Allena benar-benar tak bisa merasa tenang. Ia masih memikirkan banyak hal mengenai pertemuan Jason dengan Ax tadi sore, sesaat sebelum mereka pulang. Ketika ia bertanya pada Ax tentang rencananya. Lelaki itu tetap tidak mengatakan apapun selain jawaban ambigu yang tidak membuatnya lega sama sekali.
“Tenang saja, kau terima beres dan aku pastikan semuanya sesuai keinginanmu.” Kata Ax sebelum dia pergi dengan SUV-nya.
Benar-benar ambigu bukan? Menurutnya itu bukan jawaban yang bisa membuatnya tenang, Sekalipun lelaki itu sudah mengatakan untuk tenang. Tapi tetap saja perasaan khawatir yang menguasai dirinya benar-benar terasa semakin memburuk disetiap detiknya. Membuatnya semakin khawatir dan bertambah khawatir.
Tok tok tok.
Ketukan pada pintu kamarnya, membuat Allena berjengit, tersadar dari lamunan panjangnya. Allena kemudian menoleh kearah pintu yang terbuka, ternyata dia Aaren. Adiknya itu memasuki kamarnya dengan langkah tenang, setelahnya duduk diranjang menghadap kearahnya yang berdiri dibalkon kamar.
“Aku lihat kau sejak tadi melamun Allena. Kenapa? Ada yang salah lagi?” tanya Aaren. Adiknya itu memang sangat perhatian padanya. Meskipun terkadang sangat menyebalkan, tapi disaat bersamaan adiknya itu selalu perhatian dan sangat peduli padanya. “Kali ini apa? Ax atau Jason?”
“Keduanya.” Jawab Allena seraya berjalan mendekati sang adik setelah menutup pintu balkon. Ia mendudukan diri pada kursi berbentuk oval, menyandarkan punggungnya seraya memeluk kedua kakinya yang menekuk.
“Ada apa mereka berdua?” Aaren menatap penuh selidik.
“Katakan aku gila Ren.”
“Kau memang gila Allena.”
“Hei!” Allena melempar Aaren dengan bantal kecil didekatnya. “Bukan begitu maksudku. Dasar adik durhaka!”
Aaren mendengus, “Salah lagi. Tapi sudahlah ... lalu bagaimana?” Aaren duduk bersila menghadap kearah Allena. “Katakan.”
“Aku meminta bantuan Ax untuk dekat dengan Jason. Tidak tidak. Sebenarnya aku tidak memintanya, tapi dia berjanji akan membantuku, jadi aku menagih janjinya.” Ujar Allena, ia bingung sendiri dengan penjelasannya. Karena jujur saja pikirannya saat ini sedang sangat kalut.
“Tapi sekarang aku ragu. Firasatku buruk setelah meminta bantuannya.” Ujar Allena. “Bagaimana menurutmu?”
“Apa?” tanya balik Aaren.
“Apa Ax bisa dipercaya? Dia bilang, dia juga tak suka dengan gagasan perjodohan ini, maka dari itu dia mau membantuku. Apa menurutmu dia benar-benar seperti itu? Aku takut ... dia akhirnya menjebakku. Melaporakan semuanya pada Dad.” Jelas Allena seraya mengigit bibirnya dengan gugup. Sungguh ia sangat takut jika Ax akan melakukan itu.
Aaren yang melihat tingkah Kakaknya seperti itu terkekeh pelan. “Kau bilang Ax tak suka, lalu untuk apa melapor? Kau ini aneh sekali Allena. Kemana otak pintarmu itu?” Aaren menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Jatuh cinta benar-benar membuat seseorang menjadi bodoh ternyata.” Lanjut Aaren, namun tak mendapatkan tanggapan apapun dari Allena. Perempuan itu nampaknya sedang berpikir seraya menggigiti kuku-kuku tangannya. “Allena ... aku cukup tahu tentang Ax meskipun tidak berteman dekat, aku pikir dia bukan orang yang gegabah. Jika dia mengatakan sesuatu pasti dengan pertimbangan yang matang. Aku pikir kau tak perlu khawatir. Kau cukup ikuti saja rencananya jika memang kau masih ingin. Kecuali kau ingin menarik kata-katamu.” Lanjut Aaren lagi.
Allena menatap Aaren lamat, kemudian ia menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan penjelasan sang adik yang memang cukup masuk akal.
“Lalu bagaimana Jason?” tanya Aaren lagi. “Apakah dia menolakmu?”
Kening Allena saling bertautan. “Bagaimana kau tahu?”
“Wajahmu menceritakannya Allena, lagipula sudah bisa tertebak dengan mudah. Apalagi saat pertama kali kau kesana, Ax menjemputmu. Aku pikir mungkin saja Jason hanya ingin kau mendapatkan yang sepadan denganmu Allena. Karena bagaimanapun kalian terpaut usia cukup jauh. Kau lebih cocok menjadi anaknya daripada pasangan.”
Allena mendelik pada Aaren.”Kau ingin menghiburku atau semakin membuatku putus asa sih? Adik macam apa kau ini? Malah menghujatku seperti itu!”
“Aku tidak menghujat. Aku berkata jujur.” Aaren menatap Allena yang kini semakin menekuk wajahnya. “Tapi satu hal yang harus kau tau Allena. Tak ada yang salah dengan cinta. Akan sangat wajar kau mencintai siapapun. Karena terkadang kita tak bisa mengendalikan perasaan cinta itu.” setelah mengatakan itu Aaren beranjak dari tempat duduknya, ia menepuk pundak Allena beberapa kali sebelum ia berujar pelan. “Ingat, ada aku yang akan selalu mendukung keputusanmu Allena.”
“Sudah, jangan melamun lagi. Sebaiknya kau segera tidur. Jangan sampai kau besok ke kantor dengan muka bantal.” Ujar Aaren sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kamar sang Kakak.
Sepeninggal Aaren, Allena masih terdiam ditempatnya. Ia masih memikirkan banyak hal mengenai semua ucapan Aaren. Setelah beberapa saat barulah ia menghembuskan nafasnya pelan sebelum beranjak menaiki ranjangnya. Membaringkan diri lalu menyelimuti dirinya hingga sebatas d**a.
Sebelum tidur Allena hanya berharap, perasaan buruknya tidak membuahkan apapun dan semoga saja kepercayaannya pada Ax tidak salah.
***
Perdebatan Allena dengan Jason kemarin tidak membuatnya menjadi bermalas-malasan. Ia tetap datang pagi, lalu menyiapkan segelas kopi dan juga kudapan ringan untuk lelaki itu seperti hari sebelumnya. Selanjutnya ia duduk kembali di kursi kerja, melanjutkan pekerjaannya yang tersisa kemarin.
“Rajin sekali Ms. Davidson. Kau selalu datang sebelum aku.” Zahira mendudukan diri pada kursi kerjanya.
Allena tersenyum tipis. “Selamat pagi Ms. Vishaka.” Sapa Allena sebelum menanggapi ucapan wanita itu. “Hanya ingin Ms. Vishaka. Kebetulan juga saya bangun pagi-pagi sekali tadi.” Ujar Allena kemudian kembali berkutat dengan laptop dihadapannya.
“Bagus. Pertahankan. Kau pasti akan mendapatkan nilai bagus jika terus seperti ini.”
Allena mengangguk dengan senyuman yang masih bertahan diwajahnya. “Terimakasih Ms. Vishaka. Anda terlalu banyak memuji.”
Tak lama setelah itu terdengar derap langkah kaki seseorang mendekati keduanya. Zahira yang mendongak, sementar Allena berfokus pada pekerjaannya.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Zahira pada orang itu.
“Saya sudah membuat janji dengan Mr. Archilles untuk bertemu pagi ini.”
Mendengar suara yang dikenalnya, Allena dengan cepat mendongak menatap lelaki tersebut. Dia Ax, Axcelle. Lelaki yang membuatnya berpikiran buruk sepanjang malam. “Ax.” Panggil Allena pelan. “Ada apa?” tanya Allena seraya mengerjapkan matanya, masih terkejut dengan keberadaan lelaki itu dihadapannya pagi ini.
“Kalian saling mengenal?” tanya Zahira. “Ah! Iya yang waktu itu menjemputmu ‘kan?” tanya Zahira lagi pada Allena yang sudah tersenyum canggung. “Kalian pasti sangat dekat ya.”
Axcelle mengangguk pelan. “Aku teman adiknya Allena, jadi kami cukup akrab. Bukan begitu, Allen?”
Allena yang menehan nafasnya kini menghembuskannya lagi lalu menatap Ax dengan gugup. Berusaha membaca maksud kedatangan lelaki itu menemui Jason. Apakah ini triknya? Tapi trik seperti apa yang sedang Ax mainkan? Kenapa ia tidak mendapatkan petunjuk sama sekali?
“Allena?”
“Ah ya.” Allena mengerjapkan matanya seraya tersenyum. “Kebetulan juga kami satu jurusan.”
Zahira mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Begitu ... aku pikir kalian pasangan. Maksudku ... kalian sangat cocok.” Ujarnya pelan.
Sayangnya percakapan tidak berlanjut ketika pintu lift terbuka, menunjukkan keberadaan Jason bersama dengan Tommy muncul di balik lift tersebut. Setelah itu keduaya berjalan kearah mereka dengan langkah yang begitu tegas. Membuat Allena dan Zahira segera berdiri, menyapa sang pemimpin perusahaan.
“Selamat pagi Mr. Archilles.” Sapa ketiga orang itu hampir bersamaan.
Jason hanya mengangguk sesaat sebagai balasan dari sapaan orang-orang itu, setelahnya ia berujar pelan. “Masuk Axcelle, kita bicara didalam.” Ujarnya seraya beranjak memasuki ruang kerjanya.
Allena meneguk ludah kasar, perasaannya mendadak gugup lagi ketika melihat dua orang itu memasuki ruangan yang sama. Terlebih ia tak bisa melihat keadaan didalam sana. Rasanya ingin sekali ia menerobos masuk dan ikut bergabung dalam percakapan dua orang lelaki itu.
Jujur saja, ia penasaran dengan rencana Ax. Ia juga sangat penasaran dengan tanggapan Jason atas rencana Ax itu.
Akankah semuanya berjalan dengan baik? Akankah berjalan sesuai dengan keinginannya?
***