"Ehemmm ...." Meli dan Umaya langsung melihat ke arah Bima.
"Kenapa, pa? kesedak? minum, pa." Meli menyodorkan gelas berisi air putih pada Bima.
Bima menggelengkan kepalanya. "Enggak, gak kesedak kok," ucap Bima.
Bima melihat ke arah Meli dan Umaya secara gantian.
Saat ini Bima, Meli, dan Umaya sedang makan siang bersama. Bima tidak masuk ke kantor karena ini weekend, dan dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya.
"Kenapa sih, pa? papa dari tadi liatin Umay sama mama aja perasaan. Kenapa? ada yang salah sama Umay, sama mama? ada yang aneh?" tanya Umay penasaran.
Bima menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Enggak ah, gak ada yang aneh kok," jawab Bima.
Melihat tampang Bima, Umaya langsung menggelengkan kepala pelan, lalu dia lanjut memakan makanannya.
"Duhh mau nyampein ini, tapi pas gak ya momennya di sini?" tanya Bima dalam hati. Dia masih ragu-ragu ingin menyampaikannya sesuatu pada Umaya dan Meli.
Bima sekali lagi memantau, melihat Meli dan Umaya secara bergantian.
Bima menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dia menghempaskannya secra perlahan.
"Papa uda setuju kalau kamu mau nikah."
Uhukk uhukk uhukk!!
Umaya langsung tersedak mendengar pernyataan Bima yang benar-benar spontan itu. Dan Meli tak kalah terkejutnya, dia juga langsung terdiam dan menatap Bima dengan tatapan tidak percaya.
"A-a-apa? a-apa yang papa bilang ba-barusan?" tanya Umay terbata-bata.
Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Papa u-uda izinin kamu nikah," ulang Bima cepat, dia juga grogi mengatakan hal itu.
Umaya menelan ludahnya tak percaya, matanya terbelalak lebar menatap Bima dalam. "Papa serius? yang papa bilang tadi beneran? gak bohong? gak prank? papa gak lagi mabuk kan?" Umaya langsung menyerang Bima dengan berbagai pertanyaan sekaligus.
Bima menggelengkan kepalanya dengan wajah yang polos. "Enggak kok, papa gak mabuk, papa sehat walafiat, waras, dan gak lagi ngeprank kok." Bima menjawab dengan wajah polosnya.
Mendengar jawaban kepastian Bima, Umaya langsung speechless, dia langsung tersenyum lebar. Lalu dengan spontan Umaya langsung berdiri dan langsung berjoget-joget kegirangan.
"Yeeee!!! akhirnya Umaya dibolehin nikah ... YEEEEEEE .. UMAYA NIKAH UMAYA NIKAH!!! WOYYYYY UMAY NIKAHHHH!!! HOREEEEEE ... UMAY MAU NIKAHHHHH ...." Umay berteriak kencang sambil tertawa bahagia, dia berjoget gembira, menggoyangkan badannya penuh energi.
Meli yang melihat Umaya seperti itu langsung tersenyum lebar. "Akhirnya liat Umay bahagia gini lagi," ujar Meli dalam hati.
"Uda lama banget dia gak ceria dan gak sebahagia ini, ini benar-benar momen yang paling ditunggu Umay sama Raka. Aki benar-benar beryukur Bima bisa sadar kalau Umay uda besar dan berhak menikah," lanjut Meli dalam hati.
Bima ikut tersenyum gembira melihat anaknya juga berjoget gembira. Raut wajah tak bisa berbohong. Wajah Umay sangat-sangat menunjukkan kalau dia sedang sangat bahagia, hati Bima benar-benar tersentuh melihat reaksi Umaya seperti ini.
"Jujur aku uda lama banget gak liat Umaya yang begini, ini benar-benar Umaya yang ceria dan Umaya yang selalu aku rindukan. Dan sekarang Umay balik ceria seperti dulu, Umay benar-benar bahagia dengan kabar gembira ini, aku ikut senang liat Umaya senang gini," ucap Bima dalam hati.
Umaya melihat wajah papanya yang tersenyum lebar. Lalu dia langsung menghampiri Bima dengan cepat. Tanpa aba-aba Umaya langsung memeluk Bima dengan erat. "Papaa ... makasih uda jadi papa terbaik untuk Umay, makasih papa uda mau restuin hubungan Raka dan Umay, makasih papa uda ngizinin Umay nikah. Umay benar-benar sayang sama papa, makasih papa uda buat hidup Umay lebih berwarna. Umay sayang banget sama papa." Umay memeluk papanya dengan erat, seolah enggan melepaskannya.
Lengkungan senyum juga terbentuk di bibir Bima, tak bisa dipungkiri kalau mata Bima juga saat ini sedang berkaca-kaca. Dia benar-benar terharu mendengarkannya ucapan Umaya barusan.
"Papa, makasih banyak. Papa cinta pertama dan cinta yang paling tulus yang pernah ada di hidup Umaya. Cinta papa ke Umay dan cinta Umay ke papa gak akan bisa tergantikan, makasih papa. Umay benar-benar sayang sama papa, melebihi apapun." Umay kembali mengungkap kan rasa terimakasih dan cintanya pada sang papa. Membuat papanya terharu, berkaca-kaca, dan terbawa suasana.
Bima balas memeluk Umaya dengan tulus. "Papa lebih sayang ke kamu, papa lebih cinta ke kamu. Kamu adalah orang yang paling penting di hidup papa, bersama dengan mama. Tanpa kamu, papa gak tau apakah papa dan mama bisa sampai ke titik ini. Tanpa kamu papa gak tau apakah papa dan mama bisa bahagia seperti sekarang. Kamu adalah penyebab kehidupan papa dan mama bahagia, kamu adalah hadiah terindah Tuhan untuk papa dan mama. Kamu adalah sinar kehidupan papa dan mama, papa dan mama gak akan mungkin sebahagia ini tanpa kamu. Papa dan mama sayang sama kamu, melebih rasa sayang kamu ke papa dan mama." Bima menyampaikan isi hatinya pada Umaya.
"Makasih uda datang di kehidupan papa dan mama, mungkin kalau kamu gak ada papa dan mama gak akan bisa sebahagia ini. Makasih uda jadi anak papa dan mama, mungkin kalau bukan kamu yang jadi anak papa dan mama, papa gak tau apakah papa dan mama bisa melewati semua masalah dengan kuat seperti ini. Terimakasih banyak kamu uda hadir di kehidupan mama dan papa, kamu adalah penyempurna kehidupan papa dan mama, terimakasih banyak." Bima mengelus kepala Umaya dengan lembut, dia benar-benar menunjukkan cintanya pada sang anak.
Mata Meli berkaca-kaca menyaksikan suami dan anaknya saling bicara dan menyampaikan isi hati masing-masing. Terlepas dari masalah dan cobaan yang selalu datang menimpa keluarga mereka, bisa dipastikan kalau saat ini mereka menjadi lebih kuat dan dewasa dalam menghadapi masalah yang datang.
Meli terharu melihat anak dan suaminya yang saling mengutarakan isi hati mereka, apa yang dikatakan Umaya dan Bima itu benar. Dan mereka berdua adalah alasan terkuat mengapa Meli menjadi wanita tangguh, wanita hebat, dan wanita yang paling bahagia di dunia ini. Mungkin tanpa Bima dan Umaya di hidup Meli, Meli tidak akan pernah ada di tempat ini sekarang, Meli tidak akan kenal dengan Bima dan Meli tidak akan pernah menginjak rumah Bima.
"Umay sayang sama papa, Umay sayang sama mama. Papa dan mama adalah penguat Umay selama ini, kalau Umay ngerasa lelah, kalau Umay ngerasa capek, kalau Umay ngerasa putus asa, wajah mama dan papa langsung muncul sebagai pengingat kalau Umay harus bahagia dan berhasil melewati cobaan dengan baik. Umay bersyukur Umay dilahirkan bersama orang tua yang sangat baik hati. Umay sayang papa dan mama, sayang banget." Umaya masih memeluk papanya dengan erat, menyampaikan isi hatinya yang selama ini susah ia ungkapkan.
Umaya benar-benar bahagia karena papanya sudah memberi restu untuk pernikahannya. Ini benar-benar momen bahagia yang selalu Umay nanti-nantikan.