'WOYYY ADA TELPON INI WOYY ANGKAT WOYY ANGKAT ATAU HP LO BAKAL GUE ANCURIN SEKARANG JUGA WOOYY.' Bunyi ini adalah bunyi nada dering dari ponsel milik gadis aneh yang sedang terlelap dengan nyenyaknya karena jam masih menunjukkan pukul 4 pagi.
Dan suara yang menjadi nada dering itu adalah suara milik Theo, abangnya. Menurut Theo, nada dering seperti itu lebih indah dari nada dering yang lain. Dan dengan polos, atau mungkin bisa dibilang bloon Nuni meng-iyakan ucapan Theo.
Nuni mengambil ponselnya dengan mata tertutup.
"Halo dengan siapa ini? Nuninya lagi jalan-jalan ke lubang cacing, segitiga bermuda, pluto, black hole, terus yang terakhir rencananya mau ke matahari. Jadi anda bisa telpon Nuni 5 abad lagi." Jawab Nunia tanpa melihat siapa yang menelponnya dengan suara bantalnya.
Orang diseberang sana yang menelpon Nuni terkik mendengar jawaban Nuni yang sangat maksuk akal, menurut Nuni sendiri pastinya.
'Bangun sekarang dan buatin aku bekal.' Ucap Alex singkat padat dan jelas. Ya, orang kurang kerjaan yang menelpon Nuni adalah Alex.
"Wait, kok suaranya mirip Kak Alex? Jangan-jangan ini duplikatnya dia ya?" Nunia masih tidak sadar jika yang menelponnya adalah Alex.
"Ini aku, Alex. Kamu sekarang bangun dan buatin bekal. Inget, aku gak menerima penolakan." Ucap Alex santai.
"Oh Kak Alex toh, suruh buat bekal kan? Yaudah."
1 detik
5 detik
10 detik
30 detik
"WHAT? KAK ALEX SI COWO GUE YANG 11-12 SAMA BATU ES TRIPLEK BLENDER!" Teriak Nuni saat baru sadar jika yang menelponnya adalah Alex.
'Brisik. Cepet bikinin buat aku sekarang.'
Klik
Sambungan diputus secara sepihak oleh Alex. Sedangkan Nuni malah melongo.
"Dasar k*****t syalan biadab cowok siapa sih itu? Pasti ceweknya stress punya pacar kek dia. But wait, gue kan pacarnya jadi gue ngomongin diri gue sendiri dong? Ok abaikan mending gue bikin nasi goreng aja ah buat bekal itu batu es." Gerutu Nuni lalu langsung beranjak ke dapur untuk masak nasi goreng karena ia malas masak yang ribet-ribet.
Setengah jam berkutat dengan alat dapur, akhirnya nasi goreng buatan Nuni selesai juga. Ia menaruhnya di tempat makan warna biru muda.
Setelah menyiapkan bekal, Nuni langsung mandi dan bersiap berangkat sekolah. Hari ini ia sudah resmi memakai seragam sekolah itu karena masa orientasi telah berakhir. Nuni sudah siap dengan semua perlengkapan sekolah. Ia segera menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarganya.
"Morning Ma, Pa, Bang Theo." Nuni mencium pipi orang tua dan Theo.
"Tumben udah bangun dear, Nuni gak lagi kesurupan kan?" tanya mamanya.
"Nuni gak bakal bangun jam segini kalo itu batu es gak nyuruh bikin bekel pagi-pagi." Gerutu Nuni sambil mengoleskan selai coklat pada rotinya.
"Batu es? Siapa itu Sayang?" Tanya papanya.
"Pacar Nuni, Pa." Celetuk Theo.
"Oh anak Mama ini sekarang udah gede ya? Udah punya pacar toh."
"Ish kalian semua nyebelin." Nuni mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha." Semua yang ada di meja makan tertawa, kecuali Nuni pastinya. Nuni malah tambah mengerucutkan bibirnya.
~~~
Nuni sudah sampai di sekolah. Ia berjalan ke kelasnya dengan menahan kantuk.
"Ini gara-gara batu es triplek blender ih jadi ngantuk kan." Gerutu Nuni sambil menunduk tidak melihat jalan.
Bruk
"Aduh siapa sih yang naro tembok di tengah jalan? Dan sejak kapan tembok tuh punya kaki?" Nuni mengelus keningnya karena menabrak sesuatu yang menurutnya tembok.
"Lex sejak kapan lo jadi tembok?" Ucap Reza sambil tertawa diikuti oleh 3 teman Alex yang lain.
"Loh kok temboknya berubah jadi Kak Alex? Jangan-jangan Kakak pake jurus pengganti yang ada di film Naruto ya?" Nuni mendongakkan kepalanya dan menemukan Alex yang selalu memasang wajah datarnya.
"Kamu ngapain jalan sambil nunduk gitu?" Tanya Alex.
"Ngantuk Kak." Jawab Nuni sambil mengeluarkan ekspresi yang lucu.
"Kenapa ngantuk Nun? Abis begadang?" Rendra mengerutkan keningnya.
"Engga Kak, disuruh ini mansia batu es triplek blender bikin bekal." Jawab Nuni.
"Baru kali ini ada yang berani ngatain Alex haha gue salut." Ucap Gino yang langsung mendapat pelototan dari Alex.
"Terus bekalnya lo buat?" Tanya Varo. Nuni hanya menganggukkan kepalanya.
"Yaudah nanti istirahat anter ke kelas aku terus temenin aku makan." Ucap Alex tanpa senyum sesikitpun yang membuat Nuni menginjak kaki kaki Alex.
"Aww." Ringis Alex.
"Ih kan udah aku bilang jadi orang jangan masang muka triplek terus. Senyum coba, kalo ga senyum nanti disamain sama setan mau? Ehh gak deng setan aja gak mau disamain sama Kakak gara-gara muka Kakak lebih serem dari setan. Bhay." Ucap Nunia dan langsung meninggalkan Alex dan teman-temannya.
Alex dan teman-temannya melongo melihat Nuni yang sangat berani pada Alex. Dan yang lebih aneh Alex hanya diam saja tanpa melakukan apapun. Biasanya jika ada yang berani pada Alex, Alex akan memberinya pelajaran tanpa mengenal pria ataupun wanita.
"Lex itu orang sumpah berani banget." Reza melongo.
"Gue udah nemuin pawang Alex, yaitu si Nuni." Celetuk Rendra.
"Alex udah tobat." Tambah Varo.
"Alex udah gak gamon lagi coeg." Timpal Gino.
Alex tidak memperdulikan ucapan semua temannya dan langsung pergi meninggalkan mereka semua.
~~~
Kriing kriing
Bel istirahat sudah berbunyi. Hal yang paling ditunggu oleh semua murid disana. Nuni segera mengambil nasi goreng yang sudah ia buat lalu langsung berjalan menuju kelas Alex yang ada di lantai 2.
Saat di koridor banyak siswi yang menatap Nuni sinis karena ia berpacaran dengan Alex, sang most wanted boy yang terkenal bad boy dan dingin. Karena risih ditatap seperti itu, Nuni mempercepat jalannya menuju kelas Alex.
Nuni memasuki kelas Alex. Hanya ada beberapa orang di kelas karena mereka pergi ke kantin. Terlihat Alex dan teman-temannya sedang mengobrol di meja barisan belakang. Nuni berjalan menghampiri Alex dan teman-temannya lalu menaruh kotak bekal di meja Alex.
"Udah lo semua keluar sana. Gue mau makan." Usir Alex dingin. Semua teman-teman Alex pergi sambil menyumpah serapan Alex.
"Kok diusir Kak?" Nunia mengerutkan keningnya.
"Udah gak usah banyak tanya. Kamu temenin aku makan." Ucap Alex tidak ingin dibantah.
~~~
Sekolah sudah pulang sejak 15 menit yang lalu. Tapi Nuni baru keluar kelas karena ia piket. Nuni pulang sendiri karena Alex sedang ada keperluan.
Nuni berjalan dengan santai di koridor sambil bersenandung kecil. Tiba-tiba ia ditarik ke belakang sekolah oleh beberapa seniornya. Nuni mencoba berontak tapi cekalan di tangan Nuni sangat kuat jadi Nuni hanya bisa pasrah.
Nuni diseret dan didorong oleh dua senior yang membawanya ke belakang sekolah. Disana sudah ada tiga senior yang menatap Nuni sinis, dan salah satunya adalah Elisa.
"Oh ini toh yang namanya Nuni? Kok Alex mau sih sama anak yang modelnya begini?" Ucap seorang siswi yang memakai bando hijau.
"Tau tuh selera Alex jatoh banget dari Intan ke bocah macem gini." Sinis senior yang makai make up yang sangat tebal.
"Udah El abisin aja." Ucap salah satu senior seraya mengambil gunting yang ada di saku almamaternya.
Nuni seketika menjadi pucat saat melihat gunting itu. Semua siswi itu mengeluarkan seringaian mereka.
Mereka semua melempari Nuni dengan telur busuk, tepung, kecap, saus, mencoret wajah Nuni dengan lipstick, menuangkan tinta spidol ke kepala Nuni. Dan terakhir mereka semua menggunting almamater, lengan kemeja, dan rok Nuni yang pendek hingga membuat rok yang Nuni kenakan menjadi lebih pendek dan tidak beraturan tentu saja.
Saat ini Nuni terlihat berantakan. Bahkan wajahnya tidak terlihat. Nuni menangis sesegukan dan itu membuat semua yang ada disana tersenyum penuh kemenangan. Elisa berjalan mendekati Nuni dan mencengkram kedua pipi Nuni.
"Denger ya lo itu gak pantes buat Alex. Lo tau kan Alex itu most wanted boy disini? Lo mau tau sesuatu? Alex itu gak pernah nganggep lo itu ceweknya. Lo itu cuma dijadiin pelampiasan karena Intan lagi pergi dan belom balik.
Dan lo tau? Gak lama lagi Intan bakal balik lagi ke sini. Dan kita tinggal tunggu waktu sampe Intan bakalan ngambil Alex dari lo dan ninggalin lo. Hahaha kasian banget sih lo. Cabut girls." Ucap Elisa dan langsung pergi meninggalkan Nuni yang masih menangis diikuti semua temannya.
Nuni menangis karena ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh para seniornya. Dan ada satu lagi yang ia pikirkan.
Sebenarnya Intan itu siapa?