Episode 10

3598 Kata
    Ini sudah ketiga harinya Azalea bekerja di sini dengan senang. Azalea bersyukur karena Kartika begitu baik padanya dan mengajarkan beberapa hal, dia juga menjelaskan tentang Kepala Sekola muda itu, apa yang dia sukai dan yang tidak. Azalea harus bisa menyesuaikan diri dan bekerja sesuai harapan Leon. Dan Azalea sangat bersemangat akan hal itu,  Ia begitu suka beraktivitas, apapun akan selalu ia kerjakan dengan penuh semangat. Saat ini Azalea tengah di minta untuk mengambilkan arsip di ruang arsip yang berada di Perpustakaan khusus di lantai itu. Karena perpustakaan bagi para murid berada di gedung lain. Ini perpustakaan yang di peruntukkan untuk para guru dan penyimpanan arsip penting karena itu perpustakaan ini jarang sekali di jamah. Azalea berjalan menyusuri lorong itu dengan menatap sekeliling. Ia menghapal setiap ruangan yang ada di lorong ini, tadi Kartika mengatakan kalau perpustakaan tak jauh dari ruangan mereka dan dekat dengan lift, di sebelah perpustakaan ada ruangan kecil yang bertuliskan di larang masuk. Ia berhenti di sebuah ruangan kecil. Di pintu itu terdapat sebuah tulisan di larang masuk, Azalea yakin ruangan besar di sampingnya ini adalah perpustakaan. Ia ingin masuk ke dalam perpustakaan, tetapi matanya begitu  penasaran pada ruangan di sampingnya ini, ruangan itu terlihat di kunci dan menyimpan barang-barang penting maka dari itu terdapat tulisan di larang masuk. Kartika juga sudah mewanti-wantinya untuk tidak masuk ke dalam ruangan itu kalau tidak mau kena amukan dari pak Leon. Dan itu membuat Azalea sangat penasaran ada apa di dalam sana, kenapa begitu misterius sekali. Tetapi ia tidak ingin pekerjaannya hancur begitu saja karena keteledorannya sendiri. Iapun memasuki ruangan yang ada di sebelah ruangan itu untuk mengambil arsip. Ia menatap sekeliling yang penuh dengan etalase dan rak buku yang tinggi, perpustakaan ini cukup kecil dan hanya buku-buku pelajaran dan buku-buku keluaran tahun lama yang tersimpan di sini. Azalea melihat pintu berwarna coklat tak jauh dari tempatnya berdiri. Pintu coklat itu memiliki jendela di bagian atas tengahnya berbentuk persegi dan memudahkan orang untuk melihat situasi di dalam sana. Ia yakin kalau itulah ruang penyimpanan arsip. Ia berjalan menuju ke ruangan itu yang begitu sepi, karena penjagaan di ruangan Guru petinggi, seperti wali kelas dan Kepala Sekola di setiap tingkatan memang tak di jaga ketat. Dan saat semuanya sibuk bekerja dan Kepala Sekola memiliki ruangannya sendiri, situasi di lantai ini akan begitu sepi berbeda di lantai sebelum ini yang merupakan ruangan semua Guru, dan juga petugas lainnya. Di bawah ruangan itu ada beberapa ruangan praktek siswa. Azalea memasuki ruangan kecil berbentuk persegi panjang itu. Di sana terdapat beberapa rak buku dan lemari kaca juga Filling Cabinet untuk penyimpanan, di sana juga terdapat beberapa nomor sebagai tanda penyimpanan arsip itu. Ia menunduk menatap kertas yang di berikan Kartika tadi. “Letaknya ada di atas,” gumamnya menyisir seluruh ruangan hingga melihat sebuah tangga, mungkin memang di peruntukan untuk mengambil arsip yang berada di bagian atas.  Azalea mendorong tangga itu dan menyesuaikannya dengan letak arsip yang akan ia ambil. “Tidak akan jatuhkan?” gumamnya sedikit ngeri kalau ia sampai jatuh ke lantai  marmer ini pastilah sakit walau tidak berdarah.             Iapun perlahan mulai memanjat dan mencari arsip yang ia cari, saat menemukannya ia menjatuhkannya begitu saja ke  lantai karena arsip itu cukup berat hingga menimbulkan suara berisik. Leon memasuki ruangan itu saat mendengar suara berisik, kebetulan ia sedang memasuki perpustakaan untuk mengambil salah satu buku. Tatapan Leon langsung tertuju pada Azalea yang menaiki tangga dan mencari sesuatu.             “Sedang apa kau di sini?” tanya Leon dengan suara datarnya membuat Azalea yang sedikit melamun terpekik kaget karena suara itu.             “Aaahhhh!” tubuh Azalea oleng dan jatuh ke bawah hingga kedua tangan kekar menahan tubuhnya.             Kepala Azalea membentur pelan d**a bidang milik seseorang itu dan tanpa sadar kedua tangannya sudah mencengkram bagian pundak pria yang tak lain adalah Leon. Ia menengadahkan kepalanya dan matanya langsung beradu dengan mata coklat tajam milik Leon.             Deg             Tatapan mereka masih terpaut satu sama lainnya, tanpa sadar kalau detak jantung mereka berdetak cepat saling bersautan. Mata bening Azalea menatap mata tajam Leon dengan tatapan takut, kaget, dan kagum. Leon yang sadar terlebih dulu segera menurunkan Azalea dari gendongannya membuat tubuh Azalea sedikit oleng. “Bereskan semuanya,” ucap Leon dengan dingin dan berlalu pergi meninggalkan Azalea sendiri.             Azalea masih mematung di tempatnya, mengumpulkan kesadarannya. Ia menatap punggung Leon dengan tatapan kekagumannya, tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas. ♠♠♠             “Kenapa tersenyum?” tanya Kartika yang melihat kedatangan Azalea dengan tiga arsip di dalam pelukannya.             “Tidak apa-apa, Mbak,” kekehnya menyimpan arsip itu di atas meja Kartika.             “Baiklah, kau boleh kembali bekerja. Terima kasih yah sudah membantuku mengambilkan arsip ini,” ucap Kartika.             “Oke Mbak, sama-sama.” Azalea langsung berlalu pergi menuju mejanya. “Azalea,”             “Yah,”             “Pak Leon sudah datang, antarkan kopi untuknya dan sekalian pesankan makan siang untuknya, biasanya dia tidak makan di luar.”             “Pesankan apa, Mbak? Aku tidak tau,” tanya Azalea dengan kebingungan.             “Kamu tanya langsung saja, sekalian antar minuman.” Azalea akhirnya mengangguk dan beranjak untuk membuatkan kopi untuk Leon. Di dalam ruangan Leon tengah menatap ke layar I-phone nya.             Group Asosiasi Pria Datan : Wajib datang bawa pasangan yeh entar pas ultah pernikahan nyokap bokap gue !! (Tidak ada alasan untuk tak hadir Brader) Percy : Gue bakalan datang, asal lu mau urusin Arkan sama Adeknya. Datan : Kakak Ipar jangan begitulah, gue kan bukan baby sister si Arkan. Percy : Belajar jadi Ayah yang baik, Datan : Nggak perlu belajar kali Kakak Ipar, kan bikinnya juga gue kagak belajar. Verrel : Udah ribut aja masih siang,, Datan : Abang, datang yah. Ajak si Ona, biar duet ngidam lagi sama gue. Hhhaaa Vino : Punya maksud terselubung, Verrel : Ngidam kalian aneh-aneh, gue gak mau sampai ngerusakin acara Om Gator entar. Adrian : Eh, Btw nih. Kakakku yang paling tampan mau datang gak, mau ajak siapa nih? Datan : Awas aja loe gak datang, Le! Leonard : Gak janji, gue ajak Jen paling. Adrian : Apaan, nggak! Si Jen udah sama gue, Kak. Leonard : Loe bawa cewek loe aja, Daffa : Adik sama Kakak masih aja rebutan Jen. Vino : Eh, inget pas si Joe datang kalian berdua kelabakan gak ada buat di jadiin pasangan sementara. Verrel : Ajak saja pegawai baru itu, Le. Kata Leonna dia lucu, bahkan Leonna ingin ketemu dia lagi. Datan : Ketinggalan gosip gue, ada apaan nih? Cewek mana? Vino : Tobat Datan,, Percy : Minta di mutilasi nih si Kunyuk! Loe macem-macem gue sembelih ujang loe! Datan : Sadisnya Kakak Ipar, kan aku hanya tanya tak ada maksud apapun,,, (emot lap ingus) Adrian : Wah serius Kak Verrel? Kalau gitu gue main ah ke Sekolah, biar ketemu dia. Cantik gak? Verrel : Cantik, masih muda. Vino : Awas, loe muji cewek lain, tar kena amukan Princes! Datan : Inces kan cewek tersadiss sepanjang masa. Gue hampir tenggelem di kandang si Conel gara-gara kenalin abang gue sama cewek lain. Padahal cewek itu cuma mau kerjasama sama Bang Verrel. Adrian : Gue inget saat itu, Kak Leonna ngamuk saat tau Datan kirim pesan ke Kak Verrel bilang kalau cewek yang namanya Novi udah nunggu di Restaurant! Verrel : Gara-gara itu gue juga kena imbasnya, Kunyuk!             Leon hanya tersenyum kecil menyimak percakapan yang gak ada ujungnya itu. Mereka semua sudah seperti pria penggosip, lebih tepatnya gosipin dan keluhin istri mereka sendiri.             “Permisi,” ucapan itu membuat Leon menoleh ke ambang pintu. Azalea masuk ke dalam dengan nampan berisi kopi dengan kepulan asap. Ia menyimpan gelas itu di atas meja Leon. “Maaf Pak Leon, apa anda mau memesan makan siang?” tanya Azalea.             “Aku akan ke cafe, kau bersiaplah. Kau ikut denganku berkunjung ke cafe.”             “Saya?”             “Iya Azalea, siapa lagi kalau bukan kamu.”             “Em, lalu saya harus menyiapkan apa yah Pak? Kata Bapak, saya harus bersiap.” Leon sedikit mengernyit mendengar pertanyaan polos dari Azalea. Ya Tuhan gadis ini...             “Kau tunggu di luar, dan bawa tasmu karena nanti kau tidak akan kembali ke sini.”             “Baik Pak,” ucapnya beranjak pergi tetapi gerakannya terhenti di ambang pintu. “Apa saya harus bawa alat tulis?” Leon menatap Azalea dengan jengah.             “Terserah!” jawab Leon begitu datar membuat Azalea menelan salivanya sendiri. Iapun beranjak keluar dari dalam ruangan. ♠♠♠             Saat ini Azalea berada di dalam mobil sport milik Leon. Ini pertama kalinya Azalea menaiki mobil mewah dan juga bersama dengan seorang pria. Ada rasa gugup bercampur bahagia di dalam hatinya.  “Kau tau ada berapa cafe yang ada di Jakarta?” tanya Leon memecah keheningan di dalam mobil.             Azalea yang di tanya mendadak seperti itu segera membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatannya. “Ada 15 Cafe Cristal  Pak, dan di Bandung ada sekitar 10 cafe. Di Lombok ada 2 restaurant Cristal yang satu bergabung dengan resort, di Bali restaurantnya yang nyatu sama resort ada 3 di beberapa pulau dekat pantai. Dan cafe pinggiran kotanya ada 2. Lalu di Yogyakarta juga ada 7 cafe dan 2 restaurant cristal.” Azalea menjawabnya dengan lancar.             “Kau sudah tau setiap cabangnya?” tanya Leon yang di angguki Azalea. “Di Medan akan di buka 1 cafe dekat mall, tetapi salah satu cafe yang ada di Jl. Buah Batu Bandung akan di tutup. Kau catat semuanya supaya tak lupa,” ucap Leon yang segera di catat Azalea. “Di Medan mungkin akan opening bulan depan, nanti kita akan pergi ke sana.”             “Kita?” Leon menoleh menatap ke arah Azalea yang terpekik kaget.             “Apa ada yang salah Azalea?” tanya Leon masih dengan nada sedingin es batu.             “Kita? Maksud Bapak, saya dan anda?”             Leon menghela nafasnya mendengar penuturan Azalea yang tak penting untuk di jawab menurutnya. “Iya Azalea, kau pikir dengan siapa lagi, bukankah kau asisten pribadiku.”             “Eh, iya Pak. Saya lupa,” jawab Azalea dengan cengirannya membuat Leon sedikit mendengus.             “Nanti saya akan kirimkan ke email kamu beberapa laporan mengenai Cafe dan restaurant.”             “Tapi Pak,” ucap Azalea membuat Leon menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. “Saya, saya tidak punya email. Saya juga tidak bisa membuatnya,” ucapnya diiringi cengiran lebarnya.             “Apa Kartika tidak membuatkannya?” tanya Leon sedikit kesal.             “Tidak, karena saya tidak mengatakannya.”             “Kau pernah di ajarkan internet dan aplikasi komputer bukan di sekola?” tanya Leon menahan kesabarannya.             “I-iya, sebenarnya.” Azalea menundukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya. “Saya sering bolos dan kabur dari Sekola hanya untuk pergi ke Jakarta bersama teman saya.” Leon mendengus kesal, bagaimana bisa dia menerima karyawan seperti ini. Ya Tuhan...             “Emm,, Pak. Apa Bapak mau membuatkan saya email?” pertanyaan bodoh itu semakin membuat Leon geram. Azalea melirik ke arah Leon dengan sedikit ketakutan, karena aura menyeramkan dari dirinya terkuak keluar. Dan akhirnya Azalea memilih diam membisu, daripada salah berbicara.             Sesampainya di Cafe, Leon membawa Azalea ke dalam ruangannya dan mengenalkannya dengan Manager yang bertugas di sana, dan juga beberapa karyawan yang ada di sana. Saat ini Azalea berada di dalam ruangan luas milik Leon, ia duduk di sofa dengan tatapan yang menyisir seluruh ruangan di sana. Ruangan yang begitu nyaman dan luas. Leon terlihat tengah menerima telpon dan berdiri di dekat jendela besar yang ada di ruangan itu. Tanpa sadar, Azalea menatap ke arah Leon yang terlihat begitu tampan menggunakan celana jeans berwarna biru gelap, dan kaos berwarna putih di padu dengan jas berwarna biru. Tampilan Leon begitu casual tidak formal seperti pengusaha atau Kepala Sekola lainnya. Azalea tersenyum kecil menatap wajah tampan Leon, tiga tahun lalu dan sekarang tak banyak perubahan di dalam diri Leon. Dia tetap tampan, cool, dan nyaris sempurna di mata Azalea apalagi sekarang dia terlihat semakin dewasa di banding 3 tahun lalu saat Azalea pertama kali bertemu dengannya di mall itu. Azalea sendiri tak menyangka bisa kembali bertemu dengan pria ini. Pria yang dulu menyelamatkannya, pria yang pertama kali menyentuh tubuhnya dan memeluknya. Dan kemarin ia kembali berada di dalam pelukan Leon yang hangat dan kuat.             “Apa kau sudah makan siang?” tanya Leon melirik ke arah Azalea saat sudah selesai berbicara di telpon. Azalea yang tersadar dari lamunannya segera menggelengkan kepalanya. “Kau pesanlah makanan, dan tolong pesankan makanan untukku juga, mereka sudah tau apa yang aku inginkan,” ucap Leon berjalan menuju kursi kebesarannya. “Menu nya ada di meja sudut di dekatmu.”             Azalea segera mengambil buku menu yang cukup tebal itu, ia membukanya dan menatap gambar di dalam buku itu. Gambar di dalam menu ini sungguh menggugah selera dan membuat iler ingin menetes. “Kalau sudah selesai, kau hubungi pihak juru masak,” ucap Leon mulai fokus dengan laptopnya yang ia bawa.             “Pak, saya mau di samain saja pesanannya sama Bapak,” ucap Azalea membuat Leon menoleh.             “Kenapa?” tanya Leon.             “Sebenarnya saya tidak paham kata-kata yang tertulis di sini,” ucapnya dengan begitu polos diiringi senyumannya.             Senyuman itu seperti sihir yang mampu membuat emosi Leon surut seketika. Leon masih menatap gadis yang duduk tak jauh darinya itu. Tatapannya sungguh tak terbaca membuat Azalea gugup di tatap seperti itu oleh Leon. Cukup lama menatap Azalea, Leonpun memutuskan tatapan mereka dan menghubungi seseorang melalui telpon kantor. Leon terlihat memesan makanan untuk mereka berdua.             “Azalea kemarilah,” ucap Leon membuat Azalea dengan sigap berdiri dan berjalan ke arah Leon. “Berdirilah di sisiku,” ucapnya membuat Azalea mengangguk kaku dan menelan salivanya sendiri. Bagaimana bisa  dia bernafas dengan normal saat berada sedekat itu dengan Leon. Azalea berjalan pelan mendekati Leon hingga kini ia berdiri  di sisi Leon yang masih duduk di sisi kursi kebesarannya. Leon memposisikan laptopnya ke arah Azalea.             “Kamu lihat, ini stuktur perkembangan Cafe dan restaurant. Kamu bisa melihat dari bulan ke bulan. Dan nanti setiap akhir bulan kamu buat laporannya, akumulasi dari setiap Cafe dan laporan seluruh cafe juga restaurant, dan berikan pada saya.” Azalea yang sedikit membungkukkan badannya untuk melihat layar laptop, mampu mencium aroma maskulin yang menyegarkan dan menenangkan dari tubuh Leon. Berada sedekat ini dengan Leon sungguh membuat jantungnya berdetak begitu cepat. Bahkan dia sesekali melirik ke wajah Leon yang begitu tampan. Apalagi jarak sedekat ini, wajahnya begitu bersih tanpa noda dan bekas jerawat, dan terlihat cerah tanpa berminyak dan kusam. Leon melirik ke  arah Azalea dan penjelasannya terhenti saat mata mereka beradu dengan jarak yang begitu dekat, hanya berjarak beberapa senti. Azalea mampu merasakan hembusan nafas mint dari Leonard yang berada begitu dekat dengannya. Tak ada yang ingin memalingkan pandangan satu sama lain. Hingga aktivitas mereka terputus karena suara ketukan pintu.             Leon segera memalingkan wajahnya dan Azalea dengan cepat berdiri tegak, pintu terbuka dan muncullah seorang wanita berseragam cafe, ia mengatakan mau mengantarkan makanan. Tak lama masuklah 3 orang pria berseragam cafe, mereka menyimpan beberapa makanan dan minuman di atas meja yang berdampingan dengan sofa. Setelahnya mereka semua berpamitan keluar.             “Sebaiknya kita makan,” ucap Leon beranjak dari duduknya dan berjalan melewati Azalea begitu saja. Azalea mengusap dadanya sendiri sambil menghembuskan nafasnya berusaha menenangkan debaran jantungnya. Ia lalu beranjak menyusul Leon menuju ke sofa.             Mereka menikmati makanan dalam diam, walau sesekali Azalea melirik ke arah Leon yang terlihat fokus pada makanannya. Bahkan saat tengah makanpun, ketampanannya tak hilang sama sekali. Dia sungguh pria yang elegant. Azalea semakin menyukai menatap Leon seperti ini, memperhatikannya dan melihat setiap inci bagian wajah Leon. Dia benar-benar keturunan dewa yang sangat tampan. ♠♠♠             Azalea sedikit berlari memasuki area sekolah menuju lift,  sepatunya bahkan terlihat terlepas karena ia terlihat buru-buru sekali. Dia bangun kesiangan dan Kartika, teman sekamarnya sudah berangkat terlebih dulu.  Azalea yang merantau ke Jakarta memilih tinggal bersama Kartika di dekat Yayasan. Mereka sama-sama tinggal di sebuah kostan putri.             “Tunggu,” teriaknya membuat seseorang di dalam lift itu menekan liftnya hingga lift kembali terbuka dan tatapan mereka beradu. “Pak Kepala Sekola?” ucapnya dengan senyuman polosnya.             Leon hanya menatapnya dengan datar dan kembali menekan tombol lift saat Azalea sudah masuk ke dalam lift dan berdiri di sampingnya. Azalea sedikit berjongkok untuk membenarkan sepatu high heels yang ia gunakan. Leon hanya meliriknya sekilas dan kembali menatap ke depan dengan tenang dan mengeluarkan hawa dingin.             “Aaarghhh!!!” teriak Azalea saat lampu lift mati tiba-tiba dan lift sedikit bergetar. “Tolong, aku takut....!!!” jerit Azalea begitu histeris membuat Leon kaget.             “Azalea tenanglah,” ucapnya.             “Tidak, tidak! Aku takut gelap, tolong.... aku tidak bisa bernafas.” Terdengar isakan keluar dari bibir Azalea dan menjerit histeris sambil menutup kedua telinganya.             “Azalea!” Leon menarik lengan Azalea hingga berdiri di hadapannya, Leon membawa Azalea ke dalam pelukannya dan membiarkan Azalea menangis di dalam pelukannya. Ia menangis dengan mencengkram kuat jas yang di gunakan Leon dan memeluk Leon dengan begitu erat, tubuhnya sudah bergetar hebat. “Tenanglah, semuanya baik-baik saja,” bisik Leon mengusap punggung Azalea yang bergetar hebat hingga berangsur tenang.             “Aku takut, hikzz..”             “Aku ada di sini, tenanglah.” Leon masih mengusap punggung Azalea hingga lampu kembali nyala. Azalea mampu bernafas lega dan mulai tenang, ia sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat tangan kekar melingkar di tubuhnya. Ia menengadahkan kepalanya dan tatapannya langsung beradu dengan Leon yang menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.             “Pak Kepala Sekola,” gumamnya.             “Kau sudah lebih baik,” ucap Leon melepaskan pelukannya membuat Azalea sedikit oleng ke belakang. Melihat itu Leon dengan sigap menahan punggung Azalea hingga Azalea kembali tertarik ke dalam pelukannya. “Kamu terlihat belum membaik.”             Pintu lift terbuka dan Leon langsung menggendong Azalea ala bridal dan membawanya keluar dari dalam lift. Ia membawa Azalea menuju ke dalam ruangannya, syukurlah terlihat masih sangat sepi karena sudah jam pelajaran di mulai, dimana para guru sudah pergi untuk mengajar. Kartika sedikit kaget melihat Azalea dalam gendongan Leon, tetapi Leon memberi isyarat tidak apa-apa dan membawa Azalea masuk ke dalam ruangannya. Ia mendudukan tubuh Azalea di atas sofa yang ada di ruangannya dan beranjak mengambil minuman dari dalam kulkas kecil yang ada di dalam ruangan itu.             “Minumlah,” ucapnya menyodorkan botol air mineral padanya. Azalea langsung mengambil dan meneguknya, Leon mengambil duduk di sofa single yang berada  di sebelah kanan Azalea. “Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Leon yang di angguki Azalea.             “Terima kasih Pak, dan maafkan atas kelancangan saya,” ucapnya merasa tidak nyaman tetapi jujur saja hatinya bahagia bisa di gendong seperti tadi oleh seorang Leon.  Bahkan tanpa Leon sadari sejak tadi Azalea menatap wajah Leon tanpa berkedip.             “Tidak apa-apa,” ucap Leon kembali dingin dan datar. “Kenapa kamu begitu ketakutan tadi?”             “Emm, itu sebenarnya.” Azalea menggigit bibir bawahnya sedikit bingung. “saya sebenarnya phobia gelap, saya sudah mengalaminya sejak kecil dan sampai sekarang belum bisa hilang,” ucap Azalea dengan menundukkan kepalanya.             “Apa itu sering terjadi?” tanya Leon.             “Itu akan terjadi kalau saya berada dalam kegelapan, segelap tadi. Saya sungguh takut, bahkan saat tidak  bisa tidur, saya tidak berani menutup mata.”             Leon terdiam memperhatikan Azalea yang terdiam membeku dengan masih terlihat ketakutan. “Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Kau aman sekarang,” ucap Leon membuat Azalea menatap ke arahnya. Leon membalas tatapan Azalea dengan tatapan yang tak terbaca. ♠♠♠             Leon memasuki rumahnya malam itu, ia beranjak memasuki kamarnya dan melepaskan jas yang ia gunakan tetapi gerakannya terhenti saat mengingat ucapan Azalea tadi. Ia melempar asal jasnya dan mengambil laptopnya yang ada di atas meja sudut, membawanya ke atas meja bundar di depan sofa single yang ada di dalam kamarnya. Ia mulai mengotak atik laptopnya dan mencari tentang Phobia Gelap. Karena sikap yang tadi di tunjukan Azalea sangat mengkhawatirkan.             Phobia Kegelapan atau dalam bahasa medisnya Achluophobia. Hal yang biasa terjadi pada penderita fobia gelap ini adalah rasa takut yang berlebihan. Rasa takut tersebut dapat memanipulasi otaknya dengan segala rasa takut dan cemas. Sehingga seluruh tubuh menjadi lemas, bahkan tiba-tiba lumpuh dan tidak dapat berbuat apa-apa. Kadang juga menumpulkan otak untuk bekerja. Analisa yang pertama karena adanya faktor biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme di otak. Bisa juga karena ada masalah tidak normalnya struktur otak. Namun yang sering menjadi pemicu adalah kejadian traumatis di masa lalu. Misalnya ada kejadian mengerikan pada masa kecil dulu yang menyebabkan ketakutannya pada kegelapan hingga terbawa sampai dewasa.  Gejala yang sering di timbulkan dari Achluophobia atau rasa takut yang berlebih pada gelap ini adalah Jantung berdetak sangat kencang, Keringat dingin bercucuran, Sesak nafas, Gemetar, Pusing, Ingin ke toilet dan Serasa ingin pingsan. Biasanya penderita phobia Achluophobia ini enggan menceritakannya pada orang lain karena malu dan takut di anggap aneh. Sehingga dianggaplah biasa. Namun sesederhana apapun, jangan anggap remeh Achluophobia tersebut karena dapat membahayakan jantung. Sebab serangan jantung dan stroke biasa terjadi pada orang yang sering merasa cemas berlebihan dan jantung yang sering berdebar-debar.             Leon terpaku membaca semua ini, cukup membahayakan juga phobia yang di alami Azalea apalagi dari sejak kecil ia mengalaminya. Leon akan menanyakan masalah ini pada Dhika nanti, semoga Dhika bisa memberinya solusi. Leon menutup kembali laptopnya dan beranjak ke kamar mandi. Ia melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam ruang kaca dan menyalakan shower hingga membilas tubuh ramping dan kekarnya itu. Bayangan Azalea, senyumannya terus mengusik pikiran Leon. Melihat matanya mengingatkan Leon pada sosok Azzuranya. Mereka memang berbeda tetapi mata mereka begitu mirip, bahkan sangat mirip. Setiap menatap matanya, Leon merasa tengah menatap Azzuranya. Apalagi jantung Azzura sering merasa nyeri dan berdetak saat di dekatnya, entah kenapa Leon tidak dapat memahaminya. Tetapi rasa sakit itu bukan sesuatu yang membuatnya ingin menjauh, tetapi sesuatu yang terus mendorongnya untuk selalu berada dekat dengannya.             “Azalea,” tanpa sadar Leon menggumamkannya dengan memejamkan matanya, membiarkan air luruh membasahi rambut dan tubuhnya. ♠♠♠  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN