"Siapa itu Intan?"
*****
Deg
Jantung Alex berdetak dengan cepat. Ia tidak menyangka jika Nuni akan menanyakan soal Intan padanya.
"In..Intan? Kamu tau darimana nama itu?" Alex tergagap.
"Kakak gak usah tau aku tau Intan darimana. Yang jelas aku mau Kakak jujur, siapa itu Intan." Ucap Nuni dingin dan wajah yang datar pula. Alex terkejut mendengar nada bicara Nuni yang dingin dengan wajah yang datar.
"Fine! Kakak gak bisa jawab. Yaudah aku pergi." Nuni mencoba melepaskan tangan Alex dari pinggangnya.
"Ok ok aku bakal cerita." Putus Alex.
"Intan itu..." Alex menghela nafasnya sebentar, "Intan itu masa lalu aku. Dia pergi ninggalin aku ke Australia tanpa bilang apapun ke aku. Dia ngejar cita-citanya jadi model disana. Dia udah pergi sejak 3 tahun lalu dan gak ada kabar sama sekali." Jelas Alex sambil menatap Nuni lekat.
"Ja ... jadi secara gak langsung Kakak belom putus sama dia? Jadi gue ini sekarang pacaran sama orang yang masih punya pacar? Kok bisa? Bahkan gue udah sayang sama orang itu? b**o banget lo Nun! b**o!" Nuni terisak lagi, tapi saat ini tatapannya benar-benar kosong.
"Dan secara gak langsung Kakak cuma jadiin aku pelampiasan saat Intan pergi terus saat Intan balik lagi Kakak bakal ninggalin aku gitu aja?"
Alex memeluk Nuni. Ia menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Nuni. Nuni memberontak di pelukan Alex tapi semakin Nuni memberontak Alex semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa Alex merasa sakit jika ia melihat Nuni menangis. Apalagi saat ini Nuni kelihatan sangat terpukul.
"Kakak masih sayang sama Intan?" Alex diam tidak menjawab pertanyaan Nuni.
"Cih udah gue duga kalo Kak Alex masih sayang sama Intan. Udahlah Kak, aku gak mau jadi orang ketiga diantara kalian. Mending kita sampe disini aja." Ucap Nuni.
"Gak! Aku gak mau!" Alex melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Nuni. Ia menatap Nuni tajam.
"Kakak egois kalo gitu!" Suara Nuni meninggi.
"Aku sayang kamu Nun, jadi aku gak mau hubungan ini berakhir." Alex menatap Nuni dalam.
"Tapi Kakak juga sayang sama Intan." Air mata Nuni menetes lagi.
"Aku akan coba buat lupain dia." Alex menyeka air mata Nuni.
"Kalo misalnya Intan balik lagi apa yang akan Kakak lakuin? Apa Kakak bakal tetep sama dia atau sama aku?" Alex terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Nuni.
"Bahkan Kak Alex gak bisa jawab. Udahlah Kak, aku capek." Nuni meninggalkan Alex yang masih diam mematung.
Nuni berjalan dengan gontai. Beberapa kali ia menabrak orang yang ada di koridor yang membuat orang yang ia tabrak kesal. Tapi Nuni seperti menulikan telinganya. Ia terus berjalan sambil menunduk.
Dug
Nuni menabrak seseorang lagi.
"Nun?" Nuni mendongakkan kepalanya dan melihat Rendra.
"Lo kenapa?" Nuni hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lo itu kenapa? Lo abis nangis? Siapa yang buat lo nangis?" Bukannya menjawab, Nuni malah memeluk Rendra, menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Rendra san menangis disana. Untung koridor sepi jadi mereka tidak akan menjadi tontonan gratis.
"Loh kok lo nangis Nun? Lo kenapa? Lo bisa cerita ke gue." Rendra membalas pelukan Nuni dan mengelus rambutnya.
Nuni tidak menjawab, ia tetap menangis di pelukan Rendra.
"Kak Alex, Kak."
"Alex?" Rendra mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba Alex muncul dan melihat Nuni dan Rendra saling berpelukan. Ia sangat kesal dan marah melihatnya. Alex ingin menghampiri mereka tapi Rendra menyuruhnya berhenti dengan isyarat tangannya.
'Nuni nangis dan itu gara-gara lo.' Ucap Rendra tanpa suara pada Alex dengan tatapan tajamnya. Alex langsung terdiam di tempatnya.
'Lo pergi dulu, nanti gue ceritain.' Ucap Rendra lagi tanpa suara dan dengan berat hati Alex menuruti ucapan Rendra. Alex pergi meninggalkan Nuni dan Renda.
"Lo kenapa?" Rendra mengelus rambut Nuni.
"Kak Alex masih sayang sama Intan." Ucap Nuni sambil tetap terisak.
Deg
"Lo tau Intan darimana?" Nuni hanya diam.
"Nun?"
"Nun!"
"Dari Kak Elisa." Ucap Nuni pelan.
"Elisa si cabe itu?!" Nuni hanya mengangguk.
"Apa aja yang dia bilang ke elo?"
"Dia bilang Intan gak lama lagi bakal balik lagi ke Alex dan ambil Alex dari gue." Nuni semakin terisak. Rendra menghela nafasnya.
"Gue gak bisa comment apa-apa tentang ini tapi yang harus lo tau, gue dukung lo sama Alex karna Intan itu bawa pengaruh yang buruk buat Alex. Intan juga cewek matre yang selalu minta ini itu ke Alex tapi entah kenapa Alex bisa sayang banget ke dia. Dan dia juga yang buat Alex yang tadinya cowok baik-baik jadi bad boy kaya gitu." Ucapan Rendra yang terakhir membuat Nuni terdiam.
'Segitu cintanya kah Kak Alex sama dia?' Batin Nuni miris.
"Lo sayang sama Alex kan?" Nuni menganggukkan kepalanya.
"Jadi jangan buat Alex pergi dari lo. Dan jangan biarin Intan ngambil Alex dari lo." Rendra menepuk pelan kepala Nuni.
"Udah ih masa adek gue cengeng sih." Rendra mengacak rambut Nuni.
"Ih Kak Rendra nyebelin ih gue sebel fix gue mau minggat aja! Bhay!" Nuni menendang tulang kering Rendra lalu langsung pergi meninggalkan Rendra yang tengah memekik kesakitan.
"Ini anak gak ada kerjaan laen selain nyiksa gue apa?" Dengus Rendra.
'Alex b**o kalo sampe dia ninggalin orang kaya lo dan lebih milih Intan daripada lo, Nun.' Batin Rendra.
Nuni berjalan menuju toilet untuk merapihkan dirinya. Ia bercermin dan terkejut melihat pantulan dirinya sendiri.
"What! Serius ini gue?! Kok kek zombie pengen makan mangsanya gini sih? Dan yang jelas Kak Alex yang bakal gue makan." Teriak Nuni saat melihat pantulan dirinya sendiri.
Ia meringis melihat matanya yang sembab, hidung merah ditambah lagi rambut yang berantakan tambah berantakan akibat ulah Rendra.
Nuni segera mencuci wajahnya dan memakai bedak dan lipgloss tipis yang selalu ada di saku almamaternya agar wajahnya tidak terlalu terlihat seperti zombie. Tak lupa Nuni menyisir rambutnya.
"Hmm better." Gumam Nuni lalu segera keluar dari toilet.
"Tuh kan gue gak sempet ke kantin padahal gue kan laper hiks awas aja Kak Alex bakal gue mutilasi terus dagingnya gue kasih makan piranha yang ada di Danau Toba." Ucap Nuni menggebu-gebu dan sampe sekarang pun Nuni-author- bingung sejak kapan di Danau Toba itu ada piranha :')
Nuni berjalan ke kantin untuk membeli roti dan air mineral untuk dimakan di kelasnya karena Nuni tidak suka makan sendirian.
Saat sedang asik berjalan, tiba-tiba Nuni melihat keributan di kantin. Sepertinya ada yang sedang berkelahi. Tapi bukannya dipisahkan malah orang yang sedang berkelahi itu hanya ditonton saja.
"Itu ada apa sih kok ribut?" Tanya Nuni pada salah satu siswi.
"Itu Kak Alex lagi berantem sama anak karate."
"What?!"