Humaira mendongak, pikiranya Hafiz sudah pergi beberapa waktu lalu. Tapi kenapa pria itu masih disana?
Saat yang sama, pandangan Hafiz tertuju ke arah mereka berdua. Dan titik pandang keduanya bertemu di udara.
“Benar, ‘kan. Itu dia?”
Ibrahim menoleh ke arah sang kakak seraya menuntut jawaban.
“Ceritanya …”
Humaira tak sempat mengatakan apa yang terjadi sebenarnya karena Ibrahim sudah melengos begitu saja. Wanita itu pun tak heran mengingat Ibrahim telah menganggap Hafiz seperti kakak kandungnya sendiri. Sedari kecil hingga dewasa, Hafiz banyak mengajarkan Ibrahim untuk bersikap lemah lembut terhadap wanita. Hal itulah yang membuat Ibrahim tak pernah bermain-main ketika jatuh cinta. Padahal, ia bisa menunjuk wanita manapun yang disuka. Tubuh bagus, wajah tampan, serta isi dompet yang tebal tentu mempengaruhi grade Ibrahim dibandingkan pria lainnya.
“Hai, Bang?”
“Eh, Boy?”
Ibrahim merentangkan tangan, bertepuk salam ala-ala pria sejati lalu memeluk Hafiz. Sementara Humaira hanya membeku di selasar lobi tak berminat gabung bersama mereka. Samar-samar, Humaira mendengar tawa renyah Ibrahim yang sudah lama tak ia dengar.
“Kapan sampai di Indonesia, Bang?”
“Baru kemarin, ada kerjaan.”
“Oh, iya. Ngomong-ngomong kerja dimana sekarang?”
“Buka usaha.”
Ibrahim tampak bersemangat. Seingatnya, Hafiz memang sosok pekerja keras dan pantang mundur.
“Wah, keren dong! Usaha apa?”
“Education Technology.”
“Abang CEO-nya?” Tebak Ibrahim.
Hafiz mengulum senyum tipis lalu mengangguk sebagai jawaban.
“Keren … keren …!”
“Kamu sekarang sudah kerja?”
“Belum. Tahun ini baru lulus, Bang.”
Sorot mata Ibrahim berubah sendu. Ia teringat Nurmala yang biasa memberinya bantuan ketika sulit memahami materi. Maklum saja, mereka satu almamater. Dan sejak kehilangan Nurmala, Ibrahim tak punya sahabat untuk berkeluh kesah.
“Kalau aja Mala ada, mungkin dia sudah wisuda ….”
Ibrahim kembali tertunduk, merasa menyesal karena tidak bisa menjaga adiknya Hafiz.
“Abang percaya dia masih hidup, Boy. Abang masih berusaha mencarinya.”
Dari kejauhan, Humaira merasakan atmosfer yang tak tergambar oleh kata-kata. Raut wajah Hafiz menunjukkan kesedihan. Namun, sebagai pria, ia tampak begitu tegar.
Tak ingin terkecoh lebih dalam, Humaira berniat pulang. Sebab rasa sesak akibat perbuatan Haydar masih terekam di memorinya. Namun, Humaira tak menemukan kunci mobilnya dalam tas. Ia yakin, kunci itu masih tertinggal di Hafiz. Humaira lantas menghampiri mereka.
“Kuncinya mana?”
Tangan Humaira menengadah di udara. Tatapan mata Ibrahim dan Hafiz pun saling memandang.
“Kebetulan Ali ada urusan untuk cari apartemen. Boleh aku nebeng?”
Hafiz memang sengaja menyuruh Ali untuk tidak mengikutinya sampai ke rumah sakit. Karena ia ingin menghabiskan waktu banyak di dekat Humaira. Setidaknya, ia ingin menjadi teman berkeluh kesah, meski sangat mustahil dilakukan oleh seorang pria dan wanita.
“Nggak. Aku mau pulang.”
Humaira memutar bola matanya ke berbagai arah, seolah ingin menghindari tatapan Hafiz. Nada ketus yang keluar dari bibir sang wanita kontan membuat Hafiz terkekeh. Dulu Humaira sering kali merajuk dengan ekspresi yang saat ini ditunjukkannya. Hal itu membuat Hafiz merasa rindu.
“Jangan ketus jadi perempuan, Kak.”
Ibrahim menengahi.
“Anak kecil nggak usah ikut campur!”
Humaira terus menghentakkan telapak tangannya yang terbuka, meminta kunci mobil.
“Mana?!”
Hafiz mengulum senyum tipis hingga membuat jantung Humaira berdetak kencang.
Ya Allah …
Humaira gegas menggelengkan kepala, membuat Ibrahim memandang heran.
“Kenapa geleng-geleng begitu?”
Melihat sisi manis sang wanita, Hafiz hendak menggoda. Kunci yang ada di tangan ia lemparkan ke arah Ibrahim dan langsung ditangkap. Spontanitas anak itu memang tak perlu diragukan.
“Hap!”
Ibrahim memandang ke arah Hafiz seakan mengerti maksudnya.
“Kembalikan nggak, Dek!”
Ibrahim ikut bersengkokol membuat Humaira kesal.
“Ambil kalau bisa, Kak!”
Tubuh setinggi 180 senti, sangat sulit dijangkau oleh Humaira yang hanya memiliki tinggi 160 senti. Dengan segala keterbatasan ia memukul dadaa sang adik sambil berusaha merebut kunci tersebut.
“Dek, ih!”
Pipi Humaira bersemu merah. Sementara diantara kakak beradik itu, Hafiz bersedekap sambil menyandar di sisi kemudi. Senyumnya mengulum lembut, seolah merasakan kehangatan yang tercipta antara keduanya. Tentu saja, Hafiz lebih suka Humaira dengan ekspresi apa adanya dibandingkan diam-diam menyimpan luka.
Tak lama, alarm pintu mobil terbuka. Ibrahim menyuruh Hafiz duduk di sisi kopilot, sedangkan anak itu mengambil alih kemudi.
“Biar nggak canggung, kalian gue antarkan saja!”
“Nggak usah!” sela Humaira tak ingin sering terlihat bersama Hafiz.
“Ketus banget!” ejek Ibrahim.
“Kalau kamu mau antar, pakai mobil kamu aja. Bawa ‘kan? Kakak mau pulang!”
“Nggak boleh pelit. Sudah masuk, cepatan!”
Ibrahim membuka pintu penumpang tapi Humaira tetap membeku.
“Kalau nggak mau gue tinggal.”
Mau tak mau, Humaira masuk sambil mendengus kesal. Ibrahim memang selalu punya cara untuk membuatnya jengkel. Meski begitu, rasa sayang Humaira tak pernah luntur terhadap sang adik. Karena Ibrahim satu-satunya orang di keluarga Kartawijaya yang peka akan rasa sakitnya.
Dalam perjalanan, suasana diselimuti keheningan. Hafiz diam-diam melirik Humaira dari kaca spion. Wanita itu sedang memandang keluar jendela dengan tatapan tak terbaca.
“Abang tinggal dimana sekarang?”
Ibrahim menjeda lamunan Hafiz. Sedangkan Humaira berusaha tak terkecoh.
“Masih di hotel. Niatnya hari ini mau cari apartemen di sekitar yayasan.”
Mendengar kata ‘yayasan’, Humaira melirik sekilas sebelum membuang wajahnya lagi.
‘Buat apa dia cari apartemen di dekat yayasan?’
Humaira tak ingin menerka-nerka dan berusaha mengabaikannya.
“Wah! Kalau begitu tinggal di apartemen Baim aja, Bang.”
“Nggak usah ngide!” desis Humaira tanpa mengalihkan pandangannya.
“Perempuan nggak usah ikut campur, bisa?” balas Ibrahim dengan gaya tengil-nya.
Humaira hanya bisa menggeleng pelan.
“Memangnya boleh?”
Hafiz tahu ini adalah kesempatan. Setidaknya, ia bisa membuat Ibrahim berdiri di sisinya, memberikan dukungan untuk melindungi Humaira.
“Kata siapa nggak boleh?”
“Tadi kakak kamu kayak nggak setuju gitu.”
Hafiz sengaja memancing.
“Nggak usah dengarkan, Bang. Dia memang suka begitu.”
Suara decakan terdengar. Humaira memutar bola matanya malas. Berada diantara dua pria itu membuat kepalanya mau pecah. Tapi anehnya, pikiran berlebihan tentang sang suami hilang begitu saja. Seakan kehadiran mereka membuat Humaira melupakan problematika yang ada.
‘Seandainya saja …’
Sebelum berandai-andai, Humaira langsung beristighfar. Mengucapkan kata itu sama saja menyalahkan takdir Allah dan bisa membuka godaan syaitan.
***
Ibrahim berhasil membelokan tujuan mereka ke apartemen yang kini menjadi tempat tinggalnya setelah Humaira menikah. Keputusan itu sempat ditentang oleh sang ibu karena tak ingin berpisah dengannya.
Namun, mengingat hubungan Aryan dan Ibrahim semakin dingin, Habibah pun turun tangan. Ia mendukung keputusan Ibrahim. Tentu saja dengan segala pengawasan yang telah dipersiapkan. Segala fasilitas dan penjagaan diberikan oleh neneknya. Sementara Aryan mencoba mengalah dengan tidak banyak mendebat anak itu.
“Istirahat dulu aja di kamar sana!” titah Ibrahim yang bisa membaca ekspresi wajah sang kakak. Jelas saja Humaira kesal. Padahal ia ingin segera mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Tapi sang adik seperti sengaja membuat dirinya dan Hafiz berada di tempat sama dalam waktu yang lama.
Apartemen itu bergaya loft dengan dua kamar di atas. Dimana penghuni bisa melihat seluruh penjuru ruang di bawah sana.
“Nggak. Kakak di sofa aja. Cepat selesaikan urusan kalian. Kakak mau pulang! Lagipula, kenapa kunci kakak ditahan sih?” cibir Humaira masih dengan ekspresi ketus.
Ibrahim tak menyahut dan mengalihkan perhatiannya pada Hafiz yang tengah memindai seluruh penjuru ruangan.
“Bagaimana menurut, Abang? Mau tinggal disini nggak?”
“Luas dan bagus, Boy. Tapi memangnya nggak apa-apa? Karena Abang bawa teman juga.”
Ibrahim mengibaskan tangan.
“Nggak apa-apa, lagipula ada tiga kamar. Mubazir kalau nggak dipake.”
Mendengar sang adik sok asik membuat Humaira berdecih.
“Kalau begitu, sepulang dari sini Abang bicarakan dengan Ali.”
Wajah Ibrahim langsung berbinar-binar.
“Oke. Anyway … Abang mau minum apa?” Tanya Ibrahim.
“Apa aja, Boy.”
“Oke. Duduk di sofa dulu, Bang.”
“Hmmmmm.”
Ibrahim gegas menuju dapur terbuka. Sedangkan Hafiz melangkahkan kakinya menuju sofa yang menghadap kaca besar. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan kota Jakarta dengan siluet jingga yang indah.
“Handphone Baim kayaknya ada yang ketinggalan di mobil deh. Turun dulu sebentar, ya!”
“Eh, Dek!”
Tanpa aba-aba Ibrahim meninggalkan mereka dalam kecanggungan. Humaira tak sempat menahan langkah kaki sang adik. Hal itu jelas membuatnya panik. Bagaimana tidak, sebagai seorang istri, ia takut keberadaannya bersama pria lain di sebuah unit menimbulkan fitnah.
“Aku keluar dulu,” ucap Humaira setelah beranjak.
“Humaira, tunggu!”
Humaira menghentikan langkah kakinya tanpa berbalik arah. Sementaara Hafiz ikut beranjak, memandang punggung wanita itu dengan perasaan tak biasa.
“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” tanya Hafiz, merujuk pada momen ketika Humaira memergoki suaminya di hotel.
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja.”
“Kamu bohong, Humaira.”
“Bohong atau nggak itu bukan urusan kamu lagi, Hafiz.”
“Tapi aku nggak rela kamu diperlakukan seperti ini.”
“Ingat apa yang Bunda bilang dulu, kita punya batasan. Dan saat kamu memilih pergi, seharusnya jangan berharap bisa kembali.”
“Aku akan menunggu kamu, Humaira.”
Mendengar ucapan itu, hati Humaira mulai terkecoh.
***