Bab 4. Menggoda

1523 Kata
Hari-hari terus berlalu, hingga tidak ada kebencian lagi yang dirasakan oleh Resti saat ini. Dan selama hampir 4 bulan Resti terpenjara akan cintanya terhadap Richard. Di mana ia mulai merasakan yang namanya jatuh cinta dengan suaminya, akan tetapi suaminya tidak sama sekali mencintainya. Berkali-kali lelaki itu menekankan bahwa tidak adanya cinta di dalam hatinya terhadap Resti, lalu hubungan yang ia inginkan hanya sebatas kebutuhan hasratnya saja. Sudah beberapa hari ini ia merasakan tubuhnya semakin cepat terasa lelah, belum lagi mual dan muntah di pagi hari, rasa pusing juga sering kali ia rasakan. "Deg!" Jantungnya berdebar-debar, saat ia mengingat jadwal menstruasinya yang dirasa bulan ini ia belum mendapatkannya. Resti bergegas berangkat ke apotik untuk membeli sesuatu sebagai alat benar dan tidaknya apa yang ia pikirkan saat ini. Setelah menggunakan alat tersebut, semua yang ia pikirkan benar. Saat ini ia sedang mengandung anak dari Richard suaminya. Ia akan memberi tahu suaminya nanti saat ia pulang dari kantor. Sore harinya Richard pulang dengan menggandeng seseorang. Resti menautkan kedua alisnya, saat dia menatap seorang perempuan disisi suaminya. Ia beralih menatap laki-laki itu seolah-olah sedang bertanya. Richard tersenyum simpul seolah-olah sedang mengejek Resti dan berkata. "Kenalin, ini istriku!" "Apa tadi dia bilang? istri!! kapan mereka menikah, bahkan dia tidak pernah meminta ijin padaku. Dia anggap aku apa?" batinnya bertanya-tanya. Belum lepas dari keterkejutannya suara Richard memutus lamunannya. "Sisila istriku, saat ini dia sedang mengandung anakku," ucap laki-laki itu merangkul Sisilia dan mengecup sekilas pucuk kepala perempuan itu dihadapan Resti. Seperti ada busur panah yang manancap tepat langsung menusuk relung hatinya. "Sakit." Resti membatin sembari meremat dadanya yang terasa nyeri. Ia genggam kembali alat tes kehamilan yang ia bawa tadi. Niat nya ia akan memberikan kejutan untuk suaminya, tapi malah ia yang diberikan kejutan itu. Ia masukkan kembali benda pipih tersebut ke dalam saku celananya. "Mulai saat ini, Sisilia akan tinggal di sini. Kamu harus menjaganya, karena Sisilia sedang mengandung anakku. Ngerti kamu?" tanya Richard sembari mengelus pipi halus Resti. Perempuan itu seperti terhipnotis, ia hanya bisa manganggukkan kepala saja. Mereka berlalu dari hadapan Resti, masuk ke dalam Rumah mewah milik Richard. Tanpa disadari oleh Resti, bulir air mata menetes di pipinya. Ia menunduk melihat perutnya yang masih rata, kemudian mengelusnya. "Kita berjuang sama-sama, kamu hanya milik Mama. Kita kuat hingga sampai di mana Mama lelah dan lebih memilih pergi dari pada harus bertahan." Resti berkata dalam hati sembari terus mengelus perutnya. *** Seperti hari-hari sebelumnya, setiap pagi Resti merasakan yang namanya morning sickness. Tidak ada suami yang memperhatikan dirinya, hingga ia diharuskan mengurus dirinya sendiri. Ia kini sudah terbiasa dengan keadaannya saat ini. Pagi ini ia merasakan nyeri di kepalanya yang sangat luar biasa, hingga ia tidak bisa untuk bangun mengerjakan pekerjaan rumahnya. "Di mana sarapannya?" tanya Sisilia megedarkan pandangannya. "Resti!!!" Suara Richard menggelegar diseluruh ruangan rumahnya yang cukup megah. "Sebentar aku lihat dulu," pintanya kemudian sembari menurunkan lengan Sisilia yang tengah bergelayut manja. Laki-laki itu berjalan ke arah kamar Resti yang terletak disebelah dapur, kemudian ia membuka pintu dan melihat Resti sedang meringkuk dengan menutupi seluruh tubuh menggunakan selimut tebal. "Resti!" panggil Richard menghampiri Resti. "Kamu kenapa?" tanyanya kemudian sembari menempelkan punggung tangannya dikening perempuan itu. "Enggak apa-apa, Mas!" jawabnya sendu menatap sekilas wajah suaminya, kemudian ia memutus pandangannya ke arah lain. "Aku ijin enggak buatin sarapan yaa, Mas! Aku enggak kuat berdiri. Kepingin rebahan aja," pintanya dengan lirih. "Boleh ya, Mas!" pintanya kembali karena ucapannya tak mendapat respon. "Ya sudah, aku sarapan di luar. Kamu istirahat," jawab Richard dengan enteng. Laki-laki itu meninggalkan Resti tanpa menanyakan keadaannya. Hatinya mencelos saat suaminya tidak memedulikannya. Ia sudah sarapan atau belum? Dan bagaimana keadaannya saat ini? Resti mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit. Air matanya terus menetes di kedua pipinya, hingga ia kelelahan menangis. Kemudian ia membaringkan tubuhnya untuk beristirahat kembali. *** Hari-hari berlalu seperti sebelum-sebelumnya, Resti menjadi sosok yang pendiam bahkan ia sama sekali jarang untuk berbicara. Perempuan itu lebih memilih menghabiskan waktunya berada di dalam kamar, dibandingkan harus melihat kemesraan suaminya dengan istri mudanya. Malam ini perutnya terasa sangat lapar, yang ada dikepalanya saat ini adalah sepiring nasi goreng seafood. Rasanya sangat menggiurkan jika memakannya. Perempuan itu mengecek dapur untuk mencari apa saja yang bisa ia makan malam ini. Namun nihil, ia tidak menemukan apapun. Saat Sisilia mulai masuk ke dalam rumah ini semua keuangan dikelola oleh perempuan itu. Mulai dari kebutuhan bahan pokok mau pun yang lainnya. Jadi semua Sisilia yang mengatur dan membeli dengan secukupnya, karena ia dengan Richard jarang sekali makan di rumah. Saat tengah fokus mencari sesuatu, ia dikejutkan oleh suara barito dari arah belakang tubuhnya. "Ngapain kamu malam-malam?" "Enggak-" "Nih." Richard menyodorkan satu buah bungkusan, Resti bisa mencium aroma yang ia kenal seperti nasi goreng. Senyumnya merekah sembari menatap Richard. "Terima-" "Ngapain kamu senyum-senyum?" sela Richard sembari menautkan kedua alisnya ke arah Resti tanda bingung. "Taruh dipiring dan siapkan dimeja makan. Itu untuk Sisilia istriku," titahnya penuh dengan penekanan diakhir kalimatnya. Saat itu juga, lapar yang Resti rasakan hilang seketika, tatkala mendengar ucapan suaminya. "Baik, Mas!" jawab Resti berbalik badan guna mengambil piring, bulir bening menetes dipipinya. Dengan segera ia menghapusnya menggunakan buku jarinya. Ia ingin segera berlalu pergi pergi dari hadapan laki-laki itu. Setelah selesai apa yang dititahkan suaminya ia melangkah menuju kamarnya. Meninggalkan laki-laki itu seorang diri dimeja makan. Ia segera masuk ke dalam kamar, menutupnya dan bersandar didaun pintu, tangisnya pun pecah saat sudah berada di dalam kamarnya. Ia mengelus perutnya dan menghapus air matanya. ***** "Aduh-" cicit Sisilia tertahan. Hampir saja ia terjatuh apabila tubuhnya tidak ditangkap oleh Richard. Akan tetapi sikunya terkena meja makan. "Kamu enggak apa-apa sayang?" tanya Richard khawatir. "Enggak, untung saja ada kamu. Coba kalau enggak, aku bisa jatuh. Tapi ini sakit," ucap Sisilia manja sembari menunjuk sikunya yang sedikit tergores. "Ini nih, si Resti ngepel basah-basah. Sengaja kali, karena dia enggak suka sama aku," jelas Sisilia berbohong. "Resti!!" panggil Richard berteriak "Yaa, Mas! Ada apa?" tanya Resti, sedikit berlari dari arah dapur menghampiri suaminya. "Ada apa, ada apa! Kamu itu kalau ngepel pake otak," hardik Richard sembari menunjuk kepala Resti. "Ini licin, barusan Sisilia mau jatuh-" "Belum jatuh kan, dan enggak jatuh?" tanya Resti menatap Sisilia bergantian menatap manik mata Richard. "Berani jawab kamu?" Richard mencengkram dagu Resti, tangan satunya lagi menepuk-nepuk pipi Resti dengan kasar. "Sepertinya, sekali-sekali kamu harus diberi pelajaran. Biar kamu gak lawan aku dan nurut sama aku," ucapnya dengan seringai licik diwajahnya. "Aku enggak takut sama kalian, lagi pula aku enggak salah" jawab Resti lantang menatap Richard. Laki-laki itu menahan amarahnya, deru napasnya memburu dan tangannya sudah terkepal kuat. Ia menarik pergelangan tangan Resti dan menuntunnya setengah menyeretnya menuju kamar laki-laki itu. "Lepas... lepas, Mas!" sela Resti menghentakan tangannya, akan tetapi tenaga perempuan itu kalah kuat dengan Richard. Richard membuka paksa dengan kasar pintu kamarnya, melepaskan cekalan tangannya dan mendorong Resti untuk masuk ke dalam kamar miliknya. Ia menutup pintu itu dengan membantingnya hingga menimbulkan suara dentuman yang nyaring, lalu mengunci pintu tersebut. Dibawah sana, Sisilia tersenyum puas. Sudah dipastikan, Resti akan disiksanya. "Kamu mau apa, Mas?" tanya Resti menatap Richard dengan lelehan air matanya. " Kamu mau bunuh aku?" tanyanya lagi. "Diam!!" Richard menampar pipi Resti. Perempuan itu memegang pipinya yang terasa panas atas tamparan suaminya. "Aku istrimu, Mas!" "Diam!!" hardik Richard kembali, sembari menarik pergelangan tangan Resti menuju kamar mandi. "Jangan, Mas" pinta Resti lirih. Ia melihat Richard sudah membuka seluruh pakaiannya. Perempuan itu melangkah mundur hingga tubuhnya berhanti saat menyentuh pembatas kaca. Richard menyalakan showernya hingga air mengenai tubuh Resti seketika basah kuyup. "Kamu, istriku. Layani aku," titah Richard. "Kamu itu enggak lebih dari istri pemuas nafsuku," hina Richard. Sudah lama ia tidak menyentuh perempuan itu. Sungguh ia merindukan tubuh Resti saat ini. Namun ego mengalahkan segalanya. "Enggak, Mas!" Resti mendorong dan memukul-mukul d**a Richard. Tapi lagi-lagi tenaganya kalah kuat dengan laki-laki itu. Richard membuka paksa pakaian Resti, hingga keduanya sama-sama polos. Laki-laki itu mendorong dan membalikkan tubuh Resti, kemudian menyatukan tubuhnya dengan sangat kasar. "Sakit, Mas! Stop! Sakit!! Aku hamil, Mas!" pekik Resti sembari memegang perutnya. Seketika Richard tersentak dan sadar, bahwa apa yang ia lakukan saat ini sudah menyakiti istrinya dan sudah sangat keterlaluan. Ia melepas penyatuannya, dengan gerakan cepat ia membersihkan tubuhnya. Berlalu keluar meninggalkan Resti seorang diri yang tengah berada di dalam kamar mandi tersebut. Air mata bercampur dengan air shower yang mengalir membasahi seluruh wajah Resti, sakit hatinya pun sudah tidak bisa lagi ia ungkapkan dengan kata-kata. Dengan sisa-sisa tenaganya ia membersihkan diri, lalu memunguti pakaiannya yang sudah berceceran di lantai yang basah, dan memakainya. "Res!" panggil Richard saat melihat Resti keluar dari dalam kamar mandinya. "Anak siapa?" tanyanya menghampiri Resti "Bukan, anak kamu!" jawab Resti dengan cepat tanpa keraguan "Dasar jalang, kamu berselingkuh?" tuduh Richard menampar pipi Resti untuk yang kedua kalinya. Richard menatap telapak tangannya, kenapa ia jadi seperti ringan tangan terhadap perempuan. Ia terhenyak sesaat kemudian menepiskan rasa iba nya. Perempuan itu memegang pipinya yang terasa kebas atas tamparan suaminya yang kedua kalinya. Tanpa mau menjawab pertanyan suaminya, ia berlalu dari hadapan laki-laki itu menunju lantai bawah. "Heh, kamu abis menggoda suamiku?" tanya Sisilia menautkan kedua alisnya bingung, saat melihat penampilan Resti yang kacau. "Ingat nona, suamimu itu suamiku juga. Jadi bebas aku menggoda suamiku sendiri" jawab Resti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN