Author Pov
"Iya Ma?" sapa Aira begitu mengangkat panggilan di ponselnya.
"Kamu di Lombok?"
Aira mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar dan tidak menemukan Lala. Tapi dia yakin wanita itu yang mengadu ke mamanya. Seperti yang selama ini dilakukan, menjadi informan tentang kehidupannya dan dilaporkan ke mama.
"Kamu sama Aksa gimana?"
Pertanyaan itu membuat Aira memutar bola matanya. Dia tahu mamanya tidak benar-benar bertanya karena ingin tahu. Sejak dia lulus SMA dan pergi dari rumah, yang mana itu rumah ayah tirinya, Aira dan sang mama tidak sedekat dulu lagi. Tidak cukup dekat sampai mengurusi urusan pribadi masing-masing. Aira tidak akan mencampuri kehidupan mamanya dengan suami ketiganya kini. Mamanya memang sudah dua kali menikah lagi sejak ayahnya meninggal.
Sedangkan sang mama juga tidak mencampuri urusan putri satu-satunya yang sudah dianggap dewasa itu. Meski begitu hubungan mereka tetap baik, tidak ada permusuhan. Hanya saja, keduanya memiliki karakter yang sama untuk tidak mencampuri pernikahan masing-masing.
"Mama nginep di Pandawa bulan lalu, sempet ngobrol sama Aksa."
Langkah tertatih Aira terhenti mendengar ucapan mamanya. Sebelumnya sang mama nggak bilang ketemu Dean.
"Ngobrolin apa?" tanyanya.
"Ya hal-hal biasa aja. Kayak mertua sama menantu ngobrol gimana sih," ujar mamanya sembari tertawa.
"Nggak usah aneh-aneh deh," balas Aira.
Dean juga nggak ngomong apa-apa kalau ketemu sama mama.
"Ra, Aksa itu lelaki baik ya. Awas kalau kamu macem-macem."
"Macem-macem apa sih, udah deh Ma aku mau makan dulu, bye!"
Dua tahun pernikahan mereka berlalu begitu saja. Keduanya tahu persis bagaimana rumah tangga yang mereka bina tak seperti milik orang lain. Tak ada harapan untuk masa depan mereka. Yang keduanya lakukan hanya menjalani tanpa harapan dan saling menyalahkan. Hal itu cukup bagi keduanya untuk bertahan hingga dua tahun.
Aira memandang pantai dari kejauhan. Menatap birunya air yang berpadu dengan biru laut. Bertanya-tanya apakah kata cukup akan bisa membuat keduanya bertahan di tahun-tahun pernikahannya ke depan.
...
Kakinya sudah jauh lebih baik setelah beberapa hari. Meski masih ada rasa nyeri saat dipakai untuk berjalan. Namun Aira bosan empat hari ini selalu mendekam di kamar. Lala sudah pergi sejak dua jam lalu. Mengunjungi beberapa kafe dan restoran yang meminta kerjasama. Besok Aira harus mulai bekerja lagi. Tak terasa dua minggu lebih dirinya sudah di Lombok.
Pandangannya mengedar ke lobi Pandawa resor dan hotel, tak menemukan apa yang dia cari. Sebelumnya Aira juga sudah ke office dan resepsionis bilang Dean lagi ke luar. Pesannya sejak pagi belum dibalas. Langkahnya beralih ke restoran resor.
Matanya baru saja berbinar saat menemukan pria yang dicarinya sejak pagi. Namun segera berganti dengan hembusan nafas kesal. Dean yang sedang bersama dengan dua kliennya hanya menatap sekilas padanya. Lalu kembali mengobrol di salah satu meja. Laki-laki berkemeja abu-abu itu terlihat begitu fokus mengobrol. Sesekali melempar senyum singkat pada wanita dengan midi dress biru laut di depannya. Wanita berambut sebahu itu tampak begitu antusias dengan wajah berbinar mengobrol dengan Dean.
Keinginan Aira untuk mengisi perut seketika surut. Langkahnya beralih ke luar untuk menuju pantai. Sebentar lagi sunset akan turun. Selama ini dia selalu membagikan potret-potret menikmati hidup. Dengan pakaian cantik, makanan enak hingga liburan menyenangkan. Namun di balik foto-foto itu tak melulu memiliki arti yang sama seperti yang ditampilkannya. Seperti yang dirasakannya saat ini.
Aira duduk di salah satu bangku di tepi pantai saat kakinya mulai berkedut nyeri. Disandarkannya punggungnya dan memakai kacamata hitam yang tadi dibawanya. Sekilas dirinya menangkap suara orang-orang yang juga sedang menikmati sunset. Berdecak kagum melihat keindahan ciptaan Tuhan itu. Namun Aira sedang dalam mood yang tidak baik. Alih-alih ikut menikmati sunset, matanya justru terpejam. Setelah sebelumnya memutar lagu yang tersambung dengan earphone di kedua telinganya. Lucu sekali, saat keramaian mengelilinginya, dia justru merasa sebaliknya.
...
Kisah lalu
`Pria Malam Itu`
Aira membersit hidungnya setelah bersin. Lalu mengumpat pelan. Menjadikan pria di sampingnya menoleh namun hanya sekilas. Dirinya memandang hujan yang turun dengan begitu deras. Sementara jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dan dirinya terjebak di kafe kecil di pinggir jalan di daerah Kuta.
"Emm... maaf," ujarnya pelan pada lelaki berkaus hijau tua yang duduk di sampingnya.
Laki-laki itu juga sedang menunggu hujan reda. Satu tangannya sibuk dengan ponsel. Sementara satu lagi melepaskan rokok yang dihisapnya.
"Apa aku bisa minta tolong?" tambah Aira begitu lelaki itu menoleh dengan wajah datar.
Aira terdiam sebentar. Menebak-nebak apakah wajahnya dikenali atau tidak. Meski bukan selebriti yang setiap hari wara-wiri di layar kaca namun tetap saja filmnya beberapa waktu lalu cukup melambungkan namanya. Sehingga wajahnya cukup familiar. Namun dari ekspresi datar pria itu sepertinya tidak tahu profesinya. Aira tersenyum kecil dalam hati. Ini akan lebih mudah, batinnya.
"Ponselku mati dan tasku tertinggal di resor. Tadi aku bersama teman tapi dia sudah balik lebih dulu. Emm... bisa aku pinjam ponselmu untuk pesan ojol?" tanyanya.
Wajah laki-laki itu masih datar menatapnya. Aira mengumpat kesal dalam hati karena dia hanya mengenakan hotpants juga tank top berwarna putih yang menunjukkan bahu terbukanya. Kini dia benar-benar merasa kedinginan. Dia sudah memikirkan kemungkinan ditolak saat mendapati wajah tak ramah dari pria itu.
"Hujan dan hampir tengah malam begini bakal susah cari ojol."
Suara berat dan dalam laki-laki itu membuat Aira terpaku. Dan tanpa sadar menatap wajah pria dihadapannya terlalu lama. Mengamati alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung juga bibirnya yang kini sudah bebas dari rokok yang tadi dihisapnya. Kulit kecokelatan dan suaranya yang maskulin membuatnya segera memberikan poin delapan di pertemuan pertama.
"Dimana kamu menginap?"
"Hah? oh itu.. di dekat sini. Bungalia resor. Tadi berangkat aku jalan kaki karena dekat. Nggak kepikir bakal hujan," ujar Aira.
Laki-laki itu lantas berdiri dan mematikan rokoknya dengan kaki.
"Aku juga menginap di situ, bareng aja. Bahaya sendirian naik ojol tengah malam begini."
Aira ikut mengamati bajunya ke arah pandangan laki-laki itu mengedik sekilas tanpa ekspresi.
"Baju kamu itu lebih mendorong orang berbuat enggak-enggak."
Tank top putihnya basah terkena percikan air hujan. Membuat bra navy yang dikenakannya tercetak jelas. Tangannya refleks menangkap jaket yang dilemparkan oleh laki-laki itu.
"Pakai itu, mobilku parkir agak jauh."
Aira masih terpaku di tempatnya berdiri saat laki-laki itu melangkah setengah berlari di derasnya hujan. Aira memegang erat jaket tersebut. Ada yang mengganjal di hatinya. Apakah dia harus mengaku atau melanjutkan.
Pandangannya menatap pada audi putih yang terparkir sejauh sepuluh meter darinya. Kaca mobil bagian depan mobil tersebut sedikit diturunkan. Hingga dua wajah wanita di dalam mobil terlihat. Mengangkat dua jempol dan melemparkan senyum lebar ke arahnya.
Aira kembali menatap punggung pria yang tak diketahui namanya itu. Punggungnya basah kehujanan. Rasa hangat menyusup di dadanya. Dirinya lantas menutupi kepalanya dengan jaket laki-laki itu. Lalu setengah berlari menembus hujan, mengejar laki-laki yang sudah berdiri di samping mobilnya.
Malam itu, tiga tahun lalu, pertemuan pertamanya dengan laki-laki bernama Kamadean Aksara.
....
Aira berteriak kecil saat pipinya tiba-tiba merasakan sengatan dingin. Matanya terbuka dan dari balik kacamata dia melihat Dean berdiri menjulang di sampingnya.
"Bodoh, bisa-bisanya ketiduran di sini."
Aira menegakkan punggungnya dan melepas kacamata. Menatap cemberut pada Dean. Langit perlahan mulai gelap karena matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Dean menyodorkan kotak jus jambu padanya.
"Ngapain kamu di sini?" tanyanya.
"Kenapa chatku nggak dibalas?" tanyanya balik dengan nada kesal yang tak disembunyikan.
Alih-alih menjawab, Dean lantas berbalik dan berjalan menjauh. Aira hanya menatapnya kesal. Tiga langkah dan Dean menoleh saat Aira tak mengikutinya.
"Kamu mau duduk kelaparan di situ?" kata Dean menatap Aira.
Meski berdecak kesal, Aira lantas berdiri dan mendekat ke suaminya.
"Mau ngajak makan aja nggak ada manis-manisnya," gerutu Aira.
Begitu Dean melanjutkan langkah, Aira seketika berjalan cepat menyusul. Segera melingkarkan tangannya ke lengan sang suami.
"Tungguin, jangan cepet-cepet jalannya kakiku masih sakit."
"Kalau masih sakit ngapain keluyuran di luar, nyusahin diri sendiri," timpal Dean namun tetap memelankan langkahnya.
***