Author Pov
"Makasih ya Kak Saphira," ujar owner rumah makan Dahun Hijau.
Aira balas tersenyum manis. Dirinya baru saja selesai mengambil beberapa foto dan video endorse.
"Sama-sama Bu, saya juga suka makanannya enak-enak."
"Kalau gitu silahkan menikmati, saya tinggal ya. Kapan aja silahkan mampir," kata Bu Rahma.
Salah satu yang disukai Aira dari pekerjaannya yakni bisa bertemu banyak orang. Mengeksplor tempat baru dan saling membantu. Baginya bekerja tidak melulu soal uang. Namun karena dia juga bisa membantu orang lain dengan apa yang bisa dilakukannya.
Seperti sekarang ini, melakukan endorse makanan. Terkadang saat mengunggah foto cantik dari makanan ada saja warganet yang berkomentar.
'Orang kaya bisa aja beli makanan semahal apapun'
'Enak ya kerja duduk manis, makan enak, dibayar'
'Pamer makanan, nggak kasihan sama orang-orang yang nggak bisa makan karena nggak punya uang'
Komentar-komentar yang membuat hatinya kadang sakit saat membaca. Padahal dia tidak pernah ada niatan untuk pamer makanan. Yang dilakukannya hanyalah mempromosikan dagangan orang lain agar laku, tentu saja dengan cara halal. Di balik uang yang dia terima, Aira jauh lebih bahagia karena bisa membantu orang lain.
Sebuah notifikasi email masuk ke tabnya. Dari Elza, rekan kerjanya di Jakarta. Selain sebagai selebgram, Aira juga memiliki produk pakaian, Nelzaira. Hasil kerja sama dengan Elza dan Nana. Memproduksi pakaian-pakaian wanita dengan brand sendiri. Mulai dari design sendiri, proses produksi hingga marketing.
Elza mengirimkan deadline bulan depan. Karena Aira sedang di Lombok jadi tidak bisa ikut rapat langsung. Namun dirinya juga tetap ikut mendesain baju.
"Wait three days, tinggal finishing," balasnya ke Elza.
Kemarin dia sudah membuat beberapa design baju untuk keluaran bulan depan. Namun masih ada beberapa lagi yang harus diselesaikan.
Satu pesan masuk lain membuatnya melepaskan garpu. Fokus pada tab. Alih-alih membalas, Aira segera menekan nomor tersebut ke panggilan video. Wajah sang mertua dengan senyum lebar menghiasi layar tabnya.
"Iya Bu?" sapanya lebih dulu.
"Ra, kamu di mana?" suara lembut ibunya terdengar dari ujung panggilan.
Lala yang selesai mengambil video duduk di depannya dan mulai makan.
"Ini lagi di luar Bu, ada kerjaan."
"Oh, Aksa udah bilang sama kamu."
Seketika kening Aira mengernyit bingung. Bilang apa? Pertemuannya dengan Dean beberapa waktu lalu cuma makan dan laki-laki itu nggak bilang apapun.
"Sepupu Aksa mau nikah minggu depan. Kamu temenin Aksa kondangan ya," tutur ibu mertuanya.
Aira terdiam sebentar. Memandang Lala yang ditanggapi dengan pandangan bingung wanita itu.
"Emm.. iya Bu, nanti aku bicara sama Mas Aksa deh," katanya akhirnya.
Setelahnya, sang ibu lantas mengucapkan terima kasih dan menutup panggilan. Aira menghembuskan nafas perlahan. Dirinya menggigit bibir pelan.
Panggilan itu terasa aneh saat keluar dari mulutnya. Namun Aira juga tak mau dibilang tak sopan saat memanggil suaminya hanya dengan sebutan nama. Dirinya selalu menambahkan panggilan 'Mas' di depan nama suaminya. Itu dilakukannya saat berbicara di depan ibu mertuanya.
Ibu mertuanya separuh Jogja dan Lombok. Menikah dengan ayah mertuanya yang keturunan Lombok dan separuh Australia. Kakek Dean asli Australia. Sementara panggilan Aksa, nama itu yang biasanya dipakai hanya di keluarga. Sementara di teman-teman atau lingkungan kerja lebih sering disapa Dean.
...
Keesokan harinya Aira baru pulang setelah pemotretan di Senggigi pukul tiga sore. Dirinya berpapasan dengan Dean yang juga baru datang entah dari mana. Alih-alih mengikuti Lala yang lebih dulu berjalan ke kamar, Aira membututi Dean ke kantornya. Dilihatnya beberapa pegawai mengamatinya yang terang-terangan melingkarkan tangan di lengan Dean. Lelaki yang sedang menelepon itu terkejut sekilas namun tetap melanjutkan bicaranya.
Aira tersenyum manis saat melewati meja sekretaris Dean, ada Bagas juga di sana.
"Aku ada rapat, kenapa kamu ngikutin ke sini?" tanya Dean setelah sampai di ruangannya.
"Nanti malan ngedate yuk, besok weekend lho," ajak Aira.
Jangankan menjawab, Dean mengambil laptopnya dan berjalan ke luar.
"Apa?" tanyanya agak kesal saat tangannya ditahan Aira.
"Nonton ya nanti malem, tapi habis ini aku mau ada pemotretan sekali lagi. Ketemuan aja di mall jam tujuh. Oke?" ujar Aira dengan mengedikkan matanya beberapa kali.
Dean melepaskan tangan sang istri di lengannya.
"Aku nggak janji," ujarnya sembari membuka pintu.
Aira kembali mengekori suaminya.
"Pokoknya aku tunggu sampe kamu dateng," teriaknya sebelum Dean masuk ke ruang meeting diikuti Bagas.
...
Jam di pergelangan tangan Aira menunjukkan pukul setengah delapan saat dirinya berada di XXI. Pesannya pada Dean belum dibaca. Sementara panggilannya tidak diangkat. Apa mungkin laki-laki itu masih meeting?
Aira mengedarkan pandangannya ke deretan poster film yang kiranya menarik. Dulu, sekali dia pernah nonton juga dengan Dean. Aira tersenyum mengingat kenangan itu.
Gerombolan orang keluar setelah selesai menonton film. Beberapa pasangan atau ada juga yang bersama teman-teman. Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan waktu dengan orang-orang yang disayangi.
Aira masih duduk di sofa tunggu hingga satu jam kemudian. Kini sudah pukul setengah sembilan dan Dean belum juga muncul. Rasa kesal mulai memenuhi dadanya. Tadi dia yakin Dean akan datang. Laki-laki itu tidak pernah mengingkari janjinya.
Jika tadi panggilannya tidak dijawab, kini bahkan tak terhubung. Aira menatap sebal pada popcorn yang sudah dibelinya. Rasa kesal di dadanya berubah menyesakkan. Bahkan hanya dua jam dirinya meminta waktu laki-laki itu, Dean tak mau memberikannya. Nyatanya statusnya sebagai istri bahkan tak lebih baik dari deretan klien laki-laki itu yang selalu disambut ramah.
Sial, kenapa sekarang dirinya menjadi melankolis begini. Biasanya Aira tak pernah peduli dengan rumah tangganya. Dia bertindak seolah masih seperti wanita lajang yang tidak bersuami. Namun sebulan tinggal di Lombok, melihat Dean lebih sering daripada biasanya, meski hanya dari jauh membuatnya menginginkan perhatian lelaki itu.
Sialan, Kamadean Aksara!
....
"Beneran nggak papa?"
"Nggak papa, biasa emang agak demam kalau habis imunisasi," kata Aliyah pada abangnya.
Pandangan keduanya tertuju pada Irisa yang sudah tertidur di kamarnya. Dean lantas keluar lebih dulu diikuti Aliyah. Setelah rapat, Dean segera pulang ke rumah saat mendapat kabar Irisa demam dan rewel. Tak ada sosok laki-laki lain di keluarga membuatnya mengambil semua tanggung jawab itu. Menjadi seorang ayah, kakak, bahkan papa bagi Irisa.
"Ibu sudah tidur?" tanyanya pada Aliyah.
"Udah, suasana hatinya lagi baik. Tadi Mbak Aira datang bawain kue."
Mendengar nama itu ada yang mengganjal bagi Dean. Namun segera ditepisnya.
"Aku ke kamar dulu," pamitnya pada sang adik yang sedang membuat cokelat hangat.
Dirinya segera menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Badannya terasa lebih segar setelah mandi. Dean mengambil ponselnya yang mati dan menghubungkan ke charger. Seharian ini cukup melelahkan. Tadi pagi dia ke Lombok Timur untuk melihat perkembangan resor mereka yang kini sedang dalam tahap pembangunan akhir. Rencananya tahun depan akan mulai beroperasi. Sementara bulan depan mulai seleksi karyawan. Lalu menggelar training dan pembekalan hingga dua bulan lamanya.
Dean merebahkan tubuhnya ke kasur. Dilemparkan begitu saja handuk basah yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dia juga tidak merasa perlu untuk menyisir rambut. Tak berapa lama, matanya lantas terpejam. Sepenuhnya lupa dengan janji yang dibuat Aira.
...
Keesokan paginya, Dean hampir menumpahkan gelas kopi saat melihat pesan yang masuk di w******p. Deretan pesan dari Aira baru dibukanya. Chat terakhir berisi kalimat singkat disertai sebuah foto bioskop yang tutup. Lampunya sudah dimatikan dan tertulis close.
Aku janji akan menunggu dan aku sudah melakukannya.
Paling tidak aku bukan pihak yang mengingkari janji.
Pesan dan foto itu dikirimkan Aira pukul sebelas malam. Sampai jam berapa Aira menunggu di sana. Dean mengumpat pelan dalam hati. Dirinya benar-benar lupa.
***