Saat sampai di rumah, Nuni uring-uringan tidak jelas. Ia berguling-guling di atas kasurnya memikirkan kejadian hari ini.
"Ini serius gue pacaran sama most wanted yang orangnya tuh kaya batu es? Demi apa? Anjirrr gue siok ehh syok maksudnya. Mana mak lampir gak suka lagi sama hubungan gue sama Kak Alex. Ulalala tolong Nuni Ya Allah hiks Nuni syedih Nuni tuh gak bisa diginiin.
Ok fix kok gue jadi alay gini? Ini pasti gara-gara readers kan makanya Nuni jadi alay. Doh ngaku coba siapa diantara kalian semua yang udah bikin Nuni jadi alay gini? Tanggung jawab coba." Ucap Nuni ngelantur dengan sedikit s***p tentu saja.
"AAAAAA GUE BISA GILAAAAA." Teriak Nuni.
Pluk
"Adaw anjirrr Abang k*****t jahat ihh." Ringis Nuni karena kepalanya yang cantik nan imut bin kiyut telah dilempar dengan kamus Bahasa Jepang dengan tebal 7cm oleh abangnya.
"Makanya jangan guling-gulingan kaya orang gila, Dek. Abang masih mau punya adek waras." Ucap Theo, abang Nuni. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Nuni lalu memeluk pinggang Nuni.
"Kaya sendirinya masih waras aja." Cibir Nuni.
"Yang jelas Abang kadar kewarasannya masih lebih banyak dari kamu." Theo mencubit hidung Nuni.
"Abang ih." Nuni mengerucutkan bibirnya.
"Jangan berisik, Abang ngantuk." Theo menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Nuni.
"Ish Abang mah kesini cuma buat numpang tidur doang? Aaaaaa Nuni sebeeellll." Nuni menjambak rambut Theo dengan tulus, tulus mau buat rambutnya rontok maksudnya.
"Sakit Dek, sakit nanti kalo rambut Abang abis gimana? Nuni mau punya kakak botak?" Ucap Theo sambil meringis kesakitan.
"Hmm iya juga ya masa gue nanti punya abang botak. Malu-maluin banget kalo diajak jalan, nanti disangka lagi ngangon tuyul." Gumam Nuni sambil manggut-manggut.
"Sumpah gue punya adek kejem banget ini." Theo menggelengkan kepalanya.
"Udah sini kamu ikutan tidur daripada ngoceh terus pusing Abang jadinya." Theo menaruh kepala Nuni di dadanya.
"Sleep tight Princess." Theo mencium kening Nuni.
"You too My Prince." Nuni mencium pipi Theo lalu mereka terlelap.
~~~
"KYAAAAA DEMI KERANG AJAIB! GUE TELAT LAGI!" Nuni buru-buru bangun dan lekas mandi selama 5 menit lalu bersiap.
"Abang anterin Nuni, gece!" Ucap Nuni sambil memakai atribut aneh seperti hari sebelumnya.
"Abang belom mandi, Dek." Ucap Theo sambil meminum s**u coklatnya, plus dengan wajah bantal miliknya.
"Abang mau nganter atau Nuni bawa motor sendiri? Abang tau kan Nuni naik motor tuh gimana?" Ancam Nuni pada Theo.
"Abang yang anter." Ucap Theo lalu segera mengambil kunci motor miliknya.
~~~
Nuni sudah sampai di sekolah dan gerbang sudah ditutup. Ada OSIS yang sedang berjaga di gerbang untuk menghukum peserta MOS yang terlambat.
Glek
Nuni menelan ludahnya karena yang berjaga adalah Elisa, Alex, dan Rendra dengan Elisa yang terus menempel pada Alex. Oh seriously?
"Mati gue si mak lampir yang jaga gerbang. Alamat hukumannya berat banget ini." Gumam Nuni.
"Abang balik ya?" Ucap Theo lalu mencium kening Nuni.
"Iya Bang." Nuni mencium pipi Theo lalu Theo segera pergi dari sekolah Nuni.
Nuni berjalan perlahan ke gerbang dengan perasaan was-was. Elisa menatap Nuni sinis seperti memgatakan lo-bakalan-abis-sama-gue. Alex menatap Nuni dengan pandangan tajam. Sedangkan Rendra menatap Nuni santai.
'Aduh mati gue mak lampir kayaknya mau nelen gue. Terus itu Kak Alex serem banget liatin guenya.' Batin Nuni sambil bergidik ngeri melihat tatapan Alex padanya.
"Maaf Kak, saya telat." Ucap Nuni dihadapan ketiga orang itu sambil menunduk.
"Bagus lo ya udah telat, rambut gak dikepang pula. Biar dibilang cantik gitu?" Sinis Elisa.
"Maaf Kak, tadi saya kesiangan." Ucap Nuni sambil tetap menunduk.
"Kesiangan?! Alesan aja lo. Bilang aja lo tuh tau kalo hari ini Alex jaga gerbang terus lo berlagak sok telat biar bisa ketemu Alex. Ngaku aja lo." Elisa meninggikan nada bicaranya.
"Saya mana tau kalo Kak Alex yang jaga gerbang. Kan saya cuma peserta MOS, rencana telat aja gak ada apalagi rencana ketemu Kak Alex." Nuni menaikkan sebelah alisnya, cukup heran dengan kelakuan kakak kelasnya ini.
"Tau lo El jangan terlalu sinis sama Nuni gara-gara Alex lebih milih Nuni daripada lo." Ucap Rendra santai. Dan ucapan Rendra sangat menohok Elisa.
"Berenti debatnya." Ucap Alex dingin dan langsung membuat semuanya diam.
"Yaudah lo ikut gue. Lo harus dapet hukuman." Ketus Elisa sambil menatap Nuni tajam.
Glek
Nuni menatap Rendra dan Alex berharap meminta pertolongan. Nuni tidak sanggup jika harus dihukum yang aneh-aneh lagi oleh Elisa. Masalahnya mari kemarin Elisa memberinya hukuman yang tidak wajar.
"Enggak. Lo masuk, biar gue yang hukum." Ucap Alex tidak ingin dibantah.
"Tapi Lex-..." Ucapan Elisa terpotong.
"Gue gak suka dibantah." Ucap Alex dingin dan menatap Elisa tajam. Elisa merengut lalu langsung pergi meninggalkan mereka semua.
"Akhirnya mak lampirnya pergi." Gumam Nuni lega.
"Mak lampir? Hahaha lucu lo Dek." Rendra tertawa mendengar ucapan Nuni.
"Iya Kak lagian Kak Elisa serem banget kalo hukum gue. Gue kan capek kemaren aja pas sampe rumah badan pada pegel semua." Ucap Nuni.
"Hahaha kasian banget lo Nun." Rendra mengacak rambut Nuni. Alex menepis tangan Rendra yang sedang mengacak rambut Nuni lalu menarik pinggang Nuni hingga tubuh mereka menempel.
"Ampun Lex elah lo cewe lo gak bakal gue ambil." Rendra mengangkat kedua tangannya tanda ia menyerah.
"Yaudah pergi lo. Biar gue yang ngurus Nuni." Ucap Alex datar tanpa ekspresi.
"Iya iya." Rendra langsung pergi meninggalkan Alex dan Nuni.
Nuni menatap Alex heran, ada tatapan takut juga sebenarnya karena Alex memasang wajah tripleknya terus.
"Kak bisa senyum gak sih?" Tanya Nuni polos.
"Kenapa?" Alex tetap memasang wajah tripleknya.
"Serem tau Kak. Kakak gak capek mukanya datar terus kaya gitu? Nanti orang-orang gak bisa bedain mana muka Kakak mana triplek." Ucap Nuni polos sambil membayangkan triplek dan wajah Alex.
Alex diam-diam tersenyum sangat tipis melihat ekspresi Nuni yang lucu menurutnya. Ingat, sangat tipis.
"Udah kamu masuk." Ucap Alex singkat tanpa senyum.
"Udah aku bilang, Kakak tuh senyum coba. Tau gak sih Kak? Aku tuh rasanya mau narik dua sudut bibir Kakak kaya gini biar Kakak senyum." Nuni menarik dua sudut bibir Alex hingga membuat sebuah senyuman aneh.
Mau tidak mau Alex tersenyum kecil tapi itu sudah membuat ketampanannya berlipat. Bahkan Nuni sampai melongo karena melihat senyuman Alex.
"Ini serius Kak Alex? Bukan setan, dedemit atau hologram kan? Barusan Kakak senyum? Kyaaaa akhirnya sang es batu bisa senyum walaupun tipis banget senyumnya." Nuni berjingkrak-jingkrak sambil bertepuk tangan seperti anak kecil.
'Kayaknya Nuni bakalan bisa rubah hidup gue jadi gak monoton lagi. Dan gue rasa gue mulai sayang sama Nuni. Sikapnya yang lucu sama ceria buat gue hangat. Cuma liat dia kaya gini aja bisa buat gue senyum. Mulai sekarang gue bakal jagain Nuni dari orang-orang yang mau nyakitin dia. Dan dia yang berani nyakitin Nuni bakalan berurusan sama gue, siapapun itu.' Batin Alex.
"Kak, aku bakalan dihukum juga? Aku semalem gak bisa tidur gara-gara Bang Theo berisik maen PS bareng papi. Jadi aku baru tidur jam 2 pagi. Untung aja tadi Bang Theo mau nganter, kalo enggak aku bakalan lebih telat dari ini." Ucap Nuni dengan wajah memelasnya.
'Oh itu abangnya Nuni yang nganter tadi.' Batin Alex sambil menghembuskan nafas lega.
"Udah makan?" Tanya Alex tetap saja tanpa ekspresi.
"Udah aku bilang kan Kakak tuh harus senyum. Ish aku sebel dasar batu es triplek blender." Dengus Nuni sambil mengerucutkan bibirnya.
'Batu es triplek blender? Bahkan dia berani ngatain orang yang paling ditakutin di sekolah ini tanpa ekspresi takut sedikitpun. Lucu juga, dan anehnya gue gak marah. Malah gue seneng liat ekspresi Nuni kaya gitu. Nuni bener-bener udah rubah gue.' Batin Alex.