Namun melihat Umaya dan Meli yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah, dengan cepat Bima langsung menarik tangan Meli agar tak masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Umaya, dengan sigap Raka menahan supaya Umaya tidak masuk ke dalam rumah.
"Meli,"
"Umay,"
Raka dan Bima memegang tangan Umay dan Meli.
"Kamu mau ke mana? jangan masuk, aku mau bicara sama kamu." Bima mencegah Meli masuk.
"Lepasin," Umaya berusaha melepaskan pegangan tangan Raka di tangannya. Tapi Raka tak akan membiarkan Umaya pergi.
"Kamu jangan lari dari masalah. Masalah itu dihadapi. Kalau gak dihadapi kapan selesainya?" tanya Raka pada Umaya.
"Aku gak mau ngomong saat ini, lepasin, aku mau masuk." Umaya tetap tak ingin bicara pada Bima.
Raka geleng-geleng kepala melihat Umaya. "Kamu kok keras kepala banget sih? ini juga demi kebaikan bersama. Jangan lari dari masalah, karena itu gak akan buat masalah kamu selesai. Ayo kita selesai kan sama-sama." Raka membujuk Umaya agar tak lari dari masalahnya saat ini.
"Aku mau bicara sama kamu dan Umaya. Kamu jangan ngehindar gini dong. Kalau kamu ngehindar dan gak ngasih kesempatan buat aku, kapan aku bisa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi?" tanya Bima pada Meli.
"Apa lagi yang harus di bicara kan? ka-"
"Banyak. Banyak banget yang harus dibicarakan. Banyak banget, keluarga kita enggak sedang baik-baik aja saat ini. Tapi kamu malah menutup akses untuk memperbaiki nya. Kamu mau kelurga kita hancur selamanya? apa kamu senang kalau kita gak akur begini terus?" tanya Bima pada Meli.
"Apa sih yang kamu omongin? kamu bisa ngomong gitu, karena bukan kamu yang merasakan. Yang merasakan keegoisan kamu itu aku sama Umay. Apa gak pantas kalau aku dan Umay milih untuk pergi? seharusnya kamu ya tau lah kesalahan kamu di mana, kamu perbaiki diri kamu menjadi lebih baik. Itu baru solusi utama supaya keluarga kita gak hancur kayak gini." Meli menatap Bima dengan tatapan dalamnya.
"Ya tujuan aku ke sini emang untuk apa kalau gak untuk minta maaf dan mengakui segala kesalahan aku? tujuan aku ke sini untuk apa emang kalau gak untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan keluarga kita? tujuan aku ke sini itu baik, tapi kenapa kamu malah begitu, kenapa kamu malah mau nutup mata dengan tujuan baik ku? kenapa kamu malah mau menghindar? kalau kamu dan Umaya terus menghindar, terus aku mau minta maaf sama siapa?" Bima kesal melihat tingkah Meli yang seperti kekanakan.
Raka menghela nafasnya. Dia tak habis pikir dengan tingkah kedua orang tua ini, kenapa mereka sama-sama egois dan keras kepala.
"Uda ayo kita bicara di dalam, bicara di sini malu kalau diliat orang dari luar. Ayo kita ke dalam." Raka mengajak Bima, Meli, dan Umaya ke dalam rumah.
"Enggak, aku gak mau masuk. Kalau kalian masuk semua ke rumah yaudah, aku aja yang pergi." Umaya berusaha melepaskan pegangan tangan Raka di tangannya, namun Raka tak membiarkan Umaya pergi begitu saja. Raka tetap menggenggam tangan Umaya erat.
Raka menoleh ke arah Umaya sambil berkata. "Kamu kenapa sih? kamu kok jadi aneh gini? kok tiba-tiba kamu egois dan keras kepala banget? selain itu kamu sadar gak kalau kamu kekanakan banget saat ini? sejak kapan kamu jadi orang yang sangat suka lari dari masalah? biasanya kamu gak gini loh." Raka menatap Umaya dalam.
Umaya yang ditatap tanpa kedip oleh Raka hanya bisa tersenyum miring. "Kamu yang kenapa? sejak kapan kamu jadi orang yang gak bisa dipercaya? perasaan semalam aku dan mama uda bilang jangan bawa siapa pun ke rumah ini. Aku dan mama ga mau ketemu dengan siapa pun di ruman ini. Dan saat itu kamu kasih respon yang bagus, bahkan kamu juga bilang iya kan. Tapi kenapa sekarang kamu malah ingkar janji? kamu malah ngelakuin larangan yang aku buat. Kenapa kamu malah cari masalah? kan yang cari masalah itu kamu. Terbukti dengan apa yang kamu lakuin sekarang kan? "Umaya tak mau disalahkan, dia menganggap kalau yang dilakukan Raka lah yang salah.
"Aku ngelakuin ini untuk kebaikan kamu dan mama kamu, aku ngelakuin ini untuk kebaikan keluarga kamu. Apa kamu mau keluarga kamu terpecah belah terus-terusan? apa kamu mau keluarga kamu gak utuh seperti keluarga aku, apa kamu mau?? kamu gak pernah tau rasanya jadi aku yang pengen banget jadi kamu yang dilahirkan di keluarga lengkap dan Harmonis. Kamu itu sangat beruntung, tapi kenapa rasanya kamu sulit untuk bersyukur?" Raka bertanya pada Umaya, membuat Umaya bungkam seribu bahasa.