Episode 8

6172 Kata
     Sang fajar mulai menyingsing dari peraduannya saat Jack memasuki rumah besar kediaman Adinata. Ia menuruni mobil dinasnya dengan hanya menggunakan pakaian serba hitam dan jaket kulit hitam. Ia menatap ke langit yang masih gelap dan memunculkan sinar kuning dimana sang surya mulai naik dengan malu-malu. Jack kembali melangkahkan kakinya memasuki kediaman Adinata. Tak butuh waktu lama, seorang pembantu rumah tangga sudah membukakan pintu dan mengatakan bahkan sang tuan rumah sudah menunggunya. Jack berjalan masuk menuju ruang keluarga, ia tak canggung lagi karena memang sudah terbiasa memasuki rumah besar ini.             Sesampainya disana, ia di sambut kelima pria yang terlihat terdiam kaku, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Datan sudah tak terlihat lagi karena sudah beristirahat di kamar tamu kediaman Adinata. Jack lalu duduk di antara mereka membuat semuanya terfokus pada Jack. “Bagaimana?” tanya Dhika seakan tak sabar mendengarkan informasi yang akan di sampaikan oleh Jack.             “Semuanya sudah di urus, mayat Bejo juga sudah langsung di evakuasi.” Jack menatap Dhika. “Ada sanksi yang melihat kejadian yang di lakukan Leon tadi.”             Dhika terkejut mendengarnya tetapi ia tak menunjukkannya, ia masih menampilkan wajah tenangnya. “Apa Leon akan masuk penjara karena tindak pembunuhan?” tanya Dhika.             “Gue belum tau, saksi itu adalah seorang petani yang tengah menjaga kebunnya di sekitar sana. Ia mendengar suara derum motor dan melihat jelas apa yang Leon lakukan tetapi ia tidak bisa melihat wajah Leon.”             “Ini cukup rumit, kita tidak menyangka akan ada saksi,” gumam Daniel.             “Gue bisa mengambil kesempatan dari keterangan saksi ini, karena dia tidak melihat wajah Leon dengan jelas. Gue akan membuat laporan kalau pelaku tak di temukan. Mungkin kasus ini dalam satu bulan akan di tutup kalau masih tak ada perkembangan.”             “Kalau begitu berarti tidak ada masalah lagi dong, Jack.” Okta mulai berargument.             “Memang, tetapi ada satu yang memberatkan gue.” Jack menatap Dhika yang masih terdiam seakan menunggu penjelasannya. “Anak buah Bejo dan juga wanita penghibur yang ada di gudang itu, mereka bisa di gunakan sebagai saksi.”             “Mereka bisa saja membuka mulut,” gumam Dhika mengusap wajahnya dengan gusar.             “Mungkin kita harus menyembunyikan Leon, sampai kasus ini di tutup.” Daniel berucap.             “Apa itu tidak akan beresiko? Keadaan Leon sekarang, dia kelihatannya akan sulit di atur,” gumam Angga seraya melirik ke arah Dhika.             “Lalu bagaimana dengan sidik jari?” tanya Seno.             “Edwin sudah menghapus semua jejaknya bersama anak buahnya, ia juga membakar motor yang Leon tumpangi dan di jatuhkan ke jurang.” Jelas Jack.             “Mungkin sekarang kita awasi dulu anak buah Bejo, mereka masih belum sadarkan diri.”             “Di dalam politik kan sudah biasa curang, bagaimana kalau kita sumpel mereka semua dengan uang.” Okta mengutarakan idenya.             “Loe bener Gator, tetapi kalau ternyata bosnya Bejo pintar dan memang punya maksud tertentu. Uang tak akan membantu,” ucap Daniel.             “Daniel benar Gator. Kejadiannya itu baru beberapa jam yang lalu, tetapi Komandan gue sudah memberikan tugas untuk menangkap pelaku pembunuhan Bejo, itu berarti atasan Bejo itu sangat berpengaruh.” Jack menghela nafasnya. “Jarang sekali kejadian yang baru beberapa jam berlangsung langsung di terima dan di tangani.”             “Kalau begitu memang benar, yang melaporkannya itu sangat berpengaruh, otomatis kita tak bisa berdamai.” Daniel mangut-mangut seolah paham.             “Kalau begitu, buat semua tuduhan Leon berujung ke gue.” Ucapan Dhika membuat semuanya melongo kaget. “gue sudah pernah merasakan tinggal di dalam sel penjara, jadi buat semua tuduhan itu ke gue. Jangan libatkan Leon lagi,” ucap Dhika dengan tegas.             “Gak salah Dhik? Tapi kan-,” ucap Angga tertahan.             “Keputusan gue sudah bulat. Usahakan jangan libatkan nama Leon di sini, kalau memang harus ada yang bertanggung jawab, berarti itu gue.” Dhika mengucapkannya dengan mantap.             “Kita gak akan biarkan itu terjadi, Dhik.” Daniel menjawab dengan tenang.             “Gue akan usahakan agar kasus ini segera di tutup.” Ucap Jack.             “Jangan gegabah Dhik, tinggal di sana itu menakutkan. Belum lagi hukumannya, bisa saja di hukum seumur hidup karena pembunuhan Bejo itu di sengaja,” ucap Okta.             “Pokoknya loe tenang dulu, gue dan Jack akan berusaha mencari jalan keluarnya.” Daniel mengucapkannya dengan mantap.             “Kita juga akan siap membantu kapanpun,” ucap Seno yang di angguki Angga dan Okta.             “Bagaimana Leon?” tanya Jack.             “Dia mengurung diri di kamar, saat kita kembali dari tempat kejadian itu dia sama sekali tidak membuka suara,” ucap Dhika.             “Memang pastilah sangat sakit kehilangan wanita yang kita cintai. Mungkin gue juga bakalan balas dendam seperti Leon kalau itu terjadi pada gue,” ucap Angga.             “Loe bener, amit-amit deh gue harus kehilangan si Nela. Kagak bakalan bisa hidup gue tanpa si Nela.” Okta bergidik membayangkannya. ♠♠♠ Saat ini Leon tengah duduk di sisi makam Azzura, ia membawa sebucket bunga untuk Azzura. “Hai,” sapanya dengan air matanya yang luruh.             Hening...             Rasa sakit yang sangat amat teramat menyeruak dari dalam hati Leon. Setiap detakan yang muncul dari jantungnya seperti sebuah pisau tajam yang siap menyayat hatinya tanpa ampun. Jantung itu seperti senjata hidup yang tertanam di tubuhnya. Sehingga setiap detakannya mampu membuat rasa sakit yang sangat amat terasa tersayat-sayat. Leon terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia menghembuskan nafasnya kasar. Rasa sesak di dadanya sungguh membuatnya tak mampu menahannya. Ia lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang kosong. Ia bahkan kesulitan untuk mengeluarkan suaranya, rasanya pita suaranya telah putus dan tak mampu mengeluarkan suara lagi. Ia memejamkan matanya berusaha mengendalikan rasa sakit yang teramat di dalam hatinya hingga tanpa sadar ia memegang dan meremas dadanya sendiri. Air mata kembali luruh dari sudut matanya mengalir membasahi pipinya seakan hanya itu yang bisa ia lakukan. Tangan Tuhan sudah menuliskan takdir yang sangat menyakitkan untuknya. Entah apa kesalahannya hingga tuhan seakan puas membuatnya hancur dan terpuruk. Setelah mengambil wanita yang berarti di dalam hatinya. Tuhan malah sengaja menanamkan jantung wanitanya di dalam dadanya sendiri, yang seperti sebuah sebilah tajam yang akan menyayat dan menghancurkan secara perlahan bagian dalam tubuhnya. Sakit yang sangat amat teramat mampu ia rasakan. Rasa sakit yang tak ada penawarnya ataupun obat untuk meredakannya, kecuali ia memiliki kekuatan untuk memutar waktu dan lebih baik tak mengenal wanita ini. Tatapan nanarnya menatap ke arah batu nisan yang menuliskan nama lengkap wanita itu. Azzura Zahrah Bahirah, Usianya baru saja menginjak usia 19 tahun yang itu berarti hanya terpaut satu tahun dengan Leon, tetapi kepribadian dan kedewasaan Azzura sungguh di atas Leon. Leon bahkan begitu kagum pada sosok wanita tangguh ini. Wanita yang menghabiskan masa remajanya, masa yang begitu menyenangkan bagi para remaja seusianya untuk menikmati hidup dan menghabiskan waktu untuk kesenangannya sendiri. Tetapi Azzura memilih menghabiskan masa remajanya untuk mengurus semua anak-anak panti asuhan, ia berjuang sendiri untuk mengurusi mereka semua tanpa mengenal lelah.  Wanita cantik begitu banyak, bahkan hampir semua wanita yang mengejar Leon adalah wanita yang memiliki kualitas fisik di atas rata-rata. Tetapi gadis sederhana, yang memiliki kedewasaan dan ketangguhan yang kuat mampu menarik hati dan perhatian Leon. Gadis yang bahkan tak pernah terbayangkan oleh Leon sebelumnya. Tetapi sekarang, di saat ia sudah menentukan pilihan dan akan selalu bersama wanita tangguh ini, tuhan merenggutnya. Tuhan mengambilnya dengan kejam tanpa membiarkan dirinya merasakan kebahagiaan dan perasaan yang terjawab. Permainan konyol apa ini yang sedang tuhan jalankan? Takdirnya begitu kejam, hingga mereka semua layaknya wayang yang di gerakan dan di arahkan seperti keinginan dalangnya. Dan mereka tak mampu berontak, bahkan melawan kehendak sang dalang. Sungguh ironi... Leon tersenyum getir dengan menipiskan bibirnya, ia mentertawakan takdirnya sendiri. Takdir yang mempermainkannya, padahal selama ini ia selalu berusaha. Berusaha menjaga sikap untuk tidak b******k, menjaga perasaan oranglain terutama wanita. Tetapi kenapa balasannya sungguh menyakitkan? Bukankah Leon layak mendapatkan penghargaan? Leon mengusap nisan itu, tanpa bisa berkata-kata. Ia merasa tak mampu mengeluarkan semua yang ada di dalam hatinya, banyak sekali pertanyaan dan luapan emosi yang ingin ia keluarkan dalam dirinya. “Beristirahatlah dengan tenang, Bejo sudah mati. Aku sudah membalaskan dendammu,” gumamnya setelah itu beranjak dari duduknya. Ia masih berdiri di tempatnya menatap nisan dan gundukan tanah merah itu dengan getir. Sekali lagi ia merasakan gejolak emosi di dalam tubuhnya hingga berakibat rasa sakit di sekujur tubuhnya. Perlahan tapi pasti, Leon berjalan mundur dan melangkah pergi meninggalkan pemakaman umum itu. ♠♠♠             Leon datang ke rumah Azzura, di sana terlihat semua anak-anak duduk menangis di beranda rumah. Mereka saling memeluk satu sama lain, karena kepergian sang Kakak. Anak-anak yang usianya masih di bawah umur dan masih butuh penjagaan harus terlantar karena seorang wanita yang sudah merangkap menjadi Ibu dan Kakak bagi mereka telah pergi. Leon sadar rasanya pastilah sangat sakit. Leon seakan memiliki tanggung jawab dan peran penting bagi mereka untuk menggantikan posisi sang Kakak.             “Assalamu’alaikum,” ucap Leon membuat mereka semua menoleh dengan wajah kusut dan nanar.             “Wa’alaikumsalam,” jawab mereka semua dan sebagian dari mereka berlari menerjang Leon sambil menangis histeris. Leon memeluk mereka semua yang memeluk pinggangnya. Hingga tatapan Leon beradu dengan Irsyam. Anak tertua di antara yang lainnya.             “Sudah, biarkan Kak Leon duduk.” Tegur Irsyam dan itu berhasil membuat mereka semua menghentikan pelukannya.             Leon memangku Nita, gadis yang paling kecil di antara yang lain. Usianya baru 6 tahun, ia menggendong Nita yang menangis histeris di pelukan Leon. “Bagaimana kabar kalian? Apa kalian sudah makan?” tanya Leon.             “Sudah Kak,” jawab Irsyam.             “Makan apa? Selama seminggu ini?” tanya Leon heran.             “Kak Adrian selalu datang kemari setiap hari mengantarkan kami beberapa makanan untuk sarapan, makan siang dan malam.” Irsyam menjawabnya dengan lancar. Anak itu terlihat berusaha tegar walau kelihatan matanya memerah. Bagaimanapun usianya masih 14 tahun, ia masih duduk di kelas 2 SMP. Dan dia harus bertanggung jawab menjaga semua adik-adiknya ini.             Leon duduk di teras rumah panggung itu dengan masih memangku Nita. “Maaf Kakak baru bisa datang,” ucap Leon mengusap salah satu kepala anak-anak itu.             Leon melupakan anak-anak ini karena terlalu fokus mengejar Bejo Cs, ia hanya ingin melakukan pembalasan dendam untuk wanitanya. Walau ada rasa sedikit tak puas, karena hanya Bejo yang meninggal, sedangkan semua anggota kelompoknya selamat dan hanya luka-luka saja. Tetapi ia cukup merasa puas, karena sudah membunuh Bejo dengan cara yang sangat menyakitkan dan begitu mengenaskan. Itu pasti akan membekas untuk Bejo. Siluet tajam terlihat di mata coklatnya yang menggelap saat mengingat perlakuan Bejo pada Azzura. Leon memang sosok yang tenang dan baik, tetapi ia menyembunyikan semuanya melalui sikapnya yang dingin. Dan tak ada yang tau, kalau dalam dirinya, terselip kegelapan yang bisa membuatnya kehilangan kesadaran. Ia mungkin masih bisa mengendalikan dirinya, tetapi tidak saat orang yang di sayangi dan di cintainya terluka. Maka kegelapan yang sangat menyeramkan itu akan segera menguasai dirinya tanpa mampu di tahan lagi. Bahkan lebih menyeramkan dari Papanya. Di diri Leon seakan bersembunyi sosok monster yang begitu menyeramkan, dan saat dirinya merasa terpojok dan di kuasai amarahnya. Maka sosok itu akan keluar tanpa di tahan lagi, mendominasi segalanya dan mengeluarkan sesuatu yang sangat menyeramkan hingga membuat lawan telak seketika. Seperti yang terjadi pada Bejo saat itu. Mata coklat tajamnya, walau terlihat datar dan dingin tetapi mampu mendominasi dan mengintimidasi siapa saja yang akan merasakan rasa takut dan merinding seketika.              “Kami tau, Kak Leon juga mengalami kecelakaan. Kak Adrian bilang, Kakak dan Kak Azzura mengalami kecelakaan lalu lintas.” Leon tersenyum kecil mendengar penuturan Irsyam. Sepertinya Adrian langsung berinisiatif untuk memberi kabar ke mereka supaya tak khawatir.             “Baiklah, sekarang tunjukkan senyuman kalian. Kak Azzura pasti sedih di atas sana melihat kalian seperti ini.”             “Kami tidak punya siapa-siapa lagi sekarang, Kak Azzura sudah tidak ada lagi. Dia sudah meninggalkan kita,” tangis Lulu, gadis berusia 10 tahun itu menangis kencang.             “Kami sayang kak Azzura, dan kami ingin bersamanya.” Seru yang lain dan ikut menangis.             “Ssstt, kalian jangan sedih. Bukankah kalian masih memiliki Kakak laki-laki kalian. Aku ada di sini untuk kalian, aku tidak akan meninggalkan kalian semua.”             “Tapi kan Kak, kami-“ ucapan Irsyam tertahan. Ia merasa tidak enak mengatakannya pada Leon.             Irsyam menyesali kelancangan mulutnya itu, tetapi ia sungguh tak bisa menahannya lagi. Ia ingin memastikan, kalau memang ia harus menggantikan posisi Azzura membiayai seluruh adiknya ini, maka ia akan bergegas mencari pekerjaan dan meninggalkan sekolanya. “Aku paham Irsyam, aku akan menanggung biaya kalian semua. Dan kalian gadis-gadis kecil, kalian akan sekola. Apa kalian senang?” tanya Leon membuat mereka semua bersorak bahagia.             “Jadi jangan menangis dan sedih lagi, banyak-banyaklah kirim doa untuk kak Azzura. Supaya dia bahagia di sana,” ucap Leon berusaha setegar mungkin membuat anak-anak itu mengangguk antusias.             “Sekarang bantu Kakak kemasi barang-barang kalian, kita akan pindah ke rumah kakak.” Mereka semua segera beranjak memasuki rumah untuk mengambil dan membereskan barang-barang mereka. Tak ada yang tau rasa sakit yang bersemayam di d**a Leon.             Leon masuk ke dalam, tatapannya menyisir seluruh ruangan ini. Ruangan yang selalu menjadi tempatnya berkomunikasi dan bercengkraman dengan Azzura. Walau terasa singkat, tetapi perlahan mereka bisa begitu akrab satu sama lain. Hingga perasaan itu semakin lama semakin memuncak. Tatapan Leon mengarah ke arah dapur kecil itu. Di sana mereka berdua selalu membuat kue bersama-sama. Leon senang memperhatikan dan mengganggu Azzura yang sedang meracik kue dagangannya, tetapi kadang Leon juga ikut membantunya. Tawa Azzura dan panggilannya saat memanggil namanya terasa mengalun indah di telinganya. Mereka selalu saling menjahili, bahkan saat tengah membuat kue. Karena Leon selalu menggodanya dengan menempelkan terigu di wajah dan kepala Azzura hingga akhirnya mereka berdua berperang terigu. Leon menipiskan bibirnya dan tersenyum getir, dadanya terasa menyakitkan mengingat hal itu. Hal yang sangat menyenangkan, tetapi sekarang begitu menyakitkan rasanya. Kini tatapannya mengarah ke arah papan besar tak jauh darinya. Papan yang terdapat beberapa lukisan dan gambar tak beraturan yang di gambar di sana. Tatapannya kini mengarah ke arah bentuk tangan berwarna biru. Di bagian paling atas papan, terdapat dua buah tangan berukuran mungil dan dua buah tangan berukuran besar. Kakinya bergerak perlahan dan melangkah dengan tenang dan teratur mendekati papan itu. Ia berdiri tepat di depan bentuk tangan berukuran mungil. Ingatannya menerawang ke kejadian ini, dimana dirinya dan Azzura menempelkan telapak tangan mereka yang penuh cat warna ke papan ini. Tangan Leon yang sedikit bergetar terangkat menyentuh tangan mungil itu. Ia menyatukan tangannya dengan bentuk tangan mungil itu seakan ingin menyentuh tangan Azzuranya. Seketika dadanya yang berdetak kencang menimbulkan rasa nyeri yang amat teramat, membuatnya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri dan meremasnya. Ia merasa ribuan pisau menyayat tubuh bagian dalamnya hingga rasa sakitnya sangat luar biasa. Leon memejamkan matanya, wajahnya terlihat pucat karena rasa sakit itu. “Kak,” panggilan itu menyadarkannya membuat Leon membuka matanya dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang kosong. Lalu ia menoleh, dan melihat Nita berdiri di sampingnya dengan mata polosnya yang bulat. Leon tersenyum kecil, lalu duduk rengkuh mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu. “Jangan menangis.” Leon tersentak saat Nita mengusap pipinya yang basah. Bahkan Leon tak sadar kalau ia menangis. “Apa sudah selesai?” tanya Leon berusaha memperbaiki raut wajahnya dan menampilkan senyuman terbaiknya walau kelihatannya akan sangat mengerikan. “Aku tidak bisa mengambil tasku yang ada di atas lemari kak Azzura.” ucapnya begitu polos. Leon tersenyum kecil dan beranjak untuk mengambilkan tasnya Nita yang ada di dalam lemari Azzura. Ia berhenti tepat di depan lemari yang terdapat tulisan Azzura, ia menyentuhnya dan mengusap nama itu. Perlahan ia membuka lemari itu yang memang sudah rusak. Di dalamnya tak banyak barang, hanya beberapa potong pakaian. Ia mengambil tas sekola berwarna pink bergambar Frozen. Ia mengambilnya dan membuat sesuatu jatuh ke bawah. “Ini kamu masukkan barang-barang kamu,” ucap Leon menyerahkan tas itu ke Nita yang langsung di angguki oleh anak itu dan berlalu pergi.             Tatapannya mengarah ke arah map hitam yang tergeletak di bawah kakinya, beberapa kertas putih yang ada di dalam map itu berhamburan keluar dari tempatnya yang seakan sudah tak muat lagi. Ia duduk rengkuh dan mulai memungut kertas-kertas itu. Ternyata semuanya adalah gambar, desain yang di buat oleh Azzura.             Leon melihat satu persatu gambar itu, dan terlihat di sana Azzura benar-benar berusaha menggambarnya. Dari hanya menggambar wajah orang sampai bangunan-bangunan. Hingga ia melihat satu kertas yang sudah di kasih warna dengan indah. Leon menatapnya dengan seksama. Sekola Yayasan             Leon tersenyum kecil melihat desain itu. Desain yang menyerupai sebuah sekola dan rumah di sampingnya. Di sana juga ada tulisan, tempat belajar mengajar. Dan rumahnya tertulis rumah kami. Leon tidak menyangka Azzura ingin membangun sebuah yayasan seperti ini. ‘Apa ini impian Azzura?’ pikirnya.             Ia kembali memungut kertas terakhir yang tergeletak di atas lantai hingga gerakannya terhenti saat melihat gambar di sana. Di sana terdapat gambar wajah pria yang di gambar menggunakan pensil 2B. Yang membuat Leon membelalak matanya adalah tulisan di bawah gambar itu. Leonard Pandu Adinata My Prince Perfectionist             Leon tersenyum getir dengan mata yang berkaca-kaca melihat gambar itu, ia bisa melihat kapan Azzura membuatnya karena setiap kertas ada tanggalnya. Dan itu di buat sebelum Leon mengungkapkan perasaannya. ‘ternyata kamu juga menyimpan perasaan yang sama sepertiku.’             Leon menatap nanar gambar itu, gambar yang memang begitu mirip dengan dirinya. Gambar yang mencerminkan dirinya. Dan tulisan ‘My Prince,’ mampu menyayat hatinya sendiri yang semakin terluka.             Jadi selama ini ia menganggap Leon sebagai pangerannya. Tetapi Leon tidak peka hingga tidak langsung mengungkapkan perasaannya sendiri.             “Kak Leon,” panggilan itu menyadarkan Leon dari keterpakuannya. Ia segera mengusap matanya yang basah dan berbalik dengan senyumannya.             “Sudah siap?” tanyanya dan mereka semua mengangguk.             “Oke, kita berangkat sekarang.”             Leon menggiring mereka semua keluar rumah, dengan membawa kertas yang ada di tangannya. Mereka harus berjalan cukup jauh untuk mencapai mobil Leon yang di parkir. ♠♠♠             Leon baru saja sampai di rumahnya, ia segera membimbing ke 10 anak itu menuju ke dalam rumah. Thalita dan Dhika terlihat sudah menyambut mereka. Thalita langsung membimbing mereka semua menuju ke meja makan untuk makan dan menyimpan barang-barang mereka. Semua anak-anak itu terkagum-kagum melihat rumah Leon yang bak istana itu. Sungguh jauh berbeda dengan tempat yang selama ini mereka huni.             “Pa, bisa kita bicara,” ucap Leon saat mereka berdiri menatap anak-anak yang tengah sibuk menikmati makanan yang Lita berikan.             “Sepertinya penting, kita bicara di ruang kerja Papa.” Leon menganggukan kepalanya mengikuti Dhika menuju ke ruangannya.             Dan saat ini Leon duduk di hadapan Dhika dengan masih saling diam membisu seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing. “Apa kamu berencana untuk memberikan rumah untuk mereka semua?” pertanyaa Dhika begitu saja meluncur seakan tak sabar menunggu Leon membuka suaranya.             “Apa Papa bisa membantu Leon?” pertanyaan itu terdengar lirih membuat Dhika menaikkan sebelah alisnya.             “Bantuan apa?”             “Leon ingin membangun sebuah Yayasan yang menampung anak-anak tak mampu, atau anak-anak jalanan. Leon ingin mendirikan sebuah asrama begitu juga Yayasan.”             Dhika tersenyum kecil mendengar penuturan Leon, ia mulai paham kemana arah bicara Leon. “Papa sudah memilikinya, kalau kamu mau kita bisa ke Tangerang besok dan mengantarkan mereka semua.” Leon mengernyitkan dahinya menatap sang Papa.             “Papa memang tidak pernah membahasnya, Papa memiliki sekola Yayasan di Tangerang yang sudah mendapat ijin dari Pemerintahan dan Dinas Pendidikan. Sekola yayasan itu melingkupi Sekola Dasar hingga Sekola Menengah Atas. Kalau kamu mau, Papa bisa memasukan mereka semua ke sana,” ucap Dhika masih tenang. Ada keterkejutan di wajah Leon, tetapi dengan cepat ia menghilangkannya dan berubah menjadi datar.             “Leon ingin mendirikannya di Jakarta.” Dhika mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Leon itu. Anaknya ini kenapa selalu membuat kejutan dan serba mendadak.             Leon mengeluarkan map yang ia pegang sejak tadi dan menyerahkan kertas bergambar Sekola Yayasan yang di gambar Azzura. “Itu adalah impian Azzura.”             Dhika mengambil kertas itu dan mengamatinya dengan seksama. “Desainnya masih tidak beraturan,” ucap Dhika mengeluarkan pendapatnya. Leon menganggukan kepalanya. “Jadi kamu ingin mendirikan Yayasan ini di Jakarta?” tanya Dhika yang di angguki Leon. “Leon bisa mengatur segalanya, mungkin untuk biayanya Leon akan menjual mobil Leon yang Leon beli dari hasil usaha sendiri dan tabungan Leon di rasa cukup membangun Yayasan itu. Leon hanya meminta bantuan Papa untuk segala perizinannya dan mendaftarkan Yayasan ini ke Pemerintahan.” Dhika mengangguk paham. “Apa kamu yakin akan menanggung semua biayanya? Bahkan kamu belum tau akan membangun Yayasan ini dimana. Biarkan Papa membantumu,” ucap Dhika tetapi Leon menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Leon akan bekerja keras untuk mengumpulkan Dananya. Mungkin akan mencari pekerjaan tambahan,” ucap Leon. “Leon ingin mendirikannya dengan hasil jerih payah sendiri.” Dhika menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Prosesnya akan sangat lama, belum lagi mengurusi beberapa perizinan ke Pemerintahan, itu akan sedikit kesulitan. Karena biasanya dari Pemerintahan akan menguji selama 6 bulan hingga izin itu di jatuhkan. Apa layak Yayasan ini berdiri atau tidak.” Leon terdiam menatap sang Papa dengan tatapan datarnya. “Begini saja, Papa punya ide. Kita buat suatu bisnis, anggap kau tidak sedang berbisnis dengan Papamu sendiri.” “Maksud Papa?”             “Kamu membuat proposal pengajuan kerjasama, dan masukan proposal itu ke rumah sakit Papa, ke perusahaan Om Gator, Perusahaan Om Seno, Papa Farel, Om Angga, Om Daniel, Perusahaan kak Percy, Om Jack misalnya atau ke saudara Iparmu.” Seketika Leon terkekeh kecil.             “Pengajuan proposal apa itu, sudah pasti semuanya akan menerima dan membantuku tanpa pikir panjang,” ucap Leon.             “Tidak, ini sebuah bisnis. Kita mengajukan sebuah kerjasama ke mereka semua.”             “Untuk Kak Verrel, mungkin aku akan membutuhkan tenaganya untuk memperbaiki desain itu dan membantuku mengatur segala sesuatu yang akan di butuhkan nanti untuk membangun Yayasan itu,” ucap Leon.             “Papa setuju, biar nanti Papa yang akan mengurus segala perizinannya di bantu Daniel. Dan kamu siapkan proposalnya, Papa menunggunya.” Dhika bersuara dengan senyumannya membuat Leon tersenyum kecil.             Sama saja pembangunan ini di bantu semuanya, mereka semua sudah pasti akan membantu walau belum jelas keuntungan apa yang akan mereka dapat. Tetapi itulah Brotherhood,,, ♠♠♠             Di dalam ruang kerja Dhika yang sangat luas dan sejuk, para pria brotherhood minus Farel tengah berkumpul. Mereka semua duduk di sebuah sofa panjang berwarna putih yang ada di dalam ruangan itu. “Syukurlah para anak buah Bejo tidak membuka mulutnya,” ucap Daniel merasa lega.             “Apa itu berarti Leon dan kita semua aman?” tanya Edwin.             “Belum tentu, kasus ini masih belum di tutup. Syukurlah kasus ini di serahkan padaku bukan yang lain,” ucap Jack.             “Jadi bagaimana?” tanya Dhika. “Leon aman kan?”             “Ternyata gudang itu menyimpan puluhan kilo g***a, yang memang di kelola oleh Bejo sendiri. Bejo juga secara garis besar adalah seorang buronan karena selama ini kami mencari mereka. Mereka ada pengedar sekaligus pengguna ganja.” Jelas Jack.             “Lah, kalau begitu jelas dong. Si Leon gak salah kan.” Okta mulai berkomentar.             “Tidak ada yang membenarkan membunuh, Gator.” ucap Jack.             “Tau nih si Gator, peak masih aja tertanam di otak,” cibir Seno. Okta melotot kesal ke arahnya dan mendengus kesal. Akhirnya ia memilih melipat tangan di d**a dengan bersandar ke sofa.             “Jadi gimana?” tanya Angga yang sejak tadi memperhatikan.             “Kasus ini masih dalam penanganan, mungkin 2 atau 3 hari lagi akan di tutup karena tak ada hasilnya. Untuk anak buah Bejo semuanya sudah di jebloskan ke dalam penjara sebagai tersangka.”             “Apa mereka tidak mengungkapkan tentang Leon?” tanya Dhika.             “Tidak, alasannya sudah pastilah jelas. Awal mereka mengenal Leon karena mereka berusaha membunuh Azzura dan juga Leon. Maka dari itu mereka tidak berani membuka suara dan malah memilih diam membisu saat di introgasi mengenai pembunuh Bejo.” jelas Jack.             “Syukurlah,” semuanya mampu bernafas lega.             “Jadi tinggal menunggu beberapa hari lagi,” gumam Dhika yang di angguki Jack.             “Karena saksinya hanya satu Bapak petani itu yang juga tak melihat jelas wajah Leon. Jadi kami masih meraba-raba dalam kasus ini, apalagi motor yang di tumpangi Leon jatuh ke jurang, mereka berpikir Leon mati jatuh ke sana,” jelasnya secara terperinci.             “Akhirnya bisa bernafas lega,” ucap Okta.             “Masalah ini sudah selesai, tetapi belum dengan hati Leon,” gumam Dhika. “Mungkin dengan membangun Yayasan ini, dia akan sedikit teralihkan.”             “Gue sudah transfer ke dia untuk memenuhi proposalnya,” ucap Okta.             “Dia sampai mengeluh, katanya kerjasama apa ini. Proposalnya langsung di acc,” kekeh Dhika.             “Dia masukinnya ke brotherhood sih, yah pasti kagak bakalan di tolak. Apalagi putra mahkota leader kita.” ucap Okta.             “Bener banget, apalagi putra Leader, mana bisa di tolak.” Kekeh Seno membuat yang lain ikut terkekeh. ♠♠♠             Leon sudah mengajukan proposal itu ke perusahaan yang di suruh Papanya, dan hanya berjarak 5 menit setelah proposal di ajukan, langsung mereka terima. Sungguh lucu sekali,             Saat ini Leon sudah membuat janji dengan Verrel di sebuah Cafe outdoor yang tak jauh dari kantor Verrel untuk sekalian makan siang bersama. Leon sudah duduk berhadapan dengan Verrel dan sibuk menikmati makan siang mereka. Leon hanya mencicipi sedikit steak yang ada di depannya itu.             “Bagaimana keadaan Leonna?” tanya Leon.             “Dia baik-baik saja, dia sangat merindukanmu, Leon.” Leon tersenyum kecil, memang sudah hampir 2 minggu lebih ia dan kembarannya itu tak bertemu.             Entah memang sudah takdirnya, seorang saudara kembar sulit terpisahkan terlalu lama. Membuat mereka mendapat dorongan untuk ingin selalu bertemu satu sama lain. “Akupun juga merindukannya,” gumam Leon. Verrel terlihat menyesap kopinya setelah selesai menikmati makanannya.             Leon mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkan map itu ke arah Verrel.  Verrel langsung menerima dan mengamati sesuatu di dalam map itu dengan seksama. “Desainnya cukup bagus,” gumamnya. “Apa kamu ingin membangunnya sesuai gambar ini atau ingin di rubah?”             “Aku ingin rumah itu di buat asrama,” ucap Leon. “Tetapi menurutmu bagusnya bagaimana?”             “Seperti ini tidak jelek, mungkin aku akan memperbaikinya sedikit. Rumah ini akan aku ganti dengan lapangan olahraga.”             “Aku ingin lapangannya luas, dan memiliki pembatas untuk lapangan di hall depan sekola dan lapangan olahraga terpisah seperti lapangan basket, Volly dan lapangan bola.” Verrel manggut-manggut paham.             “Aku harus menyurvei dulu lokasinya dan bisa menentukan akan bagaimana.”             “Aku sudah menemukan tanah yang luas,” ucap Leon.             “Dimana?” tanya Verrel.             “Tempat futsal yang tak jauh dari rumah sakit.”             “Itu tempat futsal milik Opa Surya?”             “Iya, dia menjual tanahnya padaku dengan cuma-cuma, dengan harga  yang sangat sangat murah. Padahal lapangan Futsal itu masih beroperasi.” Verrel terkekeh mendengarnya.             Ia tau Leon begitu di permudah segalanya dengan alasan beragam. Apalagi alasan Gator yang menyumbang dana tertinggi setelah Dhika dengan alasan simple. Dia terlalu banyak uang, jadi tidak bisa menampungnya lagi.             “Kita bisa langsung ke sana setelah ini.” Leon mengangguk setuju.             “Dan ini surat kontrak kerja kita,” ucap Leon mengeluarkan map lain. Tetapi di tolak Verrel.             “Tidak ada kontrak kerja, aku akan mengerjakannya dengan sebaik mungkin.” ucap Verrel langsung menolaknya.             “Tidak bisa begitu, aku menggunakan jasamu.” Leon terlihat kesal.               “Tidak Le, kalau aku menerima bayaran darimu. Leonna bisa menceraikanku,” ucapnya berlebihan membuat Leon mencibir. “Sudahlah jangan memikirkan itu, sekarang kita harus fokus untuk segera menyelesaikan pekerjaan kita. Aku akan menurunkan pekerja kontruksi yang terbaik dan tercepat.” Akhirnya Leon menyerah.             “Baiklah, aku akan memberikan uang bayarannya pada Leonna.” ucap Leon yang tau Leonna akan sangat senang.             “Tidak perlu, Le.”             “Kalau kau menolaknya, aku akan menggunakan jasa perusahaan kontruksi lain.” Leon tetaplah Leon yang keras kepala.             “Baiklah, terserah padamu kalau ingin memberikannya ke Leonna.” Akhirnya Verrel mengalah. ♠♠♠             Setelah berdiskusi banyak hal, dan mereka langsung menyurvei ke tempatnya. Kini mereka berdiri di depan gedung Futsal yang besar itu dengan berdiskusi beberapa hal. Verrel sudah mampu menggambarkan di dalam kepalanya akan membangun seperti apa yayasan itu.             “Kerang hijau, kerang hijau...” teriakan itu membuat Leon menoleh ke arah sumber suara dan melihat pedagang kerang yang tengah berjalan kaki menyusuri jalanan. Ingatannya menerawang ke kenangan dirinya dan Azzura yang berlomba memakan kerang saat itu.             Ia menipiskan bibirnya dan tersenyum getir mengingat kenangan pahit dan juga menyakitkan itu. “Mas,” panggil Leon membuat pedagang itu menoleh dan dengan semangat mendorong rodanya mendekati mereka berdua. Verrel sedikit mengernyit saat melihat Leon menghentikan pedagang kerang. Leon jarang sekali membeli makanan seperti ini bahkan hampir tidak pernah.             “Mau beli, Den?” tanya pedagang itu dengan senyumannya.             “Bungkus semuanya yah, dan buat beberapa bungkus.” ucap Leon membuat pedagang itu membelalak lebar.             “Se-semua?”             “Aku memborong semuanya. Buat 4 bungkus,” ucap Leon masih dengan ekspresi datarnya.             “Eh, baik Den.” Pedagang itu bergegas menyiapkannya.             “Apa kamu tidak salah?” tanya Verrel yang masih menatap heran. Dan Leon hanya mengedikkan bahunya acuh. Tak butuh waktu lama, pedagang itu datang dengan membawa empat kantung kresek hitam ke arah Leon. Leon mengeluarkan uang senilai seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar.             “Ini kebanyakan De, harganya hanya 300ribu.” Pedagang itu mengernyitkan karena jumlah uang yang di berikan Leon itu.             “Tidak apa-apa, ambil saja.” tanpa pikir panjang, pedagang itupun menerimanya dan berterima kasih dengan haru kepada Leon. Mimpi apa dia semalam hingga mendapatkan rezeki sebanyak ini. Seperti durian runtuh.             “Ambil ini, untuk Leonna.” Leon menyerahkan satu kantung berukuran besar ke Verrel.             “Tidak perlu, Le. Ini kebanyakan,” ucap Verrel.             “Si Ona suka makan, dia juga suka sekali makan kerang hijau ini. Dia pasti senang kamu membawakannya,” ucap Leon dan akhirnya Verrelpun menerimanya.             Tak lama Datan datang menghampiri mereka, ia tadi memang menghubungi Leon untuk membantu beberapa hal. Dan sekarang disinilah dia berada.             “Ini makanlah,” ucap Leon menyerahkan kantong kerang itu padanya.             “Ini apaan?” tanya Datan.             “Makan saja,” ucap Leon.             “Kerang hijau, loe tau kan gue gak suka yang beginian,” keluh Datan dan Leon hanya diam saja. ♠♠♠             Setelah selesai segalanya, dan pembangunan itu sudah di mulai sejak satu minggu yang lalu. Leon kini tengah duduk di salah satu danau yang dulu ia datangi bersama Azzura. Ia menggenggam beberapa batu kecil. Emosinya saat ini tak tertahankan lagi. Selama ini berusaha menahannya, tetapi nyatanya semakin sakit. Semakin lama jantung itu semakin menyayat hatinya.             “Arrghhhh!” ia melemparkan batu itu sekuat tenaga hingga memantul beberapa kali sebelum akhirnya tenggelam ke dalam air danau.             Selama ini pertahannya ia jaga dan berusaha di sibukkan dengan segala hal untuk membangun benteng kokoh dalam dirinya. Tetapi rasanya semakin sakit dan menyayat hati. Usahanya tetap saja sia-sia. Ia mulai frustasi karena rasa rindu dan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya. Ia berusaha menerima takdir dan berusaha tetap berdiri tegar walau kenyataannya sangat sulit dan menyakitkan.             “Kenapa?” gumamnya lirih. Bahkan sangat lirih, seperti hanya tiupan angin yang keluar.             Di luar ia terlihat begitu tegar, kuat dan menampilkan sosok dinginnya. Tetapi tidak bisa memungkiri di dalam tubuhnya, ia rapuh. Ia terluka parah karena irisan dari dalam. Setiap detak itu seperti pisau yang siap menyayat dalam tubuhnya. Bayangkan saja dalam satu menit atau satu jam berapa kali detakan itu terasa? Lalu dalam sehari? Sebanyak itulah Leon merasa sakit karena sayatan ini. Sebanyak itulah tubuhnya semakin hancur dan rapuh di dalam sana. Dan tak ada yang tau akan hal itu... ♠♠♠             Setelah sebulan berlalu, dan berkat kerjasama semuanya. Sekola Yayasan itu kini jadi dan kokoh di depannya. Sekola Yayasan Az-Zahrah sesuai dengan nama Azzura. Azzura Zahrah.             Leon menatap nanar bangunan tinggi di depannya. Bangunan itu terlihat begitu kokoh. Verrel membangun sekola Yayasannya dengan sempurna. Di bagian depat setelah gerbang masuk terdapat sebuah parkiran di sebelah kirinya yang cukup luas. Dan di selehan kirinya adalah lapangan luas dengan tiang bendera untuk melakukan upacara setiap hari senin, dan di ujung lapangan terdapat hutan buata yang di tata seindah dan sebagus mungkin. Bagunan kokoh dengan warna abu cerah di padu dengan warna biru sesuai yang Azzura inginkan. Bangunan itu memiliki 7 tingkatan, di mana setiap lantai itu memiliki beberapa kelas dengan kualitas bagus.             Di bagian lantai atas adalah ruang khusus kepala sekola dan juga guru-guru yang akan mengajar disana. Di belakang gedung, ada lapangan. Lapangan yang di bagi menjadi 3, lapangan bola, basket dan volly. Selain itu juga ada satu bagunan yang dulu bekas bangunan lapangan futsal yang tidak Verrel usik untuk arena Futsal anak-anak nantinya. Dan di sebrang gedung ini, yang terhalang lapangan adalah sebuah asrama. Asrama yang di bagi menjadi dua bangunan bertingkat. Sebelah Kanan untuk asrama wanita dan sebelah kiri untuk asrama pria. Selain itu di samping kiri lapangan, terdapat gedung bertingkat 5. Itu adalah untuk Sekola Menengah Atas yang memang sudah banyak yang mendaftar hingga saat ini. Bukan hanya anak-anak jalanan, tetapi juga anak-anak yang tak mampu. Karena Leon tidak memungut biaya apapun di sekola ini. Semua guru akan dia gaji dengan uangnya sendiri. Apalagi para sponsor dari perusahaan lain kelihatannya tidak akan berhenti menyumbang Dana. Ini adalah sebuah sekola yayasan yang sempurna untuk Leon.  Tanpa sadar ia tersenyum kecil menatap bangunan di depannya itu.             ‘Ini untukmu Azzura, aku memenuhi impianmu.’             Seketika, Leon merasakan perasaan yang sangat amat sejuk dan damai. Entah apa yang terjadi, ‘Apa kamu bahagia?’             Leonna meminta Irsyam berjalan ke arahnya, ia meminta Irsya sebagai adik Azzura untuk menggunting pita gedung ini. Irsyam awalnya ragu tetapi Leon meyakinkannya hingga akhirnya iapun mengguntingnya. Suara tepuk tangan menggema di sana. Thalita membawakan sebuah nasi kuning untuk di potong oleh Leon, itu hanya untuk syukuran mereka. Setelahnya Thalita menyuapi Leon dan mengecup keningnya.             “Berbahagialah nak,” gumam Lita yang di balas senyuman kecil Leon.             Mereka semua mulai berhambur mengelilingi dan melihat-lihat suasana sekola ini dan akan berkumpul di aula Sekola yang ada di bagian depan. Mereka menjamu para tamu yang datang dari Pemerintahan. Setelahnya, para Guru yang sudah di utus untuk mengajar di sana dan beberapa pegawai yang sudah di rekrut Leon. Mulai sibuk bekerja karena banyak anak yang mendaftar. Mereka harus mendata mereka semua lalu memberikan 3 pasang seragam ke semua anak yang sudah terdaftar itu. ♠♠♠             Leon mengurung dirinya di dalam kamar, setelah Sekola Yayasannya berjalan lancar. Tetapi hatinya masih terasa sakit, ia masih merasa ada yang kurang. Kebahagiaannya tak bisa ia rasakan sempurna. Ia hanya terdiam menatap nanar kertas surat yang ada di tangannya. Itu lukisan wajahnya, hingga tatapannya mengarah ke arah handphone milik Azzura di sana. Entah kenapa ia ingin sekali memeriksanya.             Ia mengambil Smartphone Samsung milik Azzura dan menggeser layarnya hingga menunjukkan menu utama. Tangannya menekan galeri yang ada di sana dan betapa kagetnya di dalamnya banyak sekali foto Leon yang di ambil secara diam-diam. Bahkan ada posisi wajah Leon yang sesuai dengan lukisan di ketas itu. Dan hanya beberapa foto Azzura bersama adik-adiknya itu. Mereka terlihat tersenyum bahagia tanpa beban.             Seketika Leon memegang dadanya dan meremasnya dengan kuat saat rasa sakit itu kembali menyerang. Rasa sakit yang sangat amat teramat. Rasa sakit seperti di sayat-sayat membuat luka menganga lebar.  Tubuh Leon yang duduk di sisi ranjang ambruk ke lantai dengan sedikit membungkuk menahan rasa sakit yang terasa begitu menyakitkan. “Le-“ ucapan Leonna terhenti dan membelalak lebar di ambang pintu. “Leon!” teriaknya berlari mendekati Leon. Ia memeluk Leon dengan perasaan khawatir. “Kamu kenapa Le? Papa, Mama, Kakak.” Teriaknya.             Tak lama semua keluarganya datang dan melihat Leon yang meringis dengan menyandarkan kepalanya di d**a Leonna yang menangis. “Leon, Pa.” isak Leonna.             Verrel segera membawa Leon dan memapahnya untuk di rebahkan di atas ranjang. Ia masih menggeram kesakitan, hingga Dhika meminta Thalita mengambilkan alat kedokterannya dan tanpa menunggu lama lagi, Thalita beranjak mengambilnya.             Leonna berdiri dengan membawa kertas dan handphone Azzura, ia masih menangis menatap kembarannya yang meringis kesakitan. Verrel merangkul Leonna dan mengusap pundaknya seakan menenangkan. Tak lama Thalita datang, dan menyerahkan peralatan kesehatan ke Dhika. Ia berusaha memeriksanya, dengan stetoscope. Saat tak menemukan apa-apa, ia menempelkan telapak tangannya di d**a Leon dengan memejamkan matanya. Ia sedikit mengernyitkan dahinya, lalu membuka matanya. Semua keluarganya menatap ia dengan perasaan cemas bercampur rasa penasaran.             “Bagaimana?” pertanyaan itu terluncur dari bibir Thalita.             “Aku tidak menemukan ada kesalahan pada jantungnya,” gumam Dhika menatap Leon yang kehilangan kesadarannya.             “Tapi Leon sangat kesakitan tadi, Papa.” Leonna langsung berucap. ♠♠♠             Leon mengerjapkan matanya dan tatapannya samar-samar melihat cahaya terang. Ia kembali memejamkan matanya untuk menyesuaikan pandangannya dan membuka matanya kembali. Kamar yang tak asing lagi untuknya.             “Kamu sudah sadar?” pertanyaan itu membuat Leon menoleh, dan tatapannya langsung bertemu dengan mata hitam bulat milik Leonna, kembaran tersayangnya.             Leon bergegas beranjak dan di bantu Leonna untuk duduk bersandar di sana.  “Bagaimana keadaan loe?” tanya Leonna yang duduk di sisi ranjang.             “Bisakah loe peluk gue, Ona.” Tiba-tiba saja Leon mengatakan itu. Leonna tak bertanya, ia hanya menganggukan kepalanya dan memeluk kembaran tersayangnya itu. Menyalurkan kehangatan dan perasaan nyaman satu sama lain. Gen mereka yang sama, membuat mereka merasakan kehangatan dan kenyamanan yang bisa mereka rasakan sendiri. Leon menenggelamkan wajahnya di sela leher Leonna dan menghirup aroma Jasmine dari tubuh Leonna yang menenangkan. Leonna hanya bisa mengusap kepala Leon dengan sayang dan menyalurkan kasih sayangnya, agar Leon tau kalau ia tidak sendirian. ♠♠♠
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN