9. Bantuan Ax

1223 Kata
“Saya yakin anda pasti sangat terkejut dengan kedatangan saya kemarin, Mr. Archilles.” Ujar Ax. “Saya memohon maaf, begitu mendadak ingin menemui anda yang begitu sibuk.”  Jason menyandarkan punggungnya dengan salah satu kaki yang bertumpu pada kaki lainnya. “Memang, tapi aku tak keberatan jika itu perihal bisnis.”   Ax mengulas senyumannya kemudian mengeluarkan sebuah proposal dari dalam yang ia bawa. “Seperti yang saya katakan, saya sedang membuat sebuah game online bersama beberapa rekan saya. Kami mengembangkan ini diluar perusahaan keluarga saya. Karena ini benar-benar gagasan saya pribadi yang dikembangkan bersama dengan beberapa rekan. Sehingga tentu saja kami memerlukan kerjasama dengan pihak lain demi kelancaran project kami.” Ax meletakkan proposal itu dihadapan Jason. “Ini sekilas tentang game yang kami buat.”   Jason meraih proposal itu kemudian mulai membacanya halaman perhalaman dengan teliti. Sebenarnya Jason tidak pernah menerima proposal seperti ini secara pribadi, semuanya pasti melalui Tommy dan asistennya itu yang akan menjelaskan detail proposalnya. Namun kali ini entah mengapa ia merasa ada ketertarikan tersendiri pada Ax. Ia merasa pemuda dihadapannya ini benar-benar penuh tekad dan penuh percaya diri. Atau mungkin ... karena pemuda itu adalah lelaki terdekat Allena? Entahlah, yang jelas ia begitu tertarik untuk menghadapi Ax secara pribadi. Ketika Jason membaca pada bagian detail game, Ax mulai menjelaskan kelebihan-kelebihan dari game yang sudah ia rancang.   “Game yang kami buat tidak hanya menonjolkan visualisasi dari karakternya saja. Game kami dirancang dengan sebuah cerita yang akan dipilih oleh pemain masing-masing yang tentu saja akan semakin terasa seperti didunia nyata, para karakter bisa memilih teman, team, kerajaannya sendiri. Dalam game ini karekter bahkan dirancang bisa menikah dengan siapapun sesuai pilihan pemain untuk berbagai hal keperluan misi. Selain itu kelebihan dari game ini, dalam satu map yang sama bisa di akses oleh lebih dari seratus server team. Hal ini akan membuat semua pemain semakin menarik untuk menyelesaikan misi yang sama dalam waktu bersamaan, sehingga akan banyak sekali turnamen yang diikuti secara individual maupun kelompok dalam game tersebut.” Jelas Ax secara singkat. “Keamanan data pengguna juga sudah kami pastikan aman, selain itu kami sudah memangkas lebih dari enam puluh persen dari memori yang dibutuhkan game ini, namun meski begitu kami tidak mengurangi kualitas game kami.”   Setelah beberapa saat, Jason memberikan proposal tersebut pada Tommy yang berdiri disampingnya. “Kau sangat percaya diri dengan game-mu ini. kenapa tidak dikembangkan diperusahaanmu sendiri? Bukankah akan sangat menguntungkan bagi perusahaanmu jika game ini sukses?”   Ax tersenyum masam. “Tentu saja saya harus percaya diri karena ini adalah murni ide dan gagasan yang saya ambil secara pribadi. Saya tak ingin berkaitan dengan perusahaan keluarga saya. Karena saya bertekad untuk membuat perusahaan saya sendiri tanpa bantuan uang dari orangtua.” Ax menjeda ucapannya. “Yang kami butuhkan hanya investor. Setelah memiliki investor, saya akan lebih percaya diri lagi.”   “Sampai sejauh ini berapa investor yang berinvestasi di perusahaanmu?”   “Jika anda setuju, anda akan menjadi yang pertama.”   Jason melirik Tommy, mengintruksikan asistennya untuk memberikan penjelasan pada Ax.   “Kami akan melihat demo dari setiap game dalam waktu tiga minggu. Sekaligus percobaan pada game terpilih. Anda bisa datang lagi ke perusahaan kami. Nanti kami akan memberi kabar lebih lanjut mengenai tanggal yang tepat untuk melakukan demo dan percobaan.” Jelas Tommy sebelum ia bertanya. “Ada yang ditanyakan?”   “Tidak. Terimakasih. Saya sudah cukup mengerti.”   “Lalu apa lagi? Aku yakin kau masih memiliki banyak hal untuk dikatakan.” Ujar Jason seraya menyeruput kopi dihadapannya. Ia menatap Ax yang menarik sebelah ujung bibirnya. “Tebakanku salah?”   “Tidak Mr. Archilles. Anda menebak dengan tepat.” Ax terkekeh pelan. “Tak heran anda bisa sangat hebat seperti ini.”   “Kau terlalu banyak bicara Ax, tidak seperti pertama kali melihatku.”   Ax kembali terkekeh pelan. “Saya hanya berkata jujur.” Ujarnya kemudian terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. “Mengenai Allena.”   “Aku sudah berusaha menjaga jarak darinya.” Ujar Jason.   “Jangan.” Ax menatap Jason. “Jangan melakukan hal itu Mr. Archilles. Allena bisa sampai sejauh ini hanya untuk anda.” Ax menghela nafas. “Mungkin anda sedikit terganggu dengan hubungan saya dan Allena, tapi jujur sebenarnya kami tidak memiliki perasaan apapun. Allena sangat menyukai anda, sementara saya pribadi belum memikirkan tentang pasangan. Saya hanya ingin hidup tenang, menjalani kehidupan yang saya inginkan tanpa tekanan dari siapapun.”   “Jadi saya harap anda bisa menerima kehadiran Allena dalam hidup anda lagi Mr. Archilles. Allena sudah banyak menderita. Sekarang hanya anda kebahagiaan yang dia inginkan.” Ujar Ax.   “Kau sangat peduli padanya Ax.”   Axcelle tersenyum masam. “Saya hanya berusaha membuatnya bahagia bersama dengan orang yang dia cintai. Karena saya juga menginginkan hal yang sama. Saya ingin hidup bahagia dengan orang yang saya cintai dan mencintai saya.”   “Alasan klasik.”   Ax mengedikkan bahunya. “Tidak ada orang yang tidak ingin hidup bersama orang yang paling dicintai Mr. Archilles dan saya yakin anda juga sama. Anda ingin bersama dengan seseorang yang anda cintai, seumur hidup anda.” Ax mengulas senyumannya. “Bukan begitu?”   Jason menatap Ax lamat. Setelah itu ia menghembuskan nafasnya perlahan. “Mungkin.”   “Berjuanglah untuk cinta anda Mr. Archilles. Jangan sampai anda menyesal dikemudian hari. “ Ax kemudian berdiri setelah mengatakan hal itu. “Maaf saya terlalu banyak berbicara Mr. Archilles, namun saya harap anda mempertimbangkan ucapan saya.”   “Saya undur diri. Terimakasih atas waktunya Mr. Archilles.” Pamit Ax sebelum berlalu meninggalkan Jason yang masih termenung ditempatnya.   Setelah beberapa saat Jason tersenyum masam seraya menatap kearah pintu yang tertutup. “Anak muda jaman sekarang terlalu banyak omong kosong.”   “Tapi semua yang dikatakan Mr. Wesley memang benar Mr. Archilles.” Tommy menatap kearah Jason sebelum kembali berujar. Seseorang hanya akan bahagia bersama dengan orang yang paling dicintai.”   ***   “Kenapa kau terlihat panik Ms. Davidson? Padahal temanmu yang sedang berharapan dengan Mr. Archilles. Tapi seperti hidup dan mati untukmu saja.” ujar Zahira disela-sela kegiatannya.   “Hah? Tidak bukan begitu Ms. Visahaka. Saya hanya merasa gugup. Laporan saya sudah selesai tapi saya merasa saya takut untuk memberikannya. Saya takut mengganggu mereka.” Dusta Allena.   Ya ... Allena memang berdusta. Karena yang sesungguhnya ia rasakan adalah ia khawatir jika rencana Ax tidak membuahkan hasil yang baik untuknya. Ia takut jika rencana itu justru akan membuat keadaan lebih buruk lagi.   Pembicaraan mereka didalam sana bahkan sudah terlalu lama menurut Allena. Membuat perasaan Allena semakin gugup dan semakin kalang kabut.   Apakah Ax tidak berhasil meyakinkan Jason?   Allena menarik nafas panjang, kenapa lama kelamaan ia merasa jadi orang yang paling egois? Padahal berhasil atau tidaknya. Yang terpenting Ax sudah berusaha bukan?   Jika memang tak berhasil ... mungkin ... ia memang sudah berjodoh dengan ...   Clek!   Pintu ruangan Jason terbuka, Ax baru saja keluar dari ruangan itu.   “Ax, bagaimana?” tanya Allena.   Ax tersenyum. “Aku akan kembali dalam waktu tiga minggu untuk melakukan demo dan percobaan.”   HAH?!   Demo dan percobaan apa?   “Aku akan kembali ke kantor sekarang. Sampai nanti Allena.” Pamit Ax. Ia pun kemudian pamit pada Zahira sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.   Mata Allena mengerjap beberapa kali. Ia masih belum mengerti arah pembicaraan Ax. Apa yang sedang Ax bicarakan itu? Demo apa? Percobaan apa?   Setelah beberapa saat ia mendesis. Kenapa sekarang rasanya ia sedang dibodohi oleh anak kecil itu?   Pintu ruang kerja Jason kembali terbuka. Kali ini Tommy keluar dengan beberapa dokumen ditangannya. Setelahnya lelaki itu menghadap Zahira. “Ikut saya, Ms. Vishaka.”   “Loh, bukankah Mr. Archilles mengatakan akan berangkat sendiri untuk meeting bersama Mr. Kim?” tanya Zahira seraya meraih beberapa keperluannya yang selalu ia bawa ketika meeting diluar.   “Mr. Archilles memiliki urusan yang lebih penting.” Ujar Tommy, lalu mengalihkan pandangannya pada Allena. “Mr. Archilles menunggu laporan anda Ms. Davidson. Mr. Archilles mengatakan hari ini akan menjadi evaluasi pertama anda.”   “Secepat itu?!” seru Allena. “Pantas saja firasatku buruk.”   Zahira terkekeh pelan ketika mendengar seruan panik itu, lalu menepuk pundak Allena sesaat sebelum berdiri dari tempat duduknya. “Good luck Ms. Davidson.”   Allena meneguk ludahnya kasar.   Habislah sudah.   Sementara itu tanpa Allena sadari Tommy menyeringai ketika melihat wajah Allena yang berubah menjadi pucat pasi.   “Semoga berhasil Ms. Davidson.”   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN