7. Menagih Janji

1368 Kata
“Menikahlah denganku Jason.” Ulang Allena ketika melihat Jason yang hanya diam, terpaku seraya menatapnya.  Setelah beberapa saat mereka diam hanya dengan saling bertatapan. Akhirnya Jason mengeluarkan suaranya. “Allena.”   “Aku tidak menerima penolakan Jason. Kau sudah berjanji akan menikah denganku saat aku dewasa. Dan sekarang, aku sudah dewasa. Aku sudah besar. Aku bukan lagi Allena yang berumur lima tahun, bukan lagi bayi yang selalu kau gendong.” Ranacau Allena, memotong ucapan Jason yang ia rasa akan menjadi jawaban yang buruk. Tak sesuai dengan keinginannya. Darimana ia tau? Tentu saja dari nada bicara Jason yang terdengar aneh dan bisikan perasaannya yang selalu kuat.   Allena melihat tatapan Jason yang kini tampak sendu, meski begitu pria itu tetap tersenyum padanya. Memberinya senyuman yang sangat tampan.   “Allena.”   “Jangan memanggil namaku lagi. Cukup. Aku tidak mau mendengarkanmu mengatakan apapun.” Seru Allena seraya menutup kedua telinganya. “Aku tak mau penolakan Jason. Aku tak mau. Kau sudah berjanji. Kau sudah berjanji padaku. Jika aku dewasa, jika aku cerdas dan mandiri kau akan menikah denganku.”   Jason menghela nafas panjang seraya meraih kedua tangan Allena, lalu menariknya setelah itu menggenggamnya dengan erat. “Dengarkan dulu. Aku belum mengatakan apapun Allen.” Ujarnya seraya mengeratkan genggaman tangannya pada kedua tangan perempuan itu. Menahan perlawanan yang dilakukan Allena terhadapnya.   “Kau sudah bertunangan Allen! Dengar! Kau sudah bertunangan.” Jason menyentakkan tangan Allena, sehingga perempuan itu menatapnya. “Pilihan orangtuamu benar. Mereka sudah memilihkan pasangan yang tepat untukmu Allen. Dia masih muda, dia juga tanpan dan juga sangat cerdas. Lalu apa lagi yang kurang? Kau mencari apa? Aku lihat dia cukup perhatian padamu.”   “Tapi aku tidak mencintainya Jason, aku bahkan tidak menyukainya sama sekali. Dia juga! Dia tidak pernah menyayangiku, dia tidak mencintaiku. Dia memperhatikanku karena perintah orangtuaku, dia hanya merasa bertanggungjawab atas permintaan orangtuaku. Dia tidak mencintaiku Jason! Tidak!” Seru Allena dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Lalu menurutmu untuk apa aku bersama seseorang yang tidak mencintaiku? Terlebih aku tidak mencintainya.” Allena mengatur nafasnya yang memburu selama beberapa saat. “Setidaknya ... jika bersamamu. Aku tau, kau pernah menyayangiku dan aku juga mencintaimu. Meskipun kau tidak mencintaiku atau tidak menyukaiku. Meskipun kau sudah tidak menyayangiku lagi. Setidaknya ... aku mencintaimu Jason. Setidaknya aku tidak menghabiskan sisa umurku secara sia-sia. Setidaknya aku bersama seseorang yang aku cintai. Setidaknya ... aku akan bahagia meskipun kau tidak mencintaiku, meskipun kau tidak menyayangiku lagi Jason.”   Allena mengalihkan pandangannya, ia mendongak menatap langit-langit ruangan itu sesaat. Menahan air mata yang sudah berlomba menuruni matanya. Setelah itu ia menatap Jason lagi yang masih terdiam ditempatnya.   “Jason ... tidak bisakah?” tanya Allena dengan suara tersendat.   Jason membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa mengering lalu menghembuskan nafasnya perlahan, “Cobalah mencintai pasanganmu sekarang Allena. Pilihan orangtuamu tidak akan salah.” Jason mengulas senyumannya dengan tangan yang kembali membelai wajah Allena dengan lembut. “Kau masih muda Allen, kau pantas mendapatkan pasangan yang masih muda juga. Bukan orangtua sepertiku. Aku sudah tua. Bahkan sangat tua. Dua tahun lagi aku setengah abad. Apa yang bisa kau harapkan dengan bersamaku?” Jason kembali membasahi bibirnya sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku menyayangimu Allen. Masih sama. Aku masih menyayangimu. Sama seperti saat kau masih kecil yang dua puluh tahun lalu masih manja dan selalu menangis padaku.”   “Jason ... .” Allena memandang Jason dengan mata yang memerah. “Aku memang Allena, aku masih sama. Aku Allena yang dua puluh empat tahun lebih muda darimu. Tapi Jason. Allena yang berada dihadapanmu ini Allena yang sudah dewasa, bukan Allena bayi berusia lima tahun lagi.” Allena mengerjapkan matanya, ia mengalihkan pandangan kearah lain sesaat sebelum menatap Jason lagi. “Apa aku bukan wanita idealmu Jason? Apa aku terlihat tidak menarik untukmu? Tidak membuatmu b*******h?”   “Allena.”   “Aku bukan anak kecil lagi Jason. Aku sudah dewasa. Aku juga sudah bisa memberikanmu apapun, seperti yang wanita-wanita itu berikan padamu!” seru Allena dengan lantang. Membuat Jason yang berada dihadapannya kembali terdiam dengan iris mata menajam.   Allena mundur satu langkah ketika Jason mendekatinya. Ia meneguk ludahnya dengan kasar seraya mundur satu kali lagi.   Jason semakin mendekatkan wajahnya pada Allena. Lalu mendesis. “Kau bisa memberikan apa Allena? Kau bisa memberikan apa untukku? Tubuhmu?”   Lidah Allena mendadak kelu ketika ia ingin menjawab pertanyaan Jason. Karena jujur saja, sekarang ia merasa sangat terintimidasi oleh tatapan dan desisan tajam lelaki itu.   “Lihat, kau bahkan mundur ketika aku mendekat. Bagaimana bisa kau akan memberikan tubuhmu padaku?”   Mata Allena membulat ketika mendengar pertanyaan itu. bukan itu! bukan karena ia tak mau.   “Sebaiknya kau berpikir lebih matang lagi sebelum berbicara Allena. Pikirkan lagi karena aku ... .”   Cup!   Allena membungkam mulut Jason dengan bibirnya. Ia menarik diri, menatap mata Jason yang menatapnya dengan tatapan penuh keterkejutan. Setelah itu ia mengalungkan tangannya pada leher Jason kemudian melumat bibir sensual Jason perlahan. Allena memang tak berpengalaman dalam hal ini, namun ia memiliki naluri yang bisa ia ikuti. Ia mengikutinya, mengikuti nalurinya untuk mencium dan melumat bibir Jason secara bergantian. Hingga akhirnya setelah beberapa saat tak mendapatkan balasan ia menarik wajahnya, menatap Jason yang ternyata masih menatapnya dengan tatapan yang terlihat sayu.   “Allen.” Panggil Jason dengan suara seraknya. “Kau ingin tau, bagaimana caranya pria sepertiku melakukannya?” tanya Jason yang sukses membuat seluruh tubuh Allena merinding. “Kau yakin bisa mengimbangiku?” bisik Jason tepat di telinga kanan Allena.   Allena tidak memberikan jawaban, daripada ia mengeluarkan suara ia justru mengeratkan pelukan pada leher Jason kemudian mengecup bibir penuh pria itu lagi sebagai jawaban. Hingga membuat naluri liar Jason bangun. Ia meraih pinggang Allena, lalu mengangkat perempuan itu hingga kini dia duduk diatas meja kerjanya. Setelah itu ia melumat bibir Allena, bergantian atas dan bawah. Ia terus melumatnya dengan begitu liar dan juga bernafsu. Setelah beberapa saat ia semakin memperdalam ciumannya ketika Allena membuka mulut, lidahnya membelit lidah Allena hingga saliva meluduh jatuh pada ujung bibir Allena. Membuat ruangan itu semakin terasa panas. Bersamaan dengan itu Jason menarik diri, ia menempelkan keningnya dikening Allena beberapa saat, menikmati pamandangan Allena yang masih memejamkan matanya dengan nafas yang begitu memburu.   Setelah nafasnya teratur Allena membuka matanya, menatap iris mata Jason yang terlihat masih dikuasai oleh kabut. Allena memberanikan diri mendekatkan bibirnya pada bibir pria itu lagi. Namun kali ini Jason menghindar. Pria itu menarik wajahnya kemudian membelai wajah Allena, membersihkan sisa saliva yang menetes lalu meraihkan rambut perempuan itu dengan sangat telaten.   Sementara Allena hanya diam, menatap Jason yang memperlakukannya dengan begitu manis. Lihatlah, bagaimana bisa ia tidak jatuh cinta pada Jason? Meskipun dia b******k, tapi dia selalu memperlakukannya dengan baik. Pria itu selalu memberikan kasih sayang yang melimpah untuknya. Sehingga dalam benaknya, tak ada pria lain yang ingin ia temani seumur hidupnya. Kecuali Jason. Hanya Jason.   Jason berdehem beberapa saat sebelum ia tersenyum tipis. “Aku tidak akan melarangmu untuk mencintaiku Allena, tapi aku mohon ... pertimbangkan lagi. hm?”   “Jason ... .”   “St ... .” Jason menggelengkan kepalanya. “Aku mohon ... setelah kau berpikir dengan matang. Jika memang kau masih mencintaiku. Aku akan mempertimbangkannya. Bagaimana?”   “Terlebih ada oranglain disisimu Allen. Kau juga harus memikirkan perasaannya. Sekalipun kau tak menyukainya.” Lanjut Jason diiringi dengan senyuman yang begitu menyejukkan hati.   “Jason ... .”   “St ... sudah. Cukup untuk hari ini.” ujar Jason seraya menurunkan Allena dari atas meja kerjanya. Jason tersenyum lagi. “Rapihkanlah riasanmu, sebelum yang lain datang.”   ***   Allena meninggalkan area kantor setelah jam kerjanya habis. Peraaannya masih campur aduk. Apalagi setelah perdebatan itu ia tidak bertemu dengan Jason lagi. karena pria itu disibukkan dengan berbagai pekerjaan dalam ruangannya. Allena pun hari ini lebih memilih untuk mengalah dan memberikan waktu untuk dirinya dan juga Jason berpikir. Meskipun sangat ia yakini bahwa hasil dari berpikirnya akan tetap sama. Ia mencintai Jason.   Langkah Allena berhenti ketika melihat sosok yang ia kenal berdiri dengan bersandar pada SUV mewah berwarna putih. Setelahnya ia melangkah mendekat dengan cepat kemudian menghentikan langkahnya lagi tepat dihadapan lelaki itu.   “Aku membawa mobilku sendiri, untuk apa kau datang?” tanya Allena pada Ax yang kini menatapnya dengan datar.   “Aku datang bukan untukmu.” Jawab Ax dengan sangat tenang.   “Baiklah terserah, aku tidak peduli.” Ujar Allena seraya beranjak pergi. Namun pada langkah kedua ia berbalik menghadap kearah Ax lagi.   “Kenapa?” tanya Ax.   “Aku ingin menagih janjimu.” Jawab Allena dengan tenang.   Kening Ax mengerut, beberapa saat kemudian ia mengangguk. Mengerti arah pembicaraannya dengan perempuan dihadapannya itu.   “Baiklah.”   Kali ini giliran kening Allena yang mengerut. “Baiklah? Hei! Apa yang kau rencanakan? Katakan dulu padaku.”   Bukannya menjawab, Ax justru mengedikkan bahu seraya beranjak meninggalkannya dengan kedua sudut bibir yang menaik, tersenyum misterius. Allena berbalik mengikuti punggung Ax yang berjalan mendekati seseorang.   Tiba-tiba perasaan Allena menjadi buruk ketika melihat eksistensi seseorang yang Ax dekati.   Rencana yang disusun Ax ini bukan rencana gila ‘kan? Tak akan merugikannya ‘kan?   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN