Mereka terdiam beberapa saat, hanya suara jam dinding terdengar. “Tolong maafkan saya Pak Dosen, saya benar-benar menyesali perbuatan saya. Kali ini saya tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuatmu susah, saya janji,” ucap Nayya sambil terus memeluk tubuh Riftan dengan erat. Jantung keduanya berdetak kencang, Riftan yang sejak tadi menahan diri hanya bisa kembali menguatkan hatinya untuk tidak tenggelam dengan pesona gadis yang memeluknya ini. Beruntung ia memiliki tameng khusus yang membantunya agar tidak terpengaruh dengan aroma darah dan tubuh Nayya yang menyiksa jiwanya. “Baiklah, kali ini aku maafkan. Dan juga kau tidak perlu melakukan pendekatan sia-sia denganku seperti ini,” ucapnya dengan nada dingin. Nayya tersentak, ia baru menyadari apa yang sedang ia lakukan. “Oh, maaf

