07

2067 Kata
“Gimana? Enak nggak?” tanya Agnia tak sabaran. Sebab begitu merasa ingin tahu. "Nggak enak, ya? Gue tumben soalnya. Ya, kalau nggak enak dan malah jelek harus dimaklumi. Nggak usah nanti protes," imbuh Agnia dengan suara yang lebih kalem. Kedua siku perempuan itu tertumpu di meja makan. Ekspresi di wajah Agnia menunjukkan rasa penasaran yang tinggi. Dia tidak melepas pandangannya dari sosok Sanata yang tengah makan tepat di hadapannya. Harap-harap cemas dengan rasa masakannya sendiri. Ekspresi di wajah Sanata tampak normal-normal saja. Sementara di dalam mulut, Sanata mengunyah perlahan nasi goreng buatan Agnia. Lidahnya terus mengecap dengan cukup teliti. Rasa asin memang mendominasi masakan Agnia. Tetapi, tak terlalu parah. Masih dapat ditolerir. “Lumayan,” komentar Sanata jujur. Dia melirik Agnia yang kini sedang mengembungkan kedua pipi. Alis Sanata pun tertaut menyaksikan ketidakpuasan Agnia akan penilaiannya. "Lumayanlah rasa masakan lo. Nggak bisa dibilang enak banget. Nggak juga jelek." “Nggak suka sama pendapat gue?” Sanata berujar dengan nada santai, tetapi diberi penekanan pada kata-kata yang diucapkan. Agnia menggeleng lemah. “Bukan. Gue cuma kecewa aja sama skill memasak gue yang nggak meningkat-ningkat. Padahal, gue udah nyoba melakukan yang terbaik tahu." "Eh, malah hasilnya nggak sesuai dengan apa yang gue mau. Ya, jelas jadi kecewa." Sanata menyuap satu sendok lagi nasi goreng ke dalam mulutnya, sembari memerhatikan dengan detail air muka Agnia yang belum berubah, meski perempuan itu tengah menundukkan kepala. Senyum tipis tercetak di wajah Sanata kemudian. “Rasa masakan lo udah lumayan enak kok, Ag. Keasinan dikit aja, kalau gue makan." Sanata melekatkan tatapannya. Ia turut melebarkan senyum. "Gue hargai seluruh usaha yang udah lo coba lakukan, Ag." "Gue akan habiskan semua. Jangan cemas, ya? Semua ini gue lakukan karena ingin menghargai usaha dan keringat yang sudah lo keluarkan demi masak nasi goreng, Ag." Agnia menarik kepalanya sedikit ke atas guna mempertemukan pandangannya dengan Sanata. Dan, Agnia tahu bahwa tak ada sedikit pun kebohongan dalam mata Sanata. Agnia menghela napas cukup berat. Kekecewaan akan rasa nasi goreng dan kemampuan memasaknya terus bergelut di dalam diri Agnia. Membuat tak semangat. "Kenapa nggak dijawab ucapan gue? Lo tadi dengar semua yang gue bilang 'kan, Ag?" Kali ini, Agnia mengangguk dengan gerakan cepat, hanya sekali saja. "Gue lagi malas mau ngomong, San. Lagipula, gue harus kasih ke lo tanggapan yang bagaimana?" tanyanya balik dengan suara lebih dipelankan lagi. "Ya, minimal lo iyakan ucapan gue. Hargai gue yang memberikan lo semangat secara tulus. Dan, lo harus mengapreasi dukungan dari gue pakai senyumanlah minimal, ya. Kalau perlu juga ucapan makasih manis." Agnia lekas anggukan kepala. Ia lantas memerlihatkan senyuman seperti sahabat karibnya minta. "Ini udah gue lakukan." "Makasih atas dukungan lo, San. Lo emang punya hati yang baik dan tulus mau kasih gue semangat." Agnia menambahkan. Ia mengabulkan permintaan dari Sanata tadi. "Hahaha. Nah, gitu dong. Mantap gue lihat lo kayak begini. Semangatlah buat lo, Ag!" “Dicoba aja terus bikin makanan. Gue percaya skill memasak lo bakal jadi lebih baik,” Sanata mendorong kalimat-kalimat dukungan keluar dari mulutnya untuk sang kekasih lebih banyak lagi. Tentu, serius. "Kalau lo latihan sering masak. Nah, pasti juga hasilnya akan semakin banyak. Percaya sama ucapan gue ini. Gue nggak membual." Agnia menatap Sanata dengan sedikit perubahan ekspresi. “Ntar kalau gue latihan masak. Lo mau ‘kan nyicipin makanan yang gue buat?” Agnia berharap melalui sorot matanya yang terlihat berbinar. "Mau-mau ajalah gue. Lo tahu sendiri kalau gue orangnya selalu akan baik sama lo, Ag." “Asal gue nggak sakit perut gara-gara makan masakan lo nanti. Gue sih ayo-ayo aja,” tanggap Sanata santai. Sudut-sudut bibirnya semakin terangkat naik saat menangkap kepuasaan yang terukir di wajah Agnia sehabis mendengar jawaban darinya. “Makasih banyak sekali lagi, Sanata. Lo tuh emang dah sahabat terbaik yang gue mi—” “Pacar paling baik yang lo punya, Ag.” Ralat Sanata seraya menampilkan smirk yang seketika membuat Agnia menarik kepala ke belakang. Ia pun jadi terkekeh senang. “Kapan sih lo berhenti memuji diri sendiri kayak gini? Bikin gue mual tahu nggak?” protes Agnia tanpa menyadari bahwa detak jantungnya menunjukkan ketidakstabilan, hanya karena tatapan Sanata yang terasa beda untuknya. “Lo jangan keseringan mual-mual, Ag. Nanti dikira gue udah ngapain-ngapain lo lagi. Padahal lo diajak ciuman aja kagak balas.” Sanata memancing Agnia lebih lanjut dengan guyonannya. Mangkuk plastik yang ada di tangan Agnia nyaris melayang ke arah Sanata, selepas mendengar kata-kata yang berhasil membakar daun telinganya. Ditambah dengan suara ngakak Sanata masuk ke dalam indera pendengarannya. Maka, kejengkelan Agnia semakin mencuat. Namun, kecepatan jantungnya ketika berdegup belum juga kembali ke batas normal yang seharusnya. “Lo aja yang suka berpikir m***m kayak Angkasa,” sindir Agnia mencoba mengalihkan sedikit ketegangan yang menghinggapi karena mengingat momen Sanata mencium bibirnya kemarin. "Kepala lo isi begitu doang. Nggak ada hal positif yang bisa lo pikirkan, ya San?" Agnia loloskan sindiran lanjutan dengan suaranya sedikit halus. Namun, tetap ada penekanan. "Hahaha. Ya dong, Ag. Lo sangat betul. Tapi, gue juga memikirkan hal lain. Yang begitu muncul di kepala gue spontan-spontan aja." “Lagian wajarlah, Ag. Artinya gue ini pria normal. Lo aja yang nggak peka, ya. Atau kurang bisa dibilang berpengalamanlah yah masalah yang m***m-m***m? Kalah dong lo jadinya sama si Reni? Dia aja peka banget, gue lihat. Nggak malu lo dikalahin emang?" Sanata menyuguhkan seringaian nakal sambil tetap memerhatikan dengan jeli ekspresi yang terus berganti di wajah Agnia dalam kurun waktu sekitar lima menit. Sanata berupaya menahan diri untuk tidak tergelak. Dia ingin melihat sejauh apa Agnia akan menanggapi candaannya. Walau, sudah hampir lebih dari sepuluh tahun mereka bersahabat. Sanata belum pernah merasa semenarik ini untuk mengerjai Agnia. Kekesalan di wajah perempuan itu seolah menjadi hiburan tersendiri baginya. Sanata tak mampu mengelak jika aura kecantikan Agnia lebih menarik minatnya dari hari ke hari. Ada semacam magnet yang terus berusaha menyeret Sanata untuk bisa lebih dekat dengan Agnia. Bahkan, Sanata tak keberatan saat diminta ke rumah kekasihnya itu sehabis pulang kantor. “Mau gue ajarin nggak? Gue jamin lo akan sangat mahir. Gue akan menurunkan ilmu yang gue punya secara gratis dan tulus." Agnia hanya melototkan kedua mata dan tertuju tepat pada sosok Sanata. Agnia juga menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. “Ntar pas lo udah resmi jadi suami gue aja. Turunin semua ilmu lo yang sangat mujarab ke gue. Nggak akan gue tolak." Sanata cukup terkejut mendapati jawaban Agnia yang tidak sesuai dengan prediksinya. Namun, Sanata tentu pantang menyerah. Serangkaian kata-kata sudah berputar di kepalanya. Ekspresi polos di wajah Agnia membuatnya semakin bersemangat untuk terus melancarkan aksi balasan. “Widih ceritanya mau nantangin gue nih? Ya, gue terima. Kapan lo mau jadi istri gue? Bilang aja. Akan gue lamar lo, Ag. Dijamin juga pernikahan kita segera bisa digelar." "Gue ajak orangtua gue menemui ayah sama ibu lo buat meminta restu menikahi lo nanti, Ag. Gampang semuanya bagi gue. Jadi, lo nggak usah meragukan niatan gue, ya. Gue orangnya bisa serius kalau menyangkut hal yang kayak begini. Lo cukup tenang aja." Sanata bangkit dari kursi yang dia duduki. Kemudian, mencondongkan tubuh ke depan. Meski, terdapat meja yang memisahkan mereka. Setidaknya, Sanata bisa menipiskan sedikit jarak antara dia dan Agnia. Hingga Sanata bisa melihat wajah perempuan itu memerah. “Lo...lo mengerikan, San.” Agnia menarik dirinya ke belakang dan mengalihkan pandangan ke sudut lain yang ada di ruang makan. Sanata ngakak. "Hahahaha." “Gue cakep, Ag. Not mengerikan. Lo kira gue setan?” Sanata masih melayangkan tatapannya tanpa sadar jika ketegangan di tubuh Agnia yang terus berlanjut. “Tenang, Sayang. Gue tahu kok batasan gue sampai di mana. Selama lo belum legal buat jadi milik gue,” balas Sanata sambil mengedipkan salah satu matanya. Agnia hanya diam dan menaruh titik perhatian pada kegiatan Sanata yang kini sedang mengambil piring serta gelas kotor di atas meja, lalu membawa benda-benda tersebut ke wastafel dapur untuk dicuci. “Ngomong-ngomong makasih buat nasi goreng lo ya, Ag,” ujar Sanata tulus. Dia melirik sekilas ke arah Agnia yang duduk membelakanginya dengan jarak pemisah sekitar dua meter. Sanata lalu melanjutkan aktivitas membersihkan alat-alat makan yang tadi digunakannya. Dan, Agnia kembali merasakan degup jantung yang mulai tak stabil. Senyum Sanata barusan membuatnya terpikat dan seakan membius Agnia. “Besok gue buatin lagi. Mau nggak lo, San?” tawar Agnia tanpa direncanakan sebenarnya. Sanata membalikkan badan setelah menempatkan piring, sendok serta gelas yang dicucinya di tempat pengeringan samping wastafel. Sanata kemudian berjalan menuju meja makan. Tak butuh waktu lama memang bagi Sanata untuk menyelesaikan kegiatannya itu. Saat tatapan mereka saling beradu. Sanata merasakan ada kehangatan tersendiri menyusup masuk ke dalam dadanya.   “Boleh. Asal jangan nasi goreng lagi lah, ya. Nanti gue bosan. Masa iya pas udah nikah lo mau terus kasih gue nasi goreng, Ag?” “Iya nggak gitu juga, Sanata.” Agnia sedikit mendongakkan kepala untuk melihat wajah Sanata. Pemuda itu sedang berdiri tepat di depannya. Sanata mengulas senyum seperti tadi. Sementara, tangannya sudah berada di puncak kepala Agnia. “Bagus. Sekalian belajar masak yang benar. Kalau rasa makanan lo enak ‘kan gue ikut bangga dan senang. Karena punya calon istri yang pintar masak walau nggak peka.” Agnia mendengus. “Ujung-ujungnya lo mau nyindir ketidakpekaan gue. Pintar banget emang lo kalau urusan yang kayak gini." Sanata terkikik pelan. “Loh itu ‘kan udah jadi fakta Agnia gue tersayang.” Jari-jari tangan Sanata mengacak-acak helaian mahkota Agnia dengan tak berperasaan. “San…,” panggil perempuan itu lantas. Tatapannya berubah serius. Agnia bahkan tak peduli akan tindakan mengacak rambut yang Sanata lakukan. “Apa, Sayangkuh? Manggilnya lembut dong. Kalau perlu mesra. Lo sama gue sekarang sudah menjadi kekasih. Manggil harus yang halus supaya gue semakin sayang ke lo." Agnia menggigit bibir bawahnya untuk menetralisir kegugupan yang mulai datang menghampiri. “Tiga hari lagi, Ibu gue bakal ke sini. Gue bilang ke Ibu kalau gue bakal kenalin lo sebagai pacar gue. Biar Ibu gue tuh percaya kalau gue bisa pacaran sama sahabat sendiri. Pokoknya harus dibuktiin." Sanata menempatkan diri sejenak di salah satu kursi ada di sisi kanan Agnia. “Emang Ibu lo nggak percaya? Alasannya apa?" Perempuan itu menggeleng lemah seakan kehilangan tenaga. “Bukan nggak percaya sih, tapi lebih nggak pengin gue pacaran sama sahabat sendiri.” “Kenapa emang?” Sanata semakin tertarik pada topik pembicaraan mereka. Nyeri di d**a tiba-tiba menghinggapi Agnia. “Pengalaman gue punya rasa sama Rendra. Suka dengan sahabat sendiri. Ibu gue khawatir aja karena gue pernah cerita kalau gue takut suka sama sahabat sendiri lagi.” Ingatan Agnia terlempar ke masa lalu. Di mana saat itu dirinya menginjak tingkat akhir dan akan lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Ketika sang ibu memberi tahu bahwa cinta pertamanya yang bersama Rendra, akan menuntut ilmu di luar kota. Agnia pun menangis sesegukan di pangkuan ibunya setelah mendengar berita tak mengenakan itu. Padahal, dia dan Rendra sempat berencana untuk mengenyam pendidikan di SMA favorit bersama. “Jadi, lo nggak pernah tertarik sama gue, Agra atau Angkasa karena ini?” Anggukan pelan dari Agnia menjadi respon atas pertanyaannya. Sanata pun sudah bisa cukup paham. Tidak akan mengonfirmasi lebih lanjut, walau masih merasa ingin tahu. Sanata memilih mengurungkan niatannya. Dari raut wajah Agnia yang berubah, Sanata pun sadar bahwa suasana hati perempuan itu semakin tidak bagus. Lebih baik memang tak lanjutkan topik pembicaraan mereka. Ia pun mencari cara agar dapat kembalikan keceriaan Agnia sesegera mungkin tentunya. “Ya elah. Santai, Bebh.” Sanata membalas dengan nada guyon. Sengaja lontarkan juga panggilan dalam kemesraan, walau masih terkesan kaku. "Nggak usah lo pikirkan.* “Tetap aja gue takut, San. Gue takut harus kecewa lagi,” ujar Agnia pelan dengan sungguh-sungguh. Tersirat kegetiran dalam suaranya yang dialunkan secara pelan Sanata lantas meraih tangan kanan perempuan itu. Tanpa canggung menyatukan jari-jari mereka dan menggenggam tangan Agnia. “Jujur aja, gue nggak bisa menjamin bahwa kalau lo hidup bareng gue, lo nggak bakal ngerasain sakit atau kecewa. Tapi, gue selalu serius, Ag. Gue bakal selesain ini sampai akhir sama lo. Oke?” Setitik air mata Agnia keluar, kemudian menetes melewati pipinya. Dia sangat terenyuh dengan kata-kata Sanata. “Udah gue bilang muka lo jelek kalau sok nangis gini. Gue nggak bakal hibur lo, Ag. Gue bakal ejek lo biar tangisan lo tambah kencang.” Seringai nakal menghias wajah Sanata. “Makasih, San. Makasih banyak karena lo mau selalu membantu gue dengan tulus." Sanata pun menarik tangan Agnia dan memeluk perempuan itu. “Jangan ucapin makasih dulu sebelum gue minta izin secara resmi sama kedua orangtua lo. Gue sayang lo, Ag.” ................. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN