"Pa, papa uda beneran ngerestuin hubungan Umay kan?" tanya Umaya pada sang papa.
Bima menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya kenapa kamu tanya lagi? kamu gak percaya sama papa?" tanya Bima balik.
Umaya yang sejak tadi ngemil kue kering buatannya dan Meli langsung melihat ke arah papanya.
Umaya menyuapkan kue kering itu ke mulut Bima. Bima pun langsung menerima suapannya. "Papa gak bohong kan? nanti papa bohong dan niatnya cuma buat nyenengin Umay aja." Umaya masih ragu dan masih belum percaya sepenuhnya.
Bima tertawa geli. "Ya ampun, ya beneran lah. Masa iya sih papa bohong," jawab Bima.
"Kalau gitu berarti kalau Umay sama mas Raka mau menikah secepatnya boleh dong? kan uda direstui." Umaya bertanya pada papanya.
Raka yang sedang ikut makan kue kering langsung tekejut mendengar pertanyaan Umaya pada Bima. "Ya ampun, apa-apaan sih Umay? ngapain Umay nanya begitu coba? Harusnya kan aku ya ngomong kayak gitu bukannya dia. Nanti kalau dia ya ngomong gitu pasti om Bima mikirnya kalau aku manfaatin situasi pertengkaran Umay dengan om Bima. Duh gimana sih ini Umay? ngomongnya gak disaring dulu." Raka menggerutu dalam hati.
"Loh kenapa kamu udah nanya nikah? kamu udah gak sabar emangnya mau berumah tanggam apa kamu udah siap nanti jadi ibu rumah tangga? mengurus suami dan ngurusi anak setiap waktu. Apa uda siap kamu? jangan cuma ngomong uda mau pengen nikah aja. Tanggung jawab pernikahan itu besar loh, gak main-main, kalau kamu belum siap kamu bisa stres nanti." Bima sedikit terkejut melihat Umaya yang sudah bicara tentang pernikahan. Sepertinya Umaya sudah ngebet pengen nikah.
"Umay uda siap kok, Umay pasti bisa jadi ibu rumah tangga. Kayak mama kan? Umaya uda bisa kok." Umaya meyakinkan papanya.
"Kamu pikir enak jadi mama? tanya tuh sama mama gimana sulitnya jadi mama? kamu gak bisa asal menyimpulkan aja. Kamu kalau mau nikah harus benar-benar punya tekad yang kuat, harus sabar, dan mentalnya juga harus kuat. Cobaan pernikahan itu banyak loh. Salah satunya seperti ini, liat cobaan pernikahan mama dan papa, liat gimana sulitnya ini? kalau kamu gak bisa dewasa dan masih labil, pasti kamu uda memilih untuk mundur dan cerai. Kamu harus punya pikiran yang matang kalau mau menikah. Sementara papa liat kamu aja masih kayak anak bayi." Bima sedikit menasehati Umaya, menjelaskan pada Umaya bahwa pernikahan bukanlah hal yang mudah, menikah harus punya mental yang kuat dan pendirian yang teguh. Pemikiran orang yang sudah siap menikah harus benar-benar matang dan dewasa, agar dia bisa menghadapi segala cobaan rumah tangga.
"Lohh kan Umay uda besar, pa. Papa liat mas Raka, mad Raka uda mapan, uda punya perusahaan sendiri, dan liat rumah besar ini. Rumah ini dibangun mas Raka untuk Umay, untuk tempat tinggal kami setelah menikah. Umay juga uda besar kok. Umay gak cengeng, Umay uda bisa masak, Umay uda bisa beres-beres rumah. Umay juga bisa buka usaha kalau boleh. Apa lagi coba yang kurang? semuanya uda lengkap, pa." Umaya menjelaskan pada Bima kalau dirinya sudah siap untuk menikah.
Bima tertawa pelan. "Hahaha ... kamu lucu ya. Kamu pikir syarat menikah itu cuma mapan dan bisa ngurusin rumah seperti cuci piring dan nyapu ? ya enggak lah, sayang. Syarat menikah yang paling penting itu mental kamu. Kamu uda siap belum menikah? menghadapi segala cobaan besar dalam pernikahan? kamu uda punya pikiran yang benar-benar dewasa belum? kamu uda bisa mengambil langkah yang benar dan tepat belum? kalau belum lebih bagus kamu memperbaiki diri dulu, siapkan diri, hati, dan pikiran kamu untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Nikah itu gak gampang, sayang. Kamu bisa liat contoh mama dan papa, banyak cobaan yang mama dan papa lalui. Bahkan banyak juga cobaan yang kami laluin dengan keegoisan kami, itu yang buat masalah semakin besar. Kalau kamu belum siap mental, kamu gak bisa menikah. Takutnya kamu tertekan dan setres." Bima menasehati Umaya supaya tidak ngebet pengen nikah. Bima takut kalau Umaya belum siap menikah, namun sudah minta nikah, rumah tangganya akan kacau karena keegoisan satu sama lain. Awal pernikahan memang lah indah, namun semakin lama dan berjalannya waktu, akan banyak cobaan yang menimpah rumah tangga. Dan sudah banyak orang yang menyerah karena cobaan rumah tangga mereka, bahkan tidak banyak yang kehilangan arah lalu memilih mengakhiri hidupnya. Bima benar-benar sulit membayangkan bagaimana anaknya saat berumah tangga nanti. Bima tidak mau Umaya tidak bahagia.
"Lohh, kan Umay sayang sama mas Raka. Begitu juga dengan mas Raka, mas Raka sayang sama Umay. Gak mungkin Umay dan mas Raka saling menyakiti. Umay yakin setelah menikah Umay dan mas Raka pasti akan hidup bahagia kok, pa. Papa tenang aja." Umaya lagi-lagi berusaha keras meyakinkan sang papa.
"Kamu pikir mama dan papa gak saling mencintai dan menyayangi?" tanya Bima geleng-geleng kepala.
Bima melihat ke arah Meli dan langsung bertanya, "Kamu cinta atau enggak sama aku, sayang?" tanya Bima pada Meli.
"Cinta lah, masa enggak cinta. Cinta banget malah," jawab Meli cepat.
Lalu setelah itu Bima langsung menoleh ke arah Umaya kembali. "Nahh kamu dengar kan? kamu dengar kan kalau mama kamu cinta banget sama papa? nah begitu juga dengan papa. Papa cinta banget sama mama kamu. Mungkin kalau mama kamu gak ada di bumi ini, selagi mama kamu belum diambil nyawanya, papa bakalan terus cari mama kamu ke ujung dunia mana pun," Bima menjelajahi pada Umaya.
"Kamu ngerti kan maksud papa apa? mama dan papa yang sangat saling mencintai satu sama lain dan sekarang uda punya anak, uda punya kamu aja kami masih sering bertengkar. Bahkan bertengkar hebat seperti ini. Kalau mama dan papa mentalnya gak kuat, mama dan papa gak dewasa, dan gak mau mengesampingkan ego kami masing-masing, mungkin kita gak akan bertemu seperti ini. Mungkin kita bakalan terus pisah dan merasa asing." Bima bercerita pada Umaya.
"Jadi maksudnya papa, kamu harus belajar dari orang-orang terdekat kamu, belajar dari mama dan papa, Raka juga gitu, harus belajar dari pengalaman orang tuanya. Jangan buru-buru mau nikah, latih dulu emosi, egois, dan keras kepala kalian masing-masing. Latihan dulu supaya menjadi lebih dewasa dan punya mental yang kuat. Menikah itu bukan sebulan atau dua bulan, menikah itu sekali untuk seumur hidup. Jadi kalian harus benar-benar mempersiapkan diri terlebih dahulu supaya bisa menghadapi cobaan pernikahan nantinya." Bika menasehati Raka dan Umaya. Dia berusaha memberitahu bahwa menikah bukan lah gampang, dia mau Umaya dan Raka harus benar-benar matang dan dewasa saat mereka menikah nanti.