Direstui

1024 Kata
"Apa papa masih berpikir kalau mas Raka itu buruk, gak baik? kalau pikiran papa masih begitu, berarti papa masih sama, belum juga berubah." Umaya menatap papanya dengan serius. "Umay," Raka menegur Umaya. "Kenapa? emang iya kan?" tanya Umay pada Raka. "Jadi intinya papa harus sadar diri, benar-benar sadar akan kesalahan papa, benar-benar berubah, baru minta maaf. Kalau papa belum berubah sama sekali untuk apa Umay sama mama pulang ke rumah? gak ada gunanya." Umaya terlihat sangat acuh. "Siapa bilang papa gak percaya kalau Raka baik? papa tau Raka baik, papa uda mengamati dia dan papa sadar kalau dia anak yang baik." Bima mulai angkat bicara. Umay terdiam, dia masih mencerna kata-kata yang barusan papanya lontarkan. "Jadi papa uda sadar kalau mas Raka itu gak seburuk itu? jadi papa uda sadar kalau mas Raka itu baik? apa papa uda berdamai dengan keegoisannya?" tanya Umay dalam hati. "Kalau aja papa beneran sadar kalau Mas Raka baik dan juga papa sadar kalau kebahagiaan aku ada di mas Raka, mungkin papa bakalan ngasih restunya ke hubungan ku dan mas Raka. Itu bisa aja terjadi, tapi aku gak mau terlalu berharap mengingat kejadian belakang yang semakin meyakinkan aku kalau papa benar-benar gak setuju aku sama mas Raka." Umay tampak cukup berharap dengan restu Raka. "Kamu terlalu berpikir jelek terhadap papa, sehingga kamu selalu mengira papa gak pernah sadar kalau Raka baik. Papa akui Raka itu baik, yang gak baik itu keluarganya." Jlebbbb!! Hati Umaya rasanya benar-benar ambyar. Baru saja dia berharap kalau papanya bisa memberi restu pada hubungannya dan Raka, tapi mendengar ucapan papanya barusan membuat harapan Umaya pupus seketika. "Ternyata pikiran papa masih sama aja. Papa masih mikir kalau keluarganya mas Raka itu gak baik. Papa gak berubah." Umay bicara dalam hati. "Katanya papa uda berubah, berubah apanya? papa barusan menjelekkan keluarga mas Raka. Apa papa gak sadar?" tanya Umaya kecewa. "Lohh papa enggak menjelekkan keluarga Raka. Papa bicara sesuai fakta. Apa yang papa katakan ini fakta, bukan fitnah. Jadi papa gak salah dong?" tanya Bima tanpa rasa bersalah. Umaya geleng-geleng kepala. Lalu dia tersenyumlah kecewa. "Ternyata masih sam aja. Masih sama-sama paling pintar mencari kesalahan orang lain," ujar Umaya kecewa. Umaya menarik tangan mamanya, lalu dia membawa Meli pergi dari tempat itu. "Papa tau kok Raka itu sangat baik, gak bisa dipungkiri dan sesuai fakta juga kalau keluarga Raka itu memang gak baik. Mereka keluarga yang kacau. Tapi melihat Raka, papa jadi sadar kalah setiap manusia punya sifat yang berbeda. Kalau orang tuanya sifatnya buruk, belum tentu sifat anaknya juga buruk. Itu terbukti dengan melihat kebaikan Raka selama ini." Bima mulai bicara. Tapi Umaya dan Raka tidak berhenti berjalan, mereka tetap meneruskan perjalanan mereka menuju kamar untuk berkemas dan pindah dari rumah ini. "Dan papa juga yakin kalau Raka adalah calon suami yang paling baik untuk kamu." "What?!!" Mendengarkan ucapan Bima, Raka langsung terkejut bukan main. Umaya dan Meli yang juga dengar pun langsung berhenti berjalan. Umaya diam mematung, dia masih shock dengan apa yang barusan dia dengar dari mulut Bima. "I-itu papa gak salah ngomong? papa ngerestui hubungan aku sama Bima?" tanya Umay dalam hati. "Ma-maksudnya, om?" tanya Raka terkejut. "Om bilang apa barusan? Raka salah dengar atau gimana, ya?" tanya Raka masih shock. Bima tersenyum geli. "Saya bilang kalau kamu itu baik, bahkan saya rasa untuk saat ini kamu adalah calon suami yang terbaik untuk anak saya." Bima mengulangi ucapannya, membuat Raka semakin shock. "Ja-jadi om me-merestui hubungan Raka dengan Umaya?" tanya Raka terbata-bata. "Untuk saat ini saya rasa kamu adalah calon suami yanh terbaik untuk anak saya. Perlu digaris bawahi 'Untuk saat ini", gak tau kalau kedepannya gimana. Kedepannya itu tergantung sama sikap dan sifat kamu, kalau sifat dan sikap kamu semakin buruk, maka saya akan mencari pendamping terbaik untuk anak saya." Bima menjelaskan pada Raka. Umaya yang sejak tadi diam mendengarkan pun langsung balik badan. Lalu Umaya langsung lari sekencang-kencangnya. Dia langsung lari menghampiri Bima dan langsung memeluk Bima dengan erat. Bima terkejut saat tiba-tiba Umaya datang dan memeluknya dengan sangat erat. "Papaaaaaa ... makasih uda kasih restu di hubungan Umay sama Mas Raka, makasih, pa. Makasih banyak. Papa memang papa yang paling terbaik. Hikssss hikss hiksss ... Umay sayang papaa ...." Umay berterimakasih pada sang papa. Umaya juga nangis karena terharu. Ini adalah momen yang sangat diimpikan dan dinantikan oleh Umay dan Raka. Jadi wajar saja kalau Umaya menangis bahagia karena ini. Rasanya benar-benar tidak bisa dideskripsikan. Sangking bahagianya, Umaya sampai tak bisa berhenti menangis. "Lohh kamu kok malah nangis? kalau bahagia seharusnya jangan nangis dong? anak papa kok nangis sih? kalau nangis hilang cantiknya loh." Bima mengelus lembut rambut Umaya. Umaya masih tetap memeluk Bima, dia juga masih mennangis bahagia. "Hiksss ... makasih banyak, pa. Makasih banyak papa uda mau ngerti kalau kebahagiaan Umaya itu bersama mas Raka. Makasih banyak, pa. Umaya benar-benar sayang papa." Umaya menangis bahagia sambil mengungkap kan rasa sayang dan rasa terimakasihnya pada papanya. Raka yang melihat interaksi manis antara anak dan papa itu langsung tersenyum lega. Raka benar-benar bahagia bisa melihat Bima dan Umaya baikan. Terlebih lagi yang membuat Raka sangat bahagia adalah Bima yang sudah memberi restu pada hubungannya dan Umaya. Meli tersenyum bahagia. Dia senang, akhirnya perjuangan Umaya dan Raka ada hasilnya. Meli senang juga bisa melihat keakraban antara Umaya dan Bima kembali. Meli bahagia melihat keluarganya sudah kembali harmonis. Meli berjalan mendekati Umaya dan Bima. Bima yang melihat Meli menghampirinya langsung merentangkan tangan supaya Meli ikut memeluknya seperti Umaya. Meli tersenyum haru pada Bima. Lalu tanpa pikir panjang Meli langsung memeluk Bima juga, seperti Umaya. "Maaf ya karena aku uda banyak buat kamu kecewa. Tapi aku janji aku akan memperbaikinya diri dan menjadi suami yang baik untuk kamu." Bima meminta maaf pada Meli. Lalu Bima mengelus lembut rambut Meli. Dia benar-benar sangat merindukan istrinya ini. "Aku benar-benar cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Jadi tolong jangan pergi dari rumah lagi ya. Bisa gila aku kalau ditinggal kamu sama anak kita." Bima memohon supaya Meli tak lagi pergi meninggalkannya. Di dalam pelukan Bima, Meli hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban "Iya." Melihat Bima, Umaya, dan Meli berpelukan membuat hati Raka terasa tersentuh. "Ini benar-benar hari bersejarah buat aku dan Umaya," ujarnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN