Masih di kafe dan waktu yang sama. Dan, untuk ketiga kalinya Sandy mengajak Agnia makan bersama, selepas pulang dari kantor. Awalnya, Agnia berniat mengeluarkan beberapa alasan ampuh supaya dapat menolak ajakan tersebut. Namun, Agnia harus tetap mengurungkan keinginan dan mengiyakan saja permintaan Sandy untuk mengajak dirinya pergi makan. Mengingat ada amanat dari sang ibu yang tadi pagi menelepon serta berpesan agar dirinya meluangkan waktu sejenak untuk bertemu dengan Sandy guna membahas tentang rencana perjodohan mereka berdua.
Memanglah fakta, topik tersebut sedang hangat-hangatnya diperbincangkan oleh anggota keluarga besar Agnia. Terutama kedua orangtua, kakek, dan juga neneknya. Ya, sekali lagi Agnia tekankan bahwa sejauh ini Sandy sudah sangat sukses mengambil hati keluarganya. Entah cara apa yang pria itu pakai. Ia tidak bisa menebak, walaupun tingkat rasa penasaran yang kian tinggi.
“Mau pesan makanan apa kamu, Agnia? Boleh yang banyak,” tanya pria itu dengan sifat ramah dan juga terbuka, tetap sama dia perlihatkan seperti pertemuan mereka berdua sebelumnya. Senyum simpul cukup menawan juga terukir di wajah Sandy.
“Saya nggak lapar. Tadi udah sempat makan bakso di kantor sama teman-teman. Kamu makan sendiri aja,” jawab Agnia sopan. Dia turut membalas senyuman pria itu, walau tersimpan sedikit kekikukan nyata di dalam senyumannya. Walau, tersungging lebar.
"Saya bukan nggak mau makan. Tapi, saya benar-benar sudah kenyang. Nggak dapat makan lagi. Nggak muat perut nampung makanan, ya. Nggak apa-apa kamu sendiri makan. Jangan nggak enak dengan saya, ya."
“Nggak enak aku makan sendiri. Tapi, kalau kamu memang sudah kenyang. Ya, nggak akan bisa aku maksa kamu makan lagi."
Sandy tentu saja dapat merasakan bahwa ada semacam ketidaknyamanan yang ditampakkan Agnia. Entah dari ekspresi serta gestur tubuhnya. Dan, Sandy sendiri sedang mencari cara atau sekiranya topik pembicaraan yang menarik. Ia harus dapat memperbaiki hubungan mereka. Tidak lagi harus dilanda rasa kurang nyaman seperti sekarang. Bagaimana pun juga dia hendak membuat Agnia bisa lebih menerimanya.
Agnia menggeleng. “Nggak apa-apa kok. Santai aja. Kamu lapar. Harus makan. Nanti kalau ditahan yang menderita kamu juga."
“Tapi, tetap ditemani ‘kan aku makan? Aku harap kamu nggak akan pergi cepat."
Sandy mengeluarkan guyonan untuk sekadar mencairkan suasana yang terasa semakin canggung saja. Terkadang, Sandy masih merasa sulit untuk mengakrabkan diri dengan Agnia. Dia tidak terlalu dapat memahami bagaimana cara pandang dan pola berpikir perempuan itu. Sukar ditebak. Meski demikian, Agnia semakin menarik.
"Saya nggak akan mungkin pergi sendirian, nanti Ibu sama Ayah saya pasti marah. Yang paling parah, nenek sama kakek saya akan ngomel. Saya dibilang durhaka." Agnia pun keluarkan celetukan dengan santai.
"Haha. Benarkah akan begitu? Tapi, rasanya nggak mungkin. Aku berani jamin kala--"
"Asal kamu nggak bocor mengadu nanti ke keluarga besar saya. Ya, saya juga aman dan nggak akan kena marah." Agnia masih saja lontarkan kalimat-kalimatnya tanpa beban. Namun, tetap diberikan penekanan jelas di setiap kata guna memperjelas maksudnya.
"Nggak akan, Agnia. Aku nggak mungkin bilang begitu pada keluargamu. Tapi, kamu jadi mau menemani aku makan di sini?"
“Boleh-boleh. Tapi, makanannya bayar sendiri,” ceplos Agnia tanpa pikir panjang.
"Saya nggak bisa mentraktirmu. Bulan ini saya belum gajian. Maklum, saya bukanlah pengusaha yang kaya seperti kamu."Agnia kembali berujar secara blak-blakan.
"Aku memang pengusaha. Tapi, uang yang aku hasilkan dari bisnisku belum banyak. Masih ada pengusaha yang lebih kaya dari aku, Agnia. Ya, syukur aku bisa gunakan untuk balik modal, memenuhi kebutuhan."
Tawa renyah Sandy yang tak dibuat-buat, kemudian menyelusup masuk ke telinga Agnia. Sesungguhnya di dalam hatinya, ada perasaan ragu apakah kata-kata yang dia ucapkan tersebut tergolong garing atau malah lucu. Sebab, hanya mengutarakannya dengan asal-asalan saja tadi. Memang juga terselip sindiran yang tak disengaja, terlolos saat sedang muncul di dalam kepalanya.
"Oh, gitu? Nggak apa-apa. Semua butuh proses. Apalagi merintis bisnis. Tapi, bagi keluargaku, kamu sudah cukup sukses."
Sandy cepat anggukan kepala dan masih luncurkan tawanya. "Begitu, ya? Syukurlah. Semoga aku bisa lebih menghasilkan uang lagi dan mengembangkan bisnisku juga. Pasti akan ada pengorbanan besar nanti."
"Ya, memang begitu. Nggak ada pencapaian secara mudah dilakukan. Apalagi gratis."
“Haha. Kalau ditemani sama kamu gratis ‘kan, ya?” Sandy semakin ketagihan untuk melancarkan godaannya dengan lancar.
“Bisa jadi,” jawab Agnia dengan nada malas.
Demi apa dia ingin pergi dari hadapan Sandy sesegera mungkin. Namun, pesan sang ibu yang memintanya secara halus untuk tetap menjaga kesopanan saat bertemu dengan Sandy. Dan, lagi-lagi berhasil mengurungkan niatan Agnia. Dia tidak bisa jika harus membantah perintah ibunya.
“Emang pacar kamu nanti nggak marah kalau tahu?” Tawa Sandy belum mereda. Dan, sebuah pertanyaan yang sebenarnya bisa dibilang menggelitik, sengaja dia luncurkan guna melancarkan aksi godaan lebih lanjut pada Agnia.
Skak mat!
Rencana Sandy sukses. Kini, Agnia sedikit melebarkan kedua bola mata. Dia tampak terkejut dengan pertanyaan yang baru saja didengarnya. Agnia sempat bengong untuk beberapa saat. Sementara, dengan kapasitas memori terbatas di kepalanya, Agnia mencoba merangkai kata demi kata yang sekiranya dapat dia luncurkan untuk menjawab pertanyaan Sandy.
“Marah nggak nanti?” Pria itu bertanya sekali lagi. Tak sabaran menunggu umpan balik dari pancingannya.
“Nggak marah kok. Dia percaya sama saya.”
“Mungkin kalau aku jadi pacar kamu. Aku akan marah kalau pacarku pergi sama pria lain,” Sandy menanggapi serius, kemudian memandang perempuan itu dengan tatapan yang sukar diartikan.
Agnia menghela napas jengah. Butuh ekstra kesabaran baginya dalam menjawab setiap pertanyaan Sandy yang seolah-olah memang bertujuan guna menggali informasi darinya.
“Itu ‘kan kamu. Lagian, Sanata sudah tahu persis kok cinta saya cuma buat dia doang.”
Detik ini pun, Agnia merasakan mual di perut karena kata-kata lebay yang dia diluncurkan sendiri. Di kedua pipi Agnia tampak muncul semburat warna merah akibat menahan malu. Untung, Sandy tak menyadarinya. Jika sampai ketahuan. Tamat sudahlah harga diri Agnia.
“Perasaan dia ke kamu kayak gitu juga atau hanya kamu yang cinta mati?” Sandy seakan belum puas mendengar jawaban dari perempuan itu.
Agnia nyaris melototkan kedua mata lebar-lebar. Kali ini pertanyaan Sandy seolah membakar daun telinganya secara perlahan. “Loh, dia juga mencintai saya kok. Kamu nggak usah khawatir segala tentang perasaan dia ke saya,” balas Agnia dengan nada yang sedikit ditinggikan.
Sandy mencoba menahan tawa. Ekspresi kekesalan sekaligus kemarahan yang ditunjukkan perempuan itu malah tak membuatnya gentar. Dan, sama sekali tidak menakutkan untuk Sandy. Jika saja Agnia tipe wanita yang suka sok jual mahal, maka Sandy akan melupakan ketertarikanya dengan cepat. Namun, Agnia benar-benar mampu membangkitkan rasa penasarannya.
“Aku justru cemas kalau dia nggak benaran serius sama kamu, Agnia. Soalnya aku nggak bakal ragu buat langsung jadiin kamu istriku.”
Agnia langsung terbatuk-batuk mendengar pernyataan ala Sandy yang menurutnya masuk dalam kategori alay. Sekilas ucapan Angkasa bermunculan di benaknya. Sang sahabat pernah mengatakan padanya bahwa kebanyakan pria itu memang suka melancarkan aksi rayuan. Dan ternyata, bukan hanya ketiga sahabatnya yang memiliki sifat demikian. Namun, Sandy juga.
“Nggak kok. Sanata serius sama saya,” bela Agnia. Dia tidak ingin terus terpojokkan oleh perkataan Sandy.
“Yakin?”
Agnia mengembuskan napas panjang, lalu mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk menetralkan kekesalan. “Yakin kok. Kemarin aja dia baru melamar dan minta saya buat jadi istrinya. Nah, kita bisa batalkan perjodohan segera.” Agnia mendrama. Tidak secara menyeluruh.
Karena faktanya memang kemarin malam, Sanata menanyakan perihal kesediaan dirinya untuk mau menikah dan menjadi istri pemuda itu. Tetapi, Agnia belum memberikan jawaban pasti. Butuh waktu untuk memikirkannya kembali. Sanata juga tampak santai-santai saja menanggapi jawabannya kemarin. Alhasil, Agnia tidak terlalu terbebani. Namun, percakapan dengan Sandy sore ini malah membuatnya tak tenang.
“Oh gitu,” tanggap Sandy seakan tidak menganggap ucapan Agnia penting.
“Baru di depan kamu aja, ‘kan? Dia belum minta restu langsung sama keluarga kamu, Agnia?”
Lagi-lagi Agnia merasa tertusuk oleh pertanyaan Sandy. Untuk menelan ludah pun terasa cukup sulit. Apalagi, kinerja otaknya mulai menurun. Susah untuk melemparkan jawaban yang tepat. Sandy bukan pria yang mudah dibohongi dengan dramanya.
“Benar, ‘kan?” Sandy terus berupaya mendesak. Sudah tidak sabar rasanya menunggu jawaban perempuan itu.
“Sanata belum punya waktu aja buat ketemu keluarga saya. Pekerjaan dia di kantor banyak,” jawab Agnia mengarang bebas.
“Kalau dia nganggap kamu seseorang yang penting. Pacar kamu itu pasti akan mau meluangkan waktunya untuk bertemu keluarga kamu, Agnia. Hal itu juga akan jadi tolak ukur seberapa besar niatan dia serius sama kamu.”
“Pintar ya kamu ceramahnya,” cibir Agnia karena terprovokasi ucapan pria itu yang menurutnya sok bijak. Menyebalkan.
Sandy malah mengeluarkan tawa. Ada sedikit kesenangan karena mengetahui bahwa Agnia ternyata memiliki sifat galak. Pelototan perempuan itu tampak lucu di matanya. Sandy semakin tak rela saja jika perkataan Agnia nanti memang benar adanya. Tentang fakta pria yang menjadi pacar Agnia telah terlebih dahulu melamar perempuan itu untuk dijadikan pendamping hidup.
“Aku bukan mau ceramah. Aku cuma pengin tahu seberapa beraninya sainganku berusaha untuk mempertahankan kamu.”
“Saingan?” ulang Agnia. Takut-takut telinganya salah menangkap kata-kata yang diucapkan Sandy.
“Aku menganggap pacar kamu sebagai saingan. Memang harusnya begitu kalau ada dua pria yang menyukai seorang wanita."
Agnia membelalakan mata. Reaksi atas rasa terkejut mendadak menyelimutinya. Tepat setelah mendengar ucapan Sandy. Pria itu berujar dengan tegas serta serius. Tampak jelas pada mimik wajah Sandy. Membuat Agnia turut bergidik ngeri. Situasinya pun akan semakin rumit jika sudah begini. Dia harus mampu memberikan jawaban mutlak yang tak akan bisa dibantah oleh pria itu.
"Anda boleh menganggap Sanata sebagai saingan. Tapi, saya mau menegaskan kalau saya cuma sayang dengan pacar saya. Kami akan masuk ke jenjang hubungan yang lebih serius lagi. Saya mau membatalkan rencana perjodohan di antara kita berdua juga."
...............
Sanata terus memerhatikan sebuah mobil berwarna hitam yang saat ini sedang melaju semakin mendekat ke arahnya. Tak berapa lama, mobil tersebut telah terparkir di depan gerbang rumah Agnia yang terkunci. Meski, lampu sorot kendaraan tersebut sempat menyilaukan mata Sanata, tetapi dia masih dapat menangkap sosok perempuan yang begitu dikenalnya keluar dari dalam mobil yakni si pemilik rumah alias Agnia yang sudah membuatnya menunggu selama satu jam di gerbang rumah.
Sejujurnya, Sanata sedikit kesal karena Agnia tak mengangkat telepon atau membalas pesan yang dia kirimkan. Dan, tampaknya kekesalan Sanata akan bertambah setelah mendapati seorang pria juga ikut turun dari dalam mobil bersama Agnia. Sanata yakin dengan insting-nya, jika pria itu bernama Sandy. Calon tunggal dan satu-satunya pria yang akan dijodohkan dengan Agnia.
Tak ada pergerakkan yang dilakukan Sanata. Dia masih berdiri dengan tubuh tegapnya seraya memasukkan kedua tangan masing-masing ke saku celana panjangnya. Perhatian Sanata sejenak teralihkan pada sosok Sandy yang tengah berdiri kurang dari satu meter di depannya.
Menurut Sanata, peringai pria itu cukup tenang. Namun, sorot mata Sandy yang mengarah padanya malah tampak tak bersahabat. Seolah ada sesuatu yang mengganjal dan tak mengenakan di antara mereka. Padahal, baru petang ini mereka bertemu secara langsung. Bertatap muka.
Sanata tak ingin terlalu mengambil penting segala sesuatu yang menurutnya tidak penting. Termasuk aura tak menyenangkan yang dipancarkan pria bernama Sandy itu. Fokus Sanata kemudian teralihkan pada sosok Agnia yang kini juga berdiri di hadapannya.
“Dari mana aja kamu, Sayang? Kamu nggak tahu aku lama menunggu kamu? Aku sudah mati-matian menahan rindu kepadamu."
Kedua mata Agnia langsung melotot setelah berhasil sepenuhnya memaknai setiap kata yang diluncurkan Sanata lewat pertanyaan tersebut. Keterkejutan Agnia bertambah seiring dengan jarak di antara dirinya dan Sanata yang semakin menipis, hingga Agnia dapat melihat jelas tatapan intens pria itu yang terus tertuju padanya.
“Sanata.” Agnia nyaris ingin melayangkan satu buah tinjuan, manakala tangan Sanata melingkar mesra di pinggangnya tanpa ada persetujuan darinya. Namun, saat dirinya menyadari kehadiran Sandy di tengah mereka. Agnia pun urungkan niatannya.
“Dari mana aja kamu, Sayang? Sibuk banget kayaknya sampai nggak sempat angkat telepon.” Sanata memulai akting dan menyelipkan sedikit sindiran di dalamnya.
Delikan maut Agnia seakan menjadi bertanda bahwa perempuan itu tak nyaman dengan aksi yang dilakukan sang sahabat. Dan, Sanata seolah tak peduli. Dia malah semakin mempererat rangkulannya di pinggang Agnia. Seringan pada wajahnya pun semakin dipamerkan dengan lebar, kala mata mereka berdua saling memandang.
“Habis dari mana? Jawablah. Aku nanya loh, Sayang.” Sanata melembutkan suara sebisa mungkin. Meski, tak tampak ada senyuman di wajahnya. Sanata ingin menunjukkan kesan bahwa dia tidak suka jika sang kekasih pergi dengan pria lain.
"Aku cemas gitu kamu nggak kasih kabar ke aku. Mana aku sangat kangen sama kamu, Sayang. Jadi, kamu harus jawab dan kasih tahu aku, kamu habis pergi dari mana."
“Gue? Eh, maksudnya aku.” Agnia menutup mulutnya karena merasa salah bicara.
Kemudian, dengan begitu cepatnya kata demi kata dirangkai di dalam kepala. Tentu, harus mengesankan hal yang manis. Agnia pun tak membutuhkan waktu lama untuk menyusun beberapa kalimat. Dan, segera akan dilontarkan. Namun, terlebih dahulu, Agnia menyiapkan senyuman hangatnya.
"Maaf, kalau aku jadi membuat kamu lama menunggu dan menahan kangen, Sayang. Aku tadi pergi sebentar ke restoran bu--"
“Agnia habis nemenin gue makan. Gue yang minta Agnia pergi bersama gue tadi.” Sandy tiba-tiba menyela. "Gue harap lo nggak akan amarah sama Agnia. Marah ke gue aja."
Fokus perhatian Sanata yang semula hanya bermuara pada Agnia, kini sudah beralih ke arah Sandy yang memegang ekspresi sok cool. Sanata tak menyukainya. Terlebih, sorot mata pria itu masih memancarkan permusuhan. Walau, memerlihatkan sikap yang bersahabat di hadapan mereka. Tidak akan mudah bagi Sanata begitu saja percaya.
“Lo jangan marah sampai marah ke Agnia. Gimana pun gue yang mengajak dia untuk pergi tadi bersama." Sandy bersuara lagi.
Sanata pun kini sudah memusatkan titik perhatiannya lagi pada Agnia. Dia juga melepas rangkulan tangannya yang tadi melingkari pinggang Agnia. Kedua tangan Sanata lantas terlipat di depan d**a seraya melemparkan tatapan yang terlihat mengintimidasi ke arah Agnia.
“Lain kali kalau mau ketemu sama cowok lain itu bilang dulu sama aku, Sayang.”
Sanata belum selesai dengan aksi dramanya. Bukan full berakting. Memang pada kenyataannya, dalam diri Sanata. Timbul rasa tak rela jika Agnia melewati waktu berharga bersama pria lain. Apalagi tanpa sepengetahuannya. Ia sedikit merasa kesal.
Agnia belum bisa memahami situasi yang sedang terjadi. Bingung harus mengambil sikap seperti apa. Namun, Agnia sempat melirik ke arah Sandy yang tampaknya tengah memerhatikan interaksinya dengan Sanata. Ada sorot mata dalam kedua mata pria itu. Agnia yakin jika tak salah lihat dan menerjemahkan makna tatapan dari Sandy. Namun, dia enggan mempermasalahkan.
“Maaf deh.” Hanya dua kata yang mampu keluar dari bibir perempuan itu.
“Kamu ‘kan nggak salah, Agnia. Aku yang ngajak kamu tadi pergi.” Sandy berucap.
Bukan permanen ingin sok menampakkan pembelaan untuk Agnia. Sandy hanya ingin mengingatkan, khususnya pada Sanata bahwa dirinya masih ada di sini. Sandy tak terlalu bisa bersahabat dengan sikap Sanata yang tunjukkan kecuekan kehadirannya. Dia pun merasa tersinggung. Namun, pikiran rasional mencegahnya untuk lebih banyak lagi bersikap konyol. Mengingat, sudah tak remaja melainkan sebagai pria dewasa.
“Santai, Bro. Gue nggak akan marah sama Agnia. Lain kali pertimbangkan lagi kalau mau ngajak pacar orang pergi biar nggak menimbulkan kesalahpahaman yang dapat saja berujung ke acara bertengkar. Kalau perlu diadain juga baku hantamlah, ya."
Agnia sedikit terkesiap mendengar ucapan berupa peringatan kecil yang dilontarkan Sanata. Dan, ketika memandang wajah sang sahabat yang tengah serius. Agnia seketika merasakan desiran aneh menghampiri yang dadanya. Tak ayal, jantung Agnia pun ikut berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Selama Agnia belum resmi jadi milik lo. Gue rasa dia masih berhak bertemu dengan siapa saja,” sahut Sandy dengan pembawaan yang terbilang masih tenang. Tak akan dia mau sampai terpancing. Sama-sama emosi.
“Ckck.” Decak Sanata sedikit geram.
Sorot mata pria itu jelas-jelas tampak sedang ingin menantang dirinya. Menciptakan riwayat hubungan buruk di antara mereka diawal pertemuan. Entah bagaimana, jika harus berjumpa untuk sekian kali. Sanata tentu enggan harus bertemu kembali. Dia akan selesaikan masalah mereka sekarang.
“Tapi, Agnia pacar gue, Bro.” Ketegasan pun Sanata terdengar dalam ucapannya. Dia akan menerima tantangan yang coba untuk dilancarkan Sandy. Pantang dirinya takut.
Agnia kembali terperanjat kaget, tatkala Sanata meraih dan menggenggam tangan kirinya dengan cukup erat. Bulu kuduknya merinding. Mungkin karena efek dia belum pernah digenggam oleh seorang pria, seperti yang tengah dilakukan Sanata. Agnia juga dapat merasakan jika aura yang sejak tadi dipancarkan Sanata sedikit berbeda. Dia tak tahu persis. Namun, tampak menakutkan.
“Agnia juga calon istri gue, Bung. Lo juga ya harus ingat. Dia memang pacar lo statusnya yang resmi sekarang. Tapi, bisa berubah."
Decakan tak suka dikeluarkan Sanata lagi. Sejujurnya dia sangat merasa terganggu oleh ucapan Sandy. Seolah-olah peringatan yang dia katakan tadi sama sekali tak ingin diindahkan. Bukan sesuatu yang mutlak bisa membuat Sanata terkejut. Dia pun sudah memprediksi sebelumnya. Tentu akan ada perlawanan yang ditunjukkannya.
Sanata mempertajam tatapan. "Bisa berubah kayak gimana maksudmu, Bro? Apakah akan jadi tunangan lo? Begitukah kira-kira?"
“Bukannya Agnia sudah bilang kalau dia menolak perjodohan dengan lo, Bro? Agnia pun bilang ke gue. Nggak mungkin kalau lo sampai nggak tahu. Atau lo yang abaikan."
Sandy melipat kedua tangan di depan d**a. Wajahnya masih dihiasi oleh ekspresi yang identik menunjukkan ketenangan. Namun, tidak dengan sorot matanya yang terus mengawasi pergerakkan Agnia dan Sanata. Timbul semacam rasa panas di dalam dirinya ketika menyaksikan pemandangan mesra pasangan itu. Tak akan dipungkiri.
“Penolakan Agnia atas perjodohan kami menurut gue belum mutlak.” Sandy belum berniat mengalah. Bicara dengan tegas.
“Ckck.” Sanata mulai kehabisan sabaran. Akan tetapi, tautan jari-jarinya Agnia yang semakin terasa mengerat dalam genggaman tangan mereka, seakan meminta Sanata untuk lebih dapat mengontrol diri.
“Maaf, Sandy. Saya sudah bilang ‘kan sama kamu kalau saya menolak perjodohan kita.” Agnia tak menunggu waktu terlalu lama untui ikut buka suara. Diutarakan dengan jujur apa yang sedang dipikirkannya.
“Sanata sudah melamar saya untuk menjadi istrinya. Dan, saya menerima lamaran tersebut,” lanjut Agnia dengan perasaan yang entah terasa sedikit gugup. Ditambah tatapan Sanata telah terfokus kepadanya. Agnia merasa degup jantungnya sedikit bekerja lebih cepat. Sulit untuk dikontrol.
Begitu juga dengan Sanata. Dia terkejut akan pernyataan Agnia yang berada di luar ekspektasi atau dugaannya. Sanata sama sekali tak menyangka perempuan itu dapat berkata demikian. Namun demikian, dia jelas merasakan senang. Tak hanya dirinya yang melawan. Ada dukungan lain juga.
“Lo udah melamar secara resmi ke orangtua Agnia nggak, Bung? Kalau belum gue rasa gue juga punya kesempatan yang sama buat melamar Agnia jadi istri gue.” Sandy pun langsung menembak pada topik bahasan yang memang ingin dia bicarakan dengan Sanata. Enggan lama-lama menunda.
"Seperti gue bilang tadi. Lo memang punya hubungan dengan Agnia. Kalian pacaran. Tapi, bukan berarti Agnia bisa jadi milik lo sepenuhnya. Kecuali, kalian menikah."
Sanata berdecak sinis. "Iya, gue belum dapat memiliki Agnia secara penuh karena gue dan dia cuma pacaran. Tapi, akan dipastikan juga dia untuk gue seorang, setelah nanti dia gue lamar resmi di hadapan orangtuanya."
"Gue pertegas lagi, gue nggak akan kasih ke laki-laki lain memiliki Agnia. Cuma gue yang akan jadi pria yang dia cintai sampai tua. Kami pastinya akan segera menikah. Dan, rencana perjodohan kalian harus batal."
.................................
Agnia menopang wajahnya dengan kedua tangan masing-masing di pipi kanan dan kiri. Sesekali senyum Agnia mengembang, tatkala mengingat bagaimana sikap Sanata tadi saat menghadapi Sandy yang menurutnya cukup keren. Miriplah seperti karakter tokoh-tokoh pria kece di dalam novel yang pernah dia baca. Hanya sedikit saja. Sisanya Sanata kurang punya pesona.
“Kenapa lo, Ag? Kayak ada nggak beres? Apa memang yang lo pikirkan? Kasih tahu gue."
Pertanyaan Sanata tersebut berhasil memunculkan semburat rona merah di pipi Agnia. Apalagi, saat mata mereka berdua harus saling bertubrukan. Detak jantung perempuan itu mendadak tak terkendali dari batasan normal seharusnya. Agnia pun kurang dapat memahami bagaimana bisa tunjukkan reaksi yang demikian sekarang.
“Nggak ada apa-apa sama gue, kok.” Agnia menjawab dengan nada kesankan santai dan melemparkan pandangan pada sudut lain di ruang tamu rumahnya guna akhiri kontak mata mereka. "Gue biasa aja," imbuh Agnia.
Untung, jarak antara dirinya dan Sanata cukup jauh. Walau, mereka masih duduk bersama dalam satu sofa panjang. Jadi, tak akan menimbulkan kecurigaan. Agnia jelas enggan membuat Sanata sampai ketahui keanehan yang tengah melingkupi dirinya. Lebih baik, disembunyikan saja agar tidak mendapatkan reaksi berlebihan nantinya.
"Gue nggak kenapa-kenapa. Bisa nggak lo jangan introgasi gue? Seolah gue melakukan sebuah kesalahan fatal. Heran gue sama lo."
Sanata menaikkan salah satu alisnya. Dahi pria itu juga menampakkan kerutan. “Yakin nggak ada apa-apa lo, Ag? Wajarlah gue jadi curiga, soalnya gue merasa lo agak beda."
“Iya, serius.” Agnia mengangguk dengan gerakan yang mantap. Walau, sedang sukar menelan ludah akibat semakin gugup.
"Gue nggak bohong lagi sama lo, San. Nggak ada untung buat gue begitu. Lagian, kalau gue punya masalah pasti gue bilang ke lo."
"Oh, gitu. Ya, terserah lo aja. Gue percaya lo nggak bohong." Sanata menjawab santai.
Sementara, Sanata tentu saja menyadari jika Agnia tengah terus memandang ke arahnya sambil senyum-senyum sendiri. Tampak tak biasa memang. Sebab seingat Sanata, Agnia sangat jarang memerlihatkan senyum aneh. Mungkin yang pertama kali baru hari ini. Dia memutuskan bertanya agar lebih jelas. Jawaban perempuan itu pun tak sesuai apa yang dipikirkannya. Meski demikian, malas mengonfirmasi ulang. Membiarkan saja.
Tunggu dulu. Ah, lupa. Sanata ternyata pernah menyaksikan ekspresi Agnia yang persis sama seperti sekarang ini, sekitar sembilan tahun lalu. Ketika tak sengaja Agnia meminta dirinya dan Rendra menemani perempuan itu menonton salah satu drama Korea secara paksa. Dia pun tak mampu menolak ketika perempuan itu meminta dengan wajah memelas. Sudah lama sekali memang, tetapi Sanata masih bisa mengingatnya cukup jelas.
Sepenggal memori terekam di dalam kepala Sanata, yakni ketika Agnia memeluk lengan kirinya dengan cukup erat, saat layar televisi menampilkan sosok seorang pria berwajah oriental yang Sanata ketahui menjadi salah satu aktor Korea favorit Agnia. Bukan rahasia lagi. Sebab seluruh wallpaper yang digunakan perempuan itu baik di handphone maupun laptop, selalu indentik dengan aktor tersebut. Sanata lupa nama aktor yang dikagumi Agnia.
“Eh, San…,” panggil Agnia pelan.
Sanata pun meraih kesadarannya dari rol-rol film memori yang mengingatkannya akan hobi Agnia. Terutama tentang kesukaan perempuan itu dengan aktor-aktor Korea yang menurut Sanata ketampanannya masih masuk ke dalam standar biasa-biasa saja.
“Apa? Lo pengin ngomong apaan sih dari tadi? Nggak jelas dah lo, Ag,” cibir Sanata sembari melayangkan sedikit delikan.
“Baru juga gue mau muji lo, San,” ceplos Agnia terang-terangan.
Sanata kembali menaikkan alis kirinya. Merasa penasaran dengan ucapan perempuan itu. “Muji gue? Benaran? Kok tumben?”
Agnia mengembuskan napas panjang. Tampaknya dia salah bicara lagi. Agnia memang harus belajar untuk mengontrol kata-katanya agar tidak mempermalukan diri sendiri. Tetapi, dia tak berbohong. Agnia ingin memuji sikap sahabatnya itu tadi.
“Jadi muji gue nggak nih?” Smirk di wajah Sanata mulai terlihat. Kebungkaman dan gelengan Agnia pun jadi jawaban atas pertanyaannya tersebut.
“Jadi nggak?” Sanata seolah ingin mendesak perempuan itu untuk buka suara, guna memperoleh jawaban yang membuat rasa penasaran Sanata kian tumbuh.
Agnia masih menutup bibir rapat-rapat. Bukan karena tak ingin menjawab. Akan tetapi, Agnia sedang merangkai kata-kata yang pas dan tepat di dalam kepala untuk dia ucapkan nanti. Menghindari kesan yang terlalu memuji Sanata agar sang sahabat. Ralat lagi, kekasihnya itu tidak besar kepala.
“Jadi nggak nih?”
“Nggak sabar banget lo ah!” seru Agnia setengah kesal. Sifat tak sabaran Sanata membuat mood-nya sedikit terganggu. Beruntung susunan kata-katanya di dalam kepalanya.
“Habis gue penasaran. Lo ‘kan jarang mau muji jalau nggak ada maunya. Nah, gue jadi curiga lo pengin sesuatu dari gue.” Sanata mengutarakan kejanggalan yang dia rasakan akan sikap Agnia.
“Jangan punya pikiran negatif terus sama gue. Nggak gitu kok, San. Gue cuma pengin muji kalau tadi pas ngomong sama Sandy lo keren. Pantaslah dulu teman-teman cewek sekelas banyak yang suka sama lo, ya.”
Sanata menghadapkan tubuhnya ke arah perempuan itu. Mempertemukan kembali tatapan mereka. “Lo aja yang baru sadar. Mata lo ketutup mulu. Gue emang keren dari dulu. Selain keren, gue juga tampan.”
Sedetik kemudian, Agnia membuka kedua mata lebar-lebar. Dia benar-benar menyesal sudah memuji Sanata yang memang sangat menyukai arti sebuah pujian. Maka dari itu, Agnia selalu menghindari kata-kata yang berbau kekaguman untuk Sanata.
“Terserah lo mau ngomong apa.” Agnia memilih mengalah karena sedang tak ingin berdebat.
“Tapi, makasih karena udah bantuin gue sampai sejauh ini. Makasih Sanata,” Agnia melanjutkan ucapannya dengan tulus. Dia sangat menghargai usaha yang Sanata telah lakukan untuk membantunya.
“Lo cuma ngucapin makasih doang nih? Nggak ngasih sesuatu gitu ke gue?”
Agnia langsung bergidik ngeri. Bulu kuduknya juga bangun saat mendapati tatapan tak biasa dan juga seringaian nakal yang tercetak di wajah Sanata. Agnia tidak bisa menerka apa yang sesungguhnya sedang direncanakan pemuda itu. Tetapi, perasaan Agnia tak enak.
“Terus lo penginnya dikasih apa?”
Dengan begitu cepat mengubah posisinya, bergerak ke depan mendekati Agnia dan memangkas jarak di antar mereka. Smirk Sanata pun kian terlihat jelas. Sementara, Agnia membeku di tempat.
“Gue maunya ini,” bisiknya di telinga kiri perempuan itu dengan nada menggoda.
Cup!
Sanata lantas menempelkan bibir mereka, membuat tubuh Agnia kian membeku bak es yang sulit mencair. Sementara itu, sudut-sudut bibir Sanata mencetak senyum jahil. Hingga waktu telah berlalu sebanyak lima detik lamanya, Sanata belum melepas bibirnya dari permukaan bibir Agnia yang terasa lembut baginya.
Reaksi Agnia tetap sama, dia masih mematung dengan kedua mata yang sedikit melotot. Meskipun, tatapan mereka saling bertubrukan. Tetapi, Sanata bisa merasakan bahwa pandangan Agnia kosong dan entah melayang kemana.
“Astaga muka lo jelek banget deh, Ag,” Sanata mengejek pasca bibir mereka tidak lagi menyatu. Seringaian nakal begitu jelas diperlihatkan Sanata.
“Bi...bibir gue,” gumam Agnia dengan sedikit gemetar pada bibirnya. Dia belum bangun sepenuhnya dari keterkejutan akan aksi Sanata.
“Bibir lo nggak kenapa-kenapa kok, Ag. Masih utuh. Belum gue apa-apain nih,” bisik Sanata di telinga Agnia dengan nada godaan yang khas.
Tangan Agnia melesat cepat mengambil bantal sofa, lalu mengarahkannya pada Sanata dan memberi pukulan dengan gaya cukup beringas. “Kalau mau nyium itu izin dulu kek. Hampir jantung gue copot gara-gara ulah lo! Sanata sompret!”
Tawa Sanata menggelegar memenuhi ruang tamu rumah Agnia. Dia sangat puas dapat menarik keluar kekesalan perempuan itu. “Kalau gue minta izin lo bakal kasih gitu ‘kan, Ag? Iya udah deh gue minta izin lagi sekarang.”
Sanata pura-pura mengambil sikap serius dan menatap intens sosok Agnia yang duduk di sampingnya dengan ekspresi waspada menghiasi wajah perempuan itu secara nyata.
“Agnia gue sayang. Bolehkah gue memberikan satu buah ciuman mesra di bibir lo belum terlalu terjamah ini?” Sanata mengeluarkan smirk yang semakin tampak nakal. Dia juga mencondongkan tubuh ke depan hingga membuat Agnia memundurkan wajah ke belakang.
“Gile! Pengin muntah gue, San. Asli lo nggak cocok banget bersikap kayak gini,” sindir Agnia sembari bergidik ngeri.
“Lo aja yang belum tahu seberapa romantisnya gue,” ujar Sanata dengan nada bangga yang sengaja dibuat-buat.
“Preettt!” seru Agnia semakin merasa mual karena sikap Sanata.
“Daripada lo yang nggak punya bakat buat romantis sama pacar sendiri!”
Agnia jelas merasa tersinggung dengan cibiran Sanata itu. “Siapa bilang? Belum gue tunjukkin aja,” jawabnya sombong.
Sanata menarik tangan Agnia agar jarak yang membentang di antara mereka berdua agar tak terlalu jauh lagi. “Benaran? Iya udah coba lo praktikan sekarang di depan gue.” Sebuah tantangan dibisikan pemuda itu di telinga Agnia.
“Lo kudu nikahin gue dulu, Sanata gue sayang. Biar perjodohan gue sama Sandy bisa batal.” Agnia tidak mau terlihat kalah. Meski, dia tak yakin dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari mulutnya.
“Kapan gue bisa ketemu sama Tante Sasmita dan Om Radika? Gue juga pengin buktiin ke Sandy kalau gue benaran serius sama lo, Ag,” tanggap Sanata dengan mimik ekspresi tak main-main akan kata-kata dilontarkan.
"Maksud gue lebih tepatnya mau ngajak lo buat nikah. Gimana menurut lo? Setuju?"
Agnia mendengar semua yang sudah Sanata ucapkan. Bahkan secara saksama. Tidak ada yang terlewatkan oleh kedua telinganya. Dia tentu ingin segera menanggapi. Akan tetapi, belum dapat terpikirkan sepatah kata pun sebagai jawaban. Hal tersebut dikarenakan dia yang masih dilanda perasaan kaget. Tak menyangka saja jika perbincangan mereka menyangkut hal sangat serius baginya.
"Ag, lo kenapa bengong? Nggak bisa kasih ke gue kepastian? Jangan buat gue nunggunya yang lama. Nggak enak. Gue merasa nggak tenang. Cepatan lo kasih jawaban ke gue."
Agnia mengangguk segera. Kepalanya pun digerakkan dengan pelan. "Oke...oke."
"Akan gue kenalkan lo ke orangtua gue."
.............