Bima, Meli, dan Umaya masih saling tatap-tatapan. Sedangkan Raka masih diam memantau interaksi mereka.
"Ayo pulang ke rumah, papa gak bisa jauh dari kalian," Bima mengajak Umaya dan Meli pulang ke rumah.
Umaya menatap papanya, lalu dia langsung tersenyum miring. "Pulang ke rumah? untuk apa pulang ke rumah kalau di rumah gak ada tenangnya? di rumah tertekan, apa pun keinginan yang Umay mau selalu aja terhalang. Pendapat Umay gak pernah didengerin, apa yang Umay lakukan harus sesuai dengan apa yang papa mau. Apa bahagianya hidup seperti itu? Umay ini uda besar, Umay pengen bebas memilih pilihan hidup Umay." Umaya menolak pulang bersama Bima.
Bima menghela nafasnya lelah. "Iya, maafin papa. Papa tau kalau papa salah, papa tau kalau selama ini papa uda egois. Papa janji papa gak akan ngulangin lagi, papa janji papa gak akan buat kamu setres dan tertekan lagi. Apa yang kamu mau, apa yang kamu inginkan gak akan papa larang lagi. Maafin kalau selama ini papa egois." Bima meminta maaf pada Umaya dan berharap Umaya memaafkannya dengan segera.
"Papa itu sayang sama kamu, apa pun yang papa lakukan itu semua karena papa sayang kamu. Papa gak mau kalau kamu itu ngalamin masa-masa buruk, semua yang ada di hidup kamu harus sempurna dan buat kamu bahagia. Papa sayang sama kamu, kamu itu hidup papa. Tapi mungkin karena sayangnya papa yang berlebihan ke kamu itu buat papa jadi egois. Maafin papa, tapi papa ngelakuin ini semua karena sayang ke kamu. Tapi sekarang papa janji gak akan egois lagi." Bima lagi-lagi meminta maaf pada sang anak.
Bima melihat ke arah Meli. "Dan untuk kamu, maaf juga kalau aku sering egois dan marah-marah. Maaf kalau aku selalu semaunya. Aku juga cinta banget sama kamu, kamu adalah perempuan yang benar-benar aku cintai. Tanpa kamu, mungkin aku gak akan menjadi diriku yang sekarang. Aku bisa sesukses ini juga karena dukungan dari kamu, karena kamu yang selalu ada di samping aku. Aku benar-benar minta maaf atas kesalahan yang aku buat. Aku janji aku gak akan ngulang kesalahan yang sama. Dan aku juga sangat berterimakasih ke kamu, terimakasih karena kamu sudah melahirkan anak cantik dan baik hati seperti Umaya ke dunia ini. Jadi, ayo kita kembali seperti dulu, ayo kita pulang ke rumah kita. Rumah tanpa kamu dan Umaya itu jadi hampa, seperti gak berpenghuni. Jadi, ayo kita pulang." Bima meminta maaf dengan tulus pada Meli. Dia langsung mengajak Meli dan Umaya untuk pulang ke rumah bersamanya.
"Kan aku uda sering bilang ke kamu, tolong kesampingkan egois kamu itu. Kamu itu uda dewasa, bahkan sangat dewasa, kamu uda punya satu anak gadis. Kamu uda tua, tapi pikiran kamu masih aja seperti anak kecil yang labil. Mungkin kalau kamu gak marah-marah dan bicara yang menyakitkan waktu itu, aku dan Umaya juga gak akan pergi dari rumah. Tapi makasih kamu uda marah-marah waktu itu sehingga kami ada di sini. Di sini kami merasakan kebebasan, merasakan hidup kami adalah milik kami, bukan milik kamu." Meli menatap Bima dalam.
"Kamu memang baik, bahkan kamu juga suami dan ayah idaman. Tapi karena keegoisan kamu, rasa cinta dan sayang kamu yang berlebihan itu membuat kamu jadi orang yang benar-benar serakah. Kita memang akur dan harmonis, tapi ada kalanya aku dan Umaya benar-benar membenci takdir kalau kami dilahirkan sebagai anak dan istri orang yang sangat egois seperti kamu. Apa kamu ingat, bahkan Umaya sampai terpaksa mengubur dalam-dalam cita-citanya karena kamu menghalangi dia mengejar mimpi di luar negeri. Kamu benar-benar posesif, bahkan kamu selalu mau kalau aku dan Umaya hanya mengikuti kata-kata kamu aja, akibatnya kami sangat-sangat tertekan. Apa yang kami inginkan gak bisa tercapai, apa yang kami maj harus kami kubur dalam-dalam, karena apa pun itu, pasti keputusan yang menyangkut hidup kami ada di kamu. Kamu gak pernah ada di posisi kami, maka dari itu kamu gak tau seberapa tertekan nya jadi kami." Meli bicara dengan nada tak suka. Ini waktu yang sangat pas untuk Meli menyampah semua unek-uneknya yang selama ini dia pendam.
"Tap-"
"Kadang aku mikir, apa sih defenisi sayang dan cinta menurut kamu? kamu niatnya menjaga aku dan Umay, tapi aku dan Umay malah merasa tertekan. Kamu tau itu gak sih?" tanya Meli ketus.
"Oh iya, satu lagi. Aku dan Umay ini istri dan anak kamu, bukan karyawan kantor kamu yang apa-apa harus kamu yang atur sepenuhnya. Kami juga punya hak atas diri kami sendiri, kamu ngerti gak sih?" Meli tampaknya cukup kecewa dengan Bima.
"Dulu kamu gak sebegininya ke aku dan Umay, tapi makin lama kamu makin aneh. Makin ke sini kamu makin ke sana. Aku uda gak habis pikir lagi sama kamu. Bahkan kamu juga uda jarang banget kan ada waktu untuk keluarga kita. Kamu libur kerja aja, di rumah kamu masih betah di depan laptop. Kamu juga gak sehangat dulu. Sekarang kamu gila kerja sampai-sampai kamu melupakan fakta bahwa anak dan istri kamu juga mau punya momen bersama." Meli menatap Bima kecewa.
"Apa sih yang kamu cari? uang?" tanya Meli.
"Uang kamu uda banyak, banyak banget. Tampa kamu kerja pun, tanpa kamu ke kantor pun, uang kamu bakalan tetap ngalir. Tapi kenapa sih kamu segila itu sama kerja? sampai-sampai kamu lupa membagi waktu untuk keluarga. Semakin lama kamu semakin jauh dari keluarga. Kamu uda banyak kehilangan momen pertumbuhan Umaya, kamu uda banyak kehilangan momen penting yang seharusnya kamu juga ikut menyaksikan. Untuk saat ini mungkin kamu biasa aja, tapi untuk di masa depan, aku yakin kalau kamu akan merasa sangat menyesal." Meli memperingati Bima.
Mata Bima berkaca-kaca. Dari dulu dia memang sangat lemah jika Meli sudah bicara seserius ini. Apa lagi masalahnya apa yang dikatakan Meli itu semua benar, Bima benar-benar sudah banyak kehilangan momen emasnya bersama keluarga. Beberapa tahun belakangan ini Bima memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tanpa sadar dia menjauh dari anak dan istrinya.
"Maaf, tapi aku benar-benar gak sadar. Aku gak sadar kalau aku sebodoh ini, aku gak sadar kalau aku uda banyak kehilangan momen emas bersama anak dan istri ku karena padatnya jadwal pekerjaan aku. Aku benar-benar gak sadar kalau selama ini aku menjauhi keluarga ku hanya karena pekerjaan. Maaf, maaf, maaf, maaf." Bima berulang kali meminta maaf pada Meli dan Umaya. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan kalau saat ini dia benar-benar menyesal.