Raka Itu Baik

1042 Kata
"Kamu gak bisa marah-marahan terus sama papa kami. Aku tau kok gimana rindunya kamu sama papa kamu. Aku tau gimana cintanya kamu sama papa kamu, jadi kamu gak usah marah lagi ya. Lebih baik kamu memaafkan dan mulai lembaran baru dengan hal yang lebih baik lagi." Raka menasehati Umaya. Umaya yang mendengar nasehat Raka langsung sinis dan menatap Raka tajam. "Ini dia kenapa sih? bukannya ngedukung aku malah maksa aku buat baikin papa. Apa dia gak tau apa kalau ini salah satu strategi buat dapatin restu papa?" Umaya menggerutu dalam hati. "Enggak, aku gak mau pulang ke rumah. Di rumah semua keinginan aku gak bisa dicapai, aku gak mau pulang. Aku dan mama uda capek harus ngalah terus, sekarang kami berdua mau bahagia. Iya kan, ma?" tanya Umaya pada mamanya. Meli mengangguk mengiyakan.. "Iya, mama ikut apa yang kamu mau, mama ikut gimana keputusan kamu." Balas Meli setuju. "Yaudah, kalau begitu makasih atas tumpangan rumahnya, aku dan mama mau pindah cari rumah baru. Terimakasih banyak." Umaya berdiri setelah berterimakasih pada Raka. Raka langsung shock mendengar Umaya berterimakasih sekaligus berpaling dengannya. "Hah? maksud kamu apa? kamu mau ke mana?" tanya Raka bingung. "Aku dan mama gak mau tinggal di rumah ini lagi. Kamu gak bisa megang ucapan kamu. Kamu kemarin bilangnya apa? gak akan kasih tau siapapun kan kalau aku dan mama ada di sini. Dan sekarang kamu kasih tau sama papa kalau aku dan mama ada di sini. Jadi yaudah, makasih atas tumpangan rumahnya. Aku sama mama bakalan cari rumah baru. Ayo, ma." Umaya mengajak Meli. "Hah? apaan sih kamu? kok ngomongnya gitu? kamu kan tau aku buat rumah ini untuk kamu. Bahkan sertifikat rumah ini juha atas nama kamu, kenapa kamu mau pergi dari rumah ini? kalau kamu gak suka aku ada di sini aku bisa pergi kok. Tapi tolong maafin papa kamu, kamu gak tau kan gimana terpuruk nya papa kamu selama kamu dan mama kamu pergi dari rumah? papa kamu tersiksa, masa kamu tega sih?" Raka menatap Umaya tak percaya. Umaya tersenyum miring. "Terpuruk? tersiksa? tega? papa baru ngerasin itu, pa?" tanya Umaya sambil menatap papanya. "Itu lah yang dirasain sama mama dan Umay dari dulu. Masa papa gak sadar sih papa uda ngelakuin hal yang buruk? papa baru aja ngerasain itu sebentar. Gimana Umay sama mama yang uda dari dulu? bayangin gimana coba rasanya?" tanya Umay lagi. "Uda lah, Umay gak mau terus di sini. Ayo, ma, kita beres-beres, kita cari rumah atau penginapan lain." Umaya mengajak mama ke kamar, dia menarik tangan mamanya. Melihat itu, Bima langsung mencegah Meli dengan memegang tangan Meli. Begitu juga dengan Raka, Raka mencegah Umaya dengan memegang tangan Umaya. "Kamu mau ngapain sih? kan aku bilang ini itu rumah kamu, ngapain harus pergi dari sini? kamu jangan kekanakan gitu dong." Raka tak habis pikir dengan Umaya yang sifatnya jauh berbeda dari biasa. "Aku mohon, maafin aku. Aku tau aku banyak salah sama kamu dan Umaya, tapi golongan maafin aku. Jangan pergi jauh lagi, ayo kita pulang ke rumah kita. Aku janji aku gak akan egois lagi, aku janji aku akan belajar dari kesalahan. Maafin aku, aku akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jangan pergi lagi " Bima memohon pada Meli supaya tidak pergi lagi. Dia memohon supaya Meli dan Umaya mau kembali ke rumah. Umaya langsung menghempaskan pegangan tangan Raka di tangannya. Lalu dia langsung berbalik badan dan menatap Bima dengan seksama. "Apa papa bilang? minta maaf? papa cuma minta maaf doang?" tanya Umaya. "Memang apa untungnya minta maaf? apa dengan minta maaf papa bisa membalikkan semua mimpi-mimpi Umay yang uda hilang karena papa? apa papa bisa ngulang waktu supaya Umay bisa sekolah di luar negeri? apa papa bisa ngulang waktu supaya Umay bisa kuliah di jurusan dan kampus yang Umay mau? apa papa bisa memutar waktu dan mengembalikan semua kebahagiaan Umay? teman-teman Umay? apa papa bisa memutar waktu dan memarahi orang-orang yang uda bully Umay? apa papa bisa? APA PAPA BISA?!!" Umay berteriak, dia terbawa emosi. Raka langsung menggenggam tangan Umay dengan erat. Dia berusaha menenangkan Umay supaya tidak terbawa emosi lagi. "Papa gak bisa ngulang itu semua. Uda banyak kekecewaan dan sakit yang papa buat ke Umay. Bahkan sampai saat ini pun papa masih menebarkan rasa sakit itu ke Umay. Umay cuma mau bahagia dengan pilihan Umay, pa. Papa ngerti gak sih?" tanya Umay dengan raut wajah kecewa. "Papa gak merestui hubungan Umay dengan mas Raka, apa alasannya? papa bilang mas Raka bukan berasal dari keluarga yang baik. Memangnya keluarga menjamin seseorang itu baik atau enggak? enggak kan, pa? setiap manusia punya pribadi masing-masing, papa gak berhak menilai mas Raka dari keluarganya. Dia punya pribadi sendiri, pa." "Coba papa liat, papa berasal dari keluarga yang baik, orang tua yang baik juga. Tapi liat lah papa sekarang, liat. Apa keluarga yang baik, dan orang tua yang sangat baik menjamin kalau papa juga baik?" tanya Umaya. "Enggak kan? papa memang baik, tapi tidak sepenuhnya baik. Papa juga sadar kan kalau papa bukan suami dan papa yang baik untuk mama dan juga Umay. Ini salah satu bukti nyata yang papa alami sendiri. Lalu dengan bukti ini, apa bisa papa menilai mas Raka dari keluarganya? apa pantas mas Raka papa anggap tidak baik seperti keluarganya? sementara papa apa gak sadar kalau yang bawa papa ke sini itu mas Raka? apa papa gak tau kalau ini, rumah yang mewah ini dibangun mas Raka untuk Umay, walaupun papa belum merestui hubungan kami. Papa jangan tutup mata dengan kebaikan mas Raka. Walaupun Umah dan mama uda larang mas Raka untuk kasih tau ke papa di mana keberadaan Umay dan mama, tapi mas Raka tetap kasih tau ke papa. Apa papa gak tau itu salah satu kebaikannya mas Raka? kalau aja mas Raka masih nurutin kata-kata Umay dan mama, kalau aja mas Raka gak tulus ingin bantu keluarga kita kembali bersatu, mungkin saat ini papa gak ada di rumah ini. Mungkin saat ini papa masih ada di kantor untuk kerja dan kembali keliling cari Umay dan mama. Ini bukan masalah Umay minta balasan atas kebaikan mas Raka, bukan. Tapi Umay mau kalau papa bisa buka mata, liat betapa baiknya mas Raka pada keluarganya kita. Jangan tutup mata dengan semua kebaikannya." Umaya bicara panjang lebar supaya papanya mengerti kalau Raka itu tidak buruk seperti yang dia pikirkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN