Mereka Sudah Dewasa

1003 Kata
Bima sedang duduk di atas tempat tidur dengan laptop di pangkuannya, mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena belakangan ini dia tidak fokus. Di samping Bima ada Meli yang sedang asik memainkan ponselnya. Meli melihat media sosialnya, ada pesan dari sahabat lamanya, mengundang Meli dan keluarga untuk datang ke pernikahan anaknya. "Uda nikah aja anaknya, cepat banget," ujar Meli dalam hati. "Kita diundang loh sama Lina, sahabat lama aku itu loh. Dia ngundang lewat chat, katanya beberapa hari lagi undangan datang ke rumah." Meli menyampaikan hal itu pada Bima. Bima menaikkan sebelah alisnya. "Lina yang mana?" tanya Bima lupa. "Iih masa kamu gak ingat sih? sahabat aku yang kita pernah ketemu di Amerika gak sengaja itu loh. Lina, masa kamu gak ingat sih?" Meli mencoba mengingatkan Bima kembali. Bima tampak diam sejenak, dahinya mengkerut, mengingat-ingat kembali momen yang diceritakan Meli tadi. 2 menit kemudian Bima baru ingat dengan Lina sahabat Meli itu. "Ooh iya iya aku ingat, yang dulu dia sama suaminya kehilangan dompet kan ya? yang di Amerika mereka mau bayar makan eh dompet hilang. Iya kan ya?" Bima bertanya pada Meli memastikan apakah yang diingatnya benar atau salah. "Iya dia, dia yang waktu itu dompetnya hilang, terus mereka bingung mau bayar makan. Untung pas ketepatan kita ketemu sama mereka, kalau enggak mungkin mereka bakalan dituduh penipu." Meli mengiyakan, apa yang dikatakan Bima benar. "Lah anaknya apa uda besar? kok uda nikah aja? perasaan dulu masih remaja deh, apa uda besar?" tanya Bima bingung. "Ya ampun, ya uda lah. Kan anaknya seumuran Umaya. Liat tuh Umaya uda besar apa belum? kan mereka seumuran. Beda bulan lahir doang. Kamu mah, padahal dulu anaknya juga sering kan main sama Umay. Masa lupa sih." Meli menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan Bima yang sangat pikun, lupa dengan hal-hal yang dia alami di masa lalu. "Ya maaf lah, lagian dia siapa coba? kan gak penting juga diingat, masih banyak hal penting yang harus aku ingat, kalau ngingat dia mah gak sempat," balas Bima memberi alasan. "Nanti kita datang ya, sama Umay juga. Soalnya Umay juga diundang nih." Meli menunjukkan chattingannya dengan Lina pada Bima. "Yaudah, nanti kita pergi bertiga sama Umay," ujar Bima setuju. "Loh kok cuma bertiga sih?" tanya Meli sedikit terkejut. "Ya emang bertiga lah. Jadi sama siapa lagi?" tanya Bima bingung. "Ya sama Raka lah. Kan Umay sama Raka pasangan, masa undangan pernikahan Umay pergi sendiri sih? nanti dikirain mereka anak kita jomblo. Padahal kan Umay juga bentar lagi mau nikah juga." Meli mengingatkan Bima kalau Raka harus ikut bersama mereka. "Memangnya kapan Umay mau nikah? kamu asal ngomong aja. Jangan ngomong gitu, kan belum pasti kapan Umay nikahnya. Nanti kalau orang-orang pada heboh gimana? kamu mau jadi gosipan satu komplek? mau jadi gosipan teman-teman kamu? jangan asal ngomong gitu, bahaya. Kan belum pasti." Bima mengingatkan Meli supaya tidak bicara asal. "Lohh kok belum pasti sih? maksud kamu belum pasti itu apa?" tanya Meli sambil mengerutkan dahinya bingung. "Kamu kok ngomong gitu? katanya kamu uda setuju sama hubungan Raka dan Umay, tapi kenapa kamu kayaknya ngejauhin topik pernikahan mereka? memangnya mereka mau pacaran terus selamanya? mereka uda pacaran lama loh, bertahun-tahun. Mereka juga uda mau nikah, uda siap nikah. Apa lagi yang ditunggu coba?" Meli bertanya pada Bima. Dia tak setuju dengan Bima yang selalu mengelak jika membahas pernikahan Umay. "Ya emang aku uda merestui mereka. Aku uda setuju sama mereka. Tapi kan beda, cerita kalau sekarang. Nikah itu gak bisa diburu-buru. Walaupun dari segi materi mereka uda pas menikah, uda bisa menikah, tapi kita gak tau dari segi mental. Mereka tuh mentalnya belum kuat. Kita tunggu beberapa waktu lagi, bagaimana mereka menghadapi masalah di hubungan mereka. Aku takut kalau berumah tangga nanti mereka malah saling egois dan mudah bertengkar. Jadi mereka harus matang dalam segala hal untuk menikah, supaya mereka gampang menghadapi masalah pernikahan yang datang bertubi-tubi pastinya. Kamu mau liat Umay setres? enggak kan? makanya jangan ngebet nikahin mereka dulu." Bima menjelaskan alasannya pada Meli. Dia tidak bermaksud melarang Umay menikah dengan Raka, tapi Bima mau Umay dan Raka harus siap dari segala aspek, bukan hanya siap di materi saja. Meli menghela nafasnya kasar. "Jadi selama bertahun-tahun ini kamu pikir mereka ngapain kalau gak ngadepin masalah yang datang silih berganti? kamu pikir masalah apa yang terberat di hubungan mereka selain terhalang restu kamu? kalau mereka gak kuat mempertahankan hubungan mereka, mungkin aja sekarang mereka uda putus. Apa lagi kamu tuh selalu jahat dan kasar sama Raka. Tapi Raka dan Umaya tetap bertahan mempertahankan hubungan mereka. Kamu gak ingat kamu selalu ngusir Raka kalau Raka nganterin Umay pulang? kamu gak ingat kamu sering marah sama Umay hanya karena Umay masih aja berhubungan dengan Raka? memangnya masalah yang kamu ciptakan itu gak berat untuk hubungan mereka? kamu pikir masala restu itu masalah kecil? belum lagi perlakuan buruk kamu sama Raka dan kamu yang suka blak-blakkan sama Umay. Aku yakin pasti hati Raka dan Umay masing-masing sakit digituin sama kamu. Mungkin mereka kalau gak mikirin cinta dan hubungan mereka yang uda berjalan sejauh ini, mereka bakalan putus di tengah jalan. Tapi lihat lah mereka, bahkan mereka masih bertahan sampai saat ini. Hubungan mereka masih berdiri dengan kokoh walaupun diterjang angin badai. Dengan bukti nyata begini kamu apa masih bisa bilang kalau mereka belum matang secara lahir dan batin? mereka uda dewasa banget, kamu harusnya tau itu. Jadi jangan halangi mereka untuk menikah. Mereka uda dewasa. Dewasa umur dan dewasa sifat dan sikap. Jadi kamu harus mengerti dan segera lah menikahkan mereka berdua. Mereka berdua hanya menunggu persetujuan dari kamu." Meli menasehati suaminya panjang lebar. Meli sudah lelah melihat Bima yang seperti ini. Bima memang sudah merestui hubungan Raka dan Umaya, tapi Meli yakin Bima masih belum rela melepaskan Umaya untuk menikah. Meli tau rasanya pasti berat melepaskan anak satu-satunya kepada orang lain. Apa lagi kita gak tau kedepannya apa yang akan terjadi, khawatir itu selalu menghampiri orang tua setiap saat, seperti apa yang Bima rasakan saat ini. Bima diam, dia langsung menutup laptopnya. Lalu dia tampak sedang merenungkan ucapan Meli yang baru saja disampaikan padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN