Terpaksa Menikah
"Aku sudah cukup mengenalmu lewat Frans. Aku tidak mau berbasa-basi. Langsung saja, mari kita menikah."
"Tapi ini pertama kalinya kita bertemu. Apa tidak terlalu cepat?"
"Tidak, karena yang aku butuhkan saat ini adalah istri, bukan pacar yang harus pdkt dulu."
"Tapi aku butuh mengenal calon suamiku terlebih dahulu."
"Apa tidak cukup lewat Frans? Dia pasti sudah bercerita banyak soal aku."
Aku terdiam, Frans memang sudah menceritakan semuanya soal saudaranya yang bernama Rayn ini. Aku tidak tahu mengapa Frans menjodohkan kami. Katanya, sifatku sangat cocok dengan sikap abangnya yang dingin. Apa karena aku yang tak pernah berpacaran, sehingga juniorku itu mencarikanku pasangan? Frans tidak pernah tahu, aku memiliki rasa dengannya bahkan sejak dia menjadi adik kelasku di bangku SMA.
"Mbak Meta!!" teriak seseorang saat aku baru saja keluar dari gedung saat itu.
Aku menoleh dan mendapati seorang pria berbaju hitam berlari mendekat. Setelah dekat ia melepas topinya dan mengulurkan tangan.
"Masih ingat?"
Senyumku mengembang mendengar pertanyaan itu. Dia Frans, adik kelasku saat SMA dulu. Kami saling kenal saat sama-sama mengikuti kegiatan pramuka. Sejak saat itu kami dekat dan akrab. Ketika kuliah, ternyata kami juga masuk ke Universitas yang sama. Aku yang tak pandai bergaul dan berteman jadinya hanya bergaul dengannya. Meskipun beda kelas, tapi jika ada kesempatan kami selalu main dan ke kantin bersama. Terbiasa dengannya membuatku nyaman, aku sampai menutup hati untuk pria lainnya karena sudah merasa nyaman dengannya. Hal yang berbeda terjadi dengan Frans. Berulang kali ia gonta ganti pasangan sesuka hatinya. Tanpa pernah tahu perasaanku yang sesungguhnya. Kini aku sudah bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan, di mana dulu kami pernah melamar pekerjaan di sini sama-sama. Hanya saja aku diterima, sementara Frans melamar ke perusahaan lainnya. Tetap saja, hatiku tak bisa jatuh ke hati pria yang lain. Rasaku masih sama, aku ... masih menyukai Frans.
"Mbak, padahal Mbak itu cantik loh. Kok betah sendiri dan masih nggak punya pacar sih?"
Aku tersenyum seraya mengaduk es kelapa muda di hadapanku. Andai dia tahu. "Nggak ah, aku nggak mau cari pacar. Maunya cari suami."
Tiba-tiba wajah Frans berbinar. "Serius?"
"Seriuslah. Emang kenapa?"
Apa dia paham maksudku?
"Aku kenalin sama seseorang mau?"
Aku terdiam, apa Frans bermaksud menjodohkanku dengan seseorang. Aku pikir dia peka dan paham apa yang ada di dalam tempurung kepala.
"Si ... siapa?"
"Ada deh! Dia juga cari istri, nggak mau pacaran. Dijamin dia baik Mbak. Tapi ya itu agak kaku, dijamin kalian cocoklah. Soalnya tahun depan aku juga mau nikah, dan abangku nggak mau aku langkahin, jadi dia bilang kalau aku mau nikah tahun depan, dia harus nikah tahun ini dan masalahnya dia nggak punya calon istri." Frans tertawa lebar.
Tubuhku langsung lemas. Aku bingung harus menjawab apa. Ada nyeri yang menusuk di hati saat mendengar kata-kata itu. Ternyata Frans akan menikah tahun depan, lalu bagaimana denganku, dengan hatiku?
Di lain kesempatan aku menceritakan hal ini dengan seorang teman. Karena hanya dia yang paham dengan liku rasa yang aku punya.
"Ta, menurutku kalau abangnya si Frans baek, soleh dan tampan. Nggak apa-apa kamu terima aja. Toh cinta bisa datang karena terbiasa bersama. Kamu nggak mungkin terus ngarepin Frans, apalagi dia udah mau nikah tahun depan. Coba kalau kamu mau jujur sama dia sejak dulu, jadinya pasti nggak gini."
Masukan dari Daryati, salah satu temanku saat kuceritakan bahwa Frans ingin menjodohkanku.
"Aku masih bingung, Dar. Aku nggak tau kenapa perasaan aku ke Frans itu kuat banget. Apa aku bisa lupain dia terus memaksakan diri menerima abangnya."
"Saranku temui dulu abangnya, lihat kepribadiannya. Kalau dia baik, soleh dan lembut. Terima aja, karena dijaman sekarang jarang-jarang kita bisa dapet lelaki yang seperti itu. Untuk Frans, lupain dia, atau gini aja, kamu jauhi dua duanya, takutnya kamu nggak bisa mengontrol perasaan kamu ke adiknya."
"Bertahun-tahun aku bisa. Rasanya bukan hal yang sulit untuk melakukannya."
Jika aku menjauh, aku akan kehilangan sosok Frans selamanya. Tapi jika aku menikah dengan abangnya, mungkin kami masih bisa bertemu meskipun kini berbeda status. Apa mungkin rasa itu bisa hilang dan berpindah ke hati Ray jika aku memutuskan menerima lamaran ini? Aku tersadar dari lamunan saat Ray memanggil pelayan. Ia memesan beberapa makanan dan minuman. Tadi sore saat aku pulang dari bekerja tiba-tiba Frans menelepon dan memberitahu tempat di mana aku akan bertemu dengan abangnya. Rayn memang sangat berbeda dengan Frans, dia dingin dan jarang bicara, berbeda dengan adiknya yang humble dan hangat.
"Makanannya, Pak."
"Makasih."
Kemudian pelayanan itu berlalu. Pria di hadapanku ini nampak tenang memakan makanan di meja, lalu melirik ke arahku.
"Makanlah."
"Oh iya, makasih."
Kami makan malam dengan hening. Aku bingung dengan sikap Rayn, tak ada basa basi, kalau bicara langsung to the poin. Selesai makan kami memutuskan untuk pulang. Di jalan, Rayn bahkan tidak memutar musik seperti orang lain pada umumnya. Saat kutanya dia bilang tak suka kebisingan. Apa mungkin aku akan hidup dengan lelaki sekaku ini?
"Orang tuamu di mana?"
"Ada di rumah."
"Masih utuh?"
"Ayah sudah meninggal sejak 10 tahun yang lalu."
"Oh."
Hanya itu jawabannya. Laki-laki ini bahkan jarang sekali tersenyum dan tertawa. Exspresi wajahnya selalu datar.
"Kalau kalian?" Aku balik bertanya.
"Kedua orang tuaku sudah meninggal."
"Owh maaf."
"Tidak perlu minta maaf, kau tidak salah. Itulah hanya Frans yang aku punya dan aku percaya dengannya. Makanya aku langsung percaya saat dia bilang kau wanita baik dan cocok menjadi istriku." Aku membuang pandangan ke arah luar jendela. Kemudian hening.
Mobil berhenti di pelataran rumah. Aku mempersilakan Rayn masuk dan membuatkannya segelas kopi. Saat ibuku keluar, dengan cepat ia berdiri dan menyalami. Wajah yang tadinya datar itu sedikit tersenyum.
"Salam kenal, Ibu."
"Oh, iya. Temannya Meta, ya?"
"Begini, Bu. Saya berniat serius dengan anak ibu kalau dia mau. Bahkan saya siap menikah bulan depan jika ibu mengijinkan."
Aku terkesiap mendengar kalimatnya, begitupun ibu. Baru juga satu kali datang langsung bicara seperti itu. Ibu menoleh ke arahku, matanya seolah mencari jawaban akan ini semua. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda tak mengerti.
"Apa kalian kenal sudah lama?" tanya Ibu kemudian.
"Baru hari ini, tapi dia sudah bertahun-tahun bersahabat dengan adik saya. Dan bagi saya itu sudah cukup. Saya pikir lebih baik seperti ini dari pada berhubungan bertahun-tahun tapi tidak naik ke pelaminan."
Aku menelan saliva mendengarnya. Apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Herannya tanpa meminta persetujuan dariku ibupun menerima tawarannya untuk menikah. Aku sempat berdebat dengan ibu masalah ini, tapi ibu berpikir aku tidak normal karena tak pernah melihatku dekat dengan pria lainnya. Hingga akhirnya aku pun menerima ajakannya untuk menikah. Di samping umur yang sudah hampir kepala 3 aku juga tak ingin terus berharap pada Frans.
**
Dua bulan setelahnya pernikahan pun terjadi. Rayn langsung memboyongku ke rumahnya, sedangkan ibu menolak ikut denganku. Beliau memilih tetap menunggu rumah lama kami karena enggan meninggalkan banyaknya memori soal ayah di sana. Menunggu warung kelontongan sebagai mata pencaharian, meskipun setiap bulan aku rutin memberinya uang.
Mobil berbelok ke arah kanan memasuki halaman rumah yang cukup luas. Rayn menghentikan laju kendaraan tepat di depan rumahnya. Kami turun dari sana. Aku menatap rumah minimalis ini dari luar. Rumah berwarna hijau lumut ini nampak elegan dengan bentuk yang tidak biasa. Rayn mengajakku masuk setelah mengeluarkan koper berisi pakaian. Ia membuka pintu utama dan mengajakku naik ke lantai dua. Ia menunjukkan kamar dan aku langsung menuju ke sana. Kuletakkan koper di samping lemari pakaian, lalu duduk di ujung ranjang. Tidak berapa lama pintu kamar terbuka, nampak wajah lelah Rayn dengan pakaian pengantin yang masih lengkap memasuki kamar.
"Meta, dengar ...," ucapnya seraya berdiri di depanku.
Jujur aku merasa gugup. Bukan karena akan melewati malam yang panjang dengannya, tapi bagaimana bisa aku menemaninya malam ini sementara aku belum bisa memberikan hatiku seutuhnya untuknya. Karena jujur, nama Frans masih merajai setiap sudut hati ini. Rayn mengulurkan tangan, lalu membingkai wajahku dengan salah satu telapak tangan. Aku menatapnya seraya tersenyum samar.
"Ada dua kamar di rumah ini. Kalau kau mau, kau bisa tidur di tempat yang terpisah denganku."
Aku mencoba mencerna kalimat yang ia katakan. Kemudian mataku menyipit saat paham apa maksudnya. Apa Rayn tidak mau satu kamar denganku?
"Kenapa? Bukankah kita sudah sah sebagai suami istri?" tanyaku bingung.
"Seharusnya, ya. Tapi ... bukankah kau mencintai Frans, bukan aku?" tanyanya sembari menarik tangannya dari wajahku.
Aku terdiam, dengan mata membulat sempurna menatapnya. Ya Allah, bagaimana dia bisa tahu?