Setelah menginjakkan kaki di rutan, Alika merasa gugup luar biasa. Sejak di mobil, jemarinya terus meremas dan jantungnya juga berdetak tak karuan. Setelah beberapa hari, akhirnya ia harus kembali bertemu dengan pria yang menjadi calon suaminya. Saat semuanya melangkah masuk, langkah Alika justru tertahan. Ia ragu—sangat ragu. Ia benar-benar gugup hingga dirinya menahan langkah Nayla. Sementara Key, tak menyadari hal itu. "Kenapa, Kak?" tanya Naylaㅡheran. Alika menggigir bibir bawahnya dan berkata, "Aku ... gugup, Nay. Eum... Aku belum siap untuk bertemu dengannya." "Ck, Ini kesempatan bagus untuk kakak supaya bisa memperbaiki semuanya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Nanti Kak Dehan diambil wanita lain, kakak akan menyesal seumur hidup," ujar Nayla kesal. "Eum... Tapi akuㅡ" "Ck, t

