Pulang Ke Rumah

1029 Kata
"Uda selesai semuanya? gak ada yang ketinggalan lagi? coba dicek lagi." Bima menyuruh Meli dan Umaya untuk mengecrek barang-barang mereka siapa tau ada yang ketinggalan. Bima, Umaya, dan Meli akan pulang ke rumah mereka. Raka juga ikut mengantar mereka, karena Raka sejak datang bersama Bima. "Enggak ada yang ketinggalan kok, pa. Semuanya uda masuk ke koper. Uda beres. Mama ada yang ketinggalan? coba diingat lagi, ma." Umaya malah menyuruh mamanya untuk kembali mengingat apakah masih ada barang yang ketinggalan atau tidak. "Mama juga gak ada yang ketinggalan kok, semuanya uda masuk di koper. Yaudah ayo kita berangkat." Meli mengajak mereka untuk segera berangkat. "Yaudah ayo," Bima menggandeng tangan Meli. Bima juga membawakan koper milik Meli. Saat pergi dari rumah Meli memang tidak membawa pakaian apa pun. Tapi Meli membeli semua pakaian dan keperluan barunya di toko online, Meli banyak membeli pakaian, skincare, dan kebutuhan lainnya. Meli juga membeli 2 koper untuk berjaga-jaga kalau saja dia dan Umaya harus pindah dari rumah yang diberikan Raka. Umaya juga sama, saat pergi dari rumah dia tak membawa apa pun. Tapi karena pakaian Umaya sudah disiapkan di lemari di rumah yang diberikan Raka padanya, jadi Umaya hanya beli beberapa baju santai yang menurutnya nyaman dan beberapa skincare serta keperluan lainya. Raka memang sudah melengkapi lemari pakaian Umaya jauh-jauh hari, tapi Raka mengisinya dengan pakaian bagus yang terkesan lebih dipakai saat ingin keluar rumah. Hanya ada beberapa baju tidur, jadi Umaya banyak membeli baju tidur dan kaos untuk dipakai dj rumah. "Bisa-bisanya pergi tanpa bawa satu barang pun, dan pulang malah bawa koper." Raka geleng-geleng kepala. Raka membawakan koper Umaya. "Ya namanya kita beli keperluan sehari-hari. Skincare, body care, baju tidur, baju santai, masa iya gak dibawa pulang lagi. Ya sayang lah, kita belinya juga baru. Kalau di sini mah gak ada yang pake, sayang. Mendingan dibawa pulang." Umaya menjelaskan pada Raka. "Ini siapa nih yang nyetir? kamu aja ya, Raka?" Bima bertanya pada Raka. Saat ini mereka semua sudah berjalan keluar rumah. Bima dan Meli berjalan di depan, sementara itu Raka dan Umaya menyusul di belakang. "Ooh iya, om. Yaudah Raka aja yang nyetir," jawab Raka mengiyakan. "Emangnya kenapa kalau papa yang nyetir?" tanya Umaya "Ya gak apa-apa. Papa mau banyak cerita sama mama, jadi papa sama mama duduk di belakang aja. Kalau kalian berdua duduk di belakang nanti dunia serasa milik berdua, mendingan duduk di depan aja kalian berdua," jelas Bima. "Lah apa bedanya sama papa? papa juga pasti nanti dunia serasa milik berdua sama mama. Yang lain mah cuma ngontrak." Balas Umaya. "Ya gak apa-apa, kan mama sama papa uda sah. Romantisnya mama dan papa itu pahala." Bima tak mau kalah, dia terus membalas ucapan Umaya. "Yaudah makanya buruan nikahin Umaya biar Umaya dapat banyak pahala kalau sama mas Raka." Umaya mendesak sang papa. Bima, Raka, dan Meli langsung tertawa geli. "Heh, kamu pikir nikah gampang apa. Siapin duku mental, kesabaran, kedewasaan. Jangan asal mah nikah aja." Bima lagi-lagi memperingati sang anak. Bima membukakan pintu mobil untuk Meli, lalu Meli langsung masuk ke dalam mobil, diikuti Bima menyusul setelahnya. Setelah itu Raka juga langsung membukakan pintu mobil untuk Umaya, dan Umaya juga langsung masuk ke dalam mobil. Lalu Raka memutar arah dan masuk ke dalam tempat pengemudi. Raka menghidupkan mesin mobilnya, lalu perlahan dia memutar arah mobil supaya bisa keluar dari area halaman rumah. "Serasa ngedate 2 couple ya ma, pa." Umaya tersenyum lebar. "Om sama tante deh lebih tepatnya yang lagi ngedate. Tuh liat tuh gandengan tangannya aja gak bisa lepas dari tadi. Tuhh kepalanya bersandar tuh, aduhh uda serasa dunia milik berdua yang lain mah ngontrak." Raka melihat pantulan bayangan Meli dan Bima dari kaca spion tengah yang ada di dalam mobil. "Ya kan kita juga pacaran, masa kita gak dianggap couple juga sih?" Umaya protes pada Raka. "Kita mah lebih seperti supir yang nganterin tuan dan nyonya mau bulan madu kayaknya," ujar Raka. "Iihh gak mau ih, jangan, jangan sampe mama papa bulan madu lagi. Umaya uda besar, uda gak mau punya adek. Masa nanti adek Umaya seumuran sama anak Umaya sih? uda ahh gak mau, pokoknya gak mau nambah adik Umay." Umaya protes dan langsung melarang mama dan papanya pergi bulan madu. "Iih Umaya mah aneh ya, masa ngelarang mama papa kalau mau liburan. Lagi pula kan mama sama papa juga uda tua, mana mungkin bisa punya anak lagi. Waktu masih muda aja usaha buat adik untuk kamu gak bisa-bisa apalagi uda tua gini, ih aneh Umay." Bima menyahut dari belakang. "Iya, kalau mama papa mau liburan berdua masa gak boleh? kamu kan uda besar ya, masa gak mau ditinggal. Emangnya kamu kalau ikut mau jadi antinyamuk nya mama papa?" tanya Meli pada Umay. "Ya enggak lah. Umay gak mau jadi antinyamuk, pokoknya Umay gak izinin mama papa pergi berdua. Lebih baik nanti setelah Umay nikah baru mama papa pergi liburan berdua. Umay nanti kesepian kalau ditinggal mama papa liburan, kalau nanti pas ditinggal Umay uda nikah kan Umay jadi ada temen." Umaya menentukan waktu kapan mama papanya boleh pergi liburan berdua. "Yeee itu mah maunya kamu. Padahal tanpa nikah juga kamu punya temen kok di rumah. Ada bibi, ada pak supir, ada pak satpam. Itu rumah banyak loh penghuninya, begitu kamu bilang kesepian? itu mah kamunya aja yang alasan, pengen ngebet nikah secepatnya." Bima langsung geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang menggemaskan itu. Umaya langsung nyengir lebar, menampilkan deretan gigi putih nan rapihnya. "Hehehe ... papa tuh ya taunya asal nuduh Umay aja, padahal mah dalam hati Umay gak gitu tau." "Gak gitu apanya? emang iya kok. Gak gitu, tapi dalam hati kamu uda lebih dari itu." "Iihhh papaaaaaa ...." Umaya merengek pada papanya. "Raka, maafin mereka berdua ya. Mereka berdua kalau uda akur mah gitu, ributnya bukan main. Kadang tante aja budek dengerin celotehan mereka yang gak ada hentinya. Maafin ya Raka, mereka emang suka begitu." Meli meminta maaf pada Raka. Raka tertawa pelan, "Hehe ... iya, tante, gak apa-apa kok. Raka juga uda biasa ngadepin Umay yang berisiknya minta ampun. Cuma agak harus sabar aja ngadepin yang double, dua kali lipat." Raka tersenyum meledek. Dalam perjalanan pulang, Bima, Meli, Raka, dan Umaya saling bertukar cerita dan candaan, mereka benar-benar terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN