"In-Intan?"
*****
Nuni syok melihat Intan yang tiba-tiba datang dan langsung memeluk bahkan mencium Alex. Yah walaupun hanya di pipinya, tapi tetap saja ia tidak rela. Memang siapa yang rela jika pacarnya dicium wanita lain di depan matanya? Apalagi wanita itu adalah masa lalu dari pacarnya itu. Jika ada yang rela, fix berarti orang itu kadar kewarasannya harus dipertanyakan.
Nuni sebenarnya sudah menduga Intan akan datang, tapi ia tidak pernah menduga jika Intan datang di sekolahnya dan memakai seragam sekolah itu. Dan otomatis pastinya Intan akan bersekolah di tempat yang sama dengan Nuni dan Alex. Itu berarti Nuni harus benar-benar menjaga Alex agar Alex tidak jatuh lagi di pelukan Intan, masa lalu yang belum dilupakan Alex.
1 detik.
5 detik.
10 detik.
Prok prok prok
Nuni bertepuk tangan tiga kali, "Hmm ok, time's up. Cukup buat kangen-kangenannya, sekarang lepasin tangan lo dari cowok gue." Nuni menarik paksa Alex hingga pelukan Intan terlepas lalu memeluk lengan Alex posesif.
Intan menatap Nuni benci, "Siapa lo hah?! Berani-beraninya lo meluk tangan cowok gue!" Bentak Intan pada Nuni.
Nuni menatap Intan sinis plus dengan pandangan merendahkannya, "Cowok lo eh? Ngaca dulu deh coba. Punya kaca kan? Masa orang kaya lo ga punya kaca sih? Atau perlu gue beliin? Engga dong ya? Mau ditaro dimana muka lo kalo gue beliin kaca? Denger ya, satu sekolahan ini juga tau kalo gue, Nunia Chika Adriani itu pacarnya Alexander Prayoga."
"Pacar darimana hah?! Jelas-jelas gue belom putus sama Alex!" Intan tetap kekeh dengan ucapannya.
"Belom putus hm? Sadar diri bisa? Coba lo inget-inget berapa tahun lo ninggalin Alex? Apa lo pernah hubungin dia? Dia yang selalu hubungin lo, tapi kadang gak lo respon kan." Nuni menatap Intan tajam, Intan kehabisan kata-kata karena memang yang diucapkan oleh Nuni itu benar.
Intan memang jarang menghubungi Alex, bahkan bisa dibilang ia menjauhi Alex karena Intan disana sibuk berpacaran dengan beberapa pria. Bagaimana Nuni bisa tau? Nuni tau dari Rendra. Dan Rendra tau dari Bima, sepupu Alex yang diam-diam menyewa mata-mata untuk memata-matai Intan yang berada di Australia. Karena ia ingin menjauhkan wanita itu dari Alex.
"Denger ya gue pergi itu cuma tiga tahun dan gue tau pasti Alex tuh nungguin gue. Karna apa? Karna dia cinta sama gue dan pastinya dia bakalan nunggu gue sampe gue balik, berapa lama pun itu."
"Iyakah? Apa buktinya? Dia nunggu lo? Cih jangan mimpi ya. Hello, wake up lady, he's mine. Alex udah jadi milik gue dan dia itu udah lupain lo. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar loh, apalagi lo gak pernah hubungin dia. Dan pastinya dengan cara itu dia bakalan lebih gampang buat lupain lo. Karena apa? Karena dia udah terbiasa hidup tanpa lo, jadi perlahan-lahan nama lo itu hilang dari hatinya, sedikit demi sedikit sampe hilang gak tersisa satupun." Nuni menekankan kalimat terakhirnya sambil menyeringai menatap Intan yang syok melihat Nuni yang berani padanya.
Intan diberi tau oleh Elisa, Nuni itu adalah pacar baru Alex yang cengeng dan manja. Yang bisanya hanya menangis saja. Tapi apa? Sekarang Intan dibuat tidak bisa berkata-kata oleh bocah itu. Intan ingin sekali menampar wanita yang ada di hadapannya ini, tapi ia harus menahan diri karena ada Alex yang memperhatikan. Ia harus bisa mengambil Alex dari tangan Nuni. Harus.
"Lo!" Geram Intan.
"Apa? Omongan gue bener eh? Sadar kan apa yang baru gue omongin tadi?" Sinis Nuni.
"Udah kan kangen-kangenannya sama Alex? Kalo gitu gue mau bawa pergi cowok gue dulu. Dan untuk kalian semua yang nonton kejadian ini ikutan bubar. Sekarang!" Nuni meninggikan suaranya dan menatap para murid yang menonton mereka dengan tatapan datarnya.
Tidak bisa dipungkiri mereka semua terkejut dan kaget karena Nuni yang biasanya ceria kini menjadi orang yang sangat berbeda, seperti memiliki kepribadian ganda. Bahkan Rendra dan teman-teman Alex yang lain juga ikut terkejut. Mau tak mau mereka semua pergi dari sana.
Alex yang sedari tadi diam menatap Intan dengan pandangan kosong kembali sadar karena Nuni yang meninggikan suaranya. Ia tidak menyangka jika Nuni yang ia kira adalah wanita ceria yang polos bisa menjadi seseram ini. Alex bahkan sampai bergidik ngeri melihat tatapan dingin milik Nuni. Tatapan itu sangat dingin, bahkan melebihi tatapan milik Alex sendiri.
Nuni menarik Alex pergi meninggalkan Intan yang diam dengan tatapan tajamnya ke Nuni. Ia sangat geram padanya karena telah merebut Alex darinya.
"Alex itu milik gue! Dan selalu akan menjadi milik gue. Gue gak suka apa yang gue punya diambil orang lain. Liat aja Nunia Chika Andriani, Alex akan jatuh ke pelukan gue lagi. Dan gue akan buat lo ngelepas Alex, dan itu atas kemauan lo sendiri." Intan menyeringai menatap punggung Nuni dan Alex yang semakin lama semakin mengecil dan memghilang.
Nuni menarik tangan Alex dan membawanya ke atap sekolah. Sepertinya Nuni dan Alex akan membolos di jam pertama karena bel masuk sudah berbunyi.
Nuni melepas tangan Alex saat sudah sampai di atap sekolah dan maju beberapa langkah dari Alex. Ia menyilangkan tangannya lalu memejamkan matanya. Alex menatap Nuni yang tengah memejamkan matanya. Rambutnya tertiup angin yang lumayan kencang hingga membuat rambutnya yang panjang sedikit terbang mengikuti angin.udah kek iklan shampoo aja ya wkwk ok sip abaikan ini
Satu kata yang ada di pikiran Alex. Cantik.
Alex berjalan dan berhenti tepat di depan Nuni. Ia menangkup wajah Nuni. Nuni otomatis membuka matanya. Ditatapnya mata Alex dalam. Jujur ia takut kehilangan Alex, bahkan sangat takut. Nuni sudah benar-benar mencintai orang yang ada di hadapannya ini.
"Kakak pacar aku kan? Kakak milik aku kan? Kakak gak akan ninggalin aku kan? Kakak gak akan milih dia kan? Kakak cuma milik aku seorang kan? Dan seterusnya akan kaya gitu terus kan? Nuni takut Kak, Nuni takut kalo harus kehilangan Kakak. Nuni gak bisa dan gak mau lepasin Kakak. Kakak udah janji ke Nuni buat lupain dia dan milih Nuni kan? Sekarang dia, orang itu, orang yang dulu pernah ada di hati kakak, bahkan mungkin sampe sekarang juga masih ada, udah ada di hadapan Kakak. Dia balik lagi, buat ngambil Kakak dari Nuni.
Please Kak, untuk sekali ini aja. Biarin Nuni egois, Nuni gak mau lepasin apa yang udah Nuni milikin. Kakak itu milik Nuni, dan Nuni gak mau apa yang Nuni punya itu diambil orang lain. Nuni akan pertahanin apa yang Nuni punya. Tapi inget Kak, Nuni juga punya batas kesabaran. Dan kalo batas kesabaran Nuni udah habis, dan Nuni juga udah gak sanggup pertahanin apa yang Nuni punya, Nuni akan lepas. Nuni akan lepas itu, termasuk Kakak. Buat apa pertahanin orang yang gak mau dipertahanin? Lebih baik dilepas. Karena berjuang sendirian itu sakit."
Tes
Satu tetes air mata Nuni jatuh. Alex menyeka air mata Nuni dengan lembut lalu mencium kedua mata Nuni.
"Jangan kamu buang air mata kamu, Sayang. Aku gak bisa liat kamu nangis kaya gini. Satu tetes air mata kamu itu berharga buat aku. Kamu hanya boleh nangis bahagia, dan itu harus karena aku. Aku itu milik kamu, Nun, milik kamu. Dan akan selalu begitu. Karena itu gak akan berubah, aku sayang kamu. Tolong, jangan pernah lepasin aku. Aku juga akan berjuang buat hubungan kita " Alex menatap Nuni lembut.
Alex mencium kening Nuni lama. Nuni menutup matanya.
Tes
Air mata Nuni jatuh lagi. Ia bahagia dan terharu atas ucapan Alex padanya. Tapi dalam hati Nuni, masih ada keraguan terhadap Alex. Alex masih mencintai Intan, dan Nuni tau itu.
'Semoga Kakak ga ngingkarin apa yang Kakak bilang tadi. Please Kak, Nuni mohon. Nuni gak mau kehilangan orang yang Nuni sayang, lagi.'