Kepingan Puzzle

1442 Kata
“Bu, ini dokumen yang harus ditandatangani.” Humaira sudah menyeka air mata dan beranjak dari kursi kebesarannya. Usai mendapat pesan itu, Humaira memang berniat untuk menemui sang pemilik nomor. Namun, bukan untuk bernostalgia pada masa lalu itu. Humaira hanya ingin menegaskan bahwa ia tidak ingin terlibat lagi dengan orang itu. “Saya pergi dulu, ya.” “Ibu mau kemana? Nggak mau Lula temani?” “Nggak, La. Ini urusan pribadi.” “Baik, Bu.” Humaira meraih handbag dan kunci mobil sebelum meninggalkan yayasan. Dengan setelan sky blue blazer berpadu rok dan pasmina putih membuat Humaira tampak seperti wanita karir muslimah yang memancarkan aura indah. Usianya yang hampir menginjak kepala tiga, lebih pantas terlihat seperti gadis remaja yang baru masuk universitas tingkat pertama. Di tempat lain, Hafiz sudah menunggu di sebuah cafe outdoor yang dipenuhi oleh rerimbunan pohon. Konsep urban forest menjadi pilihan Hafiz, sebab ia tak ingin menimbulkan fitnah jika bertemu diam-diam di ruang tertutup. Tentu saja, ia membawa Ibrahim sebagai penengah. Meski ia yakin, Ibrahim selalu punya cara untuk membuat mereka berdua saja, seperti yang ia lakukan di unit beberapa hari yang lalu. “Abang yakin, Kakak akan datang?” Ibrahim celingak-celinguk, memindai ruang terbuka itu. Beruntungnya, cafe tersebut tidak dipenuhi oleh pengunjung. Cafe yang didominasi dengan kursi dan meja kayu, hanya terisi dua pengunjung berbeda. “Mungkin,” jawab Hafiz, tak begitu yakin. “Kalau nggak datang?” “Kamu bisa bantu supaya dia datang.” Ibrahim terkekeh. Benar juga. Alasan ia diajak dalam pertemuan ini, pasti untuk menjembatani kisah mereka yang belum usai. Alih-alih kerjasama, Ibrahim yakin bahwa Hafiz masih setia memendam perasaannya. “Abang masih cinta sama Kakak, ya?” Hafiz berdehem. Sedikit canggung juga ditembak dengan pertanyaan itu. Orang bodoh mana yang bisa menolak pesona Humaira. Lagipula, bagi Hafiz—Humaira adalah cinta pertama yang sulit dilupakan. Tak mendapat jawaban, Ibrahim menyimpulkan apa yang ada dalam benaknya. “Sebenarnya Baim lebih bangga kalau Abang yang jadi ipar daripada …” “Hmmmm! Assalamualaikum!” Dari nada suara itu terdengar sekali bahwa sosok yang datang menyimpan rasa kesal terhadap mereka. “Astagfirullah!” Ibrahim mengusap dadanya karena tak siap mendengar salam dari sang kakak. Tubuhnya bahkan ikut bergetar akibat terkejut. Betapa tidak, Humaira datang dari arah belakang Ibrahim, kontan membuatnya tidak sadar. Sementara Hafiz memang sudah melihat Humaira dari kejauhan dan hanya tersenyum ketika Ibrahim mengucapkan kalimat sebelumnya. Syukur-syukur, wanita itu mendengar harapan adiknya. “Waalaikumussalam,” jawab Hafiz dengan senyum tipis. “Kalau datang tuh kasih aba-aba kenapa?! Jangan kayak hantu nongol tiba-tiba. Jantung gue ‘kan hampir copot!” sungut Ibrahim. “Memang pernah lihat hantu? Tsk!” Humaira tak ingin mendebat. Ia berdecak lalu mengambil posisi duduk di sisi sang adik, tepat di hadapan Hafiz. “To the point aja. Kenapa mau bertemu?” Tanya Humaira. Jangan tanya nada bicaranya seperti apa. Tentu ketus dan menunjukkan rasa kecewa. Dan hal itu ia lakukan hanya demi menutupi degup jantungnya yang berdetak kencang. “Kamu mau pesan minum apa?” Hafiz tak langsung menjawab dan justru mengalihkan topik pembicaraan mereka. “Bisa to the point aja?” Seakan malas menanggapi basa-basi pria itu, Humaira menghunus netranya penuh penekanan. “Jangan marah mulu kenapa! Cepet tua nanti!” Ibrahim menjeda. “Kamu nggak usah ikut campur, ya, Dek!” Humaira berdesis, memandang ke samping dengan tatapan membunuh. Melihat itu, Hafiz hanya bisa terkekeh pelan. “Kalian nggak berubah, ya. Masih seperti tom and jerry.” Kalimat itu menarik perhatian Humaira. Ia kembali memandang Hafiz dengan tatapan tak biasa. Tidak tahu saja kalau rasa kesal itu masih ada. Tapi sosok di hadapannya bersikap seolah tak terjadi apa-apa. ‘Karena yang berubah itu takdirku akibat keegoisan kamu, Hafiz.’ Humaira bermonolog karena rasa sakit yang terus menggerogoti hatinya. Tiga tahun susah payah melupakan masa lalu, kini Hafiz seenak jidat kembali mengacaukan pertahan diri. Beruntung Humaira tahu batasan dan sadar bahwa dirinya kini sudah bersuami. “Kerjasama yang kamu tawarkan, sepertinya nggak bisa aku tindak lanjuti.” Jemari yang tengah menelusuri bibir cangkir, seketika terhenti. Hafiz menelisik wajah yang kini tertunduk di hadapannya. “Duh! Perut gue sakit.” Ibrahim memecah keheningan dengan mencari cara keluar dari perang dingin antara sepasang sejoli disana. “Eh mau kemana?!” Humaira langsung menahan tangan adiknya. “Kak, perut gue sakit nih. Kayaknya kebanyakan minum kopi. Boleh ke toilet dulu, ‘kan? Daripada gue boker disini.” “Itu akal-akalan kamu saja, ‘kan?” Humaira menelisik wajah Ibrahim penuh curiga. Ia tahu sang adik sangat cerdik. Sungguh, ia tak ingin dikelabui lagi. “Ih sumpah, Kak! Ini melilit, sakit perut.” Melihat wajah sang adik keringat dingin membuat Humaira jadi bimbang. Humaira terdiam cukup lama, tak membiarkan Ibrahim pergi kemana-mana. Tapi lama-lama aroma tak sedap tercium diantara mereka. “Hmmmmm,” dehem Hafiz merasa bahwa Ibrahim benar-benar menahan mules. “Kamu kentut, Dek?” “Gue bilang juga apa! Ini tuh sakit perut benaran. Nggak percaya banget!” Sesekali mata Ibrahim melirik Hafiz. ‘Perut gue memang pintar kalau diajak kerjasama. Nggak sia-sia gue mendidik-nya.’ Dalam hati Ibrahim tersenyum. Sebenarnya ia tak benar-benar sakit perut. Entah mengapa, ia bisa memiliki kekuatan mengendalikan pikiran agar bisa kentut. Dengan berat hati, Humaira melepas genggamannya. Humaira mendelik. Tingkah Ibrahim sungguh diluar nalar. Tidak seperti penampilannya yang cool. Sikapnya masih terkesan kekanak-kanakan. Beberapa saat hening. Mereka diam dengan pikiran yang saling berargumentasi. “Humaira ….” “Kamu ….” Keduanya berbicara di waktu yang sama hingga titik pandang mereka bertemu di udara. Sedetik kemudian, Humaira menunduk demi menutup wajahnya yang kini memanas. “Silakan bicara,” pinta Hafiz mempersilakan Humaira lebih dulu. “Kamu dulu.” Hafiz memandang Humaira dalam diam. Tak disangka, rasa ingin memilikinya semakin kuat. Walaupun ia sadar bahwa wanita itu sudah menikah. “Tentang kerjasama kita, apa boleh ditindaklanjuti saja? Aku cuma mau kita dekat sebagai sahabat, Humaira.” “Jadi alasan kamu propose kerjasama karena itu?” “Salah satunya.” Humaira memalingkan wajah sambil berdecih. Setelah menghilang tiga tahun, Hafiz ingin kembali dengan dalih persahabatan? “Sepertinya banyak sekali alasannya, ya?” Suara tawa terdengar sinis. Humaira masih memalingkan wajah, enggan memandang Hafiz yang ada di hadapannya. “Aku sudah bilang sebelumnya sama kamu, kalau kedatangan ku kesini untuk menebus apa yang terjadi di masa lalu. Aku mau menyusun puzzle yang sudah terlanjur berantakan. Kepingan masa lalu yang penuh tanda tanya.” “Omong kosong!” Hening. Hafiz mulai kehilangan kata-kata. “Kedatangan kamu cuma buat aku melupakan semua kebaikan suamiku.” Mendengar ucapan itu, Hafiz tertegun. Adakah kebaikan sang suami yang benar-benar Humaira rasakan? Bagaimana jika kebaikan itu hanya semu semata? “Jangan bohongi diri kamu sendiri, Humaira. Aku yakin kamu nggak benar-benar bahagia sama lelaki itu.” “Peduli apa sama kamu?” “Aku jelas peduli!” “Tapi sudah terlambat, Hafiz. Aku nggak mau berhubungan sama kamu lagi. Jangan kecoh perasaan aku lagi. Karena bagiku, kamu sudah … mati.” Hafiz tersenyum kecut sebab tak ingin percaya. Sembilan belas tahun bersama dalam setiap momen yang tercipta, suka dan duka telah mereka lalui bersama. Tidak mungkin lenyap hanya karena tiga tahun berpisah. Itu tidak sebanding bukan? “Aku nggak minta kamu buat mencintaiku sama seperti dulu. Aku tahu kamu sudah bersuami. Tapi tolong izinkan aku buat jadi … sahabat kamu.” Air mata tiba-tiba mengaburkan pandangan Humaira. Bodohnya, ia tak bisa menutupi itu di hadapan Hafiz. Ia memutar tubuhnya lalu menyeka air mata dengan kasar. Setelah kembali berbalik, ia tersenyum sepat, seakan tak terjadi apa-apa. “Apa kamu pikir di dunia ini ada persahabatan antara pria dan wanita? “...” “Mustahil!” Hafiz tak mampu menyela. “Lagipula aku sudah bilang sebelumnya sama kamu. Seburuk apapun suamiku di mata kamu, dia tetap suamiku—imamku. Dan aku, cukup dewasa untuk melindungi diriku sendiri. Aku bukan Humaira yang manja seperti dulu. Aku nggak butuh perlindungan kamu.” “Humaira …” “Ketika Nurmala memutuskan menghilang pas akad dan kamu nggak bisa kembali saat itu juga. Aku nggak pernah berharap kalian datang lagi ke dalam kehidupan aku.” “Humaira ….” “Aku sudah susah payah menerima pernikahan ini. Tolong … jangan buat aku ….” “Bagaimana kalau aku bilang, Haydar tidak cukup baik buat kamu?” Humaira mendongak dengan sisa air yang bercokol di bulu matanya. “Bagaimana kalau aku bilang, hilangnya Nurmala adalah bagian dari rencananya?” Mereka memandang dalam diam. Tak lama kemudian, Ibrahim datang membawa seorang pria berpakaian serba hitam, jaket kulit, topi dan kacamata. Di tangannya ada sebuah kamera. Dengan garis wajah keras, Ibrahim menendang kaki pria itu hingga berlutut. “Dek, siapa dia?” Hafiz memandang wajah Ibrahim dengan penuh tanda tanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN