Chapter 2 - First Meeting

2258 Kata
Bismillahirrahmanirrahim ✿_____✿_____✿ Nothing's gonna change my love for you. Tak ada yang mampu mengubah rasa cintaku padamu. ✿_______________✿_______________✿ "Kenapa wajahnya suntuk begitu, Al?" Alden yang baru mendaratkan bokongnya di atas sofa hanya mengembuskan napas lelah. Ibunya tidak tahu kalau ia pulang untuk memberitahu kabar buruk. "Ada kasus yang bikin kamu galau?" tanya sang ibu. "Ada, Bu." Alden melirik ke samping. "Apa?" Tangan sang ibu memijit lengan Alden. "Kasus kisah cinta aku ...." Sang ibu mengernyit. "Aina mutusin untuk batalin pernikahan kita." Tangan Galiena terangkat, menutup mulut yang terbuka. "Sekarang aku nyesel, pernah setuju untuk bantu klien aku yang dituding bunuh adiknya." Alden sempat menolak untuk membantu gadis itu. Tapi dia meyakinkan Alden bahwa dirinya sama sekali tidak bersalah. Atas suruhan ayahnya, Delia menginginkan pengacara bernama Alden yang ada di Firma Hukum Prajana untuk membelanya dan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Hal ini membuatnga teringat akan kasus lama yang di mana ia berhasil menyelamatkan klien atas tuduhan pembunuhan terhadap korban yang tinggal di perumahan. Kasus yang mempertemukan dia dengan Aina. Lucu sekali, bukan? Ia bertemu dengan Aina karena sebuah kasus, berpisah juga karena sebuah kasus. Alden mencari bukti yang kuat, menanyai tersangka di mana saja dia saat pembunuhan terjadi. Memintanya untuk menceritakan semuanya secara detil tanpa menyembunyikan apa pun. Tersangka berhak meminta pengacara untuk merahasiakan apa yang dikatakan tersangka. Jawaban yang diberikan tersangka kala itu membuat Alden harus turun langsung ke lapangan untuk mencari bukti. Lelaki itu rela panas-panasan untuk memastikan di tempat yang disebut kliennya ada sesuatu yang bisa membantu. Dia melihat ruko-ruko, berharap ada yang memasang CCTV yang dipasang di luar. Dengan begitu, ia bisa mengajukan bukti saat di persidangan yang tinggal dua hari lagi. Mata Alden berbinar kala melihat CCTV di sebuah butik. Ia menjentikkan jari dan langsung berlari kecil memasuki butik. Dibukanya pintu, mendapati manekin-manekin yang dipakaikan gaun pengantin dengan desain indah. Ia melihat seorang perempuan tengah mengukur tubuh perempuan lain menggunakan meteran sambil sesekali mengobrol kecil di dekat jendela sana. "Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya salah satu pegawai yang menghampiri Alden. "Ada, Mbak." "Baju pengantin?" "Saya mau izin periksa CCTV butik ini. Apakah bisa?" Pegawai di hadapannya membulatkan bola mata. Tidak paham. "Saya butuh melihat CCTV yang ada di luar butik ini." Alden memperjelas. "Ada apa, ya? Mas mau beli baju pengantin atau mau dibuatkan sesuai dengan keinginan? Kebetulan saya desainer sekaligus pemilik butik ini." "Bukan, Mbak, Mbak.... Saya ingin memeriksa CCTV ...." "CCTV? Buat apa, Mas? Anda mau ngapain liat CCTV butik ini? Anda mata-mata, ya?" tanya wanita yang masih memegang meteran dengan sorot was-was. "Anda berani ngelakuin itu?!" Alden menggaruk-garuk kepala. "Saya nggak bakal tertipu sama tampang Anda. Lagi pula sekarang sedang musim penjahat yang ganteng. Butik ini milik saya, jadi saya nggak bakal kasih liat CCTV-nya. Anda keluar sekarang." Alden segera mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. "Saya pengacara dari Firma Hukum Prajana. Saya sedang mencari bukti untuk membuktikan bahwa klien saya yang dituduh sebagai pembunuh nggak bersalah. Jadi mohon bantuannya, Mbak." Mata Aina mengedip. "Sebagai gantinya nanti saya akan mengajak Mbak makan malam. Bagaimana? Sepertinya Anda masih single." Mulut Aina terbuka. Percaya diri sekali pria ini. "How? You willing?" tanya Alden kali ini dengan sorot berbeda, dia memandangi sang pemilik butik dari bawah hingga atas. Menarik juga. Dia seorang designer, tapi penampilannya amat sederhana. Enak dipandang saking bersahajanya. Hanya sebatas baju atasan dan rok panjang, dan kerudung segi empat yang membingkai wajah. "Saya akan kasih lihat CCTV-nya. Tapi maaf tawarannya ditolak." "Kenapa? Anda nggak kenal saya? Saya pengacara yang cukup terkenal padahal." "Ikuti saya. Mari kita liat CCTV-nya. Hanya itu tujuan kamu." Alden tersenyum. Dia pun mengikuti Aina. Berkat ketersediaan Aina untuk memberikan video hasil CCTV di butiknya, akhirnya Alden bisa membuktikan bahwa klien yang berstatus sebagai teman korban tidak bersalah. Video yang ditayangkan melalui proyektor menunjukkan keberadaan tersangka dan disaksikan oleh hakim, jaksa, dan semua tamu. "Bisa dilihat di sini, pada pukul 14.00 siang, tersangka sedang nongkrong di sebelah toko kain yang ada di pusat perbelanjaan." Alden menjeda video. "Tersangka mengatakan pada saya bahwa pada saat itu dia sedang frustrasi karena anaknya minta dibelikan seragam baru dan masalah finansial lainnya karena baru saja dipecat. Alasan dia menagih utang karena memang dia sedang sangat butuh." Semuanya menyimak dengan saksama. "Di samping itu, saksi melihat tersangka keluar dari rumah korban pada pukul 13.50. Dan jarak rumah korban dari tempat tersangka berada di jam tersebut cukup jauh. Saya sudah menghitungnya menggunakan mobil. Jangankan 10 menit, 20 menit pun kurang. Dari video CCTV ini sudah sangat jelas membuktikan bahwa orang yang dilihat saksi bukanlah tersangka yang kini duduk di sana." Alden menunjuk pria dengan baju tahanan duduk di kursi tersangka. Dari mulai persidangan Alden membawa pulpen di tangannya dan memutar-mutarnya. Sudah menjadi kebiasaan dia. Sejak sekolah, kalau ada momen persentasi dan bagian dia menerangkan, pasti ia menggenggam pulpen agar bisa bicara dengan lugas. Tanpa pulpen dia akan sulit untuk bicara di depan banyak orang. Kebiasaan itu ia bawa hingga detik ini. Alden sebut pulpen adalah benda keberuntungan. Alden berbalik ke arah hakim yang duduk di singgasananya, membuka dua tangan dengan pulpen yang terselip di sela jemari tangan kanan. "Kesimpulannya, saksi salah melihat tersangka terlebih saksi melihat dari jarak yang cukup jauh dan wajah tersangka pun dia tidak mengenalinya karena jalannya menunduk. Dan alasan bahwa tersangka sering menagih utang ke rumah korban, itu tidak bisa dijadikan bukti bahwa tersangka telah membunuh korban. Meskipun sudah membuatnya kesal, tapi dia tidak akan sampai hati membunuhnya. Apalagi korban adalah seorang perempuan." Sang pengacara memutar tubuh lagi, menghadap para penyaksi sidang ini. "Sudah dipastikan pelaku sebenarnya masih berkeliaran di luar sana." Tatapan Alden menilik-nilik ke sekitar. Dia bisa menerka siapa pelaku sebenarnya. Apakah dia ada di sini? Kini suami dari korban adalah tersangka ke dua dalam sudut pandang Alden. Terlihat Jaksa menyipitkan mata. Semua bukti sudah Alden patahkan. Kesimpulan yang dikemukakan Alden membuat mereka yang menyaksikan persidangan bisik-bisik. Jadi siapa pelaku sebenarnya? "Bisa jadi pelaku sebenarnya meniru gaya pakaian tersangka, agar bisa membuat orang yang melihat terkecoh untuk berjaga-jaga. Dan pelaku sebenarnya pasti orang terdekat korban yang sudah sering melihat tersangka dilihat dari cara dia yang mampu meniru gaya tersangka." Alden melirik kliennya yang mulai menunjukkan kelegaan. Lelaki itu mengedipkan sebelah mata seraya berdeak sebagai tanda bahwa kasus ini akan dimenangkan olehnya dan kliennya bisa bebas dari tuduhan. "Sekian dari saya, Pak Hakim." Alden membungkuk mengakhiri argumennya dan duduk kembali di kursi penasehat hukum. Begitu sidang selesai dan tersangka terbukti tidak bersalah, wajah Aina yang terbayang di kepala Alden. Lelaki itu tersenyum. Ia ingin bertemu Aina lagi, untuk mengucapkan terima kasih dan ... entahlah. Mengingat kasus-kasus yang berhasil ia selesaikan dan setelah dipikir-pikir kembali, inilah pekerjaannya. Inilah profesinya. Ia tidak boleh mencampuri urusan pribadi dan pekerjaan. Alden yakin, kliennya yang dituding telah membunuh adik Aina juga tidak bersalah. Alden sangat mencintai pekerjaannya. Lewat pekerjannya pula, ia bertemu Aina. "Aina marah?" Alden mengangguk. "Ibu bingung, jadi siapa pelaku sebenarnya? Ibu juga masih nggak percaya kalau bunuh diri." "Kalaupun Alisa memang bunuh diri, kita harus cari tahu apa penyebabnya." "Apa jangan-jangan kasusnya sama kayak waktu kasus yang kamu ceritain, waktu pertama kali ketemu Aina?" Alden menggeleng. "Beda, Bu. Yang dilihat saksi bener, orang yang sama. Karena waktu Alisa jatuh ke bawah, saksi yang ada di depan rumah Aina lihat Delia juga ada di atas balkon." "Hmm rumit, ya," komentar Galiena. Alden bersandar di bahu ibunya seperti anak kecil. "Sabar, ya. Mungkin Aina cuma lagi emosi sesaat." "Semoga." "Jadi Ibu gagal punya mantu desainer?" Aina mengingatkan Galiena pada almarhumah Lubna yang kata Abyan dulu punya cita-cita sebagai designer baju muslimah. ✿_______________✿_______________✿ "Aku cek-cok sama pacar aku, terus aku nggak sengaja dorong dia dari atas tangga saking keselnya. Aku pikir pacarku bakal langsung maafin aku, tapi keluarganya malah tuntun aku. Pak Pengacara tolong bantu aku, yaaa! Aku nggak mau masuk penjara!" Tangan gadis itu memohon. "Kenapa kamu berbuat sesuka hati kamu?! Tambah kerjaan aja! Hei! Gara-gara orang kayak kamu bisa bikin kehidupan orang lain kacau! Makanya fokus sekolah jangan pacaran! Dasar stupid! You stupid!" teriak Alden memaki-maki klien remaja yang datang ke firma hukumnya. Semenjak putus hubungan dengan Aina kerjanya hanya marah-marah kepada klien yang datang meminta bantuan. "Sabar, Tuan Alden. Minum dulu kopinya." Seorang pria yang umurnya di atas Alden meletakkan kopi dingin di meja kerja Alden. Dia adalah rekan kerja Alden sewaktu di firman hukum yang lama, tapi dia memilih ikut bersama Alden dan bersama-sama membangun firma hukum sendiri. Alden melirik nama merk yang ada di cup. Coffe Queen. Lelaki itu paling suka kopi rasa hazzel nut. Darah yang tadi sempat mendidih, mulai mendingin saat melihat kopi yang dibeli di kedai yang beberapa hari ini sudah tidak ia pijaki. Aina melarangnya masuk ke sana. Wanita itu benar-benar niat untuk menyiksanya. Jangan datang ke kafe aku untuk beberapa hari ke depan. Bantu aku untuk move on. Please? Coffe shop Aina tidak jauh dari letak firma hukum Alden. Hanya terhalang beberapa bangunan, melewati persimpangan dan berjalan hanya sekitar beberapa meter saja. Kedai kopi Aina juga menjadi tempat nongkrong favorit pengacara yang bekerja di kantor Alden. Si remaja yang tadi dimaki-maki Alden mulai menangis. "Jangan mentang-mentang orang tua kamu kaya terus kamu bisa berlaku seenaknya." Suara azan berkumandang, Alden meminta sang klien untuk menunggu. Dia ingin pergi ke lantai atas untuk melaksanakan salat dulu. Sengaja di kantornya ia menyediakan tempat istirahat karena letak rumah orang tuanya dengan tempat bekerjanya cukup jauh. Jadi Alden jarang pulang ke rumah. Diraihnya kopi yang masih dingin, ditatapnya logo mahkota sebagai simbol dari nama Coffe Queen. "Nothing's gonna change my love for you ...." lirih lelaki itu. Ia akan tetap mencintai Aina bagaimanapun keadaannya. Ia akan buktikan pada Aina bahwa Delia tidak bersalah. Kemudian Alden meninggalkan meja kerjanya dan berjalan menuju tangga. "Gagal menikah sama Aina, jangan sampai bikin ibadah nggak istiqamah, ya, Al? Bukan berubah karena wanita, kan? Tapi murni karena Allah. Ayah sama Ibu kamu bakalan bangga!" Kalau urusan salat Alden pasti mengerjakannya, cuma jarang tepat waktu dengan alasan sibuk. Semenjak dekat dengan Aina perlahan ia bisa mengubah kebiasaannya. Ibunya saja cemburu. Kepada Aina dia luluh tapi kenapa pada orang tua susah sekali? Kenyataan itu menampar Alden. Sadar tidak sadar dia sudah menyakiti ayah dan ibunya. Jadi mulai sekarang ia akan berusaha ✿_______________✿_______________✿ Ini hari pertama Delia masuk kampus lagi setelah terjerat kasus soal kematian Alisa yang viral di kalangan mahasiswa tempat mereka menimba ilmu. Berita soal Delia yang menjadi tersangka utama menyebar bak api yang langsung melahap bangunan yang sudah disiram minyak. Hingga menjadikannya meledak-ledak dan kian panas karena Delia dan Alisa termasuk mahasiswa terkenal. Saat berjalan melewati koridor, semua pasang mata tertuju kepada Delia. Meskipun dia dinyatakan tidak bersalah, tapi hampir semua masyarakat percaya bahwa Delia dalang di balik kematian Alisa. Hanya saja hukum yang ditegakkan tidak adil. "s**l! Mati aja lo bikin hidup gue menderita!" Delia berdecak. Delia dikenal tidak menyukai Alisa dan mahasiswa lain sering melihat mereka sering bertengkar padahal keduanya berteman. Delia selalu mengatai bahwa Alisa masuk kampus ini karena orang tuanya yang kaya raya, hidupnya enak karena dijamin uang dari orang tua. Berbeda dengan dirinya yang kuliah tapi harus bekerja juga. Usahanya yang sukses membuat Delia mampu menghasilkan uang banyak dengan kerja keras sendiri. Delia benci anak yang bergantung pada kekayaan orang tua karena mereka bisa melakukan apa pun dengan bantuan mereka. Karena dia anak broken home. Orang tuanya bercerai. Sang ayah memilih pergi dengan perempuan lain. Delia selalu iri melihat kehidupan mulus Alisa. Meskipun begitu, Alisa tidak pernah marah karena mengerti posisi Delia. Puncaknya ketika Delia jatuh cinta kepada seorang lelaki, lelaki itu malah menyukai Alisa. Dari situ pertemanan mereka semakin tak sehat. Delia semakin benci kepada Alisa Betapa beruntungnya temannya itu. Punya ayah yang sangat menyayangi dia, finansial tercukupi, disukai lelaki sebaik dan sekeren Renaldi. "Gue udah bilang, kalau gue nggak bunuh Alisa!" teriak Delia lantang. Selain senang merendahkan orang lain, Delia juga dikenal sebagai perangai pemarah. "Mana ada sih maling yang mau ngaku? Huuuu!" sahut beberapa mahasiswa yang kemudian melempar tatapan sinis. Delia memejamkan mata. Sampai akhirnya dia tiba di kelas, ia melihat mejanya dipenuhi sampah yang menghasilkan bau tak sedap. Yang lebih mengenaskan, ada tulisan 'Pembunuh' yang ditulis dengan saus. Dua tangan Delia mengepal kuat hingga buku-buku jari menonjol. Delia menghampiri seorang mahasiswa yang duduk di jajaran paling belakang. "Heh! Winda! Tolong kasih tau mereka kalau gue nggak bunuh Alisa! Lo tau sendiri kan, sebenci-bencinya gue sama Alisa gue nggak bakal sampai hati bunuh dia." Winda tidak menanggapi, dan tetap fokus pada novel bacaannya. "Winda!" Delia menggebrak meja. "Kita bertiga berteman. Gue nggak mungkin ...." "Berteman?" Winda menutup novelnya. "Apa ada teman yang bunuh temennya sendiri?" Delia tercengang. "Apa ada teman yang sering marahin temannya sendiri cuma karena statusnya? Apa Alisa minta terlahir dari orang kaya?" "Wah! Lo kok jadi berani gini sama gue? Mana Winda yang polos?!" labrak Delia kemudian mendorong sebelah bahu Winda. "Ternyata sekarang topeng lo kebuka, ya?!" "Sadar dong, lo! Kalau bukan karena gue lo itu nggak punya temen! Dasar cupu! Culun!" "Apa kesalahan Alisa sebesar itu sampai kamu tega bunuh dia? Bukan salah Alisa kalau Renaldi suka sama Alisa. Selama ini Alisa udah baik sama kamu. Tapi ini balasan kamu?" "Astagaaa, gue udah bilang kalau gue nggak salah! Bahkan pengacara gue aja percaya kalau gue nggak salah!" "Buktinya?" "Gue bakal buktiin ke semuanya kalau gue nggak bersalah!" Saat tahu putrinya menjadi tersangka pembunuhan, ayah Delia mengirim sang putri uang untuk segera menyewa pengacara terbaik. Ia tidak mau nama baiknya tercontreng hanya karena Delia. Ia sudah bahagia dengan istri barunya yang kaya raya, tapi putrinya masih saja membawa masalah. ✿_______________✿_______________✿
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN