Jangan Keras Kepala

1135 Kata
Benar saja. Jantung Humaira seperti terjun bebas. Selama tiga tahun menikah, Humaira jarang sekali mengunjungi orang tuanya. Hal itu tentu karena perintah sang suami. Alih-alih ingin hidup mandiri, Haydar seakan ingin menjauhkan Humaira dengan keluarganya. Itu mengapa Humaira selalu merasa kesepian. “Kak, dengar gue nggak?” “I-iya. Kakak kesana. Tolong kirimkan alamatnya, Cil.” Nada bicaranya sudah bergetar. Humaira tak bisa berpikir apapun. Ia takut dan bingung. “Oke.” Humaira buru-buru mengatur maps di dashboard menuju rumah sakit yang lokasinya sudah dikirimkan oleh Ibrahim. Ketika mendongak, Humaira baru sadar bahwa sejak tadi Hafiz ada disampingnya. “Kenapa kamu masih disini?” Hafiz menatap mata indah itu. Kosong dan hampa. Ia tidak mungkin membiarkan Humaira mengendarai mobil sendiri. “Biar aku antar.” “Nggak perlu. Tolong keluar,” pinta Humaira masih berusaha tegar. “Jangan keras kepala!” Tanpa aba-aba, Hafiz menarik perseneling lalu melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Dalam perjalanan tak ada kata yang terucap. Humaira terus memandang keluar jendela dengan perasaan yang tak bisa Hafiz tebak. Dan entah mengapa, melihat keadaan sang gadis yang tampak jauh berbeda dari sebelumnya membuat hatinya meringis. *** Humaira melangkah menuju ruang vvip, tempat sang ibu di rawat. Tiba di depan ruangan itu, ia mencoba mengatur emosi nya. Kemudian, mengetuk pintu tiga kali sambil mengucapkan salam. “Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam.” Sebuah suara menjawab dari dalam. Humaira langsung melangkahkan kaki ke dalam, menelisik sosok pemuda yang duduk sambil menyembunyikan wajahnya di sisi ranjang. “Humaira, Sayang?” Hana yang sudah siuman duduk di sandaran ranjang. Wajahnya tampak pucat dengan kombinasi hijab putih disana. Senyum lembut menghangatkan hati Humaira yang kini tengah berkecamuk. “Bunda, kenapa?” tanya Humaira seraya menaruh tas di nakas dan duduk di tepi ranjang. Sementara pemuda yang duduk disana, tampak merasa bersalah. “...” “Apa karena bocil satu ini?” tuduh Humaira menghidupkan suasana hening. “Nggak, Sayang.” Hana tersenyum kembali sambil meraih tangan sang putri. “Bagaimana kabar kamu? Terakhir bertemu saat lebaran aja, ‘kan?” Humaira membalas senyuman itu dengan getir. Bagaimanapun ia tak boleh mengatakan bahwa kehidupan rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja. “Alhamdulillah baik, Bunda.” Seolah tak ingin diinterogasi, Humaira kembali menelisik tajam ke arah adiknya. “Dia kenapa, Bunda? Pasti sakitnya Bunda ada sangkut paut sama kebandelan dia, ya?” Ibrahim mendongak sambil komat-kamit. Matanya menatap tajam tak suka dengan tuduhan itu. “Nggak, Sayang.” Namun jawaban itu tak membuat Humaira puas, seakan-akan ada yang ditutupi oleh mereka. Tapi apa? “Kata dokter apa, Cil?” Perhatian Humaira kini beralih pada Ibrahim. “Sakit lambung dan darah rendah,” jawabnya lemah. “Pasti kamu buat Bunda stress lagi, ya?” “Humaira …” “Enak aja!” Ibrahim menatap tajam. Jika saja Humaira tahu yang membuat sang bunda jatuh sakit adalah memikirkan Haydar. Mungkin sang kakak sudah merasa bersalah saat ini. “Sudah … sudah ….” Hana tersenyum, melerai tom and jerry Kartawijaya. Jika bertemu mereka selalu bertengkar dan saling merindukan ketika jauh. “Kamu kesini sama siapa? Nggak sama Lula?” tanya Hana. Humaira seketika teringat bahwa seharusnya ia datang bersama Hafiz. Tapi dimana pria itu? Humaira mengedarkan pandangannya. Sama sekali tak nampak batang hidungnya. Apa Hafiz menunggunya diluar? Mengapa ia tidak ingin bertemu dengan ibunya? Bukankah seharusnya menyapa? “Kok melamun?” tanya Hana, mengikuti arah pandang putrinya. “Ah, nggak, Bun. Tadi Humaira datang sendiri.” “Bunda rindu sama kamu, Nak.” Senyum khas Hana langsung menghangatkan hati Humaira. Ia pun menggeser posisi duduknya lalu memeluk sang ibu. “Humaira juga rindu, Bunda. Rasanya … rindu berat.” Suara lirih itu menyadarkan Ibrahim bahwa ada beban berat yang ditanggung sang kakak sendirian. Sementara, diluar sana—Hafiz melihat kebersamaan itu dari celah kaca pintu. Ada perasaan rindu dan haru. Namun ia tak ingin mengganggu momen itu. Menjelang sore, Hana harus kembali beristirahat. Saat itu pula, Humaira berpamitan meski rasanya masih terlalu singkat kebersamaan mereka. Apalagi, ia tidak memberitahu sang suami. Ah! Peduli apa? Bahkan Haydar sedang bersenang-senang dengan wanita lain. Humaira keluar dari ruangan beriringan dengan Ibrahim dan pikiran masing-masing. Meski perbedaan usia mereka terpaut jauh—tujuh tahun, Ibrahim justru terlihat seperti kakak bagi Humaira. Mereka lekas melewati koridor menuju parkiran. “Kak, lo bahagia, ‘kan?” tanya Ibrahim menghentikan langkah kaki Humaira yang hampir masuk ke dalam lift. “Kelihatannya?” tanya balik Humaira dengan penuh keceriaan. Padahal itu hanya topeng untuk menyembunyikan segala problematika kehidupan rumah tangganya. “Nggak.” “Sok tahu!” Humaira tersenyum sepat seraya berdecak. “Gue tahu. Suami lo selingkuh sana sini, ‘kan?” Duaar! Bagai tersambar petir, Humaira tak memiliki keberanian menatap mata sang adik. “Tebakan gue benar berarti.” Humaira bungkam seribu bahasa. Jujur saja selama ini ia tak pernah tahu affair yang dimainkan sang suami. Tapi hari ini, Allah seolah memperlihatkan bahwa Haydar memang sering berselingkuh dibelakangnya. “Dari awal gue sudah curiga kalau dia itu manipulatif. Dia cuma mau harta ayah dan memanfaatkan keberadaan lo. Ayah aja yang be—” “Cil, jaga omongannya!” Humaira menghentikan umpataan itu. Sikap Ibrahim tidak pernah berubah sejak awal ia menikah dengan Haydar. Rasa benci sang adik terhadap suaminya, kini menyebar ke ayahnya yang dianggap bodoh. “Tapi gue benar, ‘kan? Sekarang buat apa coba dia nikah sama lo, tapi gonta ganti sama perempuan lain. Padahal dia sudah dapatkan fasilitas mewah dan jabatan di Kartawijaya.” “...” Humaira tak bisa menjawab. “Saran gue, lo harus periksa—gue nggak mau lo kena getah bajiingan itu.” “Ibrahim, cukup!” Ibrahim menghela nafas sebelum berdamai kembali dengan sang kakak. Sungguh, ia bukan ingin membenci keluarganya. Apalagi sang ayah dan kakaknya. Ia hanya ingin menyadarkan bahwa tak perlu mempertahankan parasit di dalam keluarga jika hanya bisa menghancurkan semuanya. “Gue selalu berharap Bang Hafiz ada disini.” Humaira terhentak. Mengapa selalu ada nama Hafiz dalam pembicaraan mereka? Padahal pria itu lah yang sudah mengacaukan ini semuanya. “Kakak nggak suka dengar nama itu.” Tentu saja Humaira tak suka. Karena hatinya semakin dilema. “Dia pasti bisa buat lo lebih bahagia, Kak.” “Tapi dia nggak datang saat itu.” “Ya, percuma saja. Lo pikir dari US ke Indonesia bisa dalam satu jam?” Nyatanya tidak hanya Laila, bahkan Ibrahim pun berhasil mengecohkan hatinya. Setelah lama berdebat, Ibrahim pun mengantar sang kakak sampai parkiran. Namun tatapan matanya langsung tertuju pada sosok pria yang bersandar di sisi kemudi mobil BMW itu. “Lo bilang nggak suka dengar nama Bang Hafiz. Tapi kenapa dia bersandar di mobil lo?” Dari pintu lobi rumah sakit, Ibrahim memandang silih berganti wajah Humaira dan Hafiz yang tengah menunduk. Seketika itu pula Humaira mendongak, pikirnya Hafiz sudah pergi beberapa waktu lalu. Tapi kenapa ia masih ada sana? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN