Selepas pulang dari bekerja. Sanata menyempatkan diri untuk nongkrong bareng dengan dua sahabat karibnya, yakni Agra dan Angkasa di sebuah kafe dekat rumah. Minus Agnia serta Reni. Mereka sengaja tidak diikutsertakan kali ini.
Terkadang memang ada kalanya hanya dibutuhkan sekumpulan pria untuk bertemu dan memiliki waktu tersendiri guna membahas sesuatu yang hanya dapat dimengerti kaum laki-laki. Bukan menyangkut hal-hal yang serius juga.
“Gimana pekerjaan lo? Tumbenan aja nggak lembur. Biasanya kalau gue ajak ngopi pada bilang sibuk,” sindir Agra dengan nada bercanda. Guyonan ringan untuk mengisi obrolan sembari menikmati kopi hangat yang baru saja terhidang di atas meja.
Sanata dan Angkasa hanya memamerkan senyuman kecil guna menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Seiring waktu yang terus berjalan serta tanggung jawab besar akan pekerjaan di kantor masing-masing, maka menjadwalkan waktu luang untuk sekadar berkumpul pun harus mereka lakukan dengan tepat agar tidak saling berbenturan.
“Calon orang sukses itu kudu sibuk,” ujar Angkasa dengan nada bangga beberapa detik kemudian. Begitu juga senyumannya.
“Mantap, Bro.” Sanata ikut menanggapi dengan santai. Diacungkan jempol kanan.
Agra hanya bisa mengeluarkan decakan yang seolah mengisyaratkan kekaguman atas ucapan Angkasa. Hampir lebih dari tujuh tahun lamanya bersahabat. Tak ada perubahan sikap yang ditunjukkan oleh masing-masing dari mereka. Kecuali, bentuk fisik beserta pola pikir yang semakin matang karena faktor usia dan juga pengalaman.
“Si Fian baru super sibuk,” celetuk Angkasa.
Fian, salah satu sahabat mereka tidak bisa ikut berkumpul karena disibukkan oleh pekerjaan. Walau sebelumnya, sudah akan menyanggupi datang semua. Kenyataan tak demikian. Pasti ada saja memilih absen dan menggunakan alasan yang masuk akal.
Perhatian Sanata dan Agra dengan cepat lantas tersita ke arah Angkasa yang tengah cekikikan, menatap layar handphone-nya, seakan-akan ada hal lucu. Dan, manakala menyadari tatapan sarat ingin tahu kedua sahabatnya, Angkasa kemudian mencoba menyudahi tawanya. Dengan usaha cukup keras. Karena, tak mudah meredam.
“Si Reni marah karena nggak kita ajak dia nongkrong. Coba lo berdua cek grup chat di aplikasi. Kalau cewek sudah marah, kirim kalimat-kalimat yang panjang. Gue sampai malas baca. Dikiranya koran apa ya gitu."
“Paket internetan gue lagi habis. Biarin aja gitu,” tanggap Agra dengan nada cuek.
Dia paham betul sifat Reni yang terkenal doyan mengomel dan akan kena imbasnya pasti mereka semua. Dan juga Fian. Sudah bukan rahasia lagi. Beragam antisipasi pun telah coba dilakukan. Tetap saja, tak manjur menghadapi sikap Reni. Jadi, dipasrahkan.
Sanata mengangguk menyetujui ucapan Agra. “Benar tuh. Gue nggak akan buka grup sampai besok. Lo ladenin aja Reni sendiri.”
“Hahaha, s****n elo berdua.” Angkasa lalu menaruh ponselnya di atas meja dan menyeruput kopi hangat yang masih tersisa cukup banyak di dalam gelasnya.
“Kuat juga Si Fian hidup sama istri macam Reni. Kalau gue kayaknya bakal nyerah,” ceplos Agra tak sengaja. Namun, dengan sukses mengundang kembali tawa Angkasa dan Sanata. Terbahak cukup kencang.
Bukan rahasia umum lagi jika pasangan tersebut memiliki sifat yang cukup saling bertolak belakang. Jadi, Agra masih tak habis pikir jika Reni dan juga Fian bisa menikah. Padahal dulu, kedua sahabatnya itu dapat tergolong sering bertengkar. Nyaris seperti tak tampak ada bumbu-bumbu cinta yang tercipta antara mereka. Tetapi, nyatanya tak demikian dirasakan. Justru Reni dan Fian mengikat janji pernikahan, saat baru punya jalinan kasih selama satu tahun saja.
“Ya elagituh, namanya juga cinta,” tanggap Angkasa santai. Dia lantas menyesap kopi hangat kesukaannya dengan nikmat.
Sanata menganggukkan kepala, seakan memberi isyarat bahwa dia juga setuju dengan ucapan Angkasa barusan. “Jodoh mah nggak bisa ditebak,” imbuhnya sok puitis. Dengan nada bangga yang nyata.
Angkasa langsung mengacungkan jempol tangan kanan dan senyum misterius yang turut menyertai. Sedangkan, Agra hanya terkikik pelan karena mengerti akan tingkah yang ditunjukkan sang sahabat memang bertujuan untuk menggoda Sanata.
“Kayak lo sama Agnia ye, Nat. Jodoh nggak ketebak!” seru Agra semangat. Nada suara pun meninggi. Seringaian di wajah tercipta.
Di sisi lain, Sanata sedikit jadi heran dengan tingkah menyebalkan dari Angkasa yang tiba-tiba saja menyikut sikunya. Dia jelas saja menaikkan sebelah alis tepat setelah seringaian nakal dicetak juga oleh sahabat baiknya itu. Otomatis, Sanata juga curiga dan yakin jika Angka memiliki tujuan. Dia pun merasa wajib mengonfirmasi agar jelas.
“Agnia mana? Nggak muncul tuh dia di grup chat sejak kemarin. Lo berdua berantem?” tanya Angkasa seolah ingin mengintrograsi.
“Kagak. Hubungan gue sama Agnia baik-baik aja. Dia lagi sibuk doang. Nggak sempat chat di grup,” jawab Sanata setengah berbohong. Namun, ekspresi wajah meyakinkan yang ditampilkannya membuat Angkasa tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Mengenai Agnia, terakhir kali Sanata menghubungi perempuan itu tadi malam untuk meminta maaf lagi atas sikap kurang menyenangkannya. Agnia pun memberi respon yang tetap sama seperti sebelumnya. Perempuan itu tidak marah. Malah santai.
Jadi, Sanata menganggap permasalahan di antara mereka telah selesai dan juga tak ada menaruh curiga sedikit pun. Akan tetapi, ucapan Angkasa barusan sedikit mampu mengusik Sanata untuk segera mengetahui bagaimana kondisi kekasihnya saat ini juga.
“Ngomong-ngomong lo mau serius sama si Agnia?” Satu buah pertanyaan meluncur dari mulut Agra dengan nada cukup serius.
Sanata yang konsentrasinya masih terpecah kemana-mana belum dapat mengartikan dengan jelas pertanyaan tersebut. “Serius gimana? Gue belum paham maksud lo, Gra.”
“Ya, serius sama Agnia. Kalau lo berdua akhirnya putus, ‘kan nggak enak juga. Pengalaman gue dulu pernah pacaran sama sahabat sendiri. Pas putus, eh kita kayak orang yang nggak saling kenal.”
“Lah, lo doain gue sama Agnia putus? Gue mah selalu serius kalau menjalin hubungan sama seorang cewek, termasuk sama Agnia.” Daya tangkap Sanata masih belum mampu sepenuhnya tepat kali ini. Dia tersindir.
"Gue bukan tipikal laki-laki buaya yang akan pacaran sama cewek karena ada sesuatu di dalam diri dia yang gue mau," imbuhnya.
“Bukan gitu. Tadi, makanya gue nanya. Lo emang mau serius sama Agnia atau nggak. Nah, kalau lo benaran serius ya lo ajakin dia nikah misalnya.” Agra menambahkan.
Tak ada raut keterkejutan ditampakkan oleh Sanata. Dia malah sibuk berpikir dan tentu mencerna perkataan Agra. Sementara itu, Angkasa memerhatikan dengan saksama percakapan menarik kedua sahabatnya itu. Dia tertarik dengan guratan-guratan wajah Sanata yang kali ini terlihat tegas bak seorang pria dewasa yang sedang serius membicarakan hubungan dan pasangannya.
“Tergantung Agni mah gue. Kalau dia mau ya gue pasti siap.” Sanata bicara jujur. Apa adanya. Sesuai dengan isi kepalanya.
Menyinggung masalah pernikahan pun sudah wajar. Apalagi, seusianya dan Agnia memang telah cukup pantas untuk membina sebuah keluarga. Meskipun, pada awalnya hanya ingin membantu perempuan itu untuk terlepas dari perjodohan. Dia sama sekali tidak keberatan mengenai soal pernikahan yang sesungguhnya bersama Agnia. Sampai saat ini, akan disetujuinya jika memang ada niatan demikian
Angkasa keras menepuk bahu kiri Sanata beberapa kali. “Ya elah. Pria itu kudu bertindak duluan, Bro. Biar nggak disalip sama yang lain,” ujar Angkasa seakan ingin memberi sebuah isyarat dan dorongan melalui ucapannya.
“Contoh Si Fian yang nekat nikahin Reni. Berani tancap gas dia. Masa lo nggak punya keberanian juga?” Angkasa belum selesai dengan kata-katanya. Dia terus mengeluarkan sugesti. Mendukung secara penuh hubungan asmara yang tengah terjalin di antara dua sahabatnya.
“Jadi, menurut lo gue harus segera melamar Agnia? Buat dijadiin istri?” Sanata bertanya dengan intonasi suara yang serius. Walau, tampang cool-nya kali ini tak terlihat. Ya, dia semacam merasakan ketegangan.
"JADIIN ASISTEN RUMAH TANGGA GRATIS," celoteh Agra ngasal.
“Kalau lo nggak mau Agnia dilamar duluan sama pria lain. Lo kudu cepat bertindak. Lebih enak nikah daripada pacaran katanya, Bro,” balas Angkasa sembari mengeluarkan senyum nakal yang pasti sudah diketahui maknanya oleh mereka bertiga dan juga Fian. Bukanlah sesuatu yang mengherankan.
Tergolong cukup wajar jika hal tersebut dibicarakan. Karena mereka tetaplah pria normal pada umumnya. Walau tingkat kemesuman tertinggi masih dinobatkan pada Angkasa sampai detik ini. Sudah jadi aib di antara mereka. Akan diguyoni saat sedang berkumpul sebagai topik bahasan.
Agra belum dapat berhenti ngakak. Terlebih ketika menyaksikan muka masam Sanata dan seringaian nakal Angkasa. “Gue setuju tuh. Kalau nikah lebih okeh dari pacaran. Mau ngapain aja lo bebas. Paham nggak?"
Sanata seketika langsung menoleh ke arah Agra dengan tatapan cukup tajam. “Iye, bebas. Saking bebasnya mau ngapain aja ntar. Gue pasti digampar Agnia. Kayak lo berdua nggak tahu aja kebringasan itu cewek satu.”
Angkasa dan Agra tidak mampu meredam gelak tawa mereka. Atau bahkan sekarang terdengar lebih keras. Untung, pengunjung kafe tidak terlalu ramai sehingga mereka sedikit terlepas dari rasa malu yang berlebihan.
“Haha. Lo taklukin lah Si Agnia. Buat dia makin cinta mati gitu sama lo. Atau perlu gue bantu?” canda Angkasa di tengah tawanya yang belum mereda.
Memori Sanata kembali terlempar pada ucapan sahabatnya itu beberapa waktu lalu, Tepatnya sebelum dia memberi tahu perihal hubungannya dengan Agnia kepada empat sahabat mereka.
Khususnya tentang ucapan Angkasa yang ingin mendekati Agnia lebih lanjut sebagai seorang pria. Untuk langkah mencegahan, Sanata pun kemudian memproklamirkan hubungannya dengan perempuan itu. Beruntung, Angkasa tak menaruh curiga.
“Nggak perlu. Biar jadi tugas gue aja buat menjinakkan Agnia,” jawab Sanata penuh percaya diri. Seringaian ditampakkan.
“Gue tunggu pembuktian dari lo, Nat!” tanggap Agra tetap dengan semangat yang masih menggebu. Dia bertepuk tangan riuh.
"Tenang aja. Tenang. Gue pasti akan mampu kasih ke kalian bukti yang nyata. Siapkan duit banyak. Kalau gue sama Agnia menikah. Kalian semua akan kami palak. Kalian harus nyumbang di pernikahan kami. Gue nggak mau menerima banyak alasan nanti." Sanata masih berujar dengan peringaian santai.
"Hahaha. Widih seram. Tapi, pasti akan kita bantu. Masalah duit gampang. Gue ini calon pebisnis sukses. Kecil." Agra tanggapi ringan.
"Sama gue juga." Angkasa menimpali.
..............
Agnia terperanjat kaget ketika menerima sebuah pesan dari Sanata yang berisikan pemberitahuan bahwa pemuda itu tengah berada di depan pintu rumahnya sekarang. Dengan langkah secepat mungkin, Agnia langsung bergerak menuju pintu utama kediamannya. Sanata memang kerap suka begitu. Mendadak datang tanpa meminta persetujuan atau izin darinya terlebih dahulu. Jelas saja, Agnia juga dilanda kaget.
Jika saja Sanata tidak mengatakan sudah tiba di sini. Maka, Agnia pasti akan melarang pemuda itu datang berkunjung. Dia sedang malas menerima tamu pada jam istirahat, apalagi waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam lebih. Ditambah dengan kondisi tubuhnya yang terasa tak enak. Agnia benar-benar sedang tidak inginkan kehadiran Sanata atau orang lain sekalipun.
“Kenapa nggak angkat telepon gue?” Saat daun pintu sudah dibuka Agnia dengan sempurna, maka pertanyaan dari pria itulah yang pertama kali memasuki indera pendengarannya.
Agnia lantas memerhatikan gestur tubuh Sanata yang tampak sedikit lain menurutnya. Begitu juga dengan pancaran kedua mata pemuda itu yang kini tertuju ke arahnya. Agnia cukup kesulitan untuk mengartikan tatapan tersebut. Radar kepekaannya tengah tidak aktif.
“Kenapa lo nggak angkat telepon dari gue, Agnia?” Sanata bertanya sekali lagi. Dia sangat penasaran dengan alasan yang akan diutarakan Agnia. Harus dijawab jujur.
“Terus lo ngapain malam-malam ke rumah gue, San? Ada keperluan yang mendesak? Atau lo mau punya hal penting mau dibilang ke gue? Tapi, memang apaan itu, ya?"
Sanata jadi mendengus kesal. Bukannya menjawab, Agnia malah balik melontarkan pertanyaan. “Gue pengin tahu alasan lo nggak angkat telepon dari gue. Lo masih marah sama gue, Ag?” Sanata ingin kembali memastikan dugaannya yang terpikirkan.
Perempuan itu menggelengkan kepala beberapa kali. “Kagak. Gue cuma lagi nggak enak badan. Gue malas cek hp. Gue silent mode aja,” jelas Agnia. Lagipula, dia sudah melupakan peristiwa kemarin. Bahkan, tidak terdaftar dalam sesuatu yang harus diingat dalam memori kepalanya.
“Lo sakit?” Sanata kian intens memandang Agnia. Wajah perempuan itu memang terlihat memucat. Tatapannya juga sayu.
Agnia mengangkat bahunya. “Cuma nggak enak badan aja gue. Mungkin karena capek kali, ya. Nanti gue mau tidur yang cepat biar lelah gue bisa hilang semua besok pagi."
Untuk kedua kalinya Sanata mengeluarkan dengusan. “Sama aja Agnia b**o!” seru pria itu kesal. Nada suaranya pun ditinggikan.
“Terserahlah!” balas Agnia tak mau acuh dan mendelik. "Terserah," tegasnya kembali.
Sanata pun tak dapat mencegah kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dengan refleks, sehabis menyaksikan ekspresi cemberut Agnia yang berhasil dia kerjai. Dua detik berikutnya, Sanata melangkah sebanyak empat kaki mendekati Agnia. Mempersempit jarak di antara mereka. Tangan Sanata lantas bergerak menuju kening Agnia untuk mengecek suhu tubuh perempuan itu.
“Badan lo panas, Ag. Kayaknya lo juga lagi demam ini. Tapi, perlu pakai termometer buat memastikan berapa panasnya."
“Pantes gue merasa meriang,” balas Agnia dengan nada pelan. Volume seperti berbisik.
"Merindukan kasih sayang gue?"
Mata Agnia mendelik pasca mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sanata dengan penuh percaya diri tersebut. Jelas saja dia muak dan geli. Kemudian, kepalanya digeleng-gelengkan ringan. Ingin tunjukkan respons yang negatif akan ucapan pria itu.
"Apa tadi lo bilang? Sembarangan aja. Mana mungkin gue kangen sama lo. Lagian, kalau gue emang benaran kangen. Ya, tadi pasti gue akan meluk lo. Nyatanya nggak, 'kan?"
Sanata terkekeh. "Oh, lo mau meluk gue? Ya, dengan senang hati akan gue kasih, Ag."
"Ogah! Nggak usah cari gara-gara sama gue saat kondisi badan gue lagi nggak enak."
“Lo udah minum obat?” tanya Sanata serius kali ini. Dia mulai menunjukkan sikap empatinya. Tidak tega juga melihat perempuan itu dalam keadaan sakit.
Lagi-lagi Agnia menggeleng. “Makan aja gue belum. Tadi bawaannya pengin tidur terus karena kepala gue pusing. Perut gue yang keroncongan gue biarkan. Lagian, di rumah lagi nggak ada makanan," jawabnya jujur
“Ck. Nyari penyakit aja lagi anak,” sindir Sanata. Padahal sesungguhnya dia sedang khawatir. Tentu, Sanata tidak akan pernah menampakkannya di depan Agnia.
"Lo mau sakit dan nggak sembuh-sembuh?"
“Gue nggak pengin debat ya sama lo, San. Kalau urusan lo udah selesai. Pulang aja sana. Gue mau istirahat.” Agnia tak mau membuang-buang waktunya untuk sekadar meladeni Sanata.
“Dih, ngusir. Gue padahal lagi baik hati dan pengin beliin lo bubur ayam. Tapi, lo malah ngusir gue. Ya udahlah, gue pulang.”
Sanata lalu membalikkan tubuh dan hendak bergegas pergi. Namun, tangan kirinya segera ditarik oleh Agnia. Sanata pun menghentikan langkah kakinya.
“Sebelum pulang. Lo harus beliin gue bubur dulu pokoknya,” paksa perempuan itu. Dan, tanpa sepengetahuan Agnia pula. Sanata tengah mengulas senyum puasnya.
………………..........
Sendok demi sendok bubur ayam masuk ke dalam mulut Agnia tanpa adanya jeda yang terlalu berarti. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit bagi Agnia untuk melahap semua hingga tak bersisa. Lezatnya rasa bubur tersebut di lidah membuat nafsu makan Agnia bertambah. Sayang, Sanata hanya membelikan satu bungkus.
“Pas sakit atau nggak. Lo tetap doyan makan yak.”
Mendengar cibiran Sanata, Agnia lantas mengeluarkan cengiran cukup lebar hingga memerlihatkan deretan giginya. “Maklum, habis gue lapar. Terakhir tuh cuma makan mie instan sama telur ceplok buatan lo kemarin. Di kantor gue nyemil roti sama air mineral doang.”
“Makanya jaga pola makan biar lo nggak sakit. Ingat ntar minum obat,” pesan Sanata mengingatkan. Tangan kanannya kini telah mengacak-acak rambut Agnia karena merasa gemas sendiri dengan ekspresi mendramatisir yang sengaja ditunjukkan perempuan itu.
Agnia mengangguk paham. Tak berselang lama, tatapan curiga dia layangkan kepada Sanata. “Ceritanya lagi perhatian sama gue?”
“Emang nggak boleh gitu gue perhatian sama pacar sendiri?” Sanata seolah ingin menantang lewat pertanyaannya. Smirk pun turut dia persembahkan ke arah Agnia.
“Mulai deh lo pakai alasan itu lagi, San.”
Tawa kecil Sanata kemudian tertangkap oleh kedua gendang telinga Agnia. Alhasil, mood perempuan itu seketika berubah dibuatnya. Agnia terkadang tidak suka dengan sikap Sanata yang menyebalkan seperti ini.
“Muka lo jelek kalau cemberut gini, Ag. Coba deh lo ngaca di cermin kalau nggak percaya sama kata-kata gue,” ejek Sanata tak berperasaan.
Agnia hampir saja ingin menoloyor kepala sahabatnya jika saja Sanata tidak mencuri start dan mencubit kedua pipinya dengan cukup keras. Dan, tawa Sanata yang semakin mengeras pun menandakan bahwa dia telah puas mengerjai Agnia malam ini.
“Apa-apaan sih lo! Sakit pipi gue woi! Sanata s****n!” umpat perempuan itu sangat kesal menerima perlakuan iseng dan memang disengaja oleh Sanata. Agnia juga memukul lengan kanan sang sahabat beberapa kali sebagai balasan.
“Kasar banget dah lo, Ag! Kalau kayak gini lo bakal dieliminasi sebagai calon istri gue.”
“Bodo amat! Lo duluan yang nyari gara-gara Sanata s****n! Lo kira pipi gue nggak sakit apa saat lo cubit?” Agnia semakin meletup-letup mengeluarkan kekesalannya.
Seringaian nakal tergambar dengan sempurna di wajah Sanata. Lagi-lagi terlintas begitu saja ide jahil untuk terus mengusik Agnia. “Pipi lo yang mana sih sakit, Sayang? Sini biar gue kasih ciuman mesra.”
Dan seketika itu juga. Kedua mata Agnia melotot. Dia bergidik ngeri. Secara spontan Agnia menggerakkan tubuhnya mundur dan menciptakan jarak yang semakin melebar di antara mereka
“Astaga! Kepala lo habis kebentur di mana, San? Sampai bisa konslet dan error kayak gini? Atau lo salah minum obat?”
Gelak tawa Sanata terus menerus membahana dari detik demi detik di ruang tamu rumah Agnia. “Bukan kepala gue yang kebentur. Tapi, hati gue yang udah kepentok sama lo! Tahu nggak Agnia, Sayang?”
Kedua bola mata perempuan itu tampak melebar. “Asli pengin muntah gue.”
“Hahaha, gue bercanda lagi, Ag.” Sanata membentuk huruf V dengan dua jari tangan kanannya.
“Candaan lo receh, Sanata. Yang ada gue mual dengar kata-kata lo!” seru Agnia tanpa segan-segan meluncurkan sindiran.
Sanata belum berniat untuk menghentikan tawanya. “Salahin Agra sama Angkasa yang bikin gue kayak gini.”
“Lo diapain sama mereka? Nggak mungkin dah mereka macam-macam sama lo, San.”
“Mereka nyuruh gue buat segera melamar lo buat dijadiin istri,” ungkap Sanata dengan intonasi suara dan tatapan yang mendadak serius.
Kedua mata Agnia membulat seolah tak percaya. “Seriusan? Ngelamar gue jadi istri?”
Sanata mengangguk mantap. “Mau nggak lo jadi istri gue?” tanya tanpa menunjukkan adanya keraguan.
Tawa Agnia langsung lepas. Ekspresi wajah sok serius Sanata menurutnya gagal total. Dia sama sekali tak merasa tersentuh ataupun terkejut.
“Kok lo ketawa? Ada yang lucu?” Sanata keheranan sendiri melihat tingkah Agnia.
“Haha. Sumpah, ya. Walau, gue nggak pernah pacaran. Tapi, pas lo ngomong dan minta gue buat jadi istri tuh romantis dikit kek,” ejek Agnia sembari masih tergelak.
Sanata memandang cukup tajam ke arah kekasih tidak pekanya itu. “Yang penting gue serius,” tanggap Sanata dengan nada jutek. Disaat dia benar-benar ingin mengutarakan keseriusan. Agnia malah menganggap sebagai guyonan belaka.
“Tapi, romantis dikitlah, San. Biar berkesan.”
“Mending lo istirahat. Kalau perlu dosis obat ditingkatin biar lo peka jadi cewek,” cibir Sanata mulai menampakkan kekesalan. Pria itu segera bangun dari kursi yang didudukinya. Kemudian, hendak pergi meninggalkan meja makan.
Namun, Agnia dengan buru-buru dapat menarik pelan kemeja lengan pendek dark blue yang dikenakan Sanata. “Jangan marahlah, San. Gue bercanda juga.”
Sanata belum menjawab. Dia hanya memandang Agnia dengan tatapan yang masih tajam seperti tadi. Kekesalan Sanata belum hilang. Walaupun, sudah coba untuk dibujuk. Perlu beberapa menit agar dapat mengembalikan mood menjadi normal lagi.
“Jangan marah ya calon suami gue yang baik hati.” Agnia ingin muntah karena kata-kata yang dilontarkannya sendiri.
Dan, tanpa diketahui oleh perempuan itu. Kedua sudut bibir Sanata terangkat sedikit hingga menciptakan senyuman tipis. “Jadi lo mau nggak nikah sama gue, Agnia Jyotika? Jadi istrinya gue?”
................