Episode 6

4318 Kata
  Azzura tengah duduk di teras rumahnya sambil memperhatikan adik-adiknya yang sedang bermain. Sudah seminggu Leonard tak memberi kabar padanya, entah apa yang terjadi. Azzura merasa Leon tak bersungguh-sungguh padanya. Setelah kata-katanya yang terakhir, Leon tidak pernah datang lagi menemui Azzura ataupun menghubungi Azzura. 'Kenapa aku malah merasa kehilangan dia?' batin Azzura. "Kak, Kakak kenapa?" tanya Irsyam, adik lelakinya. "Tidak apa Irsyam, Kakak baik-baik saja," ucap Azzura dengan senyumannya. "Kakak kangen yah sama Kak Leon. Soalnya udah lama dia gak datang kesini lagi," ucap Irsyam, dan Azzura hanya tersenyum kecil. "Kakak suka yah sama kak Leon?" "Sepertinya, tapi Kakak merasa tak pantas untuknya. Kamu tau kan keadaan kita jauh berbeda." cicit Azzura. "Tapi kalau benar cinta, kenapa nggak Kak?" ucap Irsyam. "Kamu tau darimana tentang cinta, hmm?" ucap Azzura memicingkan matanya membuat Irsyam terkekeh kecil. "Baiklah, Kakak akan pergi ke AMI hospital mengantarkan pesanan kue ke cafetaria. Kamu jaga adik-adik kamu yah," ucap Azzura dan membuat Irsyam mengangguk paham. Azzurapun beranjak ke dalam rumah, membereskan semua toples berisi kue dan menyimpannya di jok belakang motor. Azzura menyambar jaket kulitnya dan memakai helm merah miliknya.  "Kalian jangan kemana-mana, Kakak gak lama." ucap Azzura pada adik-adiknya. "Siap Kak," jawab ke sepuluh adiknya. Brrmm brrmmmm Azzura langsung menancap gas menuju AMI Hospital.  Selama di jalan, otak Azzura terus terbayang wajah tampan Leon. Dia bahkan sampai harus menghentikan motornya di pinggir jalan karena merasa tak bisa fokus membawa motor. "Ya Tuhan, kenapa denganku?" Azzura menghela nafasnya. "Fokus Azzura, ada apa denganmu. Kenapa terus memikirkan Leon, sudah jelas dia tidak serius denganmu. Sudahlah, jangan banyak bermimpi. Lupakan Leon, lupakan!" Azzura bergumam sendiri dan sedikit memukul kepalanya. "Bismillah," ucap Azzura dan kembali menjalankan motornya. Tak butuh waktu lama, motor Azzura sudah terparkir manis di parkiran rumah sakit. Azzura segera mengambil tiga toples berisi kue kue itu. Dia melangkah memasuki gedung AMI hospital, dengan menyapa seorang security di depan pintu. Azzura berjalan menuju Cafetaria, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Leon keluar dari lift dengan seorang wanita cantik. Azzura segera bersembunyi ke sudut lain dengan tatapan yang terus mengarah ke Leon yang terlihat tengah berjalan menuju keluar rumah sakit. "Le tunggu," ucap wanita itu yang tak di kenali Azzura. “Wanita yang sama, yang datang ke bengkel Leon dan juga yang memeluk Leon saat pertandingan basket.” gumam Azzura. “Apa ini alasannya, kenapa Leon tak mendatangiku lagi. Apa selama ini, Leon hanya bermain-main denganku? Apa maksudnya semua ini?” gumamnya terlihat sangat terluka. 'Sadarlah Azzura, siapa kamu yang berharap di kejar-kejar oleh Leon. Lihatlah perbedaan kalian, bahkan untuk berjalan berdampingan saja itu tidak mungkin. Perbedaan kalian sangatlah jelas,' batin Azzura. Tak terasa setetes air mata luruh membasahi pipinya. Azzura membeku saat merasa air mata yang luruh membasahi pipinya. Sudah hampir 5 tahun Azzura tak pernah menangis, sesakit apapun tekanan dan cacian yang dia dapat. Dia telan bulat-bulat tanpa harus menangisinya. "Kau membuatku menangis," gumam Azzura memejamkan matanya dan seluruh air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya tumpah membasahi pipinya. "Kenapa kamu lakukan ini, Leon?" gumam Azzura sangatlah terluka. ♠♠♠ “Papa, Leon ingin menikah.” Oho oho oho Dhika tersedak makanan, begitu juga Thalita dan Adrian yang melongo kaget. Saat ini mereka semua tengah menikmati makan malam mereka, dan Leon tiba-tiba saja mengatakan itu. “Apa maksud kamu, Leon?” tanya Dhika setelah meneguk minumannya. “Leon ingin menikahi Azzura,” ucap Leon dengan mantap. “Kamu? Leon, kamu masih 20tahun,” ucap Thalita. “Memang ada yang salah Ma? Leon merasa sudah mampu menjadi seorang kepala keluarga dan juga merasa sudah mampu menafkahi istri Leon kelak.” “Dengar Nak, penikahan itu bukan masalah sepele. Penikahan bukanlah ajang untuk bemain-main.” “Leon tidak ingin bermain-main Pa, Leon ingin serius pada Azzura. Dia menolak menjadi kekasih Leon karena dia belum mempercayai Leon. Makanya Leon akan melamarnya, dan menjadikannya sebagai istri, agar dia mau pecaya.” “Sayang, kenapa buru-buru sekali?” tanya Thalita. “Pernikahan tidak sesimple yang kamu pikirkan, Leon.” Dhika terlihat menghela nafasnya. “Aku tau Pa, Ma. Tetapi Leon yakin mampu menjalaninya,” ucap Leon tetap ngotot membuat Dhika dan Thalita saling menatap satu sama lain. “Leon hanya ingin restu kalian saja,” ucap Leon. “Kami tidak masalah dengan Azzura,” ucap Thalita. Papa tidak pernah mengaturmu, Son. Kamu mau memilih wanita manapun juga, Papa akan selalu menyetujuinya. Tapi masalah pernikahan, menurut Papa masih terlalu awal.” “Cobalah untuk dekat dulu dengan Azzura, ini serba mendadak. Apalagi kondisi keluarga kita sedang tidak baik. Jen, Vino sedang dalam masalah.” “Aku tau Ma, tapi aku tidak ingin kehilangannya.” Leon menatap kedua orangtuanya dengan tatapan nanar. “Sekali ini saja, Leon mohon restui Leon, Ma, Pa.” “Leon sangat mencintainya, dan Leon tidak ingin melepaskannya. Leon ingin memilikinya,” ucap Leon membuat Dhika dan Thalita menghela nafasnya. “Bagaimana kalau pertunangan dulu?” tanya Dhika. “Itu lebih bagus, bagaimana Leon?” tanya Thalita yang setuju dengan pendapat suaminya itu. “Baiklah, tetapi Leon tetap ingin menikahi dia secepatnya.” Dhika dan Thalita hanya mampu menghela nafasnya. Sifat Leon begitu keras kepala, tak berbeda jauh dengan biangnya. “Oke, tapi tidak di bulan ini.” ucap Dhika akhinya membuat Leon tersenyum senang. Thalita juga tak mampu berbuat apa-apa, keputusan tetap ada pada Dhika. ♠♠♠ Malam itu Leon datang ke rumah Azzura. Azzura sedikit terpekik saat melihat Leon berdiri di depan pintu rumahnya dengan memakai jaket kulit hitamnya. Azzura menutup pintu rumahnya, dan berjalan mendekati Leon. “Ada apa?” tanya Azzura berusaha bersikap biasa saja, walau jantungnya sudah berdebar kencang. “Aku ingin berbicara denganmu,” ucap Leon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. “A-apa?” tanya Azzura berusaha mengendalikan dirinya. Leon berjalan ke hadapan Azzura yang terlihat tak ingin menatapnya. Ia berdiri tepat di hadapan Azzura membuat Azzura menengadahkan kepalanya menatap manik mata Leon. Jarak mereka berdua begitu dekat, Leon menghapus jarak di antara keduanya. “Leon-“ Leon membelai wajah Azzura dengan sebelah tangannya, lalu tangannya turun memegang tangan Azzura. Tangan kanannya yang masih di dalam saku jaketnya, terulur dengan menggenggam sesuatu. Azzura mengenyitkan dahinya saat Leon menyematkan cincin di jari manisnya. “Menikahlah denganku,” Deg Azzura membelalak lebar menatap Leon. Apa dia salah dengar? “Ini bukti kalau aku tidak sedang main-main denganmu, Azzura.” “Tapi-“ “Aku sungguh mencintaimu, kamu wanita pertama yang membuatku seperti ini.” “Leon, aku-“ “Aku tau kamu kaget, tetapi aku sungguh ingin memiliki hubungan yang serius denganmu. Kalau sebagai kekasih tidak kamu terima, maka terima aku sebagai suamimu.” Azzura di buat Speechless dengan kata-kata Leon. Dia tidak tau harus menjawab apa, saat ini otaknya mendadak macet untuk mencerna semua ucapan Leon. ‘Lalu bagaimana dengan wanita yang kemarin bersama Leon? Mereka terlihat begitu mesra,’ batin Azzura. “Bagaimana Az?” “Kenapa aku, Leon?” “Karena hati aku memilih kamu,” ucap Leon membuat Azzura menundukkan kepalanya. Ia menatap sebuah cincin berlian yang tersampir cantik di jari manisnya. “Aku akan menjamin kehidupanmu dan adik-adikmu, kelak.” Azzura menengadahkan kepalanya saat Leon merapihkan rambutnya. “Leon, aku-“ Azzura mendadak bingung harus menjawab apa. Ada rasa bahagia, bercampur bimbang. “Sebenarnya aku belum memikirkan hubungan sejauh ini. Sebelumnya aku belum pernah berpacaran, dan jujur saja ini sangat mengagetkanku.” “Aku paham,” ucap Leon memegang kedua pundak Azzura. “Aku akan menunggumu.” “Ambil ini,” “Jangan di lepas.” Leon segera mencegah tangan Azzura yang hendak melepaskan cincin itu. Azzura kembali menatap manik mata Leon, “Jangan di lepas. Aku akan menunggumu besok malam tepat pukul 7 di taman.” “Le-“ Leon menyentuh bibir Azzura dengan telunjuknya. “Aku menunggumu, dan putuskan keputusanmu.” Leon mengecup kening Azzura dan beranjak pergi meninggalkan Azzura yang mematung di tempatnya. Azzura menatap punggung lebar Leon dengan nanar. Ia merasa tubuhnya limbung karena lamaran Leon yang sangat mendadak. Ia memilih duduk di teras rumahnya dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang ke kejadian dimana mereka pertama kali bertemu. Ia juga menunduk menatap cincin di jari manisnya yang terlihat sangat indah. Setetes air mata luruh membasahi pipinya.  Perasaannya sungguh dilema, ia takut akan terjatuh ke dalam jurangnya cinta kalau ternyata Leon hanya mempermainkannya. Ini sangat awal sekali, bahkan belum genap dua bulan mereka saling mengenal.  'Aku tak bisa memungkirinya, kalau aku mencintai Leon.' batin Azzura. ♠♠♠ Leon sudah rapi dengan kemeja putihnya di padu dengan jas hitam miliknya, Ia menambah Jell khusus rambut agar rambutnya terlihat lebih teratur. "Oke Leon, saatnya meluluhkan hati Azzura," ucap Leon dengan sangat bersemangat. Dan tersenyum menatap dirinya sendiri di depan cermin. Leon melirik jam yang bertengker di tangannya. Masih satu jam lagi sesuai janji. Tetapi hatinya sungguh tak sabar menanti jawaban dari Azzura. "Mungkin aku langsung tunggu di tempat saja," ucap Leonard dan bergegas menyambar kunci mobilnya. Saat ini Leon sudah duduk di taman tempat dia dan Azzura bertemu. Leon terus melirik jam tangannya, waktunya sudah tepat. Tetapi Azzura masih belum juga datang. 'Aku harap kamu datang, ku mohon beri aku satu kesempatan,' batin Leon masih memegang sebucket bunga di tangannya. Leon terus melihat ke kanan dan ke kirinya siapa tau ada tanda-tanda kedatangan Azzura tetapi masih belum ada. ♠♠♠ Azzura kembali ke AMI hospital untuk mengantar kue kuenya lagi. "Hey," tepukan ringan di bahunya membuat Azzura menengok dan terlihat seorang wanita cantik tersenyum manis padanya. 'Dia wanita yang selalu bersama Leon. Apa mungkin dia kekasih Leon?' batin Azzura dan tersenyum kikuk. "Azzura kan? Masih ingat denganku, yang bertemu di bengkel Leon saat itu,” ucapnya membuat Azzura mengangguk. “Bisa kita berbincang sebentar," ucapnya dengan riang. 'Ada apa? Apa dia ingin menegurku atau melabrakku karena mendekati Leon?' batin Azzura. "Ada apa?" tanya wanita itu membuat Azzura menggelengkan kepalanya. Azzurapun mengikuti wanita itu untuk duduk di salah satu meja yang ada di cafetaria. "Kamu pasti bingung yah, kenalin namaku Leonna." ucap Leonna dengan riangnya. 'Jadi namanya Leonna, cantik seperti orangnya,' batin Azzura. "Kamu bingung yah, siapa aku?" kekehnya. "Aku Leonna kembarannya Leonard." Deg "Ke-kembaran?" gumam Azzura mengenyitkan dahinya. "Iya, kembarannya Leon. Kenapa kaget yah," kekehnya. "Kami memang bukan kembar identik, walau malas mengakuinya tetapi kenyataannya aku kembaran sekaligus adik beda 5 menitnya Leonard Pandu Adinata," ucap Leonna dengan lucunya membuat Azzura tersenyum lega. Hatinya sangat lega mendengar kalau wanita ini kembarannya bukan kekasih Leon. Pantas namanya mirip, Azzura tidak tau kalau Leon memiliki seorang kembaran. "Aku tidak tau kalau Leon punya kembaran," ucap Azzura. "Aku maklumi, soalnya ini juga awal perkenalan kita, saat itu kita tidak sempat berkenalan karena kamu terlihat terburu-buru.” Azzura tersenyum kecil pada Leonna. “Aku sudah menikah, jadi saat kamu ke rumah kita tidak bertemu lagi," jelas Leonna membuat Azzura manggut manggut. "Kamu hebat." ucapan Leonna membuat Azzura mengernyitkan dahinya bingung. "Maksud Mbak?" tanya Azzura. "Panggil saja Leonna, biar lebih akrab," ucap Leonna dan sekali lagi Azzura mengangguk. "Iya kamu hebat sudah bisa luluhin hati bekunya si Ice King." ucap Leonna. "Ice King?" tanya Azzura bingung. "Iya karena sikapnya yang sangat dingin ke semua wanita, termasuk hatinya. Di kampus dia terkenal dengan Ice King. Tetapi kamu berhasil mencairkan es balok itu." ucapan Leonna membuat Azzura tersipu. Ada bagian di dirinya yang menghangat dan bahagia. "Aku salut padamu, Azzura. Makanya aku begitu penasaran denganmu dan ingin mengenalmu lebih dekat," kekeh Leonna. "Aku hanya gadis miskin," cicit Azzura. "Sssstt, jangan mengatakan itu. Di keluarga kami tak ada yang berbeda, mau itu kedudukan, jabatan, tahta. Harta tak ada artinya di bandingkan kebahagiaan dan kehamonisan keluarga." ucap Leonna membuat Azzura terdiam membisu. "Mungkin aku salah mengatakan ini, tapi bukan maksud aku ikut campur hubungan kalian." Leonna memegang kedua tangan Azzura. "Aku sangat menyayangi kembaranku itu, dia sebagian jiwaku dan juga sebagian nyawaku. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga, walau dia tak mengatakan apapun. Tetapi aku bisa merasakannya, aku bisa merasakan kegelisahan di hatinya. Apapun itu, tapi tolong pertimbangkanlah dan percaya padanya.” Azzura menatap manik mata Leonna seakan mencari kebohongan di sana, tetapi tak ia temukan. “Sebelumnya dia belum pernah seperti ini pada seorang wanita," Jelas Leonna membuat Azzura Speechless. "Sahabatku saja, yang sudah mengejarnya dari sejak kecil tak pernah dia gubris. Seperti yang aku katakan tadi, Leon sangat dingin kepada setiap wanita tetapi lain kepadamu. Itu menandakan dia tulus dan serius padamu, Azzura." ucap Leonna. "Tolong bahagiakan dia." "Ta-tapi-" "De," teguran seseorang menyadarkan Leonna dan Azzura. "Hai Kak, maaf lama. Keasyikan ngobrol sama Azzura," ucap Leonna membuat Azzura melihat ke arah pria tinggi dan tampan di samping Leonna. "Azzura, kenalkan ini suamiku," ucap Leonna. "dan Kak, ini Azzura kekasihnya Leon," kekeh Leonna. "Eh, bu-bukan-" ucap Azzura. "Hay, aku Verrel." Verrel mengulurkan tangannya. "A-azurra," ucap Azzura menyambut tangan Verrel. "Mereka sudah menunggu kita, De." ucap Verrel yang di angguki Leonna. "Azzura, senang bisa mengobrol denganmu. Kami harus kembali, karena saudara kami ada yang di rawat di sini. Atau kamu mau ikut dengan kami," ajak Leonna. "Ti-tidak, terima kasih." ucap Azzura. "Baiklah kalau begitu kami permisi." Leonna beranjak dari duduknya. "Mari Azzura," ucap Verrel yang di angguki Azzura.   Iya, karena sikapnya yang sangat dingin ke semua wanita, termasuk hatinya. Aku suka memanggilnya es balok. Tetapi kamu berhasil mencairkan es balok itu.   Aku sangat menyayangi kembaranku itu, dia sebagian jiwaku dan juga sebagian nyawaku. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku, walau dia tak mengatakan apapun. Tetapi aku bisa merasakannya, aku bisa merasakan kegelisahan di hatinya. Apapun itu, tapi tolong pertimbangkanlah dan percaya padanya. Sebelumnya dia belum pernah seperti ini pada seorang wanita.   Sahabatku saja, yang sudah mengejarnya dari sejak kecil tak pernah dia gubris. Seperti yang aku katakan tadi, Leon sangat dingin kepada setiap wanita tetapi lain kepadamu. Itu menandakan dia tulus dan serius padamu, Azzura. Azzura masih membeku di tempatnya, kata-kata Leonna barusan terus berputar di kepalanya. "Apa ini berarti aku bisa bersama Leon?" gumam Azzura. Azzura melirik jam tangannya, “Jam setengah 9 malam. Ya tuhan,” pekiknya segera berlari menuju keluar rumah sakit. Selang 20 menit, Azzura datang dengan nafas yang tersenggal-senggal tetapi tak menemukan Leon. "Leon dimana yah," gumam Azzura. "Leon!" teriak Azzura tetapi tak ada tanda-tanda kedatangan Leon. "Apa Leon sudah pergi? Ya Tuhan, aku sangat terlambat," keluh Azzura terduduk di kursi taman dengan mengusap wajahnya gusar. Azzura melirik sebucket bunga yang tergeletak di sampingnya. "Apa ini milik Leon?" gumam Azzura mengambilnya dan mencium aromanya. 'Maafkan kebodohanku, aku bahkan sudah meragukan ketulusanmu.' Azzura segera mengeluarkan handphonenya dan mengirim pesan suara ke Leon. "Hy Leon, ini Azzura. Maafkan aku karena terlambat menyadari perasaanku sendiri. A-aku datang ke taman ini tetapi kamu sudah pergi. Entah kenapa rasanya aku tak ingin menunggu besok untuk mengatakan ini. Kamu harus tau satu hal, Leon. Kalau aku juga mencintai kamu, aku hanya terlalu takut untuk mengakuinya. Aku takut karena derajat kita begitu jauh berbeda. Aku takut tak sepadan dengan kamu, Leon. Aku hanya wanita miskin yang berusaha mencari uang untuk adik-adikku. Aku juga sedikit meragukan ketulusanmu, aku pikir kamu hanya ingin bermain-main." ucap Azzura dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Leon, aku ingin menikah denganmu.” Azzura terkekeh di tengah tangisannya. “Aku menerima lamaranmu, Leon.” Azzura yang sudah menangis segera menghentikan rekamannya. Ia menghapus air matanya sendiri dengan perasaan lega. Saat akan mengirim pesan suara itu, tiba-tiba saja 7 orang pria menghampirinya. "Wah, kebetulan sekali. Azzura!" ucap salah satu dari mereka. "Bos Bejo," gumam Azzura terpekik kaget dan segera memasukan handphonenya ke dalam saku celananya sebelum berhasil mengirimkan pesan suara ke Leon. Azzura segera beranjak pergi dengan membawa sebucket bunga itu tetapi naas, ke 7 pria berbadan besar itu menghalanginya. "Mau kemana kau, p*****r!" ucap pria yang di panggil Bejo tadi. "Aku bukan p*****r, dan di antara kita sudah tak ada apa-apa lagi," ucap Azzura dengan tajam hendak beranjak tetapi tangannya di cekal oleh Bejo. "Kau p*****r! kau kabur dariku saat aku suruh kau melayani tamuku!" pekiknya. "Aku bukan p*****r!" jerit Azzura. Plak Tamparan mendarat di pipi mulus Azzura, "bukan p*****r?" Tawa ketujuh orang itu pecah, "gara-gara loe yang buat pak Danu rugi besar di club. Dan gara-gara loe juga gue kehilangan pekerjaan gue!" amuknya membuat Azzura berjalan mundur. "Tapi aku tidak ingin menjual diriku!" ucap Azzura dengan tajam. "Aaarghh!" pekik Azzura saat rambutnya di jambak Bejo. "Kau bodoh! Kau sudah menandatangani kontraknya, Kau bersedia menjadi p*****r tetapi kau malah kabur dan merugikan pelanggan pertama loe, Jalang!" Amuknya membuat Azzura meringis kesakitan. "Sekarang loe harus terima akibatnya, p*****r seperti loe harus mendapatkan akibatnya!" seringai Bejo menakutkan. "Nikmati Jalang ini," ucap Bejo mendorong Azzura hingga tersungkur ke tanah. Semua anak buah Bejo sangat bersemangat dan mulai mendekati Azzura, tetapi Azzura yang memang jago dalam ilmu bela diri. Mulai melawan mereka semua, kecuali Bejo yang masih terdiam memperhatikan mereka. Tendangan,, Pukulan,,, Azzura kerahkan untuk melawan mereka, tetapi apa daya tenaga seorang wanita tak sebanding dengan tenaga ke 6 orang pria. Saat ini kedua tangan Azzura sudah di cekal oleh empat orang pria. "Lepasin gue!" Amuk Azzura terus berontak. Plak Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Azzura membuat bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar. "Berani sekali kau melawan, Jalang!" amuk Bejo. "Lepas!" Azzura meludahi wajah Bejo yang terus mendekatinya. Plak Tamparan kembali mendarat di pipi Azzura dengan dia yang mengusap wajahnya. "Awalnya gue hanya akan mengajak loe bersenang-senang. Tetapi sekarang gue berubah pikiran," ucap Bejo. "Gue ingin menyiksa loe, Jalang! Gue gak tertarik dengan tubuh p*****r seperti loe!" seringai Bejo menakutkan membuat Azzura menelan salivanya sendiri. “Ahh!” Penjahat itu mencekik Azzura membuat Azzura kesulitan bernafas. "kau wanita tak tau di untung!" pekiknya membuat Azzura semakin kesulitan bernafas, bahkan kedua kakinya sudah berjinjit. 'Tuhan tolong selamatkan aku, Leon. Kumohon datanglah,' batin Azzura terus memberontak. Ciiittt Leon mendadak mengerem mobilnya, perasaannya mendadak tak tenang. "Ada apa?" gumamnya. "Sepertinya terjadi sesuatu," gumam Leon dan merogoh handphonenya. Tak ada notif apapun yang masuk. "Apa aku hubungi Azzura? Perasaan ini bukan untuk Leonna sepertinya," gumam Leon dan segera menghubungi Azzura tetapi tak ada yang mengangkatnya. "Aku hubungi saja Irsyam," gumam Leon dan segera menghubungi Irsyam. Mata Leon membelalak lebar saat mendengar kabar dari Irsyam. Leon mengutuk dirinya sendiri yang terlalu pesimis dan malah pergi begitu saja. Ia segera membalikan mobilnya dan menginjak gas mobilnya menuju taman kota. Di taman kota, sebagian baju Azzura sudah sobek dan ia masih melakukan perlawan. Sampai Azzura akhirnya bisa kabur dan berlari, Azzura berteriak meminta tolong. Tetapi jalanan itu terlihat sangat sepi. Para penjahat mengejarnya menggunakan motor mereka. "Mau kemana kau wanita sialan!" gumam Bejo. Sret "Aaaaaarrgghhh!" Azzura tersungkur saat Bejo menyambit punggung Azzura dengan pisau, membuatnya tersayat cukup panjang dan dalam hingga darah segar keluar dari punggungnya. Azzura menahan kesakitannya dan kembali beranjak untuk berlari tetapi di tahan oleh mereka. "Kau mau kemana, hah sialan! Kau tau, aku suka sekali menyiksa Jalang sialan seperti loe!" Azzura kesakitan karena di tarik oleh pria psychopath itu menggunakan motornya, ia sudah lelah karena berlari dan tertarik olehnya. "Lepaskan!" Azzura sudah meringis kesakitan. Brug Tubuh Azzura di hempaskan begitu saja membuat tubuhnya terjatuh dan berguling di atas aspal. Bahkan kepalanya membentur trotoar. Ia sudah sangat lemah dan kelelahan, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Semua anak buah bejo hanya berdiam diri di belakang, membiarkan bosnya yang melakukan penyiksaan ini. Bejo terkenal preman terkejam dan terkenal kelainan, Bejo senang membunuh para p*****r atau jalang. "Aarrggghhhhh!" Jerit Azzura saat Bejo kembali menjambak rambutnya. 'Tuhan, apa ini akhir dari segalanya?' Batin Azzura. "Aku muak pada para p*****r yang so jual mahal!" amuknya. Jleb Azzura mematung, saat sesuatu yang tajam menusuk bagian perutnya. Darah segar mengalir keluar. Bejo kembali menstater dan menyeret Azzura, kulit Azzura yang mulus terluka karena bergesekan dengan aspal. Hingga sebuah mobil sport berhenti tepat di hadapannya dan dengan segera Bejo melempar tubuh Azzura membuatnya kembali berguling hingga ke hadapan mobil itu. Leon yang sudah sangat emosi menuruni mobilnya, di tatapnya Azzura yang jauh dari kata baik-baik saja. Sepanjang aspal, darah berceceran. Leon mengepalkan kedua tangannya kuat, gertakan giginya tercekat jelas membuat rahangnya menegang. Tanpa berkata apapun, Leon langsung menyerang Bejo dengan emosi yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Melihat bosnya di lawan, semua anak buahnya ikut turun dan membantu melawan dan menyerbu Leon. Azzura sekuat tenaga berusaha bangun dan ingin membantu Leon yang terlihat melawan semua penjahat itu. Bug Leon tersungkur ke tanah saat salah satu dari mereka memukul tengkuk Leon dengan kayu balok. "Leon!" teriak Azzura ingin melawan tetapi kakinya sangat sulit di gerakkan, luka sayat di punggungnya cukup dalam di tambah luka tusukan di perutnya. Leon kembali beranjak dan melawan mereka membuat beberapa penjahat itu tumbang. Bejo berjalan mendekati Azzura dan mengacungkan pistol miliknya ke arah Azzura. "Loe harus mati!" ucap Bejo yang begitu membenci Azzura. Dor Hening.... Brug "LEONNN!" Jerit Azzura saat tubuh Leon perlahan merosok ke tanah dan darah segar keluar tepat di d**a Leon, tepat di jantungnya. "Leon,, hikzzz," isak Azzura mendekati Leon dengan kesusahan. Leon melindungi Azzura dengan mengorbankan dirinya sendiri. Saat melihat Leon tumbang, Bejo dan anak buahnya langsung kabur. Karena tugas mereka telah selesai... Seketika hujan deras turun membasahi tubuh Azzura dan Leon, darah mereka menyatu dan mengalir terbawa arus air hujan. "Le, bangun. Hikzzz," isak Azzura sejadi-jadinya. "Bangun! Kenapa melakukan ini? Kenapa mengorbankan nyawamu, demi aku? Hikzz,," isak Azzura sejadi-jadinya tanpa memperdulikan rasa sakit yang juga tengah ia rasakan. Langit malam, mewakilkan kehancuran hati Azzura, dan tangisannya pecah seketika. ♠♠♠ Di Ruang Operasi Dhika dan Thalita saling menatap dengan mata sendunya. Saat ini mereka berdua tengah melakukan operasi pada Leon. "Bawa masuk Jantungnya," ucap Dhika dan Thalita segera memalingkan wajahnya, air matanya kembali luruh membasahi pipi. Thalita tak mampu menahan tangisnya, apalagi kondisi Leon dalam keadaan koma. Seorang suster mendorong meja dorong kecil yang terdapat Organ Jantung tersimpan rapi di dalam kotak kecil, sebuah alat pendingin. "Kita lakukan pencangkokannya sekarang," tambah Dhika berusaha tegar. 'Maafkan Papa, Papa terpaksa,' batin Dhika. Dhikapun mulai melakukan pencangkokan Jantung Leon. Thalita membantu Dhika menjahit jantung itu dengan sangat hati-hati. "Pompa," ucap Dhika dan seketika darah mulai menyusut di d**a Leon. "Pedal," tambah Dhika dan Meliana menyerahkannya, Dhika menempelkannya di sekitar jantung baru Leon.  "Isi 50 Joule," ucap Dhika, "Shock!" Deg Jantungnya langsung merespon dan berdetak dalam satu sentakan. Kehidupan baru, dan kelahiran baru dalam diri Leon.... "Azzuraaa!" Teriak Leon. Leon terlihat bingung saat menatap sekelilingnya hanya taman bunga yang indah dan luas. Ia terus berjalan mencari Azzura. "Azzura...." Teriak Leon dan terlihat tak jauh darinya, Azzura berdiri di dekat ayunan. Azzura terlihat seperti seorang bidadari dengan gaun berwarna putihnya dan rambut yang tergerai indah. Dia tidak terlihat tomboy, tetapi lebih terlihat menawan dan cantik. Leon bahkan sampai terpaku menatap kecantikan Azzura. "Azzura," gumam Leon dan berlari mendekati Azzura. Keduanya bertatapan cukup lama, dan senyuman terukir di bibir keduanya. Leon membelai pipi Azzura dengan lembut. "Kamu sangat cantik," puji Leon tetapi Azzura hanya membalasnya dengan senyuman cantik. Tetapi seketika, setetes air mata luruh dari mata Azzura. "Ada apa?" Tanya Leon bingung. "Aku ingin menyatu denganmu, untuk selamanya." ucap Azzura Dan seketika gelap.... Perlahan Leon membuka matanya, dan cahaya terang menusuk ke retina matanya. Membuat ia kembali menutup matanya dan perlahan kembali membuka matanya. Leon menatap ruangan berwarna putih dan krem itu, aroma khas rumah sakit menggelitik indera penciumannya. "Le," panggilan seseorang membuat Leon menengok, di sisinya terlihat sang Mama tengah tersenyum padanya. "Kamu sudah sadar, Nak. Mama akan lihat kondisi kamu dulu." Thalita memeriksa kondisi Leon. "Ma," ucap Leon lirih. "Hmm, kamu butuh sesuatu?" tanya Thalita, dan Leon menggeleng pelan. "Ma, Azzura?" Thalita sempat tersentak mendengar pertanyaan Leon tetapi Thalita masih memasang senyumannya. "Azzura baik-baik saja, kamu tenang yah. Sekarang istirahatlah dulu, kondisi kamu belum stabil." Selesai meriksa kondisi Leon, Thalita duduk di sana mendampingi Leon yang masih terlihat lemah. ♠♠♠ 3 hari sudah berlalu, kondisi Leon berangsur membaik. Setiap hari yang Leon tanyakan hanya Azzura dan Azzura, walau Mama dan Papanya selalu menjawab dia baik-baik saja. Tetapi kenapa Azzura tak pernah datang untuk menjenguknya. "Le," seru seseorang menyadarkan lamunannya. Leon tengah duduk di atas brangkar dengan pandangan kosong ke depan, saat mendengar ada yang memanggilnya, Leon menengok dan melihat Leonna di ambang pintu. Ia tersenyum kecil ke arah Leonna. "Kapan loe pulang dari Bandung?" Tanya Leon. "Sudah 4 hari yang lalu, saat dengar loe kecelakaan," ucap Leonna dan berjalan memeluk Leon. Leonna tak mampu menahan tangisannya lagi, Leonna menangis di pelukan Leon membuat Leon kebingungan. "Ada apa? Kenapa loe nangis?" Tanya Leon, Leonna melepas pelukannya dan menghapus air matanya sendiri. "Apa ini sakit?" Leonna menyentuh d**a Leon. "Sedikit," ucap Leon. "Saat tembakan itu menusuk jantung loe, gue juga merasakan kesakitan yang teramat di d**a gue," ucap Leonna dengan tangisnya. "Sudah gak usah nangis, gue sudah baik-baik saja," ucap Leon membelai pipi Leonna dan menghapus air matanya. "mana suami loe?" "Ada di luar," ucap Leonna. "Ona, coba loe tengokin Azzura. Gue khawatir keadaannya, dia juga terkena luka tusuk," ucap Leon. Leonna terpaku di tempatnya, air matanya seketika luruh membasahi pipinya. Leon sungguh kebingungan dengan ekspresi Leonna. "Ada apa, Leonna?" Tanya Leon yang sudah hapal sekali karakter Leonna. Selama ini Leonna tak muncul, karena tau kalau Leon bisa menebak ekspresinya dan kejanggalan di dalam hatinya. Leonna masih diam membisu, dan kebingungan. "LEONNA JAWAB!" Bentak Leon membuat Leonna tersentak kaget. Leon yakin Leonna menyembunyikan sesuatu mengenai Azzura... Tak lama Dhika, Thalita, Angga dan Verrel memasuki ruangan. "Leonna, jawab ada apa?" Tanya Leon dengan tajam membuat Leonna menunduk menangis. "Cukup Le!" Verrel melepas cengkraman Leon di kedua lengan Leonna dan menarik Leonna ke dalam dekapannya. "Ada apa ini? Ma, Pa? om Angga? Apa yang terjadi? Apa yang kalian sembunyikan dariku? Dimana Azzura?" pekik Leon terlihat frustasi. "Tenang, Nak." Dhika coba menenangkan Leon. "Bagaimana bisa tenang, Pa? aku sangat mengkhawatirkannya, dimana dia sekarang?" pekik Leon. "Azzura sudah meninggal," Deg Pekikan Leonna membuat Leon mematung di tempatnya. Dengan tatapan sangat terluka, Leon menatap ke arah Leonna. "A-apa maksud loe, Leonna?" Leon sangat syok. Sedangkan Leonna hanya menangis sejadi-jadinya. “Jawab apa maksud loe?” “JAWAB LEONNA? LOE PASTI BOHONG, KAN?” pekik Leon membuat Leonna menunduk ketakutan di pelukan Verrel. Leon menatap ke arah Mama, Papa, dan Angga dengan tatapan bertanya. "Ma, Pa, om Angga. Katakan kalau Leonna berbohong." "Leonna benar Le, Azzura yang telah mendonorkan jantungnya untukmu." Deg
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN