"Lho, kenapa cepat banget hasilnya bisa begini, ya? Padahal, nggak banyak aku sama dia melakukannya. Kenapa malah begini?" Agnia berulang kali mengerjap-ngerjapkan mata, berharap benda pipih yang sedang dipegangnya dapat berubah. Sayang, tidak mampu demikian. Hasilnya tetap sama. Dia memang harus belajar menerima fakta dan menghilangkan keterkejutan tengah dirasa. "Aku harus kasih tahu Sanata. Aku akan limpahkan semua tanggung jawab ke dia." Selepas selesaikan kalimatnya, Agnia pun berjalan dengan langkah kedua kaki yang gesit keluar dari kamar mandi. Ia berjalan ke arah pintu ruangan tidur utama rumah Sanata, hendak menuju ke areal dapur. Dia memfokuskan pandangan hanya lurus ke depan dengan detakan jantung mengalami peningkatan. Terjadi alamiah begitu saja. Dibutuhkan waktu tiga meni

