Bismillahirrahmanirrahim
✿_____✿_____✿
Ternyata luka yang didapat double jika yang menyakiti adalah orang yang kita sayangi.
✿_______________✿_______________✿
"Ret, bisa tolong ganti lagunya?" pinta Aina yang kala itu tengah mendesain model baru di kertas gambar. Ia baru mengerjakan separuh.
"Kenapa Mbak Ai? Bukannya Mbak suka ya sama lagu-lagu Westlife? Apalagi yang beautiful in white."
"Saya bilang ganti ya ganti."
"Iii ... iya, Mbak." Retno baru sadar kalau Aina batal menikah, tentu saja dia tidak mau mendengar lagu romantis apalagi lagu favoritnya bersama lelaki yang kini berstatus menjadi 'mantan calon suami'. Dari Aina, Retno belajar bahwa sebelum akad benar-benar dilakukan, rencana pernikahan bisa gagal kapan saja di waktu tak terduga.
Oh, iya, Retno ini adalah asisten khusus Aina di butik. Yang membantu semua pekerjaan Aina.
"Matiin aja. Saya butuh ketenangan."
"Siap Mbak Ai!"
Mata Aina memejam.
Ia lepaskan pensil yang ada di genggaman. Sepertinya ini bukan waktu yang pas untuk mengerjakan project baru. Memang benar, kalau sedang banyak pikiran pekerjaannya jadi terganggu. Soal kasus kematian adiknya, perpisahannya dengan Alden, juga mendapat pertanyaan dari teman-teman soal persiapan pernikahan. Sekarang ia masih punya alasan menunda pernikahan dengan alibi masih berkabung. Tapi entah beberapa hari ke depan.
Pintu butik terbuka, Aina melempar pandangan ke arah pintu. Ada yang datang. Dan ia mengenalnya.
"Assalamu'alaikum, Kak." Wanita itu mendekati Aina dengan senyum di bibir. Kacamata membingkai dua matanya.
"Waalaikumussalam. Eh, Winda."
Semenjak kematian Alisa, Winda dan Aina jadi lebih sering bertemu. Menurut Aina, Alisa adalah sosok adik yang sangat tertutup. Ia jarang berbagi masalah kepada siapa pun termasuk ayahnya sendiri. Yang Aina tahu, selama ini Alisa selalu terlihat baik-baik saja.
"Kakak lagi desain baju yang baru?"
Aina mengangguk. "Cuma kayaknya kali ini bakal butuh waktu yang lama. Isi otak udah kayak benang kusut."
"Kakak harus refreshing otak dulu," usul Winda.
"Apa Delia udah masuk kampus lagi?"
Winda mengangguk.
"Gimana dia?"
"Semua anak-anak kampus kan udah tahu kalau Delia jadi tersangka pembunuhan Alisa, jadi mereka musuhin Alisa."
Aina menggigit kukunya. Bimbang.
"Cuma karena aku bela Delia, kamu kayak gini? Kamu harus paham, Ai. Delia itu dinyatakan nggak bersalah. Apa aku harus biarin dia dipenjara sedangkan dia nggak terbukti bersalah?"
Kalimat yang dikemukakan Alden lagi-lagi mengganggunya.
"Delia nggak terima kalau semua mahasiswa salahin dia. Dia jadi semakin galak dan bikin teman-teman satu takut karena kadang bisa sampai ngamuk."
"Kakak semakin yakin, kalau Delia yang bikin Alisa jatuh," ucap Aina. "Kamu juga yakin, kan?"
"Iya, Kak! Aku yakin seratus persen kalau Delia yang udah bikin Alisa meninggal. Sebagai teman dekatnya, aku tahu gimana sikap Delia selama ini. Apalagi ke aku dan Alisa, padahal kita berteman."
"Jaksa bilang kalau ada lelaki yang disukai sama Delia tapi malah suka sama Alisa, kan?"
"Iya, Kak."
Aina memijit keningnya. "Selama ini Alisa nggak pernah cerita apa pun. Hidup seolah tanpa masalah."
"Orang yang nggak pernah cerita apa pun atau nggak pernah nangis, bukan berarti mereka nggak punya masalah atau kejadian yang bikin dia nangis. Itu tanda-tanda orang kuat, Kak. Yang bisa mendem semuanya sendirian."
"Kakak ngerasa jadi 'kakak' yang nggak becus."
✿_______________✿_______________✿
Alden tercenung melihat pemandangan di depannya. Meja kerja dia berhadapan dengan meja kerja Om Gustin berjarak sekitar lima lantai. Pria dua anak itu terus saja bolak-balik dari lantai atas ke bawah.
"Kenapa kamu nggak bikin toilet di lantai bawah?" tanya Om Gustin yang baru duduk lagi di kursi kerjanya dengan raut wajah kelelahan.
"Takut nanti kalau ada yang buang air besar baunya kecium sampai ke sini. Nanti klien nggak betah lama-lama di tempat ini," jawab Alden seraya melepas kacamatanya. Dia hanya pakai kacamata jika sedang bekerja di kantor saja.
"Jadi Om Gustin bolak-balik ke toilet?" tanya Alden.
"Sakit perut, Al. Mana sekarang ada jadwal saya ketemu klien. Kayaknya harus dibatalin."
"Ya udah pasti kliennya ngerti. Don't worry." Alden mengibaskan tangan.
"Al, kamu tahu nggak apa yang bikin enak saat kerja?" tanya Om Gustin.
"Apa?"
"Bekerja tanpa adanya tekanan!" jawab Pak Gustin berapi-api.
Alden mengangguk. Membenarkan.
"Saya seneng bisa bekerja satu firma sama kamu. Meskipun firma hukum ini masih kecil, tapi kamu keren! Banyak klien yang datang dan puas sama hasil kerja kamu. Saya juga kerjanya bisa santai, sambil ngobrol-ngobrol pakai bahasa santai juga. Beda kalau di kantor firma hukum yang dulu. Nggak bisa bebas kayak di sini."
"Itulah sebabnya saya bikin firma hukum sendiri, Om. Biar lebih enak kerjanya. Bisa lebih leluasa juga ...."
"Sayang! Sini!"
Tiba-tiba Alden mendengar Om Gustin berteriak demikian ke arah pintu. Ternyata istrinya datang sambil membawa tote bag yang entah apa isinya. Tidak usah kaget lagi. Istrinya sering mampir ke sini untuk melihat keadaan sang suami.
Om Gustin dan istrinya cipika-cipiki.
Alden bersandar di kursi, memerhatikan interaksi dua orang di depannya yang kian mesra meski usia pernikahan sudah lumayan lama. Sudah biasa ia menjadi obat nyamuk.
"Papa pulang aja kalau sakit perutnya makin parah. Iya, kan, Nak Alden?" tanya istri Om Gustin kepada Alden.
Enak, ya, punya istri. Kalau sakit dikhawatirin. Bisa cepat-cepat datang sambil bawa makanan atau obat.
Alden tipe orang yang malas makan karena waktu diforsir hanya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Apalagi kalau sudah mencari bukti, ia akan lupa segalanya kecuali mandi. Bagi Alden penampilan berada di tahap nomor satu daripada isi perut. Tidak boleh terlihat acak-acakan, tidak boleh bau keringat, tidak akan membiarkan kumis tumbuh di atas bibir atau janggut. Makanya dari mulai sampo, sabun badan dan pencuci muka, minyak rambut, parfum, pencukur kumis dan janggut, dll, Alden memilikinya, lengkap dan bermacam-macam.
Kalau keluar semuanya harus serba sempurna.
Pernah sekali lupa pakai parfum. Alden akan putar balik ke rumah daripada keluar tanpa parfum.
Paling nol dengan yang namanya masak kecuali mi instan. Makanya di kantornya, Alden lebih sering menyetok mi instan. Sering mendapatkan teguran dari Galiena karena menurutnya mi instan tidak sehat jika dikonsumsi setiap hari. Tapi namanya juga Alden yang keras kepala.
Alden pernah berharap, Aina akan sering datang ke kantornya sambil membawa makanan hasil masakannya saat sudah menjadi istrinya nanti. Ia pernah beberapa kali mencicipi masakan Aina, rupanya perempuan itu pintar masak juga selain lihai meracik kopi.
Benar-benar tipe istri idaman, bukan?
Sayangnya, baru akan dimiliki dia memilih pergi.
"Alden, kamu mau ke mana?!" tanya Om Gustin tatkala melihat Alden selesai membereskan meja kerjanya dan bergegas pergi sambil menenteng tas. Penampilannya sudah rapi.
"Ada urusan, Om."
"Kamu nggak iri, kan? Kamu nggak ada niat bunuh diri gara-gara batal menikah, kan?!"
Alden tidak menyahut dan terus berjalan menuru pintu keluar.
"Alden!"
✿_______________✿_______________✿
Alden tiba di sebuah tempat. Sekarang dia punya jadwal menemui klien yang masuk rumah sakit saat ditahan kepolisian. Ada hal penting yang ingin dibicarakan sang klien.
Pandangan Alden tidak sengaja berhenti pada sosok perempuan yang berjalan setelah bertanya ke resepsionis.
Alden yang penasaran bergegas mengikuti jejak wanita yang ia pikir adalah Aina. Untuk apa dia datang ke tempat ini? Kepalanya kini dipenuhi berbagai macam pertanyaan.
Aina memasuki sebuah ruang rawat VIP. Alden tiba di sana juga kala pintu kembali tertutup.
"Aku heran sama yang udah nyerang kamu. Bisa-bisanya dia jambret dan nyelakain seorang Jaksa? Nggak takut dituntut pasal berlapis-lapis, ya?"
"Aku baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatir," ucap Aska yang keadaannya sudah membaik.
"Nggak khawatir gimana, Ka? Kamu hampir meninggal."
"Kalau aku meninggal gimana?"
"Jangan ngomong begitu!"
"Jawab aja."
"Kok setelah dioperasi kamu nyebelin, ya? Biasanya nggak pernah banyak ngomong."
"Aku banyak ngomong?"
"Eh enggak, deh. Oke aku jawab. Ya aku bakal sedih banget, lah. Kamu itu sahabat aku dari kecil meskipun pernah renggang gara-gara kamu nggak jujur!"
Aska tersenyum kemudian termenung, mengingat kejadian beberapa hari lalu saat Ardi datang ke rumahnya. Kebetulan Aska sedang sendiri karena orang tuanya sedang ada di luar. Lelaki itu datang untuk memohon agar Aska yang bertanggung jawab kasus Alisa bisa menghukum pembunuhnya dan kembali menuntut Delia dengan dakwaan pembunuhan.
"Bukti yang kita punya lemah, Om. Sulit untuk meyakinkan hakim."
"Lakukan sidang ulang dan kamu bawa bukti palsu ke persidangan."
Aska tertegun mendengar ucapan orang tua di hadapannya. Selama menjadi Jaksa, belum pernah ia melakukan hal kotor tersebut. Membawa bukti palsu sama saja ia menang secara curang dan merugikan tersangka jika memang benar ia tidak bersalah. Walaupun Aska banyak mengenal Jaksa yang mulai berani bermain curang, kena suap orang berkuasa, dijanjikan kenaikan jabatan setelah menyembunyikan kebenaran, Aska tidak mau ikut-ikutan. Untuk bisa mencapai di titik ini ia telah melewati berbagai perjuangan. Ia tidak mau berjuang hanya untuk bermain kotor dan merusak nama baik gelarnya sebagai seorang jaksa.
"Bawa bukti palsu yang bisa membuat anak itu dipenjara. Om nggak terima kalau dia bebas begitu saja." Ardi menarik kerah baju Aska sambil melotot. Bulu kuduk Aska meremang. Ia tidak kaget lagi lelaki terhormat seperti Ardi bisa meminta dan melakukan ini padanya karena mereka sudah kenal sejak lama. Mungkin ini sebagai bentuk kekecewaannya. "Buat bukti palsu."
"Maaf, Om, saya nggak bisa." Aska menggeleng. "Beri saya bukti asli yang bisa mendakwa Delia. Saya nggak mau bermain kotor seperti itu."
"Hanya itu satu-satunya cara supaya kita bisa menangkap pembunuh anak saya. Apa salahnya?!"
"Tapi Delia nggak ...."
Ardi melepaskan kerah baju Aska.
"Kenapa semua orang membela gadis itu?!" Suara Ardi terdengar lemah.
Ardi mundur dan duduk di atas sofa kemudian menangis. Ia sangat kehilangan Alisa.
Aska menatap nanar Ardi. Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakannya.
"Maaf, Om tadi terlalu emosi," ucap Ardi menunduk.
"Nggak pa-pa, Om. Saya bisa mengerti."
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganjal?"
Aska menggeleng.
"Nggak papa, cerita aja."
"Nggak pa-pa."
"Ya udah kalau begitu aku pulang dulu. Semoga kamu bisa cepat pulih, ya. Nurut apa kata dokter, dan harus banyak istirahat. Nggak usah banyak berpikir macam-macam."
Setelah kepergian Aina, Aska melirik buah-buahan yang tersimpan di nakas pemberian Aina tadi.
Aina membuka pintu, dan betapa kagetnya dia saat melihat lelaki yang baru saja membalikkan badan dengan ekspresi sama terkejutnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Aina.
"Aku ... aku mau jenguk juga, lah." Alden menerobos masuk ke ruang rawat Aska. Di dalam ia langsung menyapa lelaki yang sudah lama ia kenal karena sedang bertemu di pengadilan, ditambah Aska juga sahabat Aina. Jadi Aska bukan orang asing lagi di mata Alden.
"Hay! Gimana keadaannya? Meskipun kita sering bertarung di persidangan, tapi di luar pekerjaan kita berteman, kan?" tanyanya basa-basi. Tidak biasanya Alden seramah itu meskipun sedang ada di luar pekerjaan.
Alden melihat buah-buahan yang tadi ia lihat di tangan Aina, ternyata memang untuk Aska.
Cemburu itu pasti ada. Di luar terlihat biasa saja, tapi di dalam ada rasa khawatir yang disembunyikan sedemikian rupa. Kini Aina sudah lepas dari genggamannya, dan lelaki yang kini berbaring di sana adalah cinta pertama sekaligus sahabatnya, Alden bisa melihat betapa cemasnya Aina terhadap Aska. Lewat gerak-gerik, cara bicara, dan segalanya.
Melihat Aina yang pergi, Alden yang awalnya berwajah ramah kembali memasang wajah tegas. Dia pun keluar dan mengejar Aina.
Aska menatap pintu. Ia tahu rencana pernikahan yang akan mereka laksanakan beberapa hari lagi batal. Hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja.
"Pakai ini ...." Aska menyodorkan sapu tangan warna biru tua kepada Aina begitu melihat setetes air mata mengalir dari sana.
Aina yang sedang melamun di depan pagar rumah sedikit kaget karena fokus dengan rasa sakit di hatinya, tanpa sadar bahwa ada Aska di sebelahnya.
Rumah mereka bersebelahan, jadi bukan hal aneh lagi dia berdiri di dekat Aina.
"Masih tentang Alisa?" tanya Aska.
"Tambah satu masalah lagi." Aina mengambil sapu tangan yang ada di tangan Aska.
"Apa?"
Aina menatap Aska yang tingginya melebihi dirinya.
"Malem-malem gini ngelamun di luar. Kamu nggak takut kerasukan setan?"
Aina terkekeh sebentar, menyeka air mata dengan sapu tangan pemberian Aska.
"Kayaknya aku bakal gagal menikah sama Alden. Papa marah kalau aku terusin pernikahan itu. Walaupun aku sama-sama marah dan kecewa sama tindakan Alden, tapi nggak harus sampai batal menikah juga. Tapi Papa ...."
Bibir Aska terkatup rapat. Tatapan matanya kosong.
"Papa udah nggak mau terima Alden lagi dan aku nggak bisa berbuat apa pun selain ikut sama keputusan papa. Makanya aku kesel dan keluar rumah. Aku malas ketemu papa. Aku lagi pengin di sini. Ini berat buat aku. Di umur aku yang sekarang, aku udah malas cari lelaki lain lagi. Aku udah nyaman sama Alden, aku pikir memang dia pelabuhan terakhir aku."
Hening beberapa jenak, angin malam menyapu keduanya, bintang di atas berkedip-kedip di gelapnya langit malam.
"Ya, aku paham perasaan kamu. Sekarang lebih baik kamu ke dalam, nanti masuk angin. Apa pun keputusan Om Ardi, itu untuk kebaikan kamu. Atau bisa jadi ini untuk sementara aja. Tetep positif thinking."
Aska pun berbalik, diam sebentar, berpikir entah harus bahagia atau sedih saat tahu bahwa hubungan Aina dan Alden tak akan direstui.
Sepertinya Aina sudah sangat mencintai Alden. Cinta mereka pasti jauh lebih besar dari hanya sekadar restu orang tua. Mereka pasti akan saling memperjuangkan yang perlahan akan meluluhkan hati Ardi. Aska tidak mau mengambil harapan walau hanya satu persen. Keputusan untuk melupakan perasaanya kepada Aina tidak boleh dirusak lagi hanya karena ini.
Di halaman rumah sakit terdengar ambulan, sepertinya sedang kedatangan banyak pasien, suara sirine bersahut-sahutan. Aina lekas menghentikan langkah dan menutup dua mata kala beberapa pasien lewat di hadapannya dengan luka berdarah, kesakitan di atas brangkar. Menjerit tak tertahan. Mendadak kepalanya pening.
Alden yang tadi mengejar Aina langsung pasang badan, menghalangi Aina tanpa menyentuh sedikit pun tubuhnya. Merasa sinar matahari seolah redup, perlahan Aina membuka jemari yang menutup wajahnya.
Ternyata benar, ketika Aina mendongak, ia melihat wajah Alden yang berdiri di hadapannya.
Selain Aska, hanya Alden yang tahu, bahwa ia trauma melihat orang yang berlumuran darah. Karena orang yang pernah ia tabrak dulu memiliki luka parah. Selain membuat trauma menyetir, dia tidak pernah tega dan selalu ketakutan melihat korban kecelakaan. Itu karena Aina sangat merasa bersalah.
"Aku bakal buktiin ke kamu kalau Delia nggak bersalah. Dan akan aku temuin pelaku sebenarnya. Dan kita akan menikah. Bilang sama aku, ini cuma ditunda, kan?"
"Untuk apa kamu cari lagi? Dia udah ketemu. Tapi karena ada pengacara so pintar dan hebat yang bikin dia bebas."
Alden terdiam.
"Kenapa diam? Benar, kan ucapan aku?"
"Your words hurt me."
"Your actions hurt me!"
"Apa kamu mau tuntasin perasaan kamu sama Aska yang dulu? Kamu masih suka sama dia, kan?"
Kening Aina mengernyit.
"Kalau begitu, kamu anggap aku apa? Pelampiasan?"
"Jaga bicara kamu, ya, Al. Kamu pikir aku perempuan apa? Jangan sangkut-pautin alasan kita selesai sama perasaan aku. Itu jelas beda!"
Skakmat untuk Alden. Ia terdiam lagi, kehabisan kata-kata, sadar telah salah bicara, membiarkan Aina meninggalkannya untuk ke sekian kali.
Alden tertunduk cukup lama, kemudian mengangkat kepala lagi, melihat seorang laki-laki lewat.
"Mas ke sini .... Anda mau uang?" tanya Alden kepada petugas kebersihan.
"Mau!"
"Saya tonjok dulu mau? Baru dapat uang."
"Hah?"
"Ya sudah kalau ..."
"Ehh iya, Mas. Mau. Tapi jangan kenceng-kenceng."
Alden memberikan dua lembar uang warna merah. "Deal! Jangan salahin saya kalau kamu bonyok. Kan udah saya bayar. Anda yang minta."
Si mas petugas kebersihan mengangguk serius.
Tak membutuhkan waktu dua detik, si petugas sudah terjungkal dan jatuh setelah mendapat tonjokan di pipi. Untungnya tidak sampai berdarah
Alden menatap buku-buku jarinya. "Kalau tonjok dinding nanti tangan saya bisa terluka. Jadi mending orang." Alden pun berlalu begitu saja.
"Gila! Kenapa sih tuh orang? Sakit tapi nggak pa-pa, lah. Dapet duit."
Alden lupa kalau ia belum menemui kliennya padahal tujuan utama ia kemari adalah untuk itu. Stupid! Stupid, Anda! Dalam keadaan marah seperti anak kecil yang tidak dikasih uang jajan ia putar balik dan berjalan cepat memasuki bangunan rumah sakit lagi sambil membenarkan letak dasi dan merapikan rambut.
✿_______________✿_______________✿