Keluarga Bahagia

1042 Kata
Bima, Meli, dan Umaya masih berpelukan bersama. Dan Raka hanya melihat dengan senyum leganya. Bima melihat Raka yang berdiri dengan lengkungan senyum di bibirnya. "Kamu gak mau gabung?" tanya Bima pada Raka. Raka menaikkan sebelah alisnya, "Hah?" tanya Raka bingung. "Kamu gak mau gabung? sini ikut gabung. Saya udah baikan kok sama kamu, jadi jangan sungkan lagi sama saya. Saya uda mencoba berdamai dengan kamu." Bima mengajak Raka untuk ikut berpelukan. "Be-beneran, om?" tanya Raka bingung. "Iya, sini," jawab Bima langsung. Raka langsung tersenyum lebar. Lalu dia ikut berpelukan dengan Bima, Raka berpelukan di sebelah Umaya. "Maaf ya kalau saya banyak salah sama kamu. Maaf kalau selama ini saya galak dan suka nyakitin hati kamu. Sekarang kamu bisa anggap saya sebagai papa kamu. Saya merestui hubungan kamu dengan Umaya, selagi kamu bisa menjaga Umaya dengan baik dan tidak menyakitinya," ucap Bima pada Raka. Raka semakin merasa bahagia. Rasanya ini seperti mimpi, Raka selalu saja berkhayal tentang hal seperti ini, dan sampai detik ini pun Raka masih merasa kalau ini mimpi. Hal yang sulit dipercaya dan sulit untuk terjadi, Raka tak sia-sia selama ini berjuang untuk hubungannya dan Umaya. Karena hasilnya benar-benar nyata. Selain dapat calon istri, Raka juga dapat sosok seorang ayah. Benar-benar hasil yang tak mengkhianati usaha. Raka benar-benar terharu atas pencapaiannya saat ini. "Makasih banyak, makasih banyak, om. Raka benar-benar bahagia saat om bilang seperti itu. Makasih banyak karena om uda mau nerima Raka, uda mau merestui hubungan Raka dengan Umaya. Raka janji Raka gak akan menyakiti Umaya, Raka akan menyayangi Umaya seperti om menyayangi Umaya, Raka bakalan jagain Umaya sebaik mungkin. Raka janji, om." Raka berjanji pada Bima. "Saya pegang janji kamu. Kalau kamu berkhianat, saya gak akan segan-segan balas kelakuan kamu. Dan saya harap kamu bakalan tetap sayang dengan Umaya. Kamu harus selalu ingat bahwa untuk mendapatkan restu saya itu berjuangnya bukan main-main, maka jangan pernah kamu sia-siakan anak saya. Kalau kamu menyia-nyiakan anak saya, maka saya yang akan turun tangan langsung untuk membalas semua perlakuan kamu." Bima memperingati Raka. Raka menganggukkan kepalanya. "Iya, om. Raka janji Raka gak akan pernah nyakiti Umaya. Raka janji akan selalu menjadikan Umaya yang pertama dan yang utama. Raka janji Raka selalu sayang ke Umaya dengan setulus hati. Raka gak akan lupa betapa susahnya perjuangan Raka untuk mendapatkan restu dari om." Raka mengiyakan apa yang dikatakan oleh Bima barusan. "Makasih ya, pa. Makasih papa uda mau restuin hubungan Umaya sama mas Raka. Umay benar-benar bahagia banget, pa. Umay benar-benar berterimakasih sama papa. Papa benar-benar papa yang terbaik. Dan Umay berharap keluarga kita selalu berjalan seperti ini, saling menyayangi, menghargai satu sama lain, dan tidak egois. Umaya harap kita bakalan jadi keluarga paling bahagia di bumi ini." Lagi-lagi Umaya mengucapkan rasa terimakasih nya pada sang papa. "Benar apa yang dikatakan Umaya. Aku senang liat kalian akur begini, aku senang liat kamu bisa baikan dengan Umay dan Raka. Aku senang liat kamu bertekad mau berubah untuk keluarga kita. Makasih, makasih banget kamu uda mau berubah menjadi yang lebih baik untuk keluarga kita. Aku sayang kamu dan Umaya. Aku berharap semoga keluarga kita akan seperti ini seterusnya." Meli juga ikut mengucapkan terimakasih pada Bima. Meli bangga melihat suaminya yang biasanya keras kepala sekarang bisa mengontrol rasa egoisnya. Meli bahagia melihat keluarganya akur kembali. Meli benar-benar sangat bersyukur dengan kepergiannya dan Umaya dari rumah bisa membuahkan hasil yang manis. "Yaudah, kalau begitu ayo kita pulang ke rumah. Papa gak mau tinggal sendirian lagi, ayo kita pulang ke rumah. Rumah benar-benar jadi sunyi tanpa mama dan Umay. Ayo kita pulang ke rumah kita." Bima melepaskan pelukannya pada Umaya, Raka, dan Meli. Lalu dia langsung mengajak Umaya dan Meli untuk pulang ke rumah. "Kok papa cepat banget sih ngajakin pulangnya? di sini aja dulu, pa. Papa liat-liat sekeliling rumah ini dulu. Papa kan baru datang." Umaya menyarankan untuk papanya berkelahi rumah terlebih dahulu. "Kamu mau pamer ke papa bahwasannya sekarang kamu uda punya rumah baru pemberian Raka, iya? iyakan?" Bima bertanya sambil meledek Umaya. "Iiih apaan sih, pa? enggak tau. Kan Umaya cuma nawarin buat keliling rumah, liat rumah ini. Kalau papa gak mau ya gak masalah juga sih. Tapi jangan bawa-bawa itu dong." Umaya langsung cemberut karena diledek papanya. Bima tertawa geli. "Kenapa? kamu malu, iya?" tanya Bima menggoda Umaya. "Uda ah, papa gak asik. Uda mendingan papa duduk aja tuh di sofa. Papa kam uda tua, kebanyakan berdiri ntar capek. Uda duduk di sofa lagi ayo." Umaya menarik sang papa ke arah sofa, lalu mengajak papanya langsung duduk di atas sofa. "Papa, cicipin deh ini. Ini yang buat Umay loh. Ini Umay sama mama yang buat. Ini pertama kalinya Umay dan mama buat kue kering ini. Dan ini Umay dan mama belajarnya juga liat ytb, papa cobain deh. Papa nilai enak atau enggak." Umaya memberi satu toples kue kering pada Bima dan menyuruh Bima untuk mencicipi nya. Bima mengambil toples kue kering yang diberikan oleh Umaya padanya. Lalu dia langsung membuka toples dan memakan kue kering buatan Umaya dan Meli. Bima membelalakkan matanya lebar. "Woahhh ... ini buatan kamu sama mama?" tanya Bima terkejut. Umaya langsung tersenyum lebar dan mengangguk semangat. "Iya," jawabnya semangat. "Rasanya b aja sih," ujar Bima cepat. Umaya langsung berubah ekspresi, ekspresinya menjadi datar seketika. "Hahaha ... bercanda, kuenya enak kok. Enak banget malahan. Kok bisa sih kamu sama mama buat kue seenak ini? perasaan kalau di rumah tuh mama gak pernah buat kue kering, kalau maj makan order aja langsung ke toko kue yang enak. Ini kenapa kalian jadi jago buat kue kering?" tanya Bima penasaran. "Ya iya lah. Soalnya mama dan Umay gabut, bosen mau ngapain. Gak tau mau apa, kalau keluar rumah takut ketemu papa. Jadi mama dan Umay memutuskan buat bikin kue kering liat caranya dari ytb. Alhasil jadilah kue kering yang lezat buatan chef mama dan chef Umay." Umaya menjawab dengan sangat bersemangat. "Kamu uda cicipin kue keringnya, Raka? sini cicipin. Nih ambil toples nya. Enak beneran loh." Bima menyodorkan toples kue kering di atas meja, ke arah Raka. "Iya, om, nanti Raka coba," jawab Raka dengan senyum manisnya. Bima, dan Umaya duduk berdampingan di satu sofa. Sementara Raka dan Meli duduk di sofa single. Mereka saling tertawa dan bertukar cerita satu sama lain. Mereka benar-benar bahagia karena mereka sudah bisa berkumpul kembali menjadi keluarga yang harmonis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN