Flashback On
Azzura dan Leon segera di larikan ke rumah sakit, kebetulan Angga yang kebagian tugas malam saat itu. Angga bergegas ke IGD saat mendengar ada dua pasien yang harus segera di tangani.
"Astagfirulloh!" pekik Angga saat melihat Leon terkujur kaku di atas brangkar. Beberapa suster terlihat tengah membantu membersihkan luka yang ada di d**a Leon. Sayup-sayup suara terdengar, membuat Azzura membuka matanya dan melirik ke arah sampingnya di mana Leon tengah di tangani. Seorang suster memasang alat bantu pernafasan pada hidung dan mulutnya tetapi pandangan Azzura terus terarah ke arah Leon. 'Kenapa kamu mengorbankan diri kamu, Leon?' batin Azzura.
"Panggil dokter Rival," ucap Angga yang terlihat sangat khawatir saat tau Leon terkena luka tembakan tepat di d**a kirinya. Ia segera beranjak keluar ruangan untuk menghubungi Dhika.
Tak lama dokter Rival datang dengan seorang suster dan memeriksa kondisi Leon. "Dokter, detak jantungnya semakin melemah," ucap seorang suster.
"Ini putranya Pak Direktur," ucap Rival yang terlihat cemas.
"Bagaimana ini, Dokter?" Tanya seorang suster.
"Berikan aku satu ampul F1, dan defibrillator," ucap Rival dan seorang suster lain segera menyerahkannya.
"Shock!"
Deg
Tak ada respon apapun pada tubuh Leon, suara detak jantungnya semakin melemah. Azzura masih memperhatikannya dengan mata yang berkaca-kaca. 'Ku mohon jangan begini, Leon. Bertahanlah, bertahanlah demi aku.' batin Azzura.
"Shock!"
"Bagaimana?" Tanya Angga yang kembali masuk ke dalam ruangan.
"Detak jantungnya semakin melemah," ucap Rival.
Teeeettttttttttttt
Detak jantung Leon menghilang, membuat Angga dan Rival kelabakan. "Lakukan sesuatu, dokter Rival!" pekik Angga yang terlihat sangat cemas dan mencoba menekan d**a Leon berkali-kali. Azzura menangis dalam diam memperhatikan Leon yang tak bergeming sama sekali. Hatinya terasa tersayat-sayat melihat kondisi Leon seperti ini.
"Leon!"
Thalita dan Dhika datang. Thalita sudah menangis sejadi-jadinya melihat kondisi putranya itu. Kecemasan tercetak jelas di wajah mereka semua.
Angga dan Rival bergeser untuk memberi Dhika ruang. Dhika menatap detak jantung Leon yang sudah menghilang. "Lakukan sekali lagi, suster!” pekik Dhika mengambil alat defibrillator. “Shock!" Dhika menempelkan defibrillator di d**a Leon.
Tak ada respon apapun, "Tingkatkan lagi! Shock!" pekik Dhika dengan mata yang berkaca-kaca.
Deg
Semuanya mampu bernafas lega saat detak jantung Leon kembali, Azzura mampu tersenyum kecil melihat itu. Azzura bahkan tak merasakan sakit, padahal beberapa suster dan dokter tengah mengobati lukanya. ‘terima kasih, Leon.’
"Luka tembakan itu tepat menusuk jantungnya," ucap Rival membuat Dhika dan Thalita mematung di tempatnya.
"A-apa! luka tembak? Bagaimana bisaa?" pekik Thalita dengan tangisnya.
Tangisan Thalita mampu menyayat hati Azzura. Ia merasa sangat bersalah kepada Thalita dan Dhika karena dirinya, putra mereka harus terluka seperti ini. Setetes air mata terus mengalir di sudut matanya.
“Kita harus mencari donor jantung segera,” ucap Dhika.
“Sekarang bawa Leon ke ruang Operasi! Kita lakukan operasi mengangkatan peluru di dadanya.” Perintah Dhika yang langsung di angguki oleh beberapa suster. Dhika membawa brangkar Leon bersama yang lain keluar ruangan. Kini pandangan Thalita terarah ke arah Azzura.
“Azzura?” Thalita berjalan mendekati brangkarnya. Azzura hanya menampilkan senyuman kecil di bibir pucatnya. Hingga perlahan kepala Azzura mulai terasa sakit. Dan kepalanya mulai berkunang-kunang. Perlahan Azzura menutup matanya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Thalita.
“Dia kehabisan darah, Dokter. Luka tusuk di perutnya menembus ususnya.” Sahut Dokter yang memeriksa Azzura. Thalita sangat syok, benaknya bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada mereka berdua?
♠♠♠
Azzura perlahan membuka matanya, dan pandangannya beradu dengan Leonna yang tengah duduk di sisi brangkar. "Kamu sudah sadar Az?" Tanya Leonna. "Sebentar, aku panggil dulu dokter Angga," ucap Leonna hendak beranjak tetapi di tahan Azzura.
"Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Leonna kembali duduk dan menggenggam tangan Azzura yang terasa dingin. Azzura menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagai-mana Leon?" tanya Azzura lirih dan pelan membuat Leonna kurang jelas mendengarnya.
"Dia baik-baik saja, tidak usah khawatir," ucap Leonna tersenyum kecil.
"Jangan berbohong," tambah Azzura membuat Leonna menunduk sedih dan sebutir air mata luruh membasahi pipinya.
"Jangan khawatir, Papa dan Mama akan menyembuhkan Leon," ucap Leonna.
"Please, katakan." ucap Azzura memelas membuat Leonna tak tega.
"Leon koma," ucap Leonna. "Papa masih berusaha mencari donor jantung yang cocok untuknya," tambah Leonna membuat Azzura termenung.
"Apa aku boleh bicara dengan om Dhika dan tante Lita," ucapnya seakan menahan rasa sakitnya.
"Ba-baik." Leonna segera beranjak pergi.
Tak lama, Dhika dan Thalita datang bersama Leonna dan Verrel.
"Hai Sayang, bagaimana keadaan kamu?" tanya Thalita menggenggam tangan Azzura dan duduk di sisi brangkar dan Dhika berdiri di samping Thalita.
"Tante, Om, boleh Azzura meminta tolong," ucap Azzura terbata-bata.
"Apa Sayang, katakanlah jangan sungkan," ucap Thalita memasang senyumannya.
"Ka-kalau terjadi sesuatu dengan Azzura. Berjanjilah, berjanjilah untuk mendonorkan jantungku kepada Leon."
Deg
Semuanya terpekik kaget mendengar penuturan Azzura. "Kamu tidak usah khawatir, rumah sakit ini akan segera menemukan donor jantung yang cocok untuk Leon," ucap Dhika, tetapi Azzura menggelengkan kepalanya.
"Aku merasa, waktuku tak akan lama lagi. Jadi aku mohon, biarkan aku tetap hidup di diri Leon, biarkan jantungku memberi kehidupan untuk Leon. A-aku mohon, Om, Tante," cicit Azzura, setetes air mata luruh dari sudut matanya.
"Tidak Sayang, kamu akan baik-baik saja." ucap Thalita yang sudah menangis.
"Kamu tenang saja, tidak perlu memikirkan masalah ini," ucap Dhika, Azzura kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku tau kondisi Leon, kalau tidak segera di operasi. Dia akan meninggal," cicit Azzura bersusah payah untuk bernafas.
"Kamu jangan mengkhawatirkannya, Om akan berusaha menolong Leon dan juga kamu," ucap Dhika, tetapi sekali lagi Azzura menggelengkan kepalanya.
"Aku mohon, hanya ini yang bisa aku berikan untuk Leon. Selama ini aku menyakitinya, dan biarkan aku melakukan ini Om, Tante. Aku ingin menyatu dan tetap hidup di dalam diri Leon." Leonna menangis mendengar penuturan Azzura. Azzura sendiri tak berhenti menangis. "Leon sudah melakukan banyak hal untukku, dan aku tidak bisa melakukan apapun untuknya. Hanya ini yang bisa Azzura lakukan.”
"Om, Tante, Azzura mohon. Kalau terjadi sesuatu dengan Azzura, tolong sumbangkan Jantung Azzura untuk Leon. Azzura mohon," ucap Azzura dengan sangat memelas. Thalita menatap ke arah Dhika yang masih terdiam membisu. "Azzura mohon," ucap Azzura sekali lagi dan dengan terpaksa Dhika mengangguk lirih. "Terima kasih Om, Tante. Azzura sangat bahagia dan lega," ucap Azzura berusaha untuk tersenyum.
"Kamu akan sembuh Sayang," ucap Thalita, tetapi Azzura hanya memasang senyuman hambarnya. Wajahnya yang pucat semakin terlihat pucat.
"Leonna," gumam Azzura dan Leonna berjalan mendekatinya.
"Aku di sini, Az." Leonna menggenggam tangan Azzura yang lainnya.
"Boleh aku minta tolong?" tanya Azzura.
"Katakanlah," ucap Leonna dengan senyumannya walau airmatanya terus luruh membasahi pipi.
"Tolong bantu aku menulis surat untuk Leon," ucap Azzura.
"Ta-"
"Aku mohon, walaupun aku bisa sembuh. Tetapi tidak masalah, yang jelas aku ingin Leon menerima surat ini," ucap Azzura.
Leonna melirik ke arah Dhika dan Thalita, keduanya mengangguk seakan memberi dukungan. "Baiklah," ucap Leonna. Leonna saat ini duduk di kursi yang tadi Thalita tempati dengan memegang pen dan kertas di tangannya. Dhika, Thalita dan Verrel juga masih berdiri mengelilingi brangkar.
"Ku mohon, sampaikan ke Leon," ucap Azzura.
Azzura mulai berbicara, dan Leonna menulisnya di atas kertas putih itu. Sesekali Leonna mengusap air matanya yang terus luruh membasahi pipi. Begitupun Thalita yang menangis terisak di pelukan Dhika, Azzura juga menangis saat mengatakan itu, Leonna terhenti saat Azzura mengatakan hal yang begitu mendalam.
"Hikzz..." isak Leonna. Tetapi Leonna terus menuliskannya hingga selesai. Tangan Azzura perlahan bergerak menyentuh jari manisnya dan melepaskan cincin berlian yang di berikan Leon.
“Leonna, berikan ini juga.” Azzura menyodorkannya ke arah Leonna membuat Leonna semakin menangis terisak, walau ia tetap menerimanya. "Terima kasih," gumam Azzura mulai tak terdengar. "Aku senang kalian mau menerimaku, dan menganggapku sebagai keluarga.”
Azzura menatap langit-langit ruangan dengan senyuman yang terukir indah di bibirnya, air mata terus mengalir dari sudut matanya. Perlahan kelopak matanya menutup dan tertutup sempurna, walau senyumannya masih terukir indah. 'Aku senang bisa menyatu denganmu, aku senang bisa melakukan sesuatu yang berarti untukku dan hidupmu, Leonard. Aku mencintaimu,'
Teeeetttt
Jantungnya menghilang, Dhika segera melakukan CPR pada Azzura. Leonna langsung menangis di pelukan Verrel. Dhika menghentikan aktivitasnya saat detak jantungnya tak kembali. "Inalillahi wa'inailahi roji'un," gumam Dhika.
Flashback Off
Leon terpaku di tempatnya mendengar penuturan Thalita. Semuanya menangis dalam diam kecuali Dhika, Angga, dan Verrel yang hanya menatap sendu ke arah Leon. "Ini surat dan handphone Azzura, gue gak sengaja denger rekaman di handphonenya," ucap Leonna dan Leon menerimanya dengan ekspresi syok. “Dan ini,” Leonna mengeluarkan cincin berlian dari sakunya. “Azzura ingin mengembalikan ini.” Leon terpaku menatap cincin yang di sodorkan Leonna, setetes air mata luruh dari pelupuk matanya menatap nanar cincin itu. Perlahan tangannya terulur untuk menerima cincin itu.
"Bisa kalian tinggalkan aku sendiri," ucap Leon.
Dan semuanya menyanggupi, kini hanya tinggal Leon sendiri di dalam ruang rawat.
Dear Leonard
Hay Leon,
Tidak ada kata yang bisa aku sampaikan padamu. Selain maaf dan terima kasih. Karena kamu sudah memberikan secercah cahaya dalam hidupku yang singkat ini. Walau pertemuan kita begitu singkat, tetapi aku bersyukur telah mengenalmu. Selama 19 tahun aku menjalani hidup, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan ini.
Aku tidak pernah merasakan hidup yang sangat berarti, aku begitu bersemangat dalam menjalankan hidup saat ini. Kamu bagaikan malaikat tanpa sayap yang tuhan kirimkan padaku, seorang Prince Perfectionist yang sangat baik hati. Bahkan sudi berteman dengan gadis miskin dan tomboy sepertiku.
Terima kasih karena sudah hadir dalam kehidupanku, terima kasih sudah memberiku cinta dan mengajariku apa itu arti cinta. Terima kasih, kau mau menyelamatkan aku. Tetapi maaf, maafkan aku yang mengambil jalan ini. Mungkin kita tak di takdirkan untuk bersama, tetapi setidaknya jantungku masih berdetak di dadamu. Dan memberimu sebuah kehidupan baru,
Aku ingin menjadi berarti untukmu, aku ingin menjadi seseorang yang memberimu kebahagiaan dan kesempatan untuk menikmati hidup. Setiap detakan itu, aku merasa aku hidup kembali dan menyatu denganmu. Setiap detakan jantung itu, itu mewakilkan perasaanku kalau aku mencintaimu, Leon...
Bodoh...
Aku sangatlah bodoh, aku bodoh karena terlalu pesimis dan munafik. Aku membohongimu dan perasaanku sendiri, aku berbohong pada semuanya. Aku sungguh naïf, Leon. Seberapa kuatpun aku menepisnya, dan mengabaikannya. Kenyataannya aku begitu mencintaimu, Leon. Aku sangat mencintaimu...
Aku begitu ingin mengatakannya secara langsung, tetapi aku tidak mampu. Aku ingin menerima lamaranmu, Leon. Saat itu aku datang ke taman kota tetapi kamu sudah tak ada, aku takut tak bisa mengungkapkan perasaan ini dan memberikanmu jawabannya. Kalau aku ingin menjadi istrimu, aku ingin menjadi pengantinmu, Leonard...
Tetapi rasanya itu sudah tak mungkin lagi, karena aku harus meninggalkanmu. Tetapi satu keinginanku padamu, Leon. Aku hanya ingin kamu membiarkan jantungku tetap berdetak di dadamu dan memberimu kehidupan di masa sekarang dan masa depan. Biarkan aku sedikit berguna untuk hidupmu,,
Maafkan aku Leon, sungguh maafkan aku...
Cincin itu aku tititpkan padamu, bukan berarti aku menolaknya. Tetapi aku ingin kamu menyimpannya, selalu sebagai jawaban kalau aku menerima lamaranmu. Maafkan aku Leonard, sungguh maafkan aku...
Aku mencintaimu,,, sangat mencintaimu,, Leonard Pandu Adinata.
Leon meremas kertas itu dan menangis. "hikzz...hikzz..hikzz.. kenapa Azzura, kenapa kau lakukan ini?” Leon menundukkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya. Ia lalu meraih handphone Azzura dan menekan rekaman dalam handphone itu.
"Hy Leon, ini Azzura. Maafkan aku karena terlambat menyadari perasaanku sendiri. A-aku datang ke taman ini tetapi kamu sudah pergi. Entah kenapa rasanya aku tak ingin menunggu besok untuk mengatakan ini. Kamu harus tau satu hal, Leon. Kalau aku juga mencintai kamu, aku hanya terlalu takut untuk mengakuinya. Aku takut karena derajat kita begitu jauh berbeda. Aku takut tak sepadan dengan kamu, Leon. Aku hanya wanita miskin yang berusaha mencari uang untuk adik-adikku. Aku juga sedikit meragukan ketulusanmu, aku pikir kamu hanya ingin bermain-main." ucap Azzura dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Leon, aku ingin menikah denganmu.” Azzura terkekeh di tengah tangisannya. “Aku menerima lamaranmu, Leon.....”
Leon menyentuh dadanya saat terdengar suara detakan jantungnya. Dan entah kenapa rasanya sangat sakit sekali. Setiap detakan itu seperti pisau tajam yang siap menyayat hatinya, menghancurkan dan melukai dari dalam sampai rasanya sangat perih. Leon menunduk dengan meremas dadanya sendiri karena rasa sakit itu. Rasa sakit bercampur rasa sesak, bukan hanya himpitan keras di dadanya tetapi detakan itu seperti pisau yang juga menyayat-nyayatnya hingga luka yang menganga itu semakin menganga lebar.
"Hikzz...hikzz..." isak Leon meremas tangannya. "Tidak bisakah kita berjalan berdampingan? Tanpa harus menyatu seperti ini? Bagaimana bisa kamu membuatku tidak berdaya seperti ini, bahkan aku tak mampu menahanmu," gumam Leon.
"Kenapa kamu melakukan ini Azzura!" gumamnya, “Bahkan aku belum mendengar jawabanmu secara langsung. Aku belum mendengar ungkapan perasaanmu secara langsung,” isaknya.
“KENAPA AZZURA? Hikz..” amuk Leon hendak melepas infusannya tetapi Leonna masuk ke dalam.
"Le, loe mau kemana?" tanya Leonna menahan Leon.
"Gue ingin ketemu Azzura, kenapa dia melakukan ini sama gue? Kenapa dia melakukan ini, Leonna? Apa salah gue sampai dia ninggalin gue,, hikzzz." Leon terlihat lemah dan Leonna merasa ini bukan sosok kembarannya. Leonard yang selalu terlihat cool dan santai, sekarang ia terlihat begitu rapuh dan hancur.
Leon menuruni brangkar tetapi tubuhnya yang masih belum kuat langsung luruh ke lantai dengan Leonna yang langsung memegang kedua pundaknya. Leon terduduk di lantai karena tubuhnya yang masih tak berdaya. "Gue bodoh, gue lemah! Bagaimana bisa dia berkorban buat gue? Bagaimana bisa dia melakukan ini, kenapa, Leonna?" pekik Leon dengan tangisannya.
“Kenapa dia melakukan ini? Apa gue begitu lemah?” tanya Leon menatap manik mata Leonna. Leonna menangis sambil menggelengkan kepalanya.
“Dia mencintai loe, bukan karena loe lemah.”
“Kalau dia mencintai gue, kenapa memilih meninggalkan gue? Kenapa Ona? Katakan kenapa? Hikzz,,,” Leon menundukkan kepalanya dengan suara yang tertahan. Ia menangis begitu menyakitkan. Leonna langsung memeluk kepala Leon. Keduanya menangis sejadi-jadinya. Leonna mampu merasakan apa yang Leon rasakan saat ini.
Hancur...
Sakit...
Itulah yang pasti Leon rasakan, dia bahkan harus mengetahui perasaan Azzura setelah Azzura pergi meninggalkannya. Takdir yang sudah di gariskan tak mampu di rubah lagi.
"Kenapa dia melakukan ini,, hikzz..hikzz..." isak Leon sejadi-jadinya. Dhika dan Thalita melihatnya di ambang pintu.
Dia melakukannya lagi Mom, apa salah Dhika?
Kenapa dia melakukannya lagi??
Kata-kata itu terngiang begitu saja di benak Dhika bersamaan dengan kata-kata yang Leon ucapkan. Dhika langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan membuat Thalita mengikutinya.
Di dalam ruangan Dhika, Dhika menarik dasi yang ia pakai dengan gusar. Kepingan bayangan di masalalu memenuhi kepalanya.
"Kamu kenapa?" tanya Lita menyentuh pundak Dhika, membuat Dhika menengok dan menatap sang istri dengan tatapan nanarnya. Mata Dhika terlihat memerah menahan air matanya, seketika sebutir air mata luruh membasahi pipi Dhika.
"Bagaimana ini?" gumam Dhika menangis dalam diam. Wajahnya begitu terlihat sangat ketakutan, membuat Lita mengernyitkan dahinya.
"Ada apa Dhika?" tanya Lita karena tidak bisa menahan kebingungan di dalam hatinya.
"Aku melihat diriku sendiri dalam diri Leon. Sosok saat aku begitu hancur dan terpuruk," gumam Dhika. "Bagaimana ini, Lita? Bagaimana kalau Leon benar-benar sepertiku dan hanya akan memilih satu wanita. Bagaimana masa depan anak kita? Sejujurnya aku tak ingin siapapun merasakan apa yang pernah aku rasakan!" ucap Dhika terduduk di sofa yang ada di sana dengan wajah yang frustasi. "Aku tidak mau Leon hancur, aku tidak ingin melihatnya seperti aku dulu," gumam Dhika dan Thalita duduk di samping Dhika dan memeluk Dhika dari samping.
"Kita akan selalu dampingi putra kita, Dhika. Rasa sakit saat kehilangan seseorang yang kita cintai itu memang sangat sakit," ucap Thalita dengan isakannya.
Baik Dhika maupun Thalita, keduanya sama-sama pernah merasakan rasa sakit itu. Rasa sakit yang sangat teramat saat takdir mempermainkan hidup dan hati mereka berdua. Dhika menengok ke arah Thalita. "Aku takut, aku sangat takut Leon akan melakukan hal sepertiku. Aku sungguh takut, Leon merasakan apa yang pernah aku rasakan," guman Dhika dengan penuh ketakutan dan kecemasan. Thalita hanya bisa memeluk suaminya itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Pastikan Leon tidak akan mengalami apa yang aku alami, Lita. Tolong pastikan,” gumam Dhika terlihat begitu ketakutan.
Thalita memeluk Dhika dengan menangis dalam diam. Ia menganggukkan kepalanya pelan, mungkin memang saat ini mereka harus bersama-sama untuk menguatkan hati mereka dan juga putra mereka.
♠♠♠
Saat ini Leon tengah duduk di sisi gundukan tanah merah yang masih basah. Batu nisan itu tertulis indah nama Azzura. Suasana sunyi dan angin yang berhembus perlahan mampu menerpa wajah Leon yang terlihat datar tanpa ekspresi menatap nisan itu. Tatapan coklat tajamnya nyalang, masih antara percaya dan tidak percaya kalau di depannya ini adalah makam pujaan hatinya.
Kamu tau Ra,
Saat pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Hanya dengan melihat mata indah itu, aku langsung terpikat padamu. Bahkan senyumanmu begitu memukau hatiku. Aku terhanyut dalam senyum manismu, sampai aku tak mampu untuk berpaling darimu. Senyumanmu memberiku rasa yang berbeda, Rasa yang mampu membuat hari-hariku menjadi lebih berwarna.
Kamu tau, kamu membuatku mampu untuk selalu menebar senyum dan bahkan tertawa. Kamu membuat hidupku berubah dalam sekejap, membuat hidupku jauh lebih berarti.
Semua yang ada pada dirimu, membuatku terpesona. Setiap aku melihat keindahan alam, aku seperti tengah melihat wajahmu. Aku juga begitu kagum saat mengetahui kehidupanmu. Kamu sosok yang bertanggung jawab dan kuat dalam menghadapi semua ini. Aku banyak belajar darimu, terutama dalam hal mensyukuri apa yang telah kita capai.
Kamu bahkan begitu kuat menghadapi keadaan yang begitu nyata, dan merasakan penderitaanmu sendirian, dan mengukur penderitaan itu di atas mimpi. Kamu sungguh berhati mulia Azzura, bagiku kamu adalah bidadari tanpa sayap.
Apa aku sanggup hidup tanpa bidadariku? Apa aku sanggup menjalankan ini semua tanpamu. Jawabannya adalah tidak, Azzura.
Aku tidak bisa melakukan itu, aku memang egois. Aku akui aku sangat egois karena aku hanya menginginkan kamu ada di sisiku. Aku ingin menikahimu, hanya kamu. Azzura,
Tanpa sadar, air mata Leon luruh membasahi pipinya. Leon memang sosok yang tak pernah menunjukkan berbagai ekspresinya pada semua orang, apalagi para wanita. Iya sadar senyumannya yang mempesona mampu membuat para wanita bertekuk lutut padanya. Bahkan hanya memasang wajah datar saja, para wanita itu senantiasa mencari perhatiannya. Tetapi Leon tidak memiliki gen Aligator seperti Datan. Ia tidak begitu menyukai memanfaatkan ketampanannya untuk memuaskan nafsu dan egonya hanya untuk menyakiti banyak wanita.
Sejak dulu, sesungguhnya Leon menunggu. Ini memang konyol, tetapi ia yakin akan takdir. Yah, takdir cinta dan jodoh manusia, dan selama ini dia menunggunya. Menunggu tuhan mengirimkan wanita itu padanya dan membuatnya bertekuk lutut bahkan menyerahkan seluruh cintanya pada wanita tersebut.
Dan Azzura,,,?
Entah kenapa, gadis sederhana dengan tampilan tomboy-nya itu mampu menyihir Leon. Entah apa yang Azzura lakukan hingga membuatnya tanpa ragu memberikan hatinya pada wanita itu. Ia bahkan tak berpikir akan ada penolakan, karena selama ini para wanita selalu menyerahkan dirinya secara cuma-cuma pada Leon. Tetapi ternyata Azzura tak sama,,,
Ia berbeda...
Dan itulah yang membuat Leon semakin menginginkannya dan menyatakan bahwa Azzura miliknya, ia tidak akan membiarkan siapapun merebut Azzura dari sisinya. Tetapi saat tangan Tuhan bergerak, dan menghancurkan segala mimpi dan juga harapannya selama ini. Dan akhirnya ia merasakan kehancuran yang sangat amat teramat. Wanita yang sudah di sandang sebagai hak miliknya malah pergi meninggalkannya, jauh...
Terkadang Leon ingin tertawa, tertawa keras penuh ironi. Ini sungguh lucu, takdir mempermainkannya tanpa perasaan. Saat dia merasa melambung tinggi, dengan kasar ia di jatuhkan ke tanah dengan begitu keras. Meninggalkan luka menganga yang entah mampu terobati atau tidak. Leon menghela nafasnya panjang, ia menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sempit, membuatnya merasa sesak dan berdenyut. Tak jauh darinya, Leonna dan Verrel berdiri memperhatikan dirinya.
"Aku tak bisa Azzura, aku tidak bisa melakukan amanatmu. Setiap mendengar detakan ini, aku malah merasa semakin bersalah. Aku malah merasa menjadi seorang pecundang. Aku tidak bisa menerima ini," gumam Leon menjatuhkan kembali air matanya. “Setiap jantung ini berdetak, aku merasa seperti pisau runcing yang ujungnya tajam tengah menyayat nyayat organ dalamku tanpa belas kasihan. Dan rasanya sungguh sangat menyakitkan,” gumamnya kali ini ia tak mampu menyembunyikan kesakitan dan frustasinya di balik wajah datarnya. Pertahannya runtuh, menyisakan isakan kecil.
"Kembalilah, ku mohon kembalilah. Aku tak bisa hidup tanpa kamu, Ra. Stay With Me, Please," ucap Leon mengusap nisan Azzura. “Jangan tinggalkan aku.”
"Kisah kita sungguh singkat, bahkan kamu pergi tanpa mengatakan apapun padaku. Kenapa, Ra? Kenapa kamu lakukan ini?" tanyanya terdengar begitu rapuh, seperti bukan sosok seorang Leonard.
Leonna yang terlihat tak sabar menunggu Leon, hendak mendekati Leon tetapi di tahan Verrel. "Dia butuh waktu sendiri," ucap Verrel dan Leonnapun kembali bertahan menunggu Leon.
“Tapi Kak-“
“Dia butuh ruang pribadi, Leonna.” Ucapan Verrel lembut, tetapi mengandung sebuah perintah yang tak terbantahkan membuat Leonna akhirnya hanya menggerutu kecil.
"Just You, Azzura." gumam Leon.
Bayangan saat malam itu mulai memenuhi kepala Leon. Bayangan saat Bejo Cs menyerbu dan menyakiti Azzura dengan begitu kejam tanpa belas kasihan. Seketika Leon mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat hingga buku tangannya memutih, gertakan di giginya terdengar jelas. Mata coklatnya semakin menggelap. Tak ada wajah dingin atau datar. Yang ada saat ini adalah wajah mengerikan yang penuh amarah dan kemurkaan. Mungkin orang yang melihatnya seperti ini akan langsung lari koncar kancir karena merasa bertemu dengan salah satu kiriman Lucifer. Ini seperti bukan sosok Leon.
Leon beranjak hendak berlalu pergi, tetapi Leonna bergegas mengejarnya dan menghadang langkahnya yang keluar area pemakaman umum. "Loe mau kemana, Le?"
"Enyah!"
"Aaarghh!" Leonna hampir saja terjatuh karena dorongan dari Leon kalau tidak ada tangan kekar milik Verrel menahannya.
"Leon mau kemana, Kak? Dia terlihat sangat emosi," ucap Leonna khawatir.
"Kita ikuti dia." Verrel dan Leonna berlari menuju mobil mereka dan mengejar taxi yang Leon naiki.
♠♠♠
Leon duduk di kursi taman kota tempatnya menunggu Azzura saat itu, dari siang hingga menjelang malam. Leon tak beranjak sama sekali. Suasana taman itu begitu sepi dan hening. Bahkan tak terdengar suara binatang sedikitpun, mereka seakan bersembunyi karena takut adanya seorang Devil tampan yang terlihat muram dan murka. Bahkan bulanpun seakan enggan menunjukkan sosok indahnya untuk memberikan cahaya indahnya ke bumi. Ia seenggan segan untuk menunjukkan keindahannya itu.
Leon duduk di sana dalam keremangan dari lampu taman. Tubuhnya membeku dan tatapannya hanya tertuju pada satu titik, menimbulkan siluet menakutkan dari mata coklat gelapnya. Kedua tangannya terlihat mengepal kuat di depannya yang bertumpu pada kedua lututnya. Ia terlihat tengah menunggu, entah menunggu siapa. Yang jelas dia tak beranjak sedikitpun dari tempat itu. Tak merasa pegal ataupun haus dan lapar karena sejak siang hanya duduk diam seperti makhluk gelap yang tengah mengawasi.
Tak jauh darinya ada sebuah mobil Buggati hitam. Terlihat sang pengemudi tengah duduk santai menikmati minuman kaleng dengan mata yang mengawasi gerak gerik Leon. Sejak tadi menjelang magrib, ia diam di sana dengan kesabaran penuh. Berbagai hal sudah ia lakukan untuk mengusir kejenuhannya, untunglah ia sudah meminta tolong salah satu sopir keluarganya untuk mengirimkan beberapa makanan untuknya. Tatapannya terlihat jengah dan kesal karena seperti itu terus. “Si es Balok sampai kapan diem di sana,” keluh Datan. “Hoaamm, ngantuk banget lagi,” gumamnya bersandar ke jok mobilnya. Sore tadi Datan menggatikan posisi Verrel dan Leonna yang sejak siang mengawasi Leon. Datan juga sudah memberi kabar ke Daddy-nya perihal keberadaan mereka.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, dan Leon masih duduk terpaku tanpa beranjak sedikitpun. “Apa pantatnya gak panas dan tepos duduk seperti patung gitu?” gumam Datan. Akhirnya karena merasa sangat bosan, dan kantuk mulai menyerang. Datan memutuskan turun dari mobilnya dan berjalan mendekati Leon yang seakan tak terusik sama sekali. “Leon,” panggil Datan membuat Leon menengok dengan tatapan dinginnya, dan itu sedikit membuat Datan tersentak. Sahabatnya ini belum pernah menampilkan tatapan tajam seperti itu padanya. Walau di kenal dingin, dan memiliki ekspresi minim, tetapi tatapan Leon terlihat berbinar dan terlihat sedikit lembut. Tetapi kali ini, semua itu hilang di telan oleh kegelapan pekat yang memenuhi tatapan dinginnya yang seakan menghunus ke mata Datan. Dan ia yakin, siapa saja akan lari koncar kancir saat melihat tatapan itu. Bahkan Datan berani bertaruh tidak akan ada wanita yang terang-terangan menampilkan tatapan penuh minat dan terpesonanya pada Leon.
Tetapi Datan paham keadaannya sekarang, ada senyum miris di dalam hatinya. Apa cinta semengerikan ini? Dalam sekejap, mampu merubah sosok dan karakter seseorang. Datan menghela nafasnya pelan dan kembali berucap. “Ayo balik, loe masih belum sehat,” ucap Datan. “Kalau seperti ini terus tanpa makan dan minum, loe bisa mati.” Datan menarik lengan Leon, tetapi langsung di tepis kasar oleh Leon.
Leon menatap Datan dengan tajam, siluet tajam itu seakan ingin menghunus Datan. Walau ada sedikit keraguan dan rasa takut, tetapi Datan berusaha menyembunyikan semua itu dengan sikap santai dan tenangnya. Bukankah itu keahliannya,
“Loe sebenarnya nunggu apa di sini, hah? Tidak ada guna dan untungnya buat loe, yang ada kondisi loe makin menurun. Jadi tolong jangan keras kepala,” ucap Datan berubah menjadi sangat serius.
“Kalau mau balik, balik sendiri.” ucap Leon beranjak pergi meninggalkan Datan yang masih terpaku.
“Hah, udah malam juga. Gimana kalau ada hantu coba,” gerutu Datan mengusap tengkuknya dan berlari mengejar Leon. Dan itulah kelemahan seorang Datan. Hantu dan kecoa, itu adalah gabungan yang bisa membuatnya lari koncar kancir.
♠♠♠
Leon berjalan menyusuri trotoar dan Datan membuntutinya menggunakan mobil miliknya. “Si es Balok bener-bener deh, dia mau jalan kaki sampai rumah? Apa kakinya gak akan jadi sebesar gajah tuh?” gumam Datan masih memperhatikan Leon.
Pikiran Leon menerawang jauh, rasa sakit di dadanya semakin menyesakkan hatinya. Bagaimana bisa dia melewati dan melalui kehidupan seperti ini? Tanpa ada kekasih hatinya yang menjadi sumber kebahagiaannya? Mungkin lebih baik takdir tidak pernah mempertemukannya dengan Azzura kalau akhirnya akan seperti ini, memberi luka paling dalam dan menganga di dalam hatinya. Leonard memang tidak banyak pengalaman dalam cinta. Dia merasa kagum dan menjadikan kisah cinta kedua orangtuanya sebagai panutan. Saat mendengar cerita itu dari Oma Elga yang menjelaskan tentang bagaimana orangtuanya dulu. Entah kenapa ia merasa kagum kepada kedua orangtuanya, baik Dhika maupun Thalita. Ia pikir mereka memiliki peran tertentu dalam mempertahankan cinta dalam hati mereka. Banyak kejadian menyakitkan, tetapi cinta mereka teguh satu sama lain. Kesetiaan mereka membuatnya memiliki tekad dan merasa yakin, kalau suatu saat nanti ia akan bertemu dengan seorang wanita yang bisa membuatnya menyerahkan seluruh jiwa dan hatinya pada wanita itu dan menyimpan kesetiaannya pada wanita itu, layaknya sang Papa yang menyerahkan segala hati, hidup dan kesetiaannya pada sang Mama. Tetapi Leon melupakan satu hal, dari semua kisah orangtuanya itu ada tangan lain. Tangan Tuhan yang membuat takdir itu, tangan Tuhan yang membuat rasa sakit, kehilangan dan kehancuran. Leon lupa, kalau kisahnya tidak akan berjalan tenang layaknya aliran air yang tenang. Dan sekarang ia menyadari itu semua. Merasakan kehancuran itu,
Ia ingin marah tetapi kepada siapa? Ia ingin murka tetapi kepada siapa? Bukankah dia tidak mampu berbuat apapun selain menerimanya?
Aku tak bisa, meneruskan kisah ini. Maafkan aku yang telah memilih pergi darimu. Ini adalah jalan yang terbaik untuk kita, Leon….
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Leon sampai di sebuah daerah yang cukup sepi. Di depannya ada beberapa ruko dan swalayan kecil yang terlihat tutup, kecuali swalayan itu karena 24 jam. Tetapi tatapan Leon bukan mengarah ke swalayan itu, tatapan tajamnya mengarah ke beberapa orang yang memarkirkan motor RX-king - nya di depan swalayan itu. Mata pekatnya menangkap sosok yang sejak tadi ia tunggu di taman. Mereka semua di sana dengan tawa menyelimuti wajah seram mereka. Tanpa sadar Leon menampilkan seringai, seringai devil yang menakutkan dan mampu membuat orang bergidik ngeri melihatnya. “Aku mendapatkannya.”
Mata awas Leon, menatap mereka semua yang kembali melajukan motornya dan memasuki area gelap dan remang-remang. Itu sebuah ruko kecil dengan pintu berkaca film gelap. Tetapi terlihat kerlap kerlip lampu dari dalam sana, dan pastilah Leon sudah menebak itu adalah sebuah club malam yang terlihat sangat sederhana. Mereka semua menuruni motor dan berjalan beringingan memasuki club itu dengan di pimpin oleh satu orang ketua, Bejo.
Leon yang berdiri di sebrang club itu, segera berjalan menyebrang jalanan sepi itu dan masuk ke area club, dan semua itu tak luput dari pandangan Datan. “Eh dia mau kemana tuh,” gumam Datan segera turun dan melihat Leon menuju pintu sebuah club. “Dia gak berfikiran buat teler kan tuh. Wah, gaswat nih siaga 1.” Datan segera beranjak mengejar Leon. Leon menerobos masuk, tetapi di tahan dua orang pria berbadan besar karena club ini sedang di sewa oleh seorang pengusaha. Dan hanya yang memiliki tiket yang bisa masuk.
“Biarkan gue masuk!” ucap Leon dengan sangat dingin.
“Jangan memaksa kami bertindak kasar, Bocah. Enyahlah dari sini, club ini sedang di sewa seorang pengusaha kaya raya,” ucap salah seorang dari mereka.
Bug
Bogem Leon melayang ke wajah pria yang menjawab dan menyebutnya bocah itu. Dan itu membuat keributan di sana, hingga beberapa orang pria memakai pakaian hitam-hitam dengan jaket kulit hitam keluar dari sana. “Biarkan gue masuk!” walau ucapan Leon terlihat tenang, tetapi menyiratkan sebuah perintah yang tak ingin di bantah. Beberapa dari mereka merasa bergidik melihat tatapan Leon, tetapi mereka tetap berusaha melawan.
“Usir saja,” ucap salah seorang dari mereka.
“JANGAN HALANGI GUE!” Leon melawan pria berbadan besar itu di depan pintu, hingga beberapa lagi muncul dan menyerbu Leon membuatnya tersungkur ke tanah karena pukulan seseorang. Saat hendak mengeroyok Leon, Datan datang.
“Stopppp!” Datan berdiri di depan tubuh Leon yang tersungkur. Beberapa penjaga itu memegang kayu balok untuk menyiksa Leon. “Ini teman gue, tolong maafkan dia. Dia sedang tidak baik-baik saja.”
“Bawa teman loe pergi dan jangan biarkan dia kembali,” ucap salah satu dari mereka dan Datan segera membawa Leon.
Leon menepis lengan Datan yang merangkul dirinya, ia berjalan ke sebrang club dan berdiri di sana dengan bersandar ke sebuah pohon. “Ayo pulang, loe mau ngapain lagi sih di sini?” tanya Datan.
“Loe pulang saja, gue masih ada urusan!” ucap Leon terdengar sangat dingin.
“Gak bisa, loe tanggung jawab gue. Ayo balik,” ucap Datan.
“GUE BILANG LOE YANG PERGI!” bentak Leon benar-benar emosi. “Gue akan tunggu k*****t-k*****t itu keluar.” Leon mengepalkan kedua tangannya kuat hingga memutih.
“Ini konyol! Kasus ini sedang di tangani om Jack dan om Daniel. Loe tinggal nunggu hasilnya. Nih yah, gue telfon om Jack sekarang.” Datan hendak menghubungi Jack tetapi di tahan Leon membuat Datan mengernyitkan dahinya bingung.
“Gue yang akan menghabisi mereka dengan tangan gue sendiri,” ucap Leon dengan sangat tajam dan memperlihatkan tatapan menyeramkannya membuat Datan bergidik dan segera mengurungkan niatnya.
“Lalu loe mau tetap berdiri di sini sampai pagi?” tanya Datan. Leon tak menjawab, kedua kepalan tangannya di masukan kedalam saku celananya. Tatapan tajamnya terarah ke arah club itu.
“Astaga keras kepala, benar-benar si Ice King!” gerutu Datan yang duduk di trotoar dengan kesal, dia mengirim pesan ke sang daddy yang sejak tadi mencarinya bersama Dhika dan brotherhood yang lain. “Apa Azzura begitu berarti buat loe?” tanya Datan tanpa menoleh.
“Hmm,”
Gumaman Leon sudah mewakilkan jawaban dari pertanyaan Datan.
Le, kamu tau. Hidup ini sebenarnya sangat sulit dan rumit, tetapi aku merasa akhir-akhir ini hidupku berwarna dan lebih bermanfaat…
Dasar kau, Prince perfectionist yang tak mau ada kesalahan. Aku sudah bilang tak apa, yang penting gambarnya gak rusak…
Aku tidak pernah berpacaran, berteman saja aku tidak pernah. Apalagi berteman dengan seorang pria. Mmm,, tapi ngomong-ngomong kenapa kamu berteman denganku, Le??
Kepingan kenangan dirinya bersama Azzura terbesit di benaknya begitu saja. Detak jantungnyapun terasa berdetak lebih cepat. ‘Apa kamu ada di sini, Ra? Bisakah aku melihatmu,’ batin Leon.
Syuuuttt
Leon berbalik saat hembusan angin menerpa kepala bagian belakangnya. ‘Aku tau kamu ada di sini,’ batin Leon.
Ia mencoba memejamkan matanya, merasakan hembusan angin lembut itu yang seakan membelai wajahnya. ‘Aku tau kau disini, Ra. Aku mampu merasakan kehadiranmu.’ Leon membuka matanya, tetapi tak ada apapun di hadapannya. Ia melirik ke sekitarnya tetapi tak ada siapapun, selain Datan.
“Loe cari siapa?” tanya Datan dengan kernyitannya.
“Bukan siapa-siapa.” Leon kembali terdiam dan menatap tajam ke arah club itu. Ia berdiri dalam kegelapan, di depan sebuah pohon. Siluet tajamnya masih terarah ke arah club itu, wajahnya terlihat muram dan seakan siap mengeluarkan amarahnya. Datan tanpa sadar menelan salivanya sendiri melihat sosok Leon yang sangat menyeramkan. Dia berpikir salah sedikit, bisa mati dia karena jadi pelampiasan amukan Leon. Datan akhirnya memutuskan untuk diam tanpa kata dan memainkan game dalam handphone nya, berusaha membuat suasana diri dan hatinya relax.
Satu jam...
Dua jam...
Datan sudah tak betah duduk di sana, sesekali dia menepuk kulitnya karena gigitan nyamuk. “Astaga lama-lama gue bisa hilang keperjakaan nih, di cumbuin nyamuk nyamuk gila,” gerutu Datan tetapi Leon tak bergeming. Tak ada yang membuka suara, keduanya sama-sama terdiam. Datan sudah beberapa kali menguap lebar, sedangkan Leon masih tak bergeming di tempatnya menutupi dirinya di kegelapan yang melingkupinya. Datan sesekali melirik ke arah Leon, dan berusaha mencairkan suasana tegang ini. “Apa rasanya begitu sakit? Gue sebenarnya gak paham apa itu cinta, tetapi gue tau bagaimana rasanya kehilangan.”
“Jauh lebih sakit,” jawabnya. Datan memperhatikan Leon yang bersembunyi di kegelapan. Ada rasa prihatin melihat kondisi sahabatnya itu. Dulu ia berpikir kalau Leon tidak akan pernah bisa seperti ini hanya karena seorang wanita. Keteguhan Leon yang membentengi dirinya dari para wanita membuat Datan merasa yakin kalau sahabatnya itu tidak akan pernah merasakan cinta yang mendalam, karena Leon seakan tak memiliki hati. Ia pikir hati Leon memang sudah membeku hingga sulit mencair. Tetapi sekarang ia harus meralat semua pemikirannya itu, Leon ternyata memang sedang menunggu. Menunggu wanita yang bisa mengetuk hatinya dan perlahan menembus bentengnya dan mencarikan hatinya yang beku. Tetapi ia tak habis pikir dengan takdir tuhan yang mampu membuat sosok yang awalnya beku dan tak terpengaruh apapun. Sekarang malah terlihat begitu rapuh hanya karena satu wanita. Ini sungguh ironi...
Leon mengeluarkan kalung yang sedang ia gunakan dengan gantungan sebuah cincin berlian. “Bahkan cincin ini belum genap 24 jam ada di jari manisnya.” Walau terdengar lirih seperti berbisik, tetapi Datan mampu mendengarnya. Ia melihat mata tajam itu bersinar seakan ada sesuatu yang menggantung di sana. Ia tau Leon terlihat menahan air matanya supaya tak menangis lagi. Aktivitas mereka terhenti saat mendengar beberapa suara dan derum motor RX-King yang memekakan suara. Leon dan Datan sama-sama menoleh ke sumber suara, dan terlihat Bejo Cs baru saja keluar dari club itu dengan membawa beberapa wanita. “Ayo ikuti,” ucap Leon segera beranjak diikuti Datan.
Leon yang menyetir mobil Datan, sedangkan Datan duduk di sampingnya dengan tegang sambil mencengkram seatbeltnya. Leon semakin gila membawa mobilnya mengejar mereka semua. Datan memang terbiasa membawa mobilnya ngebut, bukankah ia seorang pebalap juga. Tetapi kalau posisinya yang di setirin oleh seseorang yang terlihat emosi, itu berbeda lagi. Datan terus merapalkan doa untuk keselamatannya, ia belum menikah dan ingin merasakan surga dunia itu. Sesekali ia melirik ke arah Leon yang menyetir mobilnya dengan muram. Datan menelan salivanya sendiri dan semakin mencengkram kuat seatbeltnya. Ia berusaha mempercayai sahabatnya itu untuk tidak mengajaknya bunuh diri bersama.
Tak lama mereka sampai di dataran tinggi, dimana ada sebuah gudang tak jauh dari jalan raya. Bejo Cs memasuki area itu, membuat Leon memarkirkan mobilnya dan beranjak hendak turun.
“Le, loe yakin?” tanya Datan membuat Leon menatap ke arahnya dengan tajam.
“Loe pulang saja, tidak usah pikirkan gue.” Leon beranjak menuruni mobil meninggalkan Datan.
“Le, tunggu.” Datan mengejar Leon dan menahan lengannya. “Loe mau bunuh diri dengan menyerang mereka semua dalam keadaan loe yang sepeti ini?”
“Itulah yang gue inginkan! Gue tidak akan berhenti sebelum berhasil membunuh mereka, atau mereka yang membunuh gue!”
Datan melongo kaget mendengar penuturan Leon. Leon terlihat berlalu pergi, sebelum Datan mengutarakan pemikirannya. Ia hendak mengikuti Leon, tetapi handphonenya berdering,
“Ya Tuhan!” Datan berlari menuju mobilnya dan mengangkat telpon dari sang Daddy.
Leon berjalan mendekati gudang itu dengan mengepalkan kedua tangannya kuat. Iya mendengar tawa dari dalam gedung itu. Dan itu semakin menyulut amarahnya, bisa-bisanya mereka masih bisa tertawa seperti itu. Ekor matanya tak sengaja menangkap sebuah kayu bekas yang cukup kuat. Leon mengambilnya dan memukulnya pelan ke tangannya untuk memastikan kalau kayu itu cukup kuat untuk memukul seseorang. Merasa cukup, ia kembali berjalan mendekati pintu gudang itu.
Brak
Leon menendangnya hingga pintu terbuka lebar. Dan semua orang yang berada di dalam sana menatap Leon dengan kekagetan dan kekesalan mereka. “b******n ini lagi!” amuk Bejo melepaskan wanita yang sedang duduk di atas pangkuannya. “Mau apa loe, Bocah sialan?”
Leon menatap mereka semua dengan tatapan elangnya, matanya sudah menggelap dan memerah karena emosi. Urat-urat di tangan, kening dan lehernya sudah menegang karena emosinya. Tatapan tajam itu menatap mereka semua seperti seekor singa yang siap menerjang mangsanya. Aura menyeramkan itu perlahan menguar keluar dari tubuh Leon yang masih membeku di tempatnya. Dan itu membuat mereka sedikit ragu dan bergidik ngeri, bahkan para wanita sudah sangat ketakutan.
“Serang b******n tengik ini!” pekik Bejo yang berusaha tak terintimidasi oleh tatapan tajam Leon yang seakan ingin menghunus mereka semua.
Anak buahnya ada sekitar 10 orang, mereka langsung menyerang Leon secara bersamaan. Dengan keahlian yang di milikinya, Leon memukul mereka semua dengan tinjuan, tendangan dan juga kayu yang ia pegang tanpa ampun. Ia bahkan tak merasakan apapun saat salah satu dari mereka memukul punggungnya hingga tersungkur ke lantai. Leon kembali berdiri dan memukul mereka semua tanpa ampun. Gerakan Leon terhenti saat akan membunuh satu penjahat lagi, karena Bejo mengacungkan pistolnya tepat di belakang kepala Leon.
“Kau ingin mati, sialan!” ucap Bejo.
Leon masih diam membeku. Hingga jeritan Azzura kembali terngiang di telinganya. Leon menunduk dan memukul kaki Bejo dengan kayu itu membuat peluru itu meleset ke salah satu anak buahnya.
“Leon!” Datan berdiri di ambang pintu dengan nafas terengah. Semuanya sudah tepar kecuali Bejo, dan wanita yang ada di sana menjerit ketakutan. Leon menendang pistol itu menjauh dari Bejo dan menarik kerah baju Bejo hingga berdiri.
“Lawan gue layaknya pria sejati, satu lawan satu tanpa senjata!” ucap Leon penuh penekanan.
“Kau meremahku, Bocah Sialan!” Bejo memukul perut Leon hingga ia mundur beberapa langkah.
“Le.” Datan hendak melawan Bejo tetapi di tahan Leon.
“Pergi dari sini!” ucapnya penuh penekanan.
“Le, gue gak bisa ninggalin loe!” ucap Datan.
“Pergi Datan!” pekiknya.
“Tidak,”
Dor
Datan tersentak saat Leon menariknya menjauh hingga tembakan Bejo kembali meleset. “Berani sekali kalian berdebat saat melawanku,” ucapnya diiringi seringai seraya mengacungkan pistolnya.
Leon berjalan mendekati Bejo tanpa takut pistol yang Bejo arahkan ke dadanya. Datan masih mematung dengan tatapan syok dan ngeri. Bejo mendadak ketakutan saat aura kegelapan dan menyeramkan keluar dari tubuh Leon. Ia malah semakin berjalan mundur sambil mengacungkan pistol. Tangannya sedikit bergetar untuk menekan pelatuknya. Saat jarak mereka hanya berjarak beberapa meter saja, Bejo menekannya tetapi tak ada peluru yang keluar dari pistol itu. Datan bahkan sudah menahan nafasnya karena takut pistol itu kembali mengeluarkan pelurunya dan menembus d**a Leon.
Sial! Maki Bejo. Ia melempar pistol itu dan hendak berlari tetapi Leon lebih dulu menangkap kerah bajunya dan menjatuhkan tonjokannya di wajah Bejo. Leon memukuli wajah Bejo dengan ganas dan tanpa ampun. Darah segar keluar dari mulut dan hidung Bejo tetapi Leon tetap tidak berhenti. Di dalam otaknya terus berputar kejadian Azzura yang di siksa Bejo.
“Le, cukup! Loe bisa membunuhnya.” Datan menahan lengan Leon yang terus memukuli wajah Bejo yang sudah hancur dan penuh darah. Leon mendorong Datan hingga terjatuh dan tersungkur ke lantai. “Leon!” pekiknya.
Leon mengambil tali yang kebetulan ada di sekitar kursi dimana para wanita berpakaian seksi itu berada dengan sangat ketakutan. Leon menarik kedua tangan Bejo dan mengikatnya dengan kuat. Ia lalu menarik Bejo yang setengah sadar dan kesakitan itu keluar dari dalam gudang membuat Datan mengikutinya. Ia berjalan menuju motor milik Bejo, ia ingat saat Bejo dengan kejamnya menyeret tubuh Azzura. Ia mengikat tali itu ke ujung motor. Bejo sudah memberontak tetapi tubuhnya tak mampu lagi di gerakkan karena rasa sakit. Bejo berteriak meminta tolong, hingga Leon mengambil kain yang diikatkan di kepala Bejo. Ia menyumpal mulut Bejo dengan itu membuatnya tidak mampu mengeluarkan suaranya lagi.
“Leon! Loe gila! Loe bisa membunuhnya!” Datan menarik kerah baju Leon hingga menatap ke arahnya. Datan mampu melihat tatapan tajam dan gelap milik Leon. Datan merasa ini bukanlah Leon yang selama ini ia kenal. “Le sadarlah!” ucapnya tetapi Leon menampilkan wajah datar tanpa perasaan.
“Itu yang gue inginkan!” ucapnya mendorong tubuh Datan hingga menjauh darinya. Bejo yang semakin ketakutan, terus berontak mencoba melepaskan kedua tangannya yang di ikat.
Brrm brrm
Leon menstater motor RX-King itu, Bejo semakin memberontak hingga Leon menginjak gigi dan menekan kupling motor. Bejo langsung berlari karena tertarik oleh motor yang di gunakan Leon.
“Sial!” Datan berlari menuju mobilnya untuk mengejar Leon seraya menghubungi Okta. Leon awalnya menjalankan motornya dengan perlahan membuat Bejo masih kuat berlari. Hingga bayangan saat Azzura menjerit dan meringis karena tubuhnya bergesekan dengan aspal. Iapun langsung menekan gas motor lebih kencang membuat Bejo kewalahan dan kakinya tersandung. Tubuhnya terjatuh ke aspal. Bejo menjerit kesakitan yang tertahan karena sumpalan itu. Ia masih menekan gas motornya dengan kencang hingga mengeluarkan suara berisik dari motor RX-King itu. Tubuh Bejo terseret dan bergesekan dengan aspal hitam itu membuat darah berceceran sepanjang jalan. Leon seakan merasa tak terganggu melakukan itu. Datan yang melihat itu semakin meringis ngilu dan ingin muntah. Tak hanya Datan, ternyata di belakang mereka, ada satu mobil Range Rover milik Daniel dimana di dalamnya ada kelima papa Brotherhood. Jack dan anak buahnya langsung menuju ke gudang tadi untuk meringkus semua anak buah Bejo.
“Astaga itu si Leon, ada turunan Psycopath,” ucap Okta bergidik ngeri. Dhika tak menjawab dan malah meminta Daniel mempercepat lajunya untuk menyusul Leon. Leon menatap tajam ke depan, bayangan wajah Azzura seakan berada di sepanjang jalannya. ‘Ini untukmu, Azzura!’
Leon melihat sebuah belokan tajam yang menanjak, di bawahnya pastilah jurang karena terlihat beberapa pohon menjulang dari bawah sana.
“Oh Sial!” pekik Dhika. “Daniel cepat lajunya dan hentikan Leon!” Dhika seakan sadar kemana arah pikiran Leon.
“Iya,” jawab Daniel memindahkan perseling dan menginjak gas mobilnya.
“Oh Sial Leon! Loe mau ngapain!” gumam Datan yang tau arah Leon akan kemana. “Ayolah Srigala hitamku, kita cegah Leon. Tunjukan kemampuan loe, Werewolf!” ucap Datan pada mobil sport hitamnya. “Saatnya sekarang!” Datan menyusul Leon dan men-drip mobilnya sekaligus hingga ujung mobilnya menabrak pembatas jalan, dan gerakan itu membuat Leon mengerem motornya mendadak karena Datan menghentikan mobil di depannya.
Brak
Sebuah kecelakaan kecil terjadi, tubuh Leon terjatuh dari motor karena menabrak mobil Datan.
“Sialan loe Datan!” pekik Leon saat sudah berdiri kembali. Datan turun dari mobilnya dan meringis melihat kondisi mobil kesayangannya yang ringsek di bagian pintu penumpang belakang. “Oh Srigala hitam kesayangan gue,” gumamnya.
Leon seakan kerasukan, ia hendak memukul Datan tetapi di tahan Dhika. “Lepasin!”
“DIAM LEON!” pekik Dhika seraya mendorong Leon hingga tersungkur. Leon terdiam dengan masih mengatur nafasnya.
“Istigfar Leon!” ucap Dhika.
“Bejo sudah tewas,” ucap Angga yang memeriksa kondisi Bejo.
Sepanjang perjalanan 2Km darah Bejo berceceran, mungkin juga beberapa kulitnya. Karena kondisinya saat ini sangat mengenaskan. “Istigfar Leon,” ucap Dhika mulai tenang. “Dimana otak kamu? Kamu membunuhnya!” Dhika menunjuk ke jasad Bejo yang sedang di tangani Angga dan brotherhood yang lain. Kondisinya sungguh mengenaskan, bahkan kulitnya banyak yang mengelupas karena bergesekan dengan aspal.
“Memang itu yang Leon inginkan,” jawabnya dengan sangat datar seakan tidak memperdulikan dan terpengaruh. Ia lalu berdiri dari duduknya. Ia sedikit merapihkan jaketnya yang kotor. Bahkan ia tak memperdulikan rasa sakit di tubuhnya karena bagaimanapun tabrakan barusan cukup keras. Beberapa luka terlihat di tubuh Leon.
“Apa sekarang kamu puas, hm?” tanya Dhika dengan tajam, membuat Leon menatap ke arahnya tak kalah tajam juga.
“Aku tidak akan pernah puas! Aku akan puas kalau jantung ini berhenti berdetak di dadaku!” pekik Leon membalas tatapan Dhika dengan tajam, seakan menantang sang Papa.
“Apa maksudmu Leon? Azzura sudah mendonorkannya untukmu, ia berkorban untukmu!”
“Leon tidak butuh pengorbanannya, Pa. Leon tidak butuh!” pekik Leon terlihat sangat frustasi. Matanya memerah menahan amarahnya.
“Jangan jadi seorang pecundang Leon!” Ucapan Dhika membuat Leon mengernyitkan dahinya. Ia membalas tatapan Papanya itu dengan tak kalah tajam.
“Papa pikir aku seorang pecundang? Dengan aku menerima donor jantung ini dan membiarkan wanitaku meninggal, itu sudah pecundang!” pekiknya. “Dan Papa, Papa begitu egois! Karena aku adalah putramu, jadi kau lebih menyelamatku dari pada Azzura!”
“Jaga ucapanmu LEON!” Dhika terpancing emosi mendengar penuturan Leon barusan.
Datan, bersama keempat sahabat Dhika hanya mampu memperhatikan mereka berdua. Yang memiliki Gen dan karakter yang sama. Sama-sama keras dan memiliki aura yang juga menyeramkan,,,
“Apa yang salah, Pa? Apa Papa tersinggung, eh? Kenyataannya begitu, bukan?” tanya Leon terlihat sangat terluka, ia menekan setiap katanya. Dhika walau terlihat tenang, tetapi semuanya tau Dhika terlihat menahan amarahnya. Siluet tajam dan aura menyeramkan itu mampu mereka rasakan.
Mereka berdua yang memiliki Gen yang sama, seakan mendominasi area ini dengan kegelapan. Tak ada yang berani menegur dan memisahkan mereka berdua. “Kamu meragukan sumpah seorang Dokter? Kamu gak tau apa yang terjadi!” desis Dhika. “Saat itu kondisimu koma karena jantungmu tidak berfungsi. Kamu membutuhkan donor Jantung secepatnya. Dan Azzura,” Dhika terlihat menghela nafasnya. “Terjadi pendarahan, akibat tusukan di perutnya yang merobek usus besarnya dan pembuluh darah. Dia harus melakukan operasi, tetapi saat itu golongan darah Azzura tak ada stock. Kami harus mencari pendonor darah yang darahnya sesuai dengan Azzura!”
“Kami semua berjuang untuk mencari donor untuk kalian berdua. Bisa kamu bayangkan Leon, posisi aku sebagai Ayahmu dan juga seorang Dokter. Aku harus mencari donor jantung sekaligus darah, karena aku menginginkan keduanya selamat!”
“Bertahun-tahun aku menjadi seorang Dokter, dan kali ini aku merasa begitu gagal. Aku menyesal mendengar keputusan Azzura.” Leon terdiam mematung mendengar penuturan Dhika. “Karena aku tidak mampu melakukan apapun untuk menyelamatkan kalian berdua.” Tersirat penyesalan dari ucapan Dhika. “Kalau kamu pikir aku lebih mementingkan kamu karena kamu putraku, kamu salah. Aku lebih dulu memperjuangkan Azzura, karena kondisinya sangat kritis. Dia bisa sadar dan berbicara, tetapi kondisi tubuhnya semakin melemah. Dia harus segera di operasi!”
“Sepertinya dia menyadari apa yang terjadi pada tubuhnya, maka hari itu. Sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya dia memintaku mendonorkan jantungnya untukmu. Dia bilang setidaknya salah satu dari kalian ada yang selamat, dan dia ingin terus hidup di dalam diri kamu. Dia bahagia karena sudah memberimu kehidupan!” jelas Dhika. Ia memejamkan matanya mencoba mengatur emosinya. Berusaha menenangkan dirinya.
“Dhika benar Leon, aku dan Papamu berusaha mencari donor darah untuk Azzura. Bahkan lebih giat dari mencari donor jantung untukmu, karena saat itu kondisimu bisa menunggu, tetapi tidak dengan Azzura,” ucap Angga.
Hening...
Tak ada yang membuka suara di antara mereka. Leon menundukkan kepalanya, dengan air mata yang luruh membasahi pipinya. “Tetapi setiap mendengar detakan ini, hatiku terasa sangat perih dan sakit.”
“Aku harus bagaimana Pa? Kalau Papa melarangku menghentikan detak jantung ini, lalu aku harus bagaimana? Rasanya sangat sakit,” gumamnya saat amarahnya sudah surut.
Dhika berjalan mendekati Leon, ia menarik Leon ke dalam pelukannya. “Jalani, jangan sia-siakan pengorbanan Azzura.” gumam Dhika mengusap kepala Leon yang menangis di pelukannya.
“Rasanya sangat menyakitkan, hikzz...hikzz...hikzz...” mendengar penuturan Leon, air mata Dhika ikut luruh membasahi pipinya. Ini seperti de javu untuknya.
“Jangan pernah menjadi pecundang seperti Papa, jalani hidupmu. Dan tunjukkan pada Azzura kalau kamu bisa menjaga jantung Azzura dan tidak menyia-nyiakan pengorbanannya.” Dhika mengucapkannya dengan air mata yang luruh. Semua sahabatnya ikut sedih melihat mereka berdua, mereka sadar Dhika seakan melihat dirinya di masalalu pada diri Leon.