Umay Egois

1023 Kata
"Ayo kita masuk, kita harus bicarain masalah ini di dalam rumah. Kalau gak mau bicara, tukar pikiran, dan saling maaf-maafan mau kapan lagi selesai masalahnya? kalian seharusnya beruntung karena keluarganya masih lengkap, gak enak kalau punya keluarga yang terpecah belah kayak keluarga aku. Ayo kita masuk ke dalam rumah." Raka memegang tangan Umaya dan membawa Umaya paksa ke dalam rumah. "Aku gak mau, lepasin, jangan maksa dong." Umaya berusaha memberontak. "Sejak kapan kamu jadi orang yang egois dan menutup mata dengan keadaan? kalau ada masalah itu dihadapin, jangan lari dari masalah." Raka angkat bicara, sejak tadi dia sudah kesal melihat Umaya dan Meli yang tak mau bicara dengan Bima. "Emangnya dia siapa? kenapa kamu gak mau ketemu sampai segitunya? dia papa kamu loh, dia papa yang kamu sayang dan selalu kamu banggain. Please jangan kekanakan, fokus kita sekarang berbuat baik supaya kita juga dapat kebaikan." Raka membawa Umaya ke ruang tamu. Karena Raka dan Umaya masuk duluan ke dalam rumah, alhasil Meli mau tidak mau juga ikut masuk ke dalam rumah, karena Umaya ada di dalam rumah. Bima juga ikut masuk ke dalam rumah menyusul Meli. "Silahkan duduk semua," ucap Raka pada Bima, Umaya, dan Meli yang masih berdiri kaku. Bima, Umaya, dan Meli akhirnya duduk juga di sofa. Bima duduk si sofa tunggal. Meli dan Umaya duduk berdampingan. "Sekarang kita mulai pembahasannya. Di sini aku gak bermaksud ikut campur urusan keluarga kalian, di sini aku cuma mau jadi penengah di antara orang-orang yang egois seperti kalian. Dan aku tegas kan sekali lagi, beruntung lah kalian yang masih punya keluarga lengkap dan gak terpecah belah. Kalian gak pernah ngerasain aku yang rindu punya keluarga lengkap, kalian gak tau gimana rasa sakitnya gak hidup berdampingan dengan keluarga. Intinya, selagi ada, mohon jangan disia-siakan. Kalian harus tau kalau keluarga itu hal yang paling penting dan dasar. Jangan mengedepankan egois, mari sama-sama pikirkan kesalahan masing-masing dan perbaiki diri supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Raka menasehati Bima, Meli, dan Umaya. "Om Bima ke sini juga bukan tanpa alasan. Om Bima uda lama cari keberadaan tante dan Umaya, tapi gak ketemu juga. Bahkan Raka juga tau banget gimana sedihnya om Bima kehilangan kalian, Raka tau gimana setresnya om Bima tanpa kalian. Bahkan tanpa kalian tau, Om Bima uda melewati batas kemampuannya, saat ini dia benar-benar jatuh sedalam-dalamnya. Maka dari itu, Raka bawa om Bima ke rumah ini. Om Bima mau bicara sama tante dan Umaya." Raka menyampaikan maksud dan tujuannya datang bersama Bima. "Jika kalian butuh privasi, Raka siap pergi dulu kok," ucap Raka. Raka berdiri, lalu dia pamit pada Bima, Meli, dan Umaya. "Kalau gitu Raka keluar dulu ya. Kalian bicarain masalah ini secara privat dan kepala dingin. Raka gak mau ganggu privasi keluarga ini." Baru saja Raka ingin melangkah pergi, tapi Bima langsung mencegahnya. "Kamu mau ke mana? untuk apa kamu pergi? kamu tetap di sini aja. Gak ada privasi keluarga kalau di depan kamu, bahkan kamu udah tau luar dalam keluarga saya. Kamu di sini aja, gak perlu pergi." Bima mencegah Raka untuk pergi. Raka mengerutkan dahinya. "Apa om gak terganggu kalau ada orang lain di sini?" tanya Raka. "Enggak, uda kamu di sini aja," balas Bima cepat Pada akhirnya Raka tidak jadi pergi menjauh dan dia langsung duduk kembali. "Ekhemm ...." Bima berdeham sebelum berbicara. "Maaf sebelumnya papa datang ke sini tiba-tiba dan buat kalian gak nyaman, tapi papa datang ke sini ingin menyampaikan sesuatu," ucap Bima sambil melihat ke arah Umaya dan Meli. Umaya dan Meli tidak merespon apa pun, mereka diam sambil mendengarkan Bima bicara. "Papa uda lama cari kalian, semua tempat uda papa cari. Papa pikir kalian ada di rumah mama, tapi ternyata kalian ada di rumah Raka, pantas aja papa gak tau dan gak bisa nemuin kalian." "Maaf, om, tapi ini rumah Umay, jangan bilang rumah Raka." Raka menyela Bima dan memperbaiki perkataannya. Bima menganggukkan kepalanya. "iya, rumah Umay," ujar Bima lagi. "Jadi papa ke sini mau ajak Umay dan mama pulang ke rumah. Papa tau papa salah, papa uda men renungkan diri dan evaluasi diri, dan kenyataannya papa emang salah. Papa minta maaf atas semua kesalahan papa yang buat Umay dan mama gak nyaman. Maafin keegoisan papa yang uda buat Umay dan mama tertekan. Maafin semuanya kesalahan papa, papa sangat sangat sadar kalau papa benar-benar salah." Bima meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada Umaya dan Meli. "Papa sangat cinta dan sayang sama Umaya dan mama. Tapi tanpa papa sadari sayang dan cinta papa itu uda menjelma jadi keegoisan yang negatif. Sangking takut kehilangan Umay dan mama, papa selalu larang-larang apa pun yang ingin kalian lakukan, papa sangat egois. Papa gak pernah memikirkan dan mempertimbangkan pendapat kalian, menurut papa yang terbaik adalah pendapat papa. Dan tanpa papa sadari, dengan sikap papa yang seperti itu, Umah dan mama jadi sangat tertekan dan banyak sakit hati. Papa benar-benar minta maaf, selama ini papa uda mencintai dan menyayangi kalian secara berlebihan. Dan apa pun yang dilakukan secara berlebihan maka hasilnya tidak baik." Bima menyampaikan semua isi hatinya. Dia meminta maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang dia perbuat. Bima tak malu dengan pengakuan salah dan maafnya, dia meminta maaf dengan sangat tulus. "Ke mana aja papa selama ini? kenapa papa baru sadar selama ini yang papa lakuin itu salah? papa gak tau kalau keegoisan papa itu uda membunuh cita-cita Umay? apa papa gak tau karena keegoisan papa Umay jadi setres dan merasa tertekan? apa papa pura-pura gak tau kalau selama ini Umay selalu pengen pendapat Umay dihargai, tapi papa sama sekali menolak pendapat orang lain dan menganggap pendapat papa yang terbaik? ke mana aja papa selama ini? kenapa baru sadar sekarang saat Umay dan mama uda gak di rumah lagi? kenapa, pa?" dengan berani Umay langsung menanggapi ucapan papanya. Raka terkejut melihat keberanian Umay. Pasalnya yang Raka tau Umay adalah gadis yabg tidak pernah marah seperti ini, Umay adalah gadis yang selalu berhati lembut. "Baru kali ini aku liat sisi Umaya yang seperti ini. Bertahun-tahun aku pacaran sama Umay, tapi aku gak tau kalah Umay juga punya sifat egois dan keras Kepala." Raka bicara dalam hati. "Ck, benar ya apa kata orang, buah tidak akan jauh jatuh dari pohonnya," lanjutnya lagi dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN