Ibrahim baru selesai menuntaskan hasratnya untuk buang hajat. Namun ketika keluar dari toilet, ia melihat sosok misterius yang tengah membidik kamera ke arah Humaira dan Hafiz. Mengendap-endap, Ibrahim mencoba memastikan arah pandang sosok misterius tersebut benar-benar ke arah sana. Tanpa aba-aba, ia merampas kamera lalu melihat hasil jepretannya. “Siapa yang suruh lo mata-matai kakak gue?” Ibrahim mengambil memori itu lalu mengembalikan kamera pada sosok misterius tersebut. Karena tak ingin menimbulkan kekacauan, pria itu hendak kabur. Namun, Ibrahim lekas menahannya dan menarik pria itu hingga bertekuk lutut di hadapan sang kakak. “Dek, siapa dia?” Hafiz memandang wajah Ibrahim dengan penuh tanda tanya. “Sa … saya,” lirih pria misterius itu. “Ngomong cepetan!” Pekik Ibrahim

