Episode 11

7117 Kata
            Leon baru saja menuruni tangga dan semua keluarganya sudah berkumpul di meja makan. “Pagi,” sapanya pada semua orang dan mengambil duduk di samping Adrian.             “Pagi Sayang,” sapa Thalita.             “Bagaimana pekerjaanmu, Le?” tanya Dhika.             “Semuanya lancar,” ucap Leon menikmati sarapannya.             “Kak, denger-denger dari Kak Leonna. Katanya pegawai baru itu anaknya cantik dan juga lucu?” tanya Adrian.             “Kenapa menanyakan dia?” tanya Leon sedikit sinis. Leon tau sepak terjang Adrian yang mengikuti jejak Datan, kekasihnya banyak tetapi Adrian tidak memacari mereka semua, hanya beberapa orang saja yang menarik yang ia pacari. Adrian lebih selektif dalam memilih kekasihnya.             “Santai Brader, segitu posesifenya,” kekeh Adrian.             “Memang beneran cantik yah?” tanya Jen yang tengah menikmati sarapannya.             “Bagaimana kalau siang nanti kita mampir ke sana?” usul Adrian.             “Tidak bisa, Adrian!” ucap Leon dengan nada datarnya membuat Adrian terkikik geli, sadar kalau Kakaknya ini sedang cemburu.             “Ih Kak Leon, kan Jen juga pengen lihat.” Jen mulai merajuk membuat Adrian terkekeh karena tau Leon akan mengalah.             “Kamu sendirian saja yang datang,” ucap Leon.             “Segitu takutnya dia akan jatuh cinta padaku,” goda Adrian.             “Dia tidak cocok untukmu, Adrian. Dia masih sangat polos,” ucap Leon tanpa sadar bersikap posesive membuat Lita dan Dhika saling adu pandang dengan senyuman mereka.             “Undanglah datang ke acara ulang tahun pernikahan Om Gator dan tante Chacha besok malam, Le.” Dhika mulai bersuara.             “Setuju,” ucap Adrian.             “Apa itu harus?” tanya Leon dengan sinis. “Aku tidak akan mengajaknya.”             “Ajak saja Le, dia  kan asisten kamu. Setidaknya bisa mengenal kami sebagai keluargamu. Jadi saat kamu menyuruh dia untuk mengambil sesuatu di sini tak akan canggung lagi.” Kali ini Thalita yang berbicara. Dan tentu saja itu akan membuat Leon kesulitan menolak.             “Akan Leon pikirkan,” ucapnya seraya beranjak. Ia berpamitan pada semua orang dan berlalu pergi. ♠♠♠             Leon baru saja sampai di Sekolah Yayasan, ia beranjak memasuki Lift hingga seseorang ikut menerobos masuk hingga terjatuh di pintu lift karena terburu-buru kakinya tersandung. Orang itu adalah Azalea yang menerobos masuk saat Leon masuk ke dalam lift. Leon masih berdiri dengan tatapan datarnya tepat di hadapan Azalea yang terduduk di lantai karena terjatuh barusan. Azalea terlihat tengah berusaha bangun hingga sebuah uluran tangan berada tepat di depannya. Azalea menengadahkan kepalanya dan tatapannya beradu dengan mata coklat tajam itu. Ia mengernyitkan dahinya dan menatap uluran tangan Leon yang berada di depannya.             “Apa kau akan tetap menatap tanganku seperti itu, sampai pintu lift menjepit tubuhmu,” ucap Leon dengan nada datar dan nyaris dingin. Azalea yang sadar dari keterpakuannya pun langsung menerima uluran tangan Leon dan sedikit memekik saat Leon menariknya dengan sedikit kencang sehingga membuat tubuhnya tertarik dan menabrak d**a Leon. Azalea terpaku saat di depan matanya adalah sebuah d**a bidang yang di balut dengan sebuah kemeja hitam yang begitu pas di tubuh ramping dan kekar milik Leon.             Azalea perlahan menengadahkan kepalanya dan tatapannya langsung terkunci dengan tatapan tajam milik Leon yang juga tengah menatapnya. Ada aliran aneh di dalam tubuh Azalea dan jantungnya terasa berdetak begitu cepat. Ia bahkan kesulitan untuk menelan salivanya sendiri. Leon yang sadar terlebih dulu segera memalingkan wajahnya dan menggeser tubuhnya sedikit menjauhi Azalea dan menekan tombol lift hingga pintu lift tertutup rapat dan mulai naik.             “Apa kau selalu ceroboh dan senang berlari?” tanya Leon membuat Azalea mengerjapkan matanya berkali-kali dan berbalik ke arah Leon yang masih berdiri kaku membelakanginya.             “Maafkan saya, Pak. Sebenarnya sudah sejak tadi saya berdiri di dekat tangga darurat menunggu seseorang yang hendak menaiki lift. Saya-“ Azalea terdiam sesaat seraya menelan salivanya sendiri. “Saya takut kejadian kemarin kembali terulang,” ucapnya yang mampu di pahami Leon, tetapi Leon tidak menunjukkan ekspresi apapun selain wajah datar dan nyaris dingin.             Pintu lift terbuka lebar dan Leon melangkahkan kakinya meninggalkan Azalea sendiri  yang menghembuskan nafas lega dan berjalan mengikuti Leon dari belakang dengan langkah yang terseok-seok karena harus menyeimbangkan langkah kecilnya dengan Leon. Rambut berwarna coklat sedadanya dan sedikit bergelombang di bagian bawahnya di biarkan tergerai indah.             “Selamat Pagi, Pak!” sapa Kartika saat Leon melewati mejanya tanpa berkata apapun. Azalea langsung meluncur ke mejanya yang berada bersebelahan dengan Kartika.             “Kenapa kamu kesiangan, Azalea?” tanya Kartika saat Leon sudah memasuki ruangannya.             “Sebenarnya itu-,” Azalea menampilkan cengiran lebarnya membuat Kartika mengernyitkan dahinya.             “Ada apa?” tanyanya tak sabar.             “Aku sebenarnya tadi datang ke sini bersamaan dengan kamu, Mbak. Tapi saat di depan lift, kamu malah sudah masuk lebih dulu dan aku tidak bisa menaiki lift sendiri.”             “Jadi sejak satu jam yang lalu kamu berdiri di depan pintu lift?” tanya Kartika yang di angguki Azalea.             “Aku duduk di dekat tangga darurat,” ucapnya dengan cengiran lebarnya yang begitu polos.             “Sudah sana buatkan kopi hitam buat Pak Leon,” ucap Kartika yang di angguki oleh Azalea dan segera beranjak untuk membuatkan kopi.             Di dalam ruangan, Leon terlihat sibuk dengan laptopnya hingga dering handphone menyadarkannya. “Iya Ona,”             “......”             “Gue gak tau akan datang atau tidak, lagian om Gator temanya aneh-aneh saja. Wajib datang kalau bawa pasangan.”             “.......”             “Iya gue tau itu acara ulang tahun pernikahan mereka yang ke 26, tapi gue mana bisa datang. Gue gak ada pasangan!”             “......”             “Jen sudah di booking oleh Adrian, dan Jen mau pergi dengannya. Gue sepertinya tidak akan datang, loe tau sendiri gue kurang menyukai acara seperti itu.”             “........”             “Iya mau bagaimana lagi!” Leon menghentikan ucapannya saat mendengar suara ketukan pintu. “Masuk,”             Azalea berjalan memasuki ruangan dengan nampan berisi kopi. Ia berjalan mendekati Leon dan menyuguhkan kopi yang masih mengepulkan asap itu di atas meja.             “Kopi nya, Pak.”             “Kau boleh pergi,” ucap Leon dengan dingin membuat Azalea mengangguk dan beranjak pergi dengan melirik sedikit ke arah Leon yang terlihat sibuk dengan handphonenya.             “Iya Ona, gue masih ada di sini,” ucap Leon saat Azalea sudah keluar dari ruangannya.             “.......”             “Azalea, kenapa dengannya?”             “.........”             “Oh ayolah Ona, jangan konyol. Gue tidak mungkin mengajaknya.”             “.......”             “Tidak, Leonna!”             “Astaga jangan menangis,” ucap Leon sedikit frustasi karena paksaan kembarannya ini. Ada apa sebenarnya dengan keluarganya itu. Tadi orang rumah memaksanya untuk mengajak asisten barunya itu dan sekarang Leonna yang bahkan mengamuk sambil menangis.             “......”             “Iya iya, gue ajak dia. Puas?” Leon mengucapkannya dengan nada kesal.             “.......”             “Hmm,”             “.......”             “Iya, besok gue bawa dia ke rumah loe.”             “......”             “Iya bye,”             “......”             “Iya kembaranku yang begitu gue sayangi!” ucap Leon penuh penekanan sampai akhirnya ia mematikan sambungan telponnya. Ada apa dengan keluarganya ini,, ♠♠♠             Hari semakin sore, dan hanya sebagian kelas yang masih melakukan kegiatan belajar mengajar, sisanya sudah pulang sejak tadi siang. Leon berjalan menuju ke jendela besar yang ada di dalam ruangannya. Jendela itu mampu mengekspos semua pemandangan di bagian tengah sekola dimana terdapat lapangan olahraga dan juga taman dan hutan buatan di sana. Ia menatap nyalang ke depan, hingga pandangannya terusik dengan pergerakan di sebuah pohon karena batang dan daunnya bergoyang. Mata Leon seketika melebar dan mengernyitkan dahinya saat melihat Azalea terjun mulus dari atas pohon ke tanah dengan pendaratan yang pastinya menyakitkan karena pantatnya yang pertama kali mendarat di tanah yang penuh rerumputan hijau yang terawat itu.             “Gadis itu,” gumam Leon sungguh merasa aneh dengan kecerobohan Azalea.             Leon masih memperhatikan Azalea yang terlihat mengaduh dan bersusah payah untuk bangun sambil mengelus pantatnya. Ia berjalan dengan sedikit kesulitan dengan wajah yang meringis kesakitan. Tatapan Leon lalu terarah ke arah tangannya yang memegang seekor kucing kecil berwarna abu. Kucing itu begitu kecil dan terlihat baru beberapa minggu di lahirkan. Azalea terlihat duduk di tanah dengan menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Lalu Azalea terlihat mengeluarkan beberapa daun dari saku celananya. Ia meremas daun itu dan menempelkannya di kaki kucing yang sepertinya terluka. Tanpa sadar Leon tersenyum kecil melihat Azalea. Tingkahnya masih sangat polos dan masih kekanakan tetapi ia begitu baik. Leon sungguh kagum pada sosok yang saat ini tengah ia perhatikan. Azalea terlihat tertawa senang setelah mengobati luka di kaki kucing itu dan menguyel kucing itu dengan tangannya. Melihat tawa lepas Azalea yang terlihat tanpa beban membuat Leon merasa tenang dan terselip rasa bahagia di sana.  Gadis itu...             Entah apa yang dia miliki dalam dirinya. Kepolosan dan keluguannya sungguh membuat Leon selalu luluh padanya. Selama ini banyak sekali gadis yang terang-terangan mengejar dan mengaguminya, dan Leon juga dengan kejam tak pernah menganggap mereka semua. Tetapi berbeda dengan gadis satu ini, ia dengan kepolosannya selalu menunjukkan tatapan penuh kekaguman pada Leon, tetapi Leon sendiri seakan sulit untuk menolaknya. Ia merasa ingin dan senang di tatap seperti itu oleh Azalea. ♠♠♠             Sore ini Leon membawa Azalea ke rumah Leonna sesuai janjinya pada Leonna. Azalea awalnya bertanya-tanya tetapi Leon menjelaskan kalau mereka akan memenuhi sebuah undangan dari client di Sekola Yayasannya. Akhirnya Azalea menurut dan mengikuti Leon. Sesampainya di sana mereka langsung di sambut hangat oleh Leonna dan juga Verrel yang kini melakukan pekerjaannya di rumah karena kondisi Leonna yang tak memungkinkan untuk di tinggalkan.             “Hai Kembaranku sayang.” Leonna memeluk Leon dengan sangat antusias dan mencium pipi kiri dan kanannya membuat Azalea  menatapnya dengan keterkejutannya. Apalagi respon Leon pada Leonna begitu lembut. “Bagaimana kabarmu dan keponakanku?” tanya Leon mengusap perut buncit Leonna.             “Sangat-sangat sehat,” kekeh Leonna hingga tatapannya mengarah kepada Azalea yang mematung di belakang mereka. “Azalea, hai.” Azalea sempat kaget saat Leonna tanpa risih memeluk tubuhnya dan mencium pipi kiri dan kanannya.             “Ha-hai juga Nyonya,” ucap Azalea dengan kaku dan senyuman kecilnya membuat Leonna terkekeh kecil.             “Panggil Kak Leonna saja, usia kita hanya terpaut sedikit,” kekeh Leonna.             “Iya, Kak Leonna.”             “Apa kabar Kak Verrel?” tanya Leon bersalaman dengan Verrel.             “Ayo masuk,” ucap Leonna merangkul Azalea memasuki rumah mereka  meninggalkan Leon dan Verrel. “Anggap saja rumah sendiri,” tambahnya membuat Azalea mengangguk kaku.             “Dia terlihat sangat bahagia,” ucap Verrel saat Leonna sudah berlalu memasuki ruangan lain bersama Azalea.             “Ya, dia terlihat sangat bahagia,” ucap Leon.             “Sudah lama dia ingin kamu segera memiliki pasangan,” ucap Verrel yang tau keinginan terpendam istrinya.             “Azalea tidak akan pernah bisa jadi pasanganku, sama seperti gadis lainnya,” ucap Leon berubah dingin dan datar membuat Verrel menaikkan sebelah alisnya.             “Mungkin lebih tepatnya belum,” ucap Verrel tersenyum misterius seraya mengajak Leon untuk masuk ke dalam rumah.             Leonna membawa Azalea ke dalam kamarnya dan menyuruh Azalea untuk duduk di sofa yang ada di ujung ranjang. Azalea menatap sekeliling kamar yang luas dan begitu mewah. Banyak hiasan burung bangau bergelantungan di atap kamar, bahkan ada hiasan kipas angin dari kertas. Boneka doraemon besar juga terlihat berada di sofa single di ujung ruangan. Banyak furnitur di kamar ini, sepertinya saudara Leon ini begitu menyukai suasana ramai seperti ini, berbeda dengan dirinya di kamar kostan yang hanya di temani oleh si Monky, boneka Monyet berukuran besar yang selalu menemaninya setiap saat.             “Syukurlah pakaianku dulu masih tersimpan,” ucap Leonna membuat Azalea menoleh ke arah Leonna yang baru keluar dari walk in closet dengan menenteng beberapa helai dress. “Kamu pasti akan cocok memakai semua ini.”             “Tapi Kak, untuk apa saya memakai pakaian itu?” tanya Azalea membuat Leonna tersenyum hangat.             “Kita akan pergi ke pesta, kamu tidak mungkin memakai pakaian itu kan.” Azalea menundukkan kepalanya menatap pakaiannya yang tengah memakai celana jeans biru di padu dengan kemeja kotak-kotak. “Kebetulan dulu sebelum hamil, aku membeli beberapa dres dan gaun pesta. Dan pasti ini akan muat di tubuhmu,” ucap Leonna memaparkan setiap gaun di atas ranjang.             “Ini gaun yang sangat indah, apa tidak masalah kalau saya memakainya?” tanya Azalea membuat Leonna terkikik.             “Azalea, pertama-tama jangan gunakan bahasa baku denganku, dan yang kedua aku meminta Leon membawamu ke sini yaitu untuk merubahmu menjadi seorang cinderella.”             “Benarkah? Tapi apa akan di beri waktu sampai jam 12 malam seperti cinderella?” tanyanya dengan polosnya dan itu membuat Leonna terkekeh.             “Terima kasih Tuhan, dengan hadirnya gadis ini. Leon tidak akan cepat tua karena tidak pernah tertawa,” kekeh Leonna membuat Azalea menatapnya dengan kebingungan. “Oke Azalea, kamu mau memakai gaun yang mana?”             “Sa- eh aku tidak tau Kak,” ucapnya.             Leonna mengamati Azalea dari atas hingga ke bawah, tubuhnya cukup tinggi karena hampir menyamai tinggi Leonna. Leonna memperhatikan wajah Azalea, dia sangat cantik walau masih sangat polos. Mungkin di poles sedikit saja akan membuatnya semakin cantik, apalagi kulitnya yang sangat putih bersih. Azalea yang di tatap seperti itu oleh Leonna membuatnya gugup dan grogi, ia merasa jauh di bawah Leonna yang begitu cantik. Dengan rambut sebahunya, kecantikan wajah Leonna begitu terpancar. Azalea merasa jauh di bawah Leonna, padahal dalam kondisi hamil, tetapi dia terlihat sangat cantik.             “Oke Azalea, aku sudah menemukan sesuatu yang cocok untukmu,” ucap Leonna begitu antusias. Ia menatap ke semua dress dan gaun di depannya. Lalu ia mengambil salah satu gaun cantik berwarna blue sky dengan belahan d**a rendah. Bagian atasnya berwarna hitam dan biru langit. Lalu di bawahnya berwarna biru dengan kain tipis dan sedikit transparan walau tak menembus kulit karena ada kain biru di dalamnya yang menutupinya. Tetapi gaun itu tetap terlihat seksi karena hanya sebatas paha dan memiliki ekor  panjang yang tak lurus begitu saja. Tetapi bentuknya berbentuk setengah lingkaran. Ujung gaun itu tak sampai menyapu tanah, tetapi hingga batas kaki dan saat kaki jenjang yang di balut dengan sepatu high heels berwarna perak ala princes, maka ekornya akan melambai-lambai indah di belakang tubuhnya. Leonna sudah yakin sekali kalau Azalea akan terlihat sangat cantik bagaikan seorang putri dari cerita dongeng.  “Ayo coba ini,” ucap Leonna membuat Azalea mengangguk dan mencobanya di kamar mandi.             Di ruang keluarga dekat tangga, Leon dan Verrel duduk dengan santai dan berbincang beberapa hal. Mereka terlihat sudah siap dengan jas yang mereka gunakan untuk pergi ke acara Aniversarry Gator dan Chacha.             Hingga tak lama Leonna terlihat sudah turun dengan dres berwarna putihnya. Dress itu panjang hingga menyapu tanah dan sedikit menutupi perutnya yang menonjol.             “Kamu selalu terlihat cantik, Delia,” puji Verrel membuat Leonna tersipu diiringi senyumannya.             “Sudah siap Le?” tanya Leonna.              “Siap apaan?” tanya Leon dengan santainya. Verrel bahkan sudah berdiri mendekati Leonna dan merangkul pinggang Leonna. “Azalea turunlah,” ucap Leonna dan derap langkah kaki terdengar menuruni undakan tangga. Mendengar derap langkah anggun itu membuat Leon menengadahkan kepalanya dan tatapannya terpaku pada sosok Azalea yang tersenyum cantik. Ia berjalan menuruni undakan tangga dengan begitu anggun, tas kecil berada di dalam genggamannya. Rambutnya di tata secantik mungkin dan membiarkan beberapa helai anak rambut jatuh ke bawah menghias wajah cantiknya. Leonna hanya memberi make up tipis pada Azalea, dan masih menunjukkan sisi naturalnya tetapi Azalea begitu terlihat cantik. Leon bahkan tak berkutik dan tatapannya terpaku pada sosok Azalea yang sudah berdiri di lantai yang sama dengan mereka semua. Leonna terkikik melihat ekspresi Leon yang terlihat jelas terpesona dengan kecantikan Azalea. Verrel juga ikut tersenyum melihat hasil karya istrinya dan melihat Leon yang terpaku di tempatnya. Istrinya memang tau kriteria Leon hingga ia menyulap Azalea menjadi sosok putri seperti ini.             “Ayo pergi,” ucap Leonna mengagetkan mereka berdua yang masih bertatapan satu sama lainnya. Azalea tersenyum malu-malu dan menundukkan kepalanya. Leon segera merubah raut wajahnya dan beranjak dari duduknya. Tanpa berkata apapun dia berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga membuat Azalea kebingungan dan terlihat jelas raut sedih di wajahnya. Apa dirinya terlihat konyol dan seperti badut, sampai Leon meninggalkannya begitu saja. “Kamu sangat cantik,” ucap Leonna yang paham kesedihan dan kecemasan Azalea.             “Tapi-“             “Sudahlah, dia terlalu malu untuk memujimu.”             “Kamu terlihat sangat cantik Azalea,” puji Verrel membuat Azalea tersenyum malu tetapi itu tak cukup karena ia membutuhkan pujian dari Leon.             “Benarkah? Tapi dia kelihatan  kesal padaku,” ucapAzalea.             “Tidak Azalea, ayoo.” Leonna menarik lengan Azalea untuk keluar dari rumah mereka. “Jangan mengharapkan pujian apapun dari Ice Batu itu, cukup melihat tatapannya saja sudah jelas kalau dia terpesona padamu,” bisik Leonna membuat Azalea tersipu malu membayangkan itu benar.             Azalea bersama Verrel dan Leonna sudah sampai di pekarangan depan, Leon terlihat sudah duduk di kursi pengemudinya. “Naiklah, kamu semobil dengan Leon,” ucap Leonna membuat Azalea mengangguk dan memasuki mobil Leon. Tanpa melirik ke arah Azalea, Leon langsung menginjak gas mobilnya meninggalkan area itu. Sesekali Azalea melirik ke arah Leon yang menatap lurus ke depan. Azalea begitu suka memperhatikan wajah Leon, bisa di bilang itu adalah hobby barunya untuk terus memperhatikan wajah Leon. Leon sebenarnya tau Azalea tengah menatapnya, tetapi ia berusaha mengabaikannya. Bukankah sudah biasa ia di tatap penuh rasa kagum oleh para wanita? Tetapi kenapa oleh Azalea membuatnya gugup, ada apa dengan dirinya?             Handphone Azalea berdering nyaring menyadarkannya dari keterpakuannya. Ia membuka handphonenya dan tertera nama yang begitu ia rindukan. Sedikit melirik ke arah Leon yang masih fokus dengan aktivitas menyetirnya, Azaleapun mengangkat telpon itu. Ia berbicara dengan seseorang di dalam telpon menggunakan bahasa Jawa yang jelas tak di pahami Leon. Sebenarnya Leon sedikit paham, ia tau Azalea sedang berbicara dengan Ibu nya walau Leon tak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Cukup lama Azalea menerima telpon dan akhirnya mematikan sambungan telpon sambil melirik ke arah Leon yang masih sibuk dengan aktivitasnya.             Setelah menghabiskan waktu cukup lama di dalam mobil yang terasa begitu sepi dan hening. Akhirnya mobil sport milik Leon memasuki area hotel bintang 5. Seorang pegawai berdiri di depan hall hotel. Pintu di samping Azalea terbuka dan menampakan pegawai itu yang memakai seragam hitam hitam. Azalea menuruni mobil diikuti Leon. Setelahnya Leon memberikan kunci mobilnya pada petugas itu dan berjalan memasuki hotel yang ramai oleh orang-orang. Langkah mereka berdua terhenti saat mobil Verrel datang di belakang mereka. Leonna menuruni mobil dengan sedikit susah payah karena kehamilannya di bantu oleh Verrel yang sudah menuruni mobil terlebih dulu. Setelahnya mereka berdua berjalan mendekati Leon dan Azalea.             “Ayo masuk,” ajak Leonna yang masih menggandeng lengan Verrel. Azalea mengikuti mereka berjalan di belakang Leonna dan Verrel sedangkan Leon berjalan di belakang Azalea.             Saat mereka sampai di aula besar hotel, tempat untuk pertemuan atau sebuah acara khusus. Di sana banyak sekali tamu yang datang. Kebanyakan dari kolega Oktavio, apalagi beliau terkenal sebagai seorang pengusaha sukses di Indonesia dan ASIA.  Azalea terlihat sekali gugup dan malu, ini pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini. Acara yang begitu mewah. Ia melihat Leonna dan suaminya tengah bercengkraman dengan beberapa orang sedangkan Azalea berdiri tak jauh dari mereka dengan kebingungannya.             “Ikut denganku,” bisikan itu membuatnya terperangah. Ia menoleh ke sampingnya dan Leon terlihat berdiri di sana. Leon berlalu pergi dan mau tak mau Azaleapun mengikuti langkahnya.  Mereka berdua berjalan menuju ke kolam renang yang ada di area taman yang juga begitu luas dan di hias seindah dan se-elegant mungkin. Leon terlihat memilih duduk di salah satu bangku taman di dekat lampu taman, di sana terlihat sepi. Azalea mau tak mau ikut duduk di sisi Leon. Sesekali ia melirik ke arah Leon yang terlihat menyulut rokoknya.             “Anda merokok?” tanya Azalea sedikit kaget.             “Apa ada yang salah?” tanya Leon masih sedatar triplek melirik ke arah Azalea. Dengan segera Azalea menggelengkan kepalanya. Ia menatap lurus ke depan, tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya helaan nafas mereka yang terdengar saling bersautan. Azalea sebenarnya ingin sekali pulang dan tidur, sejujurnya ia sangat lelah seharian ini. Tetapi permintaan atasannya tak mungkin ia tolak, bukan? Bisa-bisa ia di pecat.             “Om Oktavio adalah sahabat Papaku dan dia donasi terbesar di Yayasan,” ucap Leon seraya mengepulkan asap dari dalam mulutnya. Mendengar penuturan Leon, Azalea menoleh ke arahnya dan menatap Leon dengan seksama. “Dia memang sedikit aneh tetapi dia sangat baik dan begitu penyayang.”             “Apa kalian begitu dekat?” entah dorongan darimana Azalea bertanya itu pada Leon sampai Leon menoleh padanya sesaat dan kembali menatap lurus ke depan seraya menghisap rokoknya dan mengepulkan asap putih ke udara.             “Ya, bisa di bilang begitu. Aku dekat dengan semua sahabat Papa, karena mereka semua baik.” Azalea mengangguk paham.             “Aku tidak pernah dekat dengan siapapun karena phobia ini,” gumam Azalea dan kini Leon menatap Azalea dengan seksama. “Aku memiliki trauma cukup mengerikan saat kecil, dan itu membuatku memiliki phobia ini. Ibu dan Ayahku sudah membawaku ke beberapa klinik untuk melakukan pengobatan tetapi semuanya terhenti di tengah jalan karena kekurangan biaya. Dan aku merasa pasrah dengan keadaan ini.” Azalea menerawang jauh ke depan menatap hamparan bintang-bintang indah di langit. “Tapi ternyata itu berdampak pada kehidupanku, aku di jauhi banyak anak-anak bahkan saat sekolah. Hanya Riana, temanku. Yah, hanya dia sahabatku yang mau tetap bersamaku walau mengetahui kekuranganku,” ucapnya tersenyum kecil.             “Itu bukanlah sebuah kekuarangan menurutku,” ucap Leon membuat Azalea menoleh dan tatapannya langsung beradu dengan mata coklat tajam milik Leon yang menatapnya dengan intens.             “Azalea, Leon. Kalian di cariin daritadi!” suara itu membuat keduanya menoleh ke sumber suara dan Leonna berdiri di dekat kursi taman dengan melipat tangan di d**a.             “Ada apa Ona?” tanya Leon.             “Papa, Mama dan juga Om Gator menunggu kalian. Ayo cepat,” ucap Leonna menarik lengan Azalea membuatnya memekik kecil tetapi akhirnya menurut saja dengan Leonna. Mau tak mau Leonpun berjalan di belakang mereka.             Tak jauh dari mereka, beberapa orang sedang berkumpul sambil menikmati minuman mereka, Leonna masih menarik Azalea menuju ke arah mereka semua.             “Kak, aku malu.” Leonna yang mendengarnya hanya menoleh dan melambaikan tangannya dengan anggun seakan memberi jawaban kalau semuanya baik-baik saja. Azalea menoleh ke arah Leon yang berjalan dengan cool di belakangnya.             “Hai semuanya,,, kenalkan ini Azalea!” ucap Leonna dengan kencang membuat semuanya menoleh ke arah Azalea yang berdiri kikuk dengan Leon berdiri di belakangnya dengan tatapan datarnya.             “Azalea, kemarilah.” Thalita berjalan mendekati Azalea lebih dulu, ia tau Azalea terlihat tegang dan gugup. “Aku Thalita, mamanya Leonard.” Azalea tersenyum kecil ke arah Thalita dan tiba-tiba saja ia meraih tangan kanan Thalita dan mengecupnya.             “Azalea Tante,” ucapnya begitu sopan.             “Cantik sekali,” puji Oktavio. “pilihan Leonard memang tak pernah meleset.”             Azalea tersenyum kikuk pada mereka semua, ia sungguh tak paham dan sedikit tak nyaman berada dalam situasi seperti ini. “Tidak perlu tegang, Sayang. Santai saja,” ucap Thalita mengusap pundak Azalea.             “Hai Azalea, aku Adrian, adiknya Kak Leon.” Adrian langsung menyodorkan sebelah tangannya diiringi senyuman menawannya membuat Azalea sedetik terpaku menatapnya. Tetapi walaupun sedetik, kejadian itu tak luput dari perhatian Leonard.             “A-azalea,” ucapnya menyambut uluran tangan Adrian.             “Kamu sangat cantik Azalea, sungguh aku tidak berbohong,” puji Adrian.             “Awas sang Singa ngamuk!” sindir Datan yang tak di gubris Adrian.             “Terima kasih,” ucap Azalea dengan senyuman malu-malu. Adrian lalu mengenalkan semuanya satu-satu kepada Azalea dengan sengaja berdiri di samping Azalea.             “Aku Jennifer, biasanya orang-orang memanggilku Jen.” Jennifer juga ikut berkenalan dengan sangat riang.             “Kita sepertinya seumuran yah?” tanya Jen.             “Aku baru 20 tahun,” ucap Azalea.             “Wow, masih ABG ternyata,” ucap Percy.             “Aku 21, ternyata tuaan aku yah,” kekeh Jen.             “Sadar umur Jejen, sekarang sudah tak muda lagi,” ejek Datan membuat Jen mencibir.             “Selamat Tuan dan Nyonya Oktavio untuk ulang tahun pernikahan anda,” ucap Azalea mengucapkannya dengan begitu formal membuat yang lain terkekeh.             “Jangan formal seperti itu, santai saja Azalea.” Okta bersuara dengan santai seraya merangkul pundak istrinya. Azalea merasa kalau orang-orang di sekitarnya ini adalah orang kaya yang tidak sombong dan angkuh. Ada kekerabatan dan kekeluargaan di dalamnya yang mampu di rasakan oleh Azalea. Entah kenapa, ada rasa bahagia terselip di dalam hatinya.             “Selamat Om Gator, Tante Nela.” Rindi dan Daffa baru saja datang dengan Bella yang memakai gaun cantik berwarna merah berdiri di antara mereka.             “Makasih Daffa, Rindi,” ucap Okta dan Chacha.             “Kak Daffa?” pekik Azalea seketika membuat Daffa menoleh ke arahnya begitu juga dengan Rindi.             “Iya, em-siapa yah?” tanyanya sedikit bingung.             “Astaga mimpi apa aku semalam!” Azalea melupakan dimana dirinya saat ini. Dengan polosnya ia berucap sedikit histeris. “Kakak, aku ngefans banget sama Kakak tau, ya Tuhan! Aku gak nyangka bisa ketemu Kakak di sini.” Melihat keantusiasan Azalea membuat semuanya terkekeh.             “Benarkah?” tanya Daffa sedikit terkekeh.             “Iya Kakak, aku selalu menonton film Kakak apalagi yang sama istri Kakak yang cantik ini. Kalian sangat cocok, dan sangat menginspirasi!” ucapnya tanpa sadar memeluk Daffa karena keantusiasannya dan itu membuat semuanya memekik. Tidak ada yang sadar, hanya Leonna dan Thalita yang sadar kalau tatapan Leon berubah menjadi menggelap. Sebenarnya sejak tadi Leon menatap tajam Azalea dan Adrian saat Adrian menggodanya dan sekarang semakin menggelap karena Azalea yang memeluk Daffa begitu saja. Walau semuanya paham dan tau kalau Azalea senang karena bertemu idolanya, Rindipun tak terlihat cemburu. Tetapi berbeda dengan Leonard.             “Sebaiknya kita pulang!” tanpa sadar Leon menarik lengan Azalea hingga terlepas dari pelukan Daffa dan menabrak dadanya. Semuanya menatap ke arah Leon yang menunjukkan wajah datarnya, sebagai keahliannya.             “A-ada apa?” tanya Azalea sedikit memekik.             “Kita pulang!” ucap Leon dengan tajam.             “Tapi Pak, saya belum foto bersama dengan kak Daffa,” jawab Azalea dengan polosnya.             “Azalea!”             “Leon, tidak perlu memaksanya. Kalian juga baru datang, tenanglah dulu,” ucap Dhika.             “Apa ini kekasihmu, Le?” tanya Daffa dengan senyuman menggoda.             “Bukan!” jawab Leon dengan dingin.             “Oh bukan yah, ya sudah. Ayo Azalea ikut denganku, kita berfoto di dekat kolam renang,” ucap Daffa dengan sengaja menantang Leon.             “Benarkah? Bisa foto?” Azalea terlihat berbinar bahagia.             “Iya, ayo gadis cantik.” Daffa merangkul pundak Azalea dan mengajaknya ke arah kolam renang, sedang Rindi hanya terkekeh karena sikap suaminya yang jahil. Leon yang semakin sebal melihat ekspresi Azalea hanya mampu mendengus kesal dan berlalu pergi. “Kamu mau kemana Le?” tanya Thalita.             “Pulang!” Leon berlalu pergi meninggalkan semuanya.             “Mirip banget sama biangnya,” kekeh Daniel yang di angguki yang lain.             “Si Dhika lebih-lebih kayaknya, ingat pas reuni SMA-nya Thalita. Dia menghajar seorang pria hingga di bawa polisi,” ucap Farel yang di angguki yang lain.             “Ck, biang gosip!” ucap Dhika meneguk minumannya membuat anak-anak mereka terkekeh.             “Cemburu kan tanda cinta dan sayang,” ucap Jen.             “Ciee Jejen udah tau aja cinta dan sayang,” ejek Adrian seraya mencubit pipi Jen.             “Ih Rian,” Jen menepis tangan Adrian dan memukul lengannya.             “Sebaiknya kita lihat aksi dari aktor kita, apa yang akan dia lakukan pada Azalea,” kekeh Datan beranjak menuju kolam renang diikuti pada little brotherhood yang lainnya.             “Leon sepertinya menyukai gadis itu,” ucap Okta.             “Sepertinya begitu, biarkan saja mereka menjalaninya,” ucap Dhika.             “Dhika benar, aku tidak ingin Leon merasa di paksa.”             “Bahaya kalau Leon sampai mengasingkan diri,” sindir Angga.             “Sialan kalian! Puas banget ledekin gue,” ucap Dhika dengan sebal membuat yang lain terkekeh.             “Kapan lagi kita bully leader,” tawa Elza yang di angguki yang lainnya.             Azalea mengambil foto dengan berbagai pose bersama Daffa hingga para little brotherhood datang menghampiri mereka dan ikut berfoto bersama. Azalea merasa senang karena bisa bergabung dengan mereka semua. Apalagi mereka tidak terlihat sombong dan begitu ramah padanya. Di tambah dia bertemu dengan artis idolanya, lengkap sudah kebahagiaannya, walau ada satu yang kurang. Leon tak berada di antara mereka.             Setelah acara berfoto bersama, mereka berbincang-bincang sambil menikmati minuman mereka. Azalea tidak terlalu fokus pada mereka semua, ia terlalu fokus menyisir sekitarnya mencari keberadaan Leon. Kalau Leon tidak ada, nanti dia akan pulang dengan siapa. Ada keresahan di dalam hatinya. Ia memutuskan untuk mencari Leon di taman yang tadi, tetapi gerakannya terhenti saat seseorang sengaja menabrak punggungnya hingga tubuhnya terjatuh ke dalam kolam renang.             Byur             “Argghhh!!!”             Pekikan itu membuat semua orang menatap ke arah kolam renang dimana Azalea berada. “Azalea!” pekik Leonna.            “To-tolong, aku gak bisa berenang!” ucanya hendak tenggelam tetapi gerakannya terhenti. Ternyata kakinya mampu berpijak di lantai kolam renang tanpa tenggelam, dan karena tingkah konyolnya itu, membuat semua orang mentertawakannya. Azalea yang merasa sangat malu sekali, hanya bisa menundukkan kepala dan menahan tangisannya. Sungguh ia merasa sangat malu dan ingin menangis apalagi dalam keadaan seperti ini.             “Azalea, ayo kemarilah!” Adrian mengulurkan tangannya ke arah Azalea.             “Azalea ayo,” ucap Datan tetapi Azalea hanya diam membeku dengan menundukkan kepalanya diiringi isakan kecilnya. Semua pakaiannya basah dan bagian bawahnya pasti akan terlihat tranparan dan tercetak jelas.             “Az-“             “Hentikan Adrian!” ucapan Leon menghentikan Adrian. Leon yang sudah tak memakai jasnya begitu saja datang tanpa ada yang tau. Ia berjalan menuruni undakan tangga kolam renang dengan tatapan lurus ke arah Azalea yang masih berdiri di tempatnya memeluk tubuhnya sendiri yang bergetar. Wanita yang tadi menabraknya dengan sengaja sudah di tahan oleh Leonna dan Jen. Karena ternyata wanita itu adalah teman kuliah mereka dulu yang ayahnya adalah kolega Oktavio. Wanita itu tergila-gila pada Leon. Melihat Leon datang bersama seorang wanita membuatnya emosi dan tanpa pikir panjang mendorong Azalea ke dalam kolam renang yang menjadi tontonan gratis bagi semua tamu. Leon berjalan mendekati Azalea tanpa memperdulikan tubuhnya yang sudah terendam air hingga batas d**a. Ia tidak memperdulikan tatapan semua orang di sekitarnya. Langkahnya terhenti tepat di hadapan Azalea yang perlahan menengadahkan kepalanya.             “Pak-?”             Leon hanya menatapnya tanpa ekspresi, dan tanpa di sangka-sangka ia langsung memangku tubuh Azalea ala bridal, membuat Azalea langsung menyembunyikan wajahnya di sela leher Leon karena begitu malu. Leon berjalan kembali ke arah tangga kolam untuk mencapai daratan. Ia sudah keluar dari dalam kolam renang dengan Azalea yang masih berada di dalam gendongannya. Ia berjalan melewati semua orang hingga berhadapan dengan brotherhood. “Maaf karena sudah merusak acara Om,” ucap Leon sedatar jalan tol.             “It’s Oke, Le!” ucap Gator.             “Bawalah Azalea pulang, dia pasti sangat kedinginan,” ucap Thalita.             Leon berjalan melewati mereka dengan membawa Azalea menuju keluar dari tempat itu meninggalkan semuanya. Leonna yang sudah berdiri di depan gadis yang terlihat berkaca-kaca. “Nona Amelia, untuk kali ini kau bebas dari ancamanku karena kau menciptakan suasana yang begitu romantis,” ucap Leonna penuh intimidasi.             “Jangan di biarkan Kak, kita tenggelamin sekalian gadis ini.” Jen memanasi situasi.             “Sudah cukup, Leonna.” Rasya yang tengah menggendong anaknya menegor Leonna dan Jen. Yah di antara yang lain, Rasyalah yang lebih dewasa dan memiliki sifat keibuan sehingga mampu mengingatkan adik-adiknya atau sahabatnya sendiri, begitu juga Rindi dan Randa.             “Oke, sekarang kau, aku lepaskan!” ucap Leonna.             “Sekali lagi, jangan di lepaskan Kak. Kita umpanin ke kandang si conel,” ucap Jen masih berusaha memanasi Leonna.             “Sudah sana pergi, gadis bar bar!” ucap Datan membuat Amelia langsung beranjak pergi. “Bumil tersadesss!” ucap Datan membuat Leonna mencibir.             Di parkiran, Leon masih berdiri di luar mobil sambil menyulut rokoknya, karena ia meminta Azalea untuk melepas pakaiannya dan memakai jasnya yang tadi ia simpan di dalam mobil. Azalea lupa membawa pakaiannya yang tadi ia gunakan, jadi terpaksa ia memakai jas milik Leon walau bagian atasnya sedikit terbuka.             “Pak, saya sudah selesai.” Terdengar suara Azalea dari dalam mobil, membuat Leon membuang rokok lalu menginjaknya, ia lalu memasuki mobil di pintu pengemudi dengan pakaian yang basah. Sebelum menjalankan mobilnya, ia melirik sebentar ke arah Azalea yang terlihat menyilangkan kedua tangannya di depan d**a untuk menutupi tubuhnya, tetapi Azalea melupakan bagian bawahnya yang terekspose jelas. Karena bagian bawah jas itu bahkan tak mampu menutupi setengah dari pahanya, walau dalemannya tak terlihat tetapi tetap saja mampu di terawang kalau Leon seorang pria yang m***m. Leon memalingkan wajahnya dan mulai fokus menyetir mobil, walau ia bukan seorang pria b******n dan juga bukan seorang pria m***m, tetapi ia adalah pria normal yang memiliki hasrat dan gairah. Melihat kondisi Azalea seperti ini mampu membangkitkan hasrat laki-lakinya tanpa mampu ia cegah.             Ia berkali-kali memalingkan wajahnya dan berdehem, berusaha untuk tetap fokus ke depan. Azalea melirik ke arah Leon dengan tatapan polosnya.  “Apa Bapak masuk angin karena pakaian Bapak basah?” tanyanya.             “Tidak!”             “Tapi daritadi anda berdehem, takutnya anda terserang flu.”             “Oh Shitt!!!!”             Leon membanting mobil seketika saat Azalea menggeser posisi duduknya dan spontan Leon mampu melihat dalaman yang di gunakan Azalea. “A-ada apa?” Azalea memekik kaget saat Leon menginjak rem mobilnya mendadak.             “Bisakah kau hanya duduk diam tanpa mengatakan apapun!” bentak Leon membuat Azalea memekik kaget dan berangsur menggeser sambil merapihkan jas yang ia gunakan.             “Ma-aafkan saya, Pak.” Azalea menundukkan kepalanya tanpa mau menoleh dan menatap mata tajam milik Leon. Leon menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menarik dasi kupu-kupu yang ia gunakan hingga terlepas dan melemparkannya asal ke belakang. Leon kembali menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan sangat amat tersiksa. Tidak mampu ia pungkiri, Azzalea benar-benar membangkitkan hasratnya.             ‘Sial!’ makinya di dalam hati karena rasa nyeri sekaligus terbakar.             Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan menyiksa, akhirnya mereka sampai di depan kostan tempat Azalea dan Kartika tinggal. “Apa kau akan masuk dengan menggunakan pakaian seperti itu?” tanya Leon membuat Azalea menoleh.             “Saya harus pakai apa dong Pak?” tanyanya dengan begitu polos.             “Hubungi Kartika dan minta dia mengambilkan apapun yang bisa menutupi bagian bawahmu. Entah handuk atau celana atau rok, apapun itu yang bisa menutupinya!” ucap Leon dengan nada frustasi.             “Emm, baiklah Pak.” Azalea mengirimkan pesan pada Kartika dan keduanya sama-sama terdiam fokus dengan pikiran masing-masing. Sialnya Kartika tak juga membaca pesan dari Azalea.             Leon begitu tersiksa dan frustasi, ia menyandarkan kepalanya ke jok mobil dengan memejamkan matanya. Ia mengatur nafasnya supaya bisa membuat kondisinya menjadi lebih baik. Tetapi sialnya itu tak mampu membantunya, dan malah membuatnya semakin gila.             “Sial Kartika!” amuknya membuat Azalea sedikit bingung dan ketakutan karena atasannya marah-marah terus. “Azalea,”             “I-hmmpppp!!!” mata Azalea membelalak lebar saat Leon menarik tengkuknya dan mencium bibirnya, ia memangut bibir Azalea begitu saja tanpa mampu menahannya lagi. Mata Azalea semakin melebar merasakan sentuhan Leon yang begitu intim. Azalea tidak tau harus bagaimana, iapun tidak bisa memberontak selain menikmati sentuhan lembut dari Leon. Sentuhan pertama dari seorang pria, karena sebelumnya Azalea tak merasakan hal seperti ini.             Ketukan di kaca mobil menyadarkan mereka berdua. Leon segera melepas pangutan mereka dan bertatapan dengan mata bening Azalea yang menatapnya dengan tatapan bingung dan polos. Bibirnya bengkak karena ulah Leon yang tak mampu menahan diri. Leon sungguh meruntuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya kehilangan control dalam dirinya.             “Ke-kenapa Bapak menghisap bibir saya? Apa bibir saya terluka?” tanya Azalea dengan polos membuat Leon mengernyitkan dahinya.             “Terluka?” tanyanya.             “Soalnya Ibu saya suka menghisap jari saya kalau tergores sesuatu dan berdarah. Barusan Bapak menghisap bibir saya, apa itu karena bibir saya berdarah?” tanyanya seraya meraba bibirnya sendiri. Seketika Leon ingin tertawa, mentertawakan dirinya dan kepolosan Azalea.             “Itu ucapan selamat malam, jadi sekarang pergilah. Kartika menunggumu,” ucap Leon membuat Azalea menoleh keluar jendela mobil.             “Oh iya, mbak Kartika sudah menunggu saya,” gumamnya. “Kalau begitu saya permisi, terima kasih untuk ucapan selamat malamnya dan juga pestanya. Maafkan karena kecerobohan saya, Pak.” Leon mengangguk kecil dan membiarkan Azalea menuruni mobilnya yang langsung di sambut Kartika yang membawa handuk besar untuk di lilitkan di pinggang Azalea.             ‘Apa di Jakarta tata cara mengucapkan selamat malamnya begitu yah, dengan cara menghisap bibir?’ batin Azalea hingga Kartika menariknya masuk ke dalam kostan.             “Sialan Leon!” makin Leon pada dirinya sendiri. ia kehilangan kontrol pada dirinya dan m*****i gadis yang benar-benar polos. Bahkan sangat polos, Leon sungguh sangat merasa bersalah karena menciumnya begitu saja. ♠♠♠             Keesokan harinya Azalea sudah menyiapkan kopi dan juga roti untuk Leon karena tadi Leon memesannya dengan alasan belum sarapan. Saat mendengar sahutan dari dalam, Azalea-pun masuk ke dalam dan menyuguhkan kopi juga roti itu di atas meja kerja Leon.             “Pak,” panggil Azalea membuat Leon yang sibuk mengetik sesuatu menoleh padanya.             “Ada apa?” tanyanya dengan tatapan sinisnya.             “Em- mengenai hisapan selamat malam itu.” Leon menaikkan sebelah alisnya saat Azala membicarakan hal itu.             “Kenapa menanyakan hal itu?” tanya Leon masih menyembunyikan ke kagetan dan salah tingkahnya melalui tatapan datarnya.             “Saya sebenarnya penasaran, Pak. Apa hisapan selamat malam itu gaya orang Jakarta saat berpisah dengan rekannya?” pertanyaan Azalea yang sangat polos membuat Leon mengernyitkan dahinya.             “Apa maksudmu?” tanyanya sedikit kesal.             “Kata Bapak kan semalam kalau itu adalah ucapan selamat malam, apa itu seperti berjabatan tangan? Di malam hari berjabatan tangan di rubah menjadi sebuah hisapan di bibir?” tanyanya yang begitu frontal. “Apa nanti saat saya dan Bapak pergi makan malam dengan rekan kerja, apa saya perlu melakukan itu pada mereka sebagai penghormatan dan ucapan selamat malam?”             “TIDAK!” jawab Leon seketika tanpa sadar membentak Azalea membuatnya terlonjak kaget dan semakin kebingungan. “Astaga Azalea, apa kamu sungguh tidak tau itu apa?” tanya Leon yang di jawab sebuah gelengan oleh Azalea. Leon menghela nafasnya perlahan,  ia tidak sadar apa yang dia lakukan semalam, itu sungguh di luar kontrol dirinya. Dan sialnya Azalea begitu polos sampai tak memahami itu, bagaimana bisa gadis ini berani merantau kesini kalau sepolos ini. Leon mendadak pening dan bingung harus menjelaskan bagaimana pada Azalea. Ini seperti dia tengah mengajarkan adegan dewasa pada Bella putri dari Rindi atau Arkan dan Cris. Leon menatap ke arah Azalea yang juga tengah menatapnya dengan tatapan polos dan beningnya. “Menurutmu apa yang aku lakukan semalam itu sebagai tanda penghormatan?” pertanyaan Leon membuat Azalea termangu.             Ia mematung di tempatnya dan terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan dari Leon. “Biasanya kalau jariku terluka dan berdarah, Ibu selalu menghisapnya untuk menghentikan pendarahannya. Tetapi Ibu tidak pernah menghisap bibirku.”             “Ya bisa di katakan seperti itu, karena kamu menggigil jadi aku memberimu kehangatan supaya bibirmu tak pucat dan berwarna ungu,” ucap Leon seketika dengan wajahnya yang tetap datar tanpa ekspresi.             “Oh begitu yah, jadi bukan sebuah penghormatan dan ucapan selamat malam?” tanya Azalea dengan mata bulat yang beningnya menatap Leon dengan polos, dan itu sungguh lucu dan membuat Leon begitu gemas. Gadis di depannya ini sungguh sangat sangat polos dan seperti anak kecil.             “Iya Azalea,” ucap Leon.             “Oh begitu, kalau begitu terima kasih banyak Pak, karena sudah mau menghangatkan saya,” ucapnya dengan polos dan senyuman lebar membuat Leon berdecak kesal.             Terima kasih???             Sudah jelas-jelas Leon memanfaatkan situasi ini, ya Tuhan gadis ini. “Iya, sekarang kau boleh keluar Azalea,” ucap Leon yang di angguki Azalea dan berlalu pergi masih dengan senyumannya.             “Ya Tuhan gadis itu,” gumam Leon, terlihat telinga Leon memerah karena malu. Baru pertama kali ia merasa malu pada seorang wanita. ♠♠♠             Siang itu Azalea tengah mengajak beberapa siswa siswi Sekola Dasar berbincang dan bermain di lapangan olahraga. Ia terlihat bahagia dan tertawa puas saat mengajak mereka bermain, memainkan beberapa permainan anak-anak.  Tak lama Adrian datang dengan motornya, dan menyapa mereka semua.             “Pak Adrian?” sapa Azalea.             “Panggil Adrian saja, mukaku belum setua itu,” kekehnya begitu humble membuat Azalea tersipu.             “Kamu mau ketemu Pak Kepala Sekola?” tanya Azalea.             “Tidak, aku datang untuk mengantarkan handphonemu yang semalam jatuh ke kolam, handphonenya tidak bisa di benerin jadi aku belikan yang baru,” ucapnya mengangkat tas kardus bergambar handphone keluaran terbaru. Azalea memekik kaget dan tak menyangka.             “Padahal tidak perlu repot-repot,” ucapnya tersenyum lebar.             “Tidak apa-apa, ayo kita mengobrol di kantin,” ajak Adrian yang di angguki Azalea. Mereka berdua berpamitan pada anak-anak di sana dan berjalan beriringan menuju kantin tak jauh dari sana. Adrian bahkan merangkul pundak Azalea tanpa risih dan Azalea diam saja, dia bahkan merasa senang. Pria tampan dan baik seperti Adrian mau berdekatan dengannya. Mereka berdua tak sadar kalau Leon memperhatikan mereka dari dalam ruangannya dengan ekspresi muram. Ia kesal karena kedatangan Adrian dan berusaha mendekati Azalea.             Sesampainya di kantin, Adrian mempersilahkan Azalea untuk duduk dan ia mengikutinya di depan Azalea.  “Ini, bukalah. Kamu pasti suka handphone barunya. Dan kamu tenang saja, semua kontak dan foto dari handphone sebelumnya sudah di pindahkan ke handphone ini.” Adrian menyodorkan kantong itu pada Azalea membuatnya tersenyum senang dan membukanya.             “Wah ini handphonenya bagus, ini pasti sangat mahal.” Azalea menatap Adrian dengan tatapan tak enaknya.             “Sudahlah, jangan sungkan,” ucap Adrian dengan senyuman menawannya dan itu mampu meluluhkan hati siapa saja.             “Makasih yah Adrian, ini sungguh bagus.” Azalea tak mampu menyembunyikan ekspresi bahagianya. Kepolosan Azalea itu mampu membuat semua orang menebak karakter dan pikirannya.             “Kamu menyukainya?” tanya Adrian.             “Sangat,” kekehnya terlihat begitu bahagia dan menatap handphone itu dengan tatapan berbinar.             “Syukurlah, itu Jennifer yang pilihkan warnanya,” ucap Adrian mengusap kepala Azalea saat melirik kedatangan Leon. Yah, Adrian memang sengaja datang untuk menggoda Kakaknya itu.             “Kenapa kau datang?” tanya Leon tanpa basa basi saat sudah berdiri di samping meja mereka membuat Azalea dan Adrian sama-sama menoleh padanya.             “Aku datang untuk mengembalikan handphone Azalea yang semalam jatuh ke kolam,” ucapnya dengan santai.             “Lihatlah Pak, Adrian sangat baik memberikan handphone baru padaku,” ucapnya dengan senyuman lebar membuat Adrian tersenyum kearahnya. Lebih tepatnya tersenyum karena berhasil membuat wajah Leon murka.             “Kalau sudah selesai kau boleh pulang, Adrian. Azalea banyak pekerjaan,” ucap Leon sedatar jalan tol.                        “Tapi Pak, bukankah tadi Bapak bilang saya boleh bersantai karena tidak ada pekerjaan sama sekali,” ucapan Azalea yang begitu polos mampu membuat Leon sedikit malu walau ia berhasil mengontrol ekspresinya.             “Wah begitukah?” tanya Adrian dengan sengaja memberi penekanan pada ucapannya seraya melirik ke arah Leon.“Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi keluar Azalea?”             “Mau,” ucap Azalea dengan antusias membuat Leon semakin muram.             “Bapak Kepala Sekola yang terhormat, saya pinjam karyawannya sebentar yah,” ucap Adrian tersenyum penuh arti membuat Leon menatapnya tajam. Azalea terlihat senang menerima ajakan Adrian tanpa berpikir apapun, bahkan ia tak sadar dengan ekspresi Leon.             “Ayo,” ucap Adrian menarik tangan Azalea di depan Leon.             “Pak, saya pergi dulu.” Azalea mengucapkannya dengan senyuman lebar seraya berlalu pergi. Leon menatap kesal ke arah Adrian yang memegang tangan Azalea. Ia benar-benar ingin memukul adiknya itu, berani sekali dia menjadikan Azalea sebagai mangsa selanjutnya. ♠♠♠
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN