8

763 Kata
"In-Intan balik ke Indonesia?" ***** Nuni diam mematung. pandangan matanya mendadak kosong. Ia takut, sangat takut jika Intan kembali dan mengambil Alex darinya. "Nun, kamu kenapa?" Tanya Alex yang baru saja datang dan bingung saat melihat Nuni terlihat syok saat melihat ponselnya. "Nun...Nuni gapapa Kak." Ucap Nuni tergagap. "Kamu jangan bohong Nun." "Kak?" "Hm?" "Apa yang Kakak lakuin kalo Intan balik ke Indonesia?" Alex diam mematung, lidahnya kaku untuk menjawab. "Kak?" Alex masih diam. "Kakak udah bilang mau lupain dia kan? Nuni harap Kakak tepatin janji Kakak." Alex menatap Nuni. Nuni berdiri dari duduknya. "Intan balik ke Indonesia. Jangan balik lagi ke dia, please Kak, untuk sekali ini Nuni mau egois buat ga ngasih apa yang udah Nuni milikin ke orang lain." Nuni mengembalikan ponsel Alex. "Nuni pulang dulu Kak." Nuni mencium pipi Alex lalu segera pergi dari restoran meninggalkan Alex yang masih diam mematung. Tes Air mata Nuni jatuh, ia buru-buru menyekanya dengan kasar. "Tenang Nun, Kak Alex udah janji dia gak bakal ninggalin lo Nun." Ucap Nuni menyemangati dirinya sendiri. Walaupun dalam hatinya ia tidak yakin jika Alex bisa menepati janjinya. 'Yah semoga Kak Alex nepatin janjinya.' Batin Nuni. Greb Alex tiba-tiba datang dan memeluk Nuni dari belakang. Ia menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Nuni. "Aku akan berusaha lupain dia Nun, aku udah janji sama kamu kan? Laki-laki sejati itu yang dipegang adalah janjinya." Alex mengeratkan pelukannya. Nuni tersenyum dan mengelus tangan Alex yang ada di perutnya. Tapi beberapa menit kemudian seakan ia tersadar sesuatu, Nuni menggeplak tangan Alex dan menginjak kakinya. Alex refles melepaskan pelukannya dan meringis kesakitan. "Ini di tempat umum Kak ih tau malu dikit kek. Aduh ini muka Nuni mau ditaro dimana ini kyaaaa ember mana ember?" Ucap Nuni sedikit histeris. 'Nasib punya pacar yang spesiesnya antik kaya gini. Ini sih cocoknya di awetin terus ditaro di museum. Untung gue sayang, coba kalo enggak? Udah gue mutilasi terus dagingnya buat sarapan piranha di Danau Toba.' Batin Alex. Sejak kapan di Danau Toba ada piranha? Biarkanlah Alex berimajinasi semaunya :v Dan tentu saja mereka menjadi tontonan pengunjung disana. Sebelum Nuni berbicara lebih aneh lagi, Alex buru-buru membekap mulutnya dan meminta maaf pada pengunjung disana. Alex membawa Nuni yang masih ia bekap menjauh dari sana. Nuni memukul-mukul tangan Alex karena ia kehabisan nafas. Alex yang menyadari itu langsung melepaskan bekapannya. "Hehehe maaf Nun, tadi refleks." Alex mengeluarkan cengirannya. "Kakak nyebelin ih Nuni sebel." Nuni mengerucutkan bibirnya sambil melipat tangannya di depan d**a. "Sayang jangan ngambek dong." Alex menusuk-nusukkan jarinya di pipi Nuni. "Kak Alex ih jangan iseng deh." Nuni memutar bola matanya malas. "Makanya jangan ngambek dong." Alex mencubit kedua pipi Nuni. "Iya iya ih udah lepas sakit Kak sakit." Nuni meringis kesakitan. "Hehe maaf maaf." Alex melepaskan cibitannya. Terlihat pipi Nuni sedikit merah karena dicubit oleh Alex. ~~~ Alex saat ini tengah menjemput Nuni di rumahnya. Kali ini Alex pilih aman dengan membawa mobil miliknya. Ia kapok membawa motor yang ujungnya pasti kena amuk oleh pacarnya yang super antik. "Kak udah lama?" Nuni keluar dengan seragam sekolahnya. "Engga kok Sayang, ayo berangkat." Alex mencium kening Nuni lalu membawanya menuju mobilnya. Nuni duduk di samping kursi kemudi. Alex memasangkan sabuk pengaman Nuni. Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan, mereka selalu membicarakan banyak hal dan tertawa bersama. Sesekali Alex mencubit pipi Nuni karena ia bertingkah menggemaskan, menurut Alex. Untung lalu lintas tidak terlalu macet jadi mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. "Untung hari ini Kakak bawa mobil hehe." Nuni mengeluarkan cengirannya. "Iya lah, biar rambut aku hari ini selamat dari jambakan kamu." Alex mencubit pelan hidung Nuni. "Hehe maaf Kak." Nuni mencium pipi Alex. "Yuk keluar." Mereka keluar dari mobil Alex. Alex dan Nuni berjalan di koridor dengan Alex yang selalu melingkarkan tangannya di pinggang Nuni posesif. Selama perjalanan, Alex selalu memasang wajah datarnya saja. Kecuali ketika Nuni mengajaknya berbicara, pasti Alex akan langsung tersenyum. Banyak siswi yang histeris saat melihat Alex tersenyum karena itu adalah kejadian yang amat langka. Dan senyum itupun hanya diperuntukkan untuk Nuni, kekasihnya. Banyak siswi yang iri dengan Nuni karena hanya dia yang bisa mendapatkan senyum seorang Alex, Ice Prince of the school. "Eh denger-denger mau ada murid baru, pindahan dari London." "Dia juga cantik, lumayan lah nambah yang bening di sekolah." "Semoga aja dia masih jomblo, bisa lah gue deketin." "Denger-denger dia itu pernah pacaran sama murid sini." "Dan lo tau siapa orangnya? Dia itu mantannya Alex." "Hah? Serius lo dia mantannya Alex? Alex Ice Prince itu?" "Iya, namanya itu kalo gak salah Anti ehh Inta ehh Intan! Iya Intan namanya." "Wah berarti si Nuni ada saingannya itu." "Iyalah si Nuni harus jagain si Alex tuh." Deg Nuni berhenti melangkah. Ia terdiam. 'Intan? Intan sekolah disini?' Batin Nuni. "Sayang, kamu jangan khawatir. Aku akan lupain dia." Alex menangkup wajah Nuni. "Kita liat nanti aja Kak, semoga Kakak bisa nepatin janji Kakak." Ucap Nuni. "Hai Sayang, aku kangen banget sama kamu. Sekarang aku udah balik jadi kita bisa sama-sama lagi." Tiba-tiba ada orang yang memeluk Alex dari belakang dan mencium pipinya. "In-Intan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN