Nuni masih terisak. Ia merogoh saku almamaternya lalu mencari ponselnya. Setelah menemukan ponselnya, Nuni menelpon Theo.
"Halo Bang, jemput Nuni dong. Bawain Nuni baju sekalian."
'...'
"Udah Abang gak usah banyak tanya. Kesini sekarang."
Pip
Nuni langsung memutuskan sambungannya dengan Theo. Ia menunggu kedatangan Theo.
"Astaga Dek! Kok kamu begini sih? Siapa yang udah lakuin ini ke kamu?" Theo berlari menghampiri Nuni.
"Abang udah dateng? Mana bajunya?" Nuni mengabaikan pertanyaan Theo. Theo segera memberikan pakaian yang ia bawa pada Nuni.
"Abang nunggu di parkiran aja. Nanti Nuni kesana." Nuni langsung meninggalkan Theo yang diam dengan banyak pertanyaan di benaknya.
Theo hanya menghela nafasnya. Ia segera berjalan menuju parkiran. Setelah satu jam menunggu akhirnya Nuni selesai membersihkan dirinya.
"Kita langsung pulang Bang." Nuni menghampiri Theo yang sudah duduk diatas motor sportnya. Theo hanya diam dan membantu Nuni naik ke motornya. Ia akan menanyakan kejadian ini pada Nuni saat dirumah nanti.
Nuni melingkarkan tangannya di pinggang Theo. Lalu menyenderkan kepalanya di bahu Theo.
Theo melotot saat tau jaketnya basah. Nuni tengah menangis dalam diam. Theo menahan amarahnya. Ia paling tidak bisa melihat Nuni menangis.
"Bang, please jangan bilang apapun ke Mama sama Papa." Ucap Nuni parau.
"Tap-..."
"Please Bang, Nuni mohon." Nuni mengeratkan pelukannya di pinggang Theo.
"Ok fine! Tapi kamu harus cerita ke Abang." Nuni hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah mereka. Theo membantu Nuni turun dari motornya.
Nuni langsung masuk ke kamarnya. Untung orang tua mereka sedang pergi jadi Nuni tidak perlu khawatir ketahuan.
Nuni menjatuhkan tubuhnya di kasur queen size miliknya. Ia menenggelamkan kepalanya di boneka panda besar pemberian Theo.
Theo perlahan membuka pintu kamar Nuni. Ia menghela nafasnya saat melihat Nuni tengah terisak. Theo menghampiri Nuni lalu memeluk Nuni dari belakang.
"Nuni kenapa hm? Cerita ke Abang. Abang gak tega liat Nuni kaya gini." Theo mengeratkan pelukannya.
"Jadi...." Mengalirlah semua cerita yang dialami Nuni hari ini. Ia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Theo.
"b*****t!" Geram Theo.
"Abang please gak usah ikut campur. Ini urusan Nuni, Nuni bisa selesain ini sendiri Bang, please." Nuni membalikkan badannya menghadap Theo. Terlihat wajahnya yang kacau.
"Tapi Abang gak tega liat kamu kaya gini." Theo mengelus rambut Nuni.
"Nuni gak papa Bang, Nuni bisa atasin ini sendiri. Kalo Abang yang turun tangan sendiri nanti urusannya makin panjang." Ucap Nuni karena dulu pernah Theo mencoba menyelesaikan masalah Nuni, tapi malah berakhir di kantor polisi karena Theo membuat orang yang bermasalah dengan Nuni babak belur.
Theo menghela nafasnya lalu mengangguk. Nuni tersenyum lalu memeluk Theo erat.
"Makasih Bang." Nuni mencium pipi Theo.
"Anything for you baby girl." Theo mencium kening Nuni.
~~~
Nuni sudah bersiap dengan seragam barunya. Ia memakai make up yang sedikit tebal agar menutupi matanya yang sembab dan seperti mata panda karena acara menangisnya kemarin.
Nuni berjalan menuju meja makan dan hanya menemukan Theo disana. Orang tua mereka sedang pergi ke Lombok karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sebenarnya yang bekerja hanya papa mereka saja, sedangkan mama mereka mengikuti kemanapun suaminya pergi.
"Morning Bang." Nuni mencium pipi Theo.
"Morning too Baby Girl." Theo mencium kening Nuni.
"Kamu yakin mau sekolah Dek?" Nuni hanya menganggukkan kepalanya sambil mengoleskan selai coklat pada rotinya.
Mereka makan sarapan mereka sambil bercanda. Setelah selesai, Theo langsung mengantar Nuni sekolah. Nuni menyumpah serapah Theo karena Theo menggunakan motor sport untuk mengantarnya.
Seakan-akan Theo meledek Nuni yang pendek karena jika ia tidak akan bisa menaiki motor itu jika tidak dibantu oleh Theo. Theo malah tertawa cekikikan melihat Nuni yang sedari tadi menyumpah serapah dirinya.
Saat sampai sekolah, Nuni langsung turun dan meninggalkan Theo begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu.
"Gak pamit dulu nih?" Ucap Theo sedikit keras karena Nuni sudah sedikit jauh. Nuni menoleh.
"Gak." Ucap Nuni ketus.
"Sini dulu." Mau tidak mau Nuni menghampiri Theo sambil menghentak-hentakkan kakinya. Theo terkikik melihat kelakuan adiknya.
"Jangan ngambek dong Dek." Theo menoel-noel pipi Nuni.
"Abang ih." Dengus Nuni.
"Jangan ngambek Sayang." Theo mengelus rambut Nuni.
"Iya iya." Nuni menghela nafasnya. Ia memang tidak bisa marah terlalu lama pada abang kesayangannya itu.
"That's my girl. Yaudah masuk gih." Theo mencium kening Nuni.
"Iya, bye Bang." Nuni mencium pipi Theo lalu langsung masuk ke sekolahnya.
Setelah memastikan Nuni masuk ke sekolahnya, Theo segera pergi ke kampusnya karena ia hari ini ada kuliah pagi.
Nuni berjalan di koridor sambil menunduk. Di dalam benaknya, ia takut akan merasakan kejadian seperti kemarin lagi. Apa yang harus ia lakukan jika ia bertemu dengan Alex lagi? Apa ia harus menjauhinya?
Nuni menghela nafasnya. Ia lelah memikirkannya.
Hal yang paling ia hindari sekarang adalah berjalan melewati kelas Alex. Dan yang lebih parahnya lagi, Alex dan teman-temannya sedang bergerombol di depan kelas mereka.
'Aaaaaaa apa harus gue lakuin doh bunuh dd di rawa-rawa maz.' Batin Nuni frustasi.
Ingin sekali Nuni meminjam pintu kemana saja milik Doraemon. Atau meminjam kipas milik Temari lalu menebaskan kipas itu sekuat-kuatnya agar Alex dan teman-temannya terpental jauh jadi Nuni dengan leluasa bisa lewat.
Tapi apa daya, itu semua hanya khayalan bodoh Nuni semata yang pastinya sangat mustahil. Nuni menarik nafasnya lalu berjalan tanpa menoleh sedikitpun. Saat Nuni berjalan melewati mereka, terasa mulus saja. Tapi saat akan melewati Alex, tangannya ditahan oleh Alex.
"Kamu kenapa?" Tanya Alex singkat. Nuni hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Alex menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Alex sekali lagi. Kali ini suaranya terdengar sangat dingin.
"Gapapa Kak, maaf aku harus ke kelas sekarang." Nuni melepaskan tangan Alex sedikit kasar lalu langsung pergi meninggalkan Alex.
"Nuni kenapa Lex? Gak biasanya dia kaya gitu." Ucap Rendra yang diangguki oleh teman-teman Alex yang lain. Sedangkan Alex hanya memandang kepergian Nuni dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
~~~
Kriing kriing
Bel istirahat telah dibunyikan. Semua murid yang ada di kelas Nuni berbondong-bondong meninggalkan kelas. Di kelas hanya tersisa Nuni dan ketiga temannya.
"Nun, kantin yok?" Ajak Tasya.
Nuni memikirkan sesuatu. Ia ingin sekali ke kantin karena perutnya terasa lapar. Tapi ia takut jika ia bertemu dengan Alex. Akhirnya setelah pertempuran batin dan perut Nuni, ia memutuskan untuk pergi ke kantin karena rasa lapar yang tidak bisa ditoleransi.
Nuni dan ketiga temannya keluar kelas menuju kantin. Tanpa Nuni sadari, ia dan teman-temannya berpapasan dengan gerombolan Alex. Nuni tidak menyadari keberadaan Alex karena sedari tadi ia hanya menunduk.
Alex yang jengah dengan kelakukan Nuni segera menariknya pergi. Nuni yang tidak tau menau jika ia ditarik oleh Alex hanya meronta.
"Kak Alex ih lepasin!" Nuni meronta agar dilepaskan oleh Alex. Tapi Alex seakan menulikan telinganya jadi Alex tetap membawa Nuni pergi.
Alex membawa Nuni ke belakang sekolah. Nuni semakin berontak saat tau tujuan Alex membawanya ke tempat itu. Masih terngiang di pikirannya saat ia dibully habis-habisan oleh para seniornya.
Alex memojokkan Nuni ke dinding. Tangan kirinya ia lingkarkan di pinggang Nuni untuk mencegah Nuni kabur, sedangkan tangan kanannya ia taruh di dinding tepat disamping kepala Nuni, mengunci tubuh Nuni.
"Kamu kenapa?" Tanya Alex dingin.
"Saya gapapa." Alex mengerutkan keningnya saat Nuni menyebut dirinya dengan sebutan 'saya'.
Dan terlebih lagi sedari tadi Nuni hanya menundukkan kepalanya. Alex bingung karena biasanya Nuni akan menatapnya tanpa takut tapi sekarang tidak.
"Kamu kenapa?" Tanya Alex sekali lagi. Tangan kanannya mengangkat dagu Nuni. Dan betapa terkejutnya Alex saat tau ternyata Nuni tengah menangis.
"Kamu kenapa? Siapa yang buat kamu kaya gini?" Alex menarik Nuni ke pelukannya. Nuni semakin terisak saat Alex memeluknya.
Alex mengelus rambut Nuni dan sesekali mengecup keningnya. Ia tidak tau kenapa Nuni bisa menangis seperti ini. Alex berjanji ia akan membuat siapapun yang membuat Nuni seperti ini akan ia beri pelajaran.
Setelah cukup lama, akhirnya tangis Nuni sedikit reda. Alex mengangkat dagu Nuni dan menyeka air matanya.
"Sebenernya kamu kenapa?" Tanya Alex lembut.
"Kak, aku mau nanya sesuatu dan aku harap Kakak jawab dengan jujur." Ucap Nuni.
"Tanya apa?" Alex mengerutkan keningnya.
"Siapa itu Intan?"