5. Meminta Tinggal

1300 Kata
Author Pov Sedetik kemudian tubuhnya sudah berada di dalam air. Tangannya menggenggam erat ponsel. Aira segera mencari tapakan dan menghembuskan nafas kasar saat bisa kembali ke atas air. Dirinya terbatuk pelan. Lala, Adriana dan Selfi yang panik lantas mendekat. Air pantai di dekatnya berubah menjadi merah dengan bau anyir yang menyeruak. Aira merasakan nyeri menyengat di telapak kaki kanannya. "Aira loe nggak papa?" Lala segera menariknya ke tepi. Goresan luka di tepi telapak kakinya membuat Lala memekik. Darah keluar dari luka sepanjang empat cm itu. ... Pening di kepala membuat Aira memejamkan matanya. Luka di kakinya harus mendapatkan tujuh jahitan. Selain itu ada baret luka kecil di pipinya dan agak besar di lengan atasnya. Menimbulkan nyeri di mana-mana. Belum lagi ponselnya yang mati karena terkena air. Lala pergi untuk membenarkan ponselnya yang mati. Aira sudah berpesan agar ditunggu karena tak mau ada kemungkinan data-datanya dicuri. Meskipun tidak ada foto dan video aneh-aneh, namun file-file penting hingga ribuan fotonya ada di sana. Jarum jam di dinding kamarnya menunjuk angka delapan malam. Dirinya merasa lapar karena belum makan apapun selain pizza tadi siang. Namun kondisi kakinya yang kini diperban tidak bisa diajak bepergian walau hanya ke restoran resor. Terlebih tak ada ponsel yang membuatnya bisa untuk pesan makanan. Aira mengernyit saat tusukan rasa sakit mendera kakinya. Sepertinya biusnya sudah hilang. Dirinya mencoba duduk. Namun mengumpat pelan saat gelas di nakasnya juga kosong. Tidak ada yang bisa dilakukannya bahkan jika hanya ingin minum. Satu-satunya yang bisa dilakukannya yakni menunggu Lala kembali entah jam berapa. Sewaktu kakinya berdarah dan dijahit tadi Aira tak menangis. Meski rasa sakit seolah ingin memaksanya menangis. Kini saat dia sendirian dan tidak bisa melakukan apapun, perlahan air matanya turun sendiri. Dia memiliki jutaan pengikut di media sosial, juga beberapa orang yang menjadi pegawainya. Mamanya juga masih ada meski tak tahu kini sedang di mana. Lantaran wanita yang melahirkannya itu suka sekali traveling ke berbagai negara. Namun dari semua orang-orang itu tak ada satupun yang kini bisa membantunya. Tak ada satupun yang menemaninya dalam keadaan seperti ini. Aira tertawa getir dan mengumpat pelan saat mengingat dia telah bersuami. Laki-laki itu takkan peduli dengan apapun yang terjadi padanya. Segera dirinya mengusap kasar air mata di pipinya saat pintu terbuka. Dia tidak mau Lala yang datang melihatnya menangis. Namun pandangannya terpaku pada lelaki dengan kemeja putih dan celana hitam yang berdiri di tengah pintu. Menatapnya dengan arti yang entah apa. Lalu pandangannya turun pada kaki Aira yang diperban. Langkah panjang kaki pria itu membuat Aira menahan nafas. Biasanya dia akan mudah berceloteh riang menggoda Dean. Namun kini dia sedang dalam mood yang tidak baik. "Bodoh," kata Dean pelan. Sontak membuat Aira kaget dan menatap tajam suaminya. "Memangnya kamu anak kecil yang ceroboh sehingga bisa terpeleset!" lanjutnya membuat Aira cemberut. "Jangan ke sini kalau kamu cuma mau marah-marah," kata Aira. Dean menghembuskan nafas kasar melihat keadaan istrinya. Ada baret luka di pipi kanannya. Juga lengannya yang ditutup perban. Jahitan luka di kaki itu akan membuatnya tak bisa jalan beberapa hari ke depan. Bunyi troli yang didorong memecah suasana canggung di kamar. Seorang pelayan wanita masuk membawakan makanan. "Taruh saja di meja," ujar Dean. Aira tetap diam hingga pelayan tadi menghilang. Perutnya sudah keroncongan namun terlalu gensi meminta Dean membawakan makanan itu ke tempat tidur. "Pertahankan sikap keras kepalamu dan kamu akan pingsan kelaparan," ujar laki-laki itu tidak ada manis-manisnya. Aira sudah terbiasa dengan sikap sinis lelaki yang menikahinya itu. "Bisa bantu aku berjalan," kata Aira dengan penekanan pelan. Dean berdecak pelan lalu mendekat ke arah ranjang. Bukannya membantu memapah Aira untuk berjalan, laki-laki itu justru menggendongnya. Membuat Aira cukup kaget karena tidak menyangka tindakan Dean. "Makan," kata Dean. Ruangan berdinding putih itu tak diisi banyak suara. Hanya denting garpu dan sendok Aira ke piring. Sementara Dean sibuk dengan ponselnya. Keduanya menoleh saat pintu terbuka dan menampilkan Lala di baliknya. Tampak kaget saat melihat pemandangan bosnya sedang ditemani makan oleh sang suami. "Ponselnya udah bisa nyala, tapi layarnya pecah, cukup parah sih," kata Lala mengangsurkan ponsel Aira. Aira meringis melihat keadaan ponselnya yang retak-retak di layar. "Biarin dulu aja deh, yang penting bisa dipakai." "Oke, ntar postingannya biar gue yang kerjain. Loe istirahat aja, kalau ada apa-apa telepon gue," pesannya. Lala melirik sekilas pada Dean. "Duluan Mas," ujarnya yang dibalas anggukan pelan Dean. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh saat Aira sudah kembali duduk di kasur. Tentu saja dengan Dean yang kembali menggendongnya. "Emm... bisa isikan gelas minumnya. Aku suka kebangun buat minum saat tidur," kata Aira saat Dean akan berjalan ke luar. Laki-laki itu lantas kembali dan mengisi gelas dengan air di dispenser di sudut ruangan. Aira menatap lekat punggung yang berbalut kemeja putih dengan lengan yang sudah digulung sampai siku itu. "Tidurlah," kata Dean meletakkan gelas kembali ke nakas di samping tempat tidur Aira. Aira menarik selimut hingga ke batas d**a. Masih mengamati suaminya yang berjalan dan mematikan lampu. Biasanya dia tak tahu malu, tapi kenapa hari ini dia merasa emosional dan sensitif. Ada satu pertanyaan yang sedari tadi sudah di ujung lidahnya. "Jangan pergi," ujarnya akhirnya. Membuat Dean menoleh dan mengamatinya lekat. Aira segera berdehem pelan. "Nanti kalau aku kebelet pipis malam hari gimana. Atau kalau misal ada kodok lagi masuk ke kamar. Terus kalau nanti..." "Berisik, tidurlah," kata Dean yang mendekat. Laki-laki itu lantas duduk di ranjang dan melepaskan sepatunya. Meraih sandal resor lalu membersihkan diri selama sepuluh menit di kamar mandi. Dean berganti dengan kaus putih polos yang memang disediakan satu di resor. Masih mengenakan celana yang sama. Lalu bergabung dengan Aira di ranjang. Senyum kecil terbit di bibir Aira. Perlahan dirinya mendekatkan diri ke sang suami. "Kakiku sakit," keluhnya saat mau miring memeluk Dean. "Makanya jangan banyak tingkah." Laki-laki itu lantas mengubah posisinya miring menghadap Aira lalu memejamkan mata. ... Keesokan paginya Aira baru bangun saat Lala sudah sibuk dengan barang-barang endorse. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Dia ingat subuh tadi tidak bisa tidur karena kakinya begitu nyeri. Lalu Dean memberikan krim pereda nyeri. Setelah itu dirinya tidur lagi. Tidak tahu jam berapa Dean pergi. "Sarapan," kata Lala. Sudah ada makanan untuk sarapan di meja. Nasi goreng dengan telur mata sapi, sandwich hingga salad sayur. "Tadi aku ke sini jam delapan udah ada sarapan di meja," tutur Lala. Apa Dean juga yang memesannya? Lala mendekat dan menyodorkan bag kecil. "Apa ini?" tanya Aira. "Itu juga udah ada di meja saat aku datang." Aira membukanya dan menemukan boks handphone. "Gila ya Mas Dean," pekik Lala saat melihat Iphone keluaran terbaru. Seingat Aira dia tidak mengatakan apapun pada laki-laki itu tentang ponselnya yang rusak. Lalu kenapa Dean membelikannya. "Ck, gue bingung sama hubungan kalian. Kadang kayak orang nggak saling kenal, kadang kayak musuhan, tapi kadang saling perhatian," celetuk Lala. Meski tidak menceritakan secara detail, Lala mengetahui bagaimana kondisi pernikahan bosnya dengan Dean. Hanya wanita itu yang tahu semuanya. Bahkan mamanya sendiri saja hanya tahu sepotong-sepotong. "Jangankan elo, gue aja bingung," kata Aira. Setelah memasukkan simcard miliknya, Aira lantas menghubungi seseorang. Nomor yang sebenarnya sudah dia hapal di luar kepala. "Hai, kenapa kamu beliin ponsel? terima kasih," ujarnya manis dengan senyum di bibir. "Sarapan dulu. Perban di lukamu itu juga harus diganti tiap hari kan. Panggil aja suster kalau kamu atau Lala nggak bisa ganti sendiri," tutur Dean. Setelahnya Aira hanya diam mendengarkan saat Dean sedang mengobrol dengan seseorang di ujung panggilan. "Jangan lupa minum obatnya," pesan Dean kemudian. Senyum Aira bertambah lebar. "Kog kamu jadi suami perhatian gitu, jadi kangen. Nanti kamu ke sini lagi kan? Harusnya tadi kamu bangunin aku dulu sebelum pergi. Aku kan mau kasih morning kiss. Jarang banget suamiku tidur satu ranjang denganku. Ya udah morning kiss ditunda nan...." Seketika Dean mematikan sambungan saat Aira mulai melantur. Lala geleng-geleng kepala melihat bosnya tersenyum sendiri. "Emang pasangan aneh," gumamnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN