5 TAHUN KEMUDIAN
5 Tahun sudah berlalu dan banyak yang berubah dalam kehidupan little Brotherhood juga Brotherhood, kecuali satu yaitu Leonard yang tetap sama seperti 5 tahun yang lalu.
“Kartika,” panggilan itu membuat Kartika segera beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam ruangan berpintu coklat itu.
“Iya Pak,” ucap Kartika sedikit terpogoh-pogoh.
“Apa ada pelamar yang akan membantu pekerjaanmu?” tanya Leon. Setelah 5 tahun berjalan, Sekolah ini semakin menanjak ke hal yang lebih baik. Bahkan Leon menambah bangunan baru karena banyak sekali siswa dan siswi yang mendaftar. Dan client yang bekerjasama dalam yayasan ini semakin bertambah membuat Leon semakin sibuk dan itu berimbas pada Kartika yang juga keteteran membantu pekerjaan Leon. Karena dia adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi Leon.
“Ada Pak, kebetulan sekali pagi tadi ada pos yang mengantarnya,” ucap Kartika.
“Minta dia datang sore ini, dan berikan surat lamarannya padaku,” perintah Leon yang di angguki Kartika.
♠♠♠
“Kembaran gue....!!” teriakan itu membuat Leon menoleh ke arah pintu ruangannya yang terbuka karena di buka oleh seseorang yang begitu ia rindukan. Ia tersenyum lebar melihat siapa yang datang. Iapun beranjak dari duduknya dan menyambut kembarannya yang tengah hamil besar itu. “Kangen,” ucapnya dengan manja membuat Leon langsung memeluknya dengan sayang. “Loe terlalu sibuk dengan dia,” ucapnya.
“Dia siapa?” tanya Leon menaikkan sebelah alisnya.
“Ya dia, ketiga usaha yang loe kelola,” cibirnya membuat Leon terkekeh.
“Loe datang sama siapa?” tanya Leon.
“Sama Kakak, dia sebentar lagi sampe tadi gue tinggalin.” Leon hanya terkekeh mendengar penuturan Leonna yang semakin manja saat kehamilannya yang sekarang. Bukan hanya pada Leon, tetapi juga pada Verrel, Adrian dan Dhika. Hanya tidak pada Vino karena Verrel selalu cemburu saat menyangkut dia.
“Apa kabar Le?” tanya Verrel yang sudah masuk ke dalam ruangan. Leon hanya tersenyum seraya menjawab baik. Verrel hanya melirik sekilas istrinya yang masih memeluk kembarannya dengan manja. Verrel tidak akan pernah cemburu pada mereka berdua yang memiliki ikatan darah. Leon membawa Leonna duduk di atas sofa mengikuti Verrel. Leonna duduk di atas pangkuan Leon tanpa risih dengan masih menyandarkan kepalanya di d**a Leon.
“Kangen tau, loe selalu sibuk sendiri,” ucap Leonna membuat pola di d**a bidang Leon.
“Kalau kangen loe bisa datang ke sini, Ona. Gue gak pernah kemana-mana,” ucap Leon.
“Kakak ngelarang aku sering keluar,” keluhnya. “Pulang kerja harus langsung pulang,” adunya dengan mengerucutkan bibirnya lucu.
“Itu demi kebaikan kamu, De. Kondisimu semakin rentan,” ucap Verrel.
“Benar kata suamimu,” ucap Leon memberi jeda pada ucapannya. “baiklah nanti aku akan sering mengunjungimu.”
“Benarkah?” tanyanya dengan mata yang berbinar membuat Leon tak tega untuk membuatnya sedih. Akhirnya Leonpun menjawabnya dengan anggukan kepala. “Asyik, kamu dengar itu kan dede bayi. Om kamu sudah berjanji,” ucap Leonna mengusap perutnya yang sudah membesar.
“Bagaimana kabarnya?” tanya Leon ikut mengusap perut Leonna.
“Keadaannya semakin baik, Uncle. Dia semakin sehat, kemarin saat periksa USG ke Mommy Chacha, keadaannya jauh membaik, iyakan Kak?” tanya Leonna menatap ke arah Verrel yang duduk tenang, Verrel menjawab dengan anggukan kepalanya.
“Iya, perkembangannya jauh lebih baik. Tetapi kamu harus tetapi banyak istirahat jangan sampai kelelahan,” ucap Verrel.
“Iya Daddy,” ucap Leonna menyamai suara anak kecil membuat Leon dan Verrel terkekeh kecil.
“Permisi Pak,” suara itu membuat mereka bertiga menoleh ke arah pintu dimana Kartika berdiri.
“Ada apa?” tanya Leon.
“Pak, pelamarnya sudah datang.” Leon mengangguk dan memintanya untuk menyuruh pelamar itu masuk.
“Kalian tunggu sebentar, ini hanya interview biasa,” ucap Leon.
“Permisi,” ucapan merdu nan lembut itu membuat mereka bertiga menoleh ke sumber suara dimana seorang wanita cantik dengan tampilan sederhana berdiri di sana.
Dia....
Mata itu...
Leon terpaku di tempatnya menatap gadis itu dan itu tak luput dari pandangan Leonna yang peka terhadap sesuatu yang terjadi pada kembarannya. Leonna segera beranjak dari atas pangkuan Leon dan berpindah ke samping Verrel. Gadis itu memperhatikan mereka bertiga dan langsung menunduk saat beradu pandang dengan tatapan tajam milik Leon.
Leon beranjak dari duduknya mendekati gadis yang masih mematung di tempatnya. “Silahkan duduk,” ucap Leon mengambil duduk di kursi kebesarannya. Dengan ragu, gadis itu berjalan mendekati kursi di sebrang Leon yang terhalang meja kebesarannya. Iapun duduk di sana.
‘Apa ini Kepala Sekolanya? Tidak salah? Ya Tuhan, kalau Kepala Sekolanya setampan ini sih aku bakalan betah jadi muridnya walau gak naik-naik kelaspun aku rela asalkan bisa terus berdekatan dengan Kepala Sekola setampan ini.’ Batinnya dengan mata penuh kekaguman.
Leon membuka map yang ada di hadapannya yang berisi data sang pelamar, “Azalea Nindya Putri,” ucap Leon yang langsung di angguki gadis itu dengan penuh semangat.
“Nama saya Azalea,” ucapnya dengan suara yang lirih, tetapi karena kepolosannya itu, mata beningnya terlihat jelas mengagumi wajah tampan Leon.
“Gadis itu lucu,” kekeh Leonna berbisik kepada Verrel.
“Dia terlihat masih sangat polos dan lugu,” ucap Verrel yang di angguki Leonna. Mereka berdua memperhatikan interaksi Leon dan Azalea.
“Jadi apa pengalaman bekerjamu?” tanya Leon to the point dan sedikit jengah melihat tatapan Azalea yang jelas-jelas mengaguminya.
“Tahun lalu saya lulus Sekolah, dan saya hanya menghabiskan waktu membantu usaha Ibu saya,” ucapnya.
“Usiamu masih sangat muda, 20 tahun?” tanya Leon yang di angguki Azalea. “Kamu juga berasal dari Yogyakarta bukan asli Jakarta?”
Azalea kembali mengangguk, “Saya memang tinggal di sana, tetapi saya memang sudah berencana untuk merantau dan mencari kerja di sini.”
“Di usia semuda ini?” tanya Leon menatap Azalea dengan tatapan tak terbacanya. Azalea langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap tanpa keraguan.
“Wow, gadis yang pemberani,” bisik Leonna.
Leon terdiam sesaat menatap Azalea dengan seksama. Dia memiliki mata yang bulat dan hitam pekat sepolos bayi, wajahnya tirus sedikit chubby dan hidungnya runcing dan mancung, bibirnya terlihat tipis tetapi ada satu keistimewaannya. Dia memiliki senyuman yang indah, bahkan sangat indah, hingga membuat siapa saja akan terhipnotis dan terkagum-kagum karena melihat senyuman itu. Apalagi dengan gigi kelincinya yang membuatnya semakin lucu dan menggemaskan. Leon menggerjapkan matanya seketika saat menatap wajah Azalea yang menampilkan senyuman indahnya. Apalagi mata Azalea, berhasil mengingatkannya pada Azzura. Ya, mata mereka berdua begitu mirip, bahkan sangat mirip sekali. Perbedaannya Azalea terlihat lebih riang dan begitu polos berbeda dengan Azzura yang serba misterius. Azalea terlihat begitu polos dan sangat menggemaskan, membuat siapapun ingin melindunginya dan memilikinya, dan itu tak bisa Leon pungkiri.
“Baiklah Azalea, kau bisa bekerja mulai besok.”
Mata bulat itu melebar lebar, “Benarkah Bapak Kepala Sekola? Saya di terima bekerja di sini?” pekikannya begitu polos dan sangat lucu. Leonna dan Verrel saja bahkan terkekeh melihatnya.
“Iya Azalea, kau bisa menanyakan detail pekerjaanmu pada Kartika,” ucap Leon dengan nada datarnya.
“Terima kasih Pak Kepala Sekola,” ucapnya begitu antusias.
“Panggil Pak Leon saja,” ucap Leon sedikit risih.
“Iya Pak Kepala eh Pak Leon,” ucapnya membuat Leonna dan Verrel terkikik.
“Kau boleh keluar,” ucap Leon membuat Azalea bangun dari duduknya dan mengucapkan terima kasih kembali dengan mengambil tangan Leon dan menciumnya.
“Kenapa kau mencium tanganku?” tanya Leon tersentak dengan apa yang di lakukan oleh Azalea.
“Eh? Kata Ibu saya, saya harus selalu mencium tangan pada orang yang lebih tua dari saya.” Azalea mengucapkannya dengan sedikit takut karena mata Leon terlihat menggelap tajam.
“Sudah tak apa-apa Azalea, kau boleh keluar,” ucap Leonna menyelamatkan nasib Azalea sebelum di sembur oleh Leon.
“Baiklah, terima kasih Kakak Kakak,” ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan tawa Leonna.
“Lucu ih gadis itu,” kekeh Leonna.
Leon hanya diam membisu, ia malah lebih fokus pada dadanya yang terasa nyeri dan berdetak cepat sejak tadi. Entah ada apa, tetapi rasanya sedikit tidak nyaman saat berdekatan dengan Azalea.
♠♠♠
Azalea mempelajari banyak hal yang di arahkan oleh Kartika padanya, bagaimanapun kini Azalea bekerja menjadi asisten pribadi Leon yang bukan hanya mengurusi beberapa hal di Sekolah Yayasan itu tetapi juga di Bengkelnya karena Leon tidak membutuhkan banyak asisten, cukup satu orang yang bisa di percaya dan multitalent. Azalea memahami segalanya dengan cepat hingga Kartika tidak perlu menjelaskannya lebih lama. Azalea hanya harus selalu mengurusi kebutuhan Leon, seperti sarapan dan makanannya. Dan Azalea harus selalu mendampingi Leon saat ia ada tugas diluar kantor dan Azalea harus selalu menuruti apa yang di perintahkan oleh Leon. Selebihnya hanya mengatur schedul Leon. Azalea sangat aktif dan cepat tanggap walau kepolosannya sedikit menyusahkan Kartika, karena semua hal di tanyakan oleh gadis itu. Naluri keingintahuannya membuat Kartika sedikit kewalahan.
Leon keluar dari dalam ruangan itu dan melirik ke meja Kartika, dimana Azalea terlihat menuliskan sesuatu di dalam buku.
“Dimana Kartika?” suara tajam dan berat itu berhasil membuat Azalea mengangkat kepalanya. Mata bulatnya melebar saat menyadari Leon berdiri di depannya. Ia segera beranjak dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat ke Leon. “Kau tidak perlu melakukan itu,” ucap Leon sedikit jengah.
“Ini yang sudah di arahkan mbak Kartika, Pak Kepala Sekola.” Azalea segera menjawabnya.
“Dimana Kartika?” tanya Leon tanpa memperdulikan ucapan Azalea.
“Mbak Kartika sedang ke toilet,” ucap Azalea.
“Apa kau akan membungkuk terus seperti itu?” tanya Leon yang masih memperhatikan Azalea yang masih membungkukkan tubuhnya.
“Apa saya sudah bisa berdiri tegak?” tanya Azalea dengan mata polosnya menatap Leon.
“Berdirilah dengan tegak,” ucap Leon dan akhirnya Azalea segera menegakkan tubuhnya diiringi senyumannya yang begitu memukau. Leon memalingkan wajahnya untuk tak melihat senyuman itu, senyuman itu memberikan efek yang tidak baik pada dirinya. “Kalau Kartika sudah datang, suruh dia ke ruanganku.”
“Baik, Pak Kepala Sekola.”
Leon hanya meliriknya datar dan berlalu memasuki ruangannya. Azalea bernafas lega seraya mengusap dadanya. “Ya Tuhan, aku seperti sedang melakukan ujian tes lisan fisika. Dadaku dag dig dug tak jelas,” keluhnya masih mengusap dadanya sendiri.
“Kau kenapa?” pertanyaan itu membuat Azalea menoleh dan tersenyum polos saat melihat Kartika sudah berada tak jauh darinya.
“Mbak, kata Pak Kepala Sekola. Anda di tunggu di dalam ruangannya,” ucap Azalea.
“Oh Pak Leonard, jangan panggil Pak Kepala Sekola, dia tidak menyukainya,” ucap Kartika.
“Nah iya Bapak itu, aku agak belibet nyebutin namanya. Namanya pake bahasa Inggris sih, jadi agak susah nyebutinnya.” Kartika terkekeh mendengar ucapan Azalea yang begitu polos.
“Baiklah kau selesaikan tugas dariku tadi, aku akan menemui Pak Leon dulu.” Azalea menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
“Hati-hati Mbak,” ucapnya mengangkat sebelah tangannya yang di kepalkan seakan memberi semangat dan itu kembali membuat Kartika terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Lalu Kartika memasuki ruangan milik Leon. Leon menyuruhnya untuk duduk, sedangkan ia masih sibuk dengan laptopnya. Kartikapun mengikuti perintahnya dan duduk di kursi yang berada di sebrang Leon.
“Bagaimana dia?” tanya Leon tanpa basa basi dan tanpa menoleh ke arah Kartika.
Kartika tau siapa yang Leon maksud dengan dia. “Dia belajar dengan cepat dan penuh semangat, ia mampu menyerap semua yang saya jelaskan.”
“Kamu tetap jadi Sekretarisku, karena pekerjaan itu sedikit rumit dan sulit, aku tidak ingin karena di pindah alihkan semua pekerjaan akan jadi berantakan.”
“Baik Pak, saya hanya menjelaskan beberapa hal tentang Sekolah Yayasan ini, dan pekerjaan dia sebagai asisten pribadi anda.”
“Apa dia tau mengenai usahaku yang lain?”
“Sudah saya beritahukannya, dan untuk point-point pekerjaannya akan saya jelaskan nanti. Ini baru hari pertamanya, dan saya tidak ingin membuatnya semakin bingung.” Leon mengangguk paham.
“Untuk dua hari ke depan, kau dampingi dia dulu. Setelahnya maka aku yang akan menjelaskan beberapa hal tentang pekerjaan lainnya di luar Sekolah Yayasan.” Kartika mengangguk paham. “Saya tidak ingin kau membuang-buang waktu, Kartika. Setelah menjelaskan semua padanya, maka kau harus langsung fokus pada tugas utamamu dan apa yang aku jelaskan beberapa hari lalu. Aku ingin kau menyelaskannya dalam minggu ini.”
“Baik Pak, saya paham.” Kartika mengangguk paham.
“Baiklah, kau boleh keluar.”
Kartika segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. “Kartika,” panggilan Leon membuat Kartikan menghentikan gerakannya yang hendak memegang knop pintu. Ia berbalik ke arah Leon dan menunggu perintah lain dari Leon.
“Suruh gadis itu membuatkanku kopi hitam,” ucap Leon yang di angguki Kartika.
Sepeninggalan Kartika, Leon kembali sibuk dengan pekerjaan di depan layar laptopnya. Tak butuh waktu lama, ketukan pintu terdengar dan Leon memintanya masuk. Sosok gadis itu muncul, gadis itu terlihat memakai dres seatas lutut berwarna putih dengan sepatu high heelsnya dan blezer berwarna coklat terang. Ia berdiri dengan memegang sebuah nampan coklat dengan sebuah gelas putih di atasnya.
“Em, kopinya Pak,” ucapnya sedikit gugup mendapat tatapan tajam dari Leon.
“Simpan di meja,” ucap Leon memalingkan wajahnya kembali. Azalea berjalan mendekati meja dan menyimpan gelas yang masih mengepulkan asap itu di atas meja kerja Leon. Aromanya sedikit berbeda dari biasanya, membuat Leon menoleh padanya.
“Apa yang kau campurkan di kopi itu?” tanya Leon membuat Azalea sedikit tersentak kaget.
“Itu-“ Azalea memeluk nampan di dadanya dengan sedikit gugup. Leon masih menatapnya tajam seakan menunggu ucapan Azalea. “Saya mencampurkan beberapa obat herbal yang di racik Ibu saya. Dia bilang obat herbal itu sangat cocok di campurkan dengan kopi hitam, supaya tak membahayakan tubuh yang mengkonsumsinya. Rasanya tak berbeda, tetapi aromanya begitu tajam hingga mampu menyegarkan penciuman.”
“Aku tidak meminta kau mencampurkan obat herbal itu,” ucap Leon semakin tajam membuat Azalea menelan salivanya sendiri.
“Tetapi Pak, kopi hitam tidak baik untuk tubuh. Apalagi kalau usus kita rusak, itu sangat berbahaya.” Azalea tanpa sadar mengucapkannya dengan nada khawatir.
“Aku tidak membutuhkan perawatan darimu,” ucap Leon begitu tajam membuat Azalea menggigit bibir bawahnya. “Kau di sini sebagai asistenku, bukan sebagai dokter pribadiku,” lanjutnya.
“Tapi Pak, saya-“
“Sudahlah, kau boleh keluar sekarang!”
“Em, baiklah.” Azalea kembali mengambil kopi itu untuk di bawanya pergi.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Leon membuat Azalea semakin gugup.
“Saya mau mengganti kopi ini,” ucapnya.
“Saya tidak menyuruhmu untuk mengganti kopinya! Sekarang simpan kembali kopi itu dan pergilah keluar!”
“Emm,, ba-baik Pak.” Azalea kembali menyimpannya dan bergegas keluar dari dalam ruangan dengan langkah cepat. Ia segera menutup pintunya dan mengusap dadanya berkali-kali.
“Ada apa, Az?” tanya Kartika menaikkan sebelah alisnya menatap Azalea.
“Tidak ada apa-apa, Mbak,” kekehnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Di dalam ruangan Leon menghela nafasnya, moodnya sedang buruk. Ada masalah di cafe yang berada di Bandung dan itu sungguh menyita pikirannya. Ia menghembuskan nafasnya panjang lalu mengambil gelas kopi itu. Ia menyesapnya dan tertegun.
Rasanya....
Rasa kopi itu sungguh nikmat, bahkan aromanya mampu menggelitik indera penciumannya. Benar yang di katakan Azalea, kopi ini mampu membuatnya lebih relax dan mungkin tidak membahayakan tubuhnya. Leon kembali menyesapnya sebelum akhirnya menyimpan kopi itu kembali dan mulai fokus pada pekerjaannya.
♠♠♠