"Itu Kak Alex lagi berantem."
"What?!"
*****
"Kak Alex berantem? Kok bisa?" Nuni langsung berlari menuju kantin dan menghampiri tempat keributan itu.
Terlihat Alex sedang memukul seorang laki-laki jangkung. Wajah mereka sama-sama babak belur. Tapi laki-laki jangkung itu keadaannya lebih parah dari Alex. Nuni meringis melihat mereka berdua. Wajah mereka memar dan ada sedikit darah di sudut bibir mereka berdua.
'Sakit ga ya kalo misalnya gue dipukul Kak Alex gitu?' Nuni membayangkan dirinya dipukuli oleh Alex. Nuni bergidik ngeri ketika membayangkannya.
Dengan penuh keberanian yang entah datangnya darimana, Nuni menghampiri Alex yang sedang berkelahi. Nuni langsung menarik kerah belakang seragam Alex. Alex sangat terkejut ketika kegiatan berkelahinya diganggu oleh seseorang.
Alex ingin memukul siapapun yang mengganggu kegiatannya. Tapi ia langsung diam saat melihat Nuni yang tengah menatapnya dingin.
"Diem dan ikut!" Ucap Nuni dingin dan tak lupa dengan wajah datarnya. Nuni menarik tangan Alex. Alex hanya mengiyakan saja, ia tidak berniat menolak. Atau ia tidak berani menolak, entahlah.
Semua orang yang ada disana terkejut dan melongo secara berjamaah. Baru kali ini Alex tidak marah saat ia tengah berkelahi.
Nuni membawa, lebih tepatnya menyeret Alex menuju UKS. Alex menatap pergelangan tangannya yang ditarik oleh Nuni. Ada rasa senang dalam hatinya karena secara tidak langsung Nuni tengah menyentuh tangannya.
"Duduk!" Alex menuruti perintah Nuni. Ia duduk di salah satu kasur yang ada di UKS.
Nuni mengambil kain dan mangkuk yang diisi dengan air hangat.
"Dasar b**o!" Nuni yang sudah tidak tahan untuk tidak menggeplak kepala Alex akhirnya melakukannya juga. Alex meringis.
"Ish sakit." Alex mengusap kepalanya yang baru saja di geplak oleh Nuni.
"Gitu doang sakit. Tadi berantem kok gak keliatan sakitnya." Cibir Nuni. Ia mengambil kain lalu mencelupkannya ke air hangat lalu mengompres wajah Alex yang memar.
Nuni mengompres wajah Alex dengan berhati-hati. Sesekali ia meringis karena ngeri sendiri melihat wajah Alex yang memar.
Alex sedari tadi memperhatikan Nuni secara intens. Ia kadang menahan tawanya saat melihat Nuni yang meringis saat Nuni mengompresnya. Menurutnya, ekspresi Nuni sangat lucu.
Nuni yang sedari tadi jengah melihat Alex yang menahan tawa kontan saja langsung menggeplak Alex lagi. Ia memelototi Alex yang tengah meringis kesakitan karena di geplak oleh Nuni.
"Ngapain Kakak nahan tawa gitu?" Nuni menjewer Alex.
"Aww sakit Nun sakit. Harusnya aku tuh kamu rawat kek, kamu sayang kek, perhatiin kek, lah ini malah disiksa." Ucap Alex sambil meringis karena jeweran Nuni lumayan sakit.
"In your dream ewh." Cibir Nuni. Ia merasa kasihan juga melihat Alex yang meringis kesakitan seperti itu langsung melepaskan jewerannya.
Nuni mengelus telinga dan kepala Alex yang baru saja ia siksa tadi. Alex memejamkan matanya menikmati sentuhan Nuni. Ia menggenggam tangan Nuni yang ada di kepalanya.
"Kakak kenapa tadi berantem?" Nuni mengelus rambut Alex. Ia menatap Alex lembut. Ada sorot khawatir dari tatapan Nuni, dan Alex menyadari itu.
Bukannya menjawab, Alex malah menarik Nuni dan mendekapnya erat. Ia menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Nuni. Nuni yang tidak siap karena Alex yang mendekapnya tiba-tiba terkejut beberapa saat, tapi setelah ia sadar dari keterkejutannya, Nuni segera memeluk dan mengelus rambut Alex.
"Jangan tinggalin aku. Aku takut dan gak mau kalo sampe kamu pergi ninggalin aku." Ucap Alex yang mau tak mau membuat Nuni mengukir senyuman di bibirnya.
"Never Kak, aku akan sabar dan nunggu Kakak buat lupain dia. Tapi inget Kak, sabar itu ada batasnya dan sebisa mungkin aku bakalan sabar. Kecuali kalo Kakak bener gak bisa lupain dia, aku akan nyerah dan mundur secara teratur." Nuni mengelus pipi Alex.
"Kamu jangan nyerah. Aku bakalan lupain dia. Aku janji." Ucap Alex mantap.
"Kita liat nanti kedepannya gimana aja Kak, Kak Alex bisa nepatin janji Kakak itu atau enggak. No one know." Nuni tersenyum lembut tapi tatapannya tak bisa ditutupi. Ada rasa kecewa dalam tatapannya.
"Kak Alex belom jawab pertanyaan aku tadi. Kenapa Kakak bisa berantem ish sebel dd tuh." Nuni mengerucutkan bibirnya. Alex terkikik lalu mengacak rambut Nuni.
"Yak! Ih rambut aku berantakan kan ih Kakak nyebelin." Nuni memelototi Alex.
Entah kenapa Alex sangat menyukai saat Nuni tengah kesal. Menurutnya itu adalah hiburan tersendiri baginya. Alex juga sangat menyukai sifat Nuni yang kadang seperti anak-anak dan kadang kala sifatnya bisa berubah menjadi dewasa seperti tadi.
"Jangan cemberut dong Sayang." Alex merapihkan rambut Nuni dengan jari-jarinya.
"Tadi Kak Alex kenapa bisa berantem? Kakak jadi memar gitu. Aku khawatir Kak." Nuni menundukkan kepalanya.
Alex mencium kening Nuni lama. Nuni menutup matanya. Sedari dulu Nuni sangat suka dicium keningnya oleh siapapun di keluarganya. Menurut Nuni, ciuman di kening menandakan kasih sayang.
'Nyaman. Please jangan tinggalin aku Kak, aku takut Kakak pergi ninggalin aku dan lebih milih dia.' Batin Nuni.
Alex melepaskan ciumannya. Ada rasa kehilangan di diri Nuni saat Alex tidak mencium keningnya lagi.
"Tadi Devan bilang kalo aku udah putus sama kamu dan dia berniat ngambil kamu dari aku. Aku gak suka dan gak terima terus aku tonjok aja dia. Dan ujungnya ya gini." Jelas Alex dengan wajah yang ia buat sepolos mungkin.
"Bader dasar stupid batu es triplek blender." Nuni menjitak Alex. Ia heran mengapa hal sepele seperti itu bisa membuat mereka berkelahi seperti ini.
"Sakit Nun, kamu udah berapa kali nyiksa aku hari ini? Sakit hati Abang Dek." Ucap Alex sambil memegang dadanya dengan dramatis.
"Nazong alay ewh jauh-jauh sana." Cibir Nuni.
"Kamu tau gak? Kamu tuh orang pertama yang berani bentak aku, ngatain aku, ganggu aku berantem, sama orang pertama yang berani nyiksa aku."
"Ah really? I'm so lucky." Ucap Nuni riang tapi dengan ekspresi datar sambil memutar bola matanya malas.
"Gemesin tau gak sih kamu itu." Alex mencubit kedua pipi Nuni.
"Sakit ih Kak."
"Ahaha maaf maaf." Alex mengusap pipi Nuni yang sedikit merah karena ulahnya.
"Lain kali jangan kaya gitu Kak, aku khawatir sama Kakak takut Kakak kenapa-napa." Nuni menatap Alex.
"Iya, aku gak bakal kaya gitu lagi." Tapi aku gak janji. Tambah Alex dalam hati.
Alex menempelkan keningnya pada kening Nuni. Hidung mereka bersentuhan.
Deg deg deg
Jantung Nuni berdetak cepat.
Cup
Alex menempelkan bibirnya pada bibir Nuni.
'ANYEEENNNGGGG BIBIR GUE KAGA PERAWAN LAGI HUWAAAAAA MAAPIN NUNI MAMIIII NUNI HILAP WALAUPUN NUNI GAK SEPENUHNYA HILAP SIH KAN NUNI PENASARAN SEKALIAN MAU NYOBA BIAR KEK ORANG-ORANG. YA POKOKNYA NUNI MINTA MAAP LAH MAMIIIIII.' Teriak batin Nuni.