Nuni masih syok diam ditempat saat Alex meninggalkannya. Rendra menghampiri Nuni yang masih diam mematung dengan wajah pongonya tentu saja.
"Gila lo Dek! Dia itu cowok most wanted dan paling susah dideketin di sekolah ini dan dengan mudahnya dia nerima lo jadi pacarnya. Ckck beruntung banget lo." Cerocos Rendra panjang kali lebar kali tinggi.
"Beruntung darimana Kak? Lo tau ga sih Kak? Karna dia paling susah dideketin dan most wanted disini makanya gue takut, gils! Gue bisa dibully disini doh Kak otak lo taro dimana sih?!" Nuni refleks menjambak rambut Rendra hingga Rendra meringis kesakitan.
Banyak orang terkikik melihat Rendra sang ketua OSIS tengah dijambak oleh peserta MOS. Tapi Nuni tidak perduli, ia tetap menjambak Rendra tanpa ampun. Bahkan tanpa mereka sadari Alex juga melihat kejadian tersebut sambil terkikik. Sepertinya pacar barunya ini cukup menyenangkan.
"Anjirr sakit k*****t mana ada sih peserta MOS berani jambak ketos? Elu doang yang berani jambak gue sialan." Gerutu Rendra sambil menahan sakit di kepalanya.
"Bodo amat ih gue gak perduli malah gue berharap kepala lo ilang sekalian Kak aaaaa gue sebeeelll." Nuni tetap menjambak Rendra.
"Ehem apa gue ganggu?" Nuni dan Rendra mengalihkan perhatian mereka pada orang yang mengganggu kegiatan Nuni memberi pelajaran pada seniornya.
"Enggak kok Lex, gue beruntung lo disini. Bisa lo bawa cewe lo pergi? Anjir kepala gue rasanya mau copot abis dijambak cewe lo. Kayaknya cewe lo punya kekuatan tenaga banteng." Celetuk Rendra yang membuat Nuni menjambak Rendra lagi.
"Apa kakak bilang? Ih kakak nyebeliinnn ketos sialan ketos k*****t ketos biadab aaaa mati ae lo sono Kak!" Teriak Nuni dengan masih setia tangan cantiknya menjambak Rendra.
"Adaawww Alex k*****t mending lo bawa minggat cewe lo Lex sumpah kepala gue sakit banget ini!" Ringis Rendra sambil memegang kepalanya.
"Ok." Alex langsung menggandeng Nuni pergi dari lapangan. Ia mengantar Nuni menuju ruangannya.
Saat di koridor banyak sekali yang memperhatikan mereka. Para siswi menatap Nuni sinis, iri, mencemooh, dan masih banyak lagi. Alex berjalan sambil memasang wajah datarnya sedangkan Nuni menundukkan kepalanya tidak berani mendongak.
'Itu pacar barunya Alex? Kok jelek banget.'
'Kok Alex mau sama itik buruk rupa gitu sih?'
'Sumpah gue gak rela Alex pacaran sama cabe macem dia.'
'Itu cewe kegatelan banget sih.'
'Fix gue gak suka dan benci banget sama itu cewe yang deket sama Alex.'
'Gila! Gue aja yang 2 tahun deketin Alex gak pernah di respon ehh dia baru nembak sekali langsung diterima.'
'Alex itu punya gue dan gue gak rela kalo Alex jadian sama cewe buruk rupa gitu.'
'Kayaknya itu cewe cuma dijadiin pelampiasan sama Alex karna Alex belom bisa lupain mantannya.'
Deg
Rasanya hati Nuni sakit saat mendengar jika Nuni hanya dijadikan pelampiasan. Apa itu benar? Jika benar sungguh Nuni akan menangis saat itu juga. Yah walaupun dia baru berpacaran beberapa saat lalu.
Nuni semakin menundukkan kepalanya. Banyak pikiran tentang Alex berputar di otaknya. Sebenarnya apa yang membuat Alex menerimanya begitu saja tapi ia sangat dingin pada Nuni.
Sungguh pikiran-pikiran itu bisa membuat kepala Nuni pecah mendadak. Dan mungkin sebentar lagi Nuni akan masuk ke rumah sakit jiwa.
"Kita udah sampe." Alex membuyarkan lamunan Nuni.
"I-iya Kak." Nuni tersentak dari lamunannya.
Nuni melihat pintu dengan tulisan 'Pattimura' di depan pintu tersebut. Sepertinya ini ruangan yang akan ditempati Nuni selama MOS disana. Alex membuka pintu tersebut hingga semua pasang mata mengarah pada mereka berdua.
"Hai Alex sayang." Ucap senior berbaju ketat dan make up yang menor dengan suara yang ia buat seimut mungkin, tapi bukannya imut malah menjijikan. Senior itu segera menyentakkan tangan Alex yang sedang menggandeng Nuni dengan sedikit kasar dan langsung bergelayut manja pada Alex.
"Lepasin tangan lo dari gue." Ucap Alex dingin plus dengan wajah datarnya. Bahkan Nuni sampai bergidik mendengarnya.
"Ih kamu kok gitu sih sayang, aku kan pacar kamu." Ucap senior itu manja.
"Gue bukan pacar lo dan gue gak sudi jadi pacar lo." Alex menyentakkan tangan senior dengan name tag 'Elisa' itu kasar.
"Aku pergi dulu." Alex mencium kening Nuni singkat lalu langsung pergi meninggalkan mereka.
Nuni bengong saat Alex pergi. Elisa juga ikutan bengong.
"Emm Kak, boleh saya masuk?" Tanya Nuni hati-hati karena Elisa masih bengong ditempat.
"Wait, lo pacar Alex itu?!" Suara Elisa meninggicukup terkejut mendengarnya.
"Emm iya?" Jawab Nunia yang nadanya terdengar seperti bertanya.
"Gak mungkin kalo Alex mau sama cewe macem lo. Selera Alex tuh tinggi macem gue." Elisa menyombongkan dirinya.
'Macem dia? Dih tadi aja Kak Alex kaya risih gitu dilendotin sama ini mak lampir.' Batin Nuni mencibir.
"Udah sono lo masuk dan jangan lupa kenalin diri lo sendiri terus langsung duduk." Ucap Elisa ketus. Nuni mengangguk patuh.
Nuni masuk ke dalam kelas dan memperkenalkan dirinya singkat. Lalu Nuni langsung duduk di samping siswi yang terlihat cantik walaupun dandanannya hampir sama horrornya dengan Nuni tapi tetap saja dandanan Nuni lebih horror karena ia terburu-buru lalu dihukum oleh Rendra.
"Hai gue Natasya, lo bisa panggil gue Tasya." Siswi bernama Tasya itu tersenyum seraya mengulurkan tangannya.
"Gue Nunia, lo bisa panggil gue Nuni." Nuni menyambut uluran tangan Tasya.
"Gue Julia."
"Gue Karina." Ucap dua orang di belakang bangku Nuni seraya mengulurkan tangan mereka juga.
"Gue Nuni." Nuni menyalami mereka berdua.
~~~
Saat ini Nuni berjalan menuju parkiran motor karena ia janji akan pulang dengan Alex, pacar barunya yang sebenarnya masih tidak ia sangka. Sungguh hari ia ingin sekali cepat pulang dan beristirahat karena seluruh badannya pegal-pegal.
Elisa terus saja menyuruh dan memberikan Nuni hukuman yang aneh-aneh. Sepertinya seniornya yang satu itu punya dendam kesumat pada Nuni hingga ia selalu memberikan Nuni hukuman padahal Nuni tidak melakukan kesalahan apapun.
Bayangkan saja Nuni disuruh menggunting rumput di taman dengan gunting anak-anak bergambar pororo hijau. Dan taman itu sangat luas. Nuni juga disuruh berjalan jongkok mengelilingi lapangan.
Nuni juga disuruh mencari pulpen milik Elisa di semua kelas yang jelas-jelas pulpen itu ada di kantong almamater milik Elisa. Dan masih banyak lagi hukuman yang diberikan Elisa pada Nuni.
Saat sampai di parkiran terlihat Alex yang sedang duduk di jok Ninja miliknya sambil memainkan COC dari ponselnya. Nuni menghampiri Alex.
"Maaf Kak, aku lama datengnya." Ucap Nuni merasa bersalah.
"Kenapa lama?" Tanya Alex singkat.
"Tadi disuruh Kak Elisa dulu." Jawab Nuni.
"Yaudah naik." Alex memakai helmnya. Nuni masih diam tidak naik ke motor Alex.
"Kenapa diem?"
"Motornya ketinggian Kak, aku gak bisa naiknya." Jawab Nuni polos. Jangan salahkan Nuni karena memang ia memiliki tinggi dibawah rata-rata.
Alex turun dari motornya lalu mengangkat Nuni ke motornya. Lalu Alex mencopot jaketnya dan menutupi rok Nuni karena rok Nuni yang pendek. Nuni menatap Alex yang sedang menutupi roknya dengan jaketnya. Setelah selesai, Alex naik ke motornya.
"Mulai besok aku bawa mobil aja." Ucap Alex.
"Emang kenapa Kak?" Nuni mengerutkan keningnya.
"Biar kamu ga susah naiknya. Kamu kan pendek." Balas Alex santai tapi dengan nada yang dingin.
"Emang gue sependek itu apa? Ish nyebelin." Gerutu Nuni pelan.
"Aku denger."
"Tajem banget sih kupingnya. Sarapannya kelelawar goreng kali tiap pagi." Gerutu Nuni lebih pelan.
"Aku juga denger."
"Ish terserah." Nuni langsung diam membisu karena kesal.
Diam-diam Alex tersenyum samar. Ia menarik tangan Nuni dan melingkarkannya di perutnya.
Deg deg deg
Jantung Nuni berpacu sangat cepat dan semoga Alex tidak mendengarnya karena tubuh mereka yang menempel.