Bab 14 - Bayangan Masa Lalu

699 Kata
Setelah malam itu, Naya dan Arman memulai babak baru dalam hidup mereka. Mereka pindah ke kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Naya mendapatkan pekerjaan sederhana di sebuah kedai buku, sedangkan Arman melanjutkan studinya yang dulu sempat tertunda. Namun, meski mereka mencoba melupakan semua yang terjadi, bayangan masa lalu tetap mengintai seperti hantu yang menolak pergi. Setiap kali Naya berjalan sendirian, ia selalu merasa ada mata yang mengawasinya. Di tengah keramaian pasar, di halte bus, bahkan di dalam mimpinya... wajah Adrian Wicaksana terus menghantui. "Dia tidak akan semudah itu menyerah," bisik Naya pada dirinya sendiri. Dan dugaannya benar. Adrian Wicaksana memang tidak pernah menerima kekalahan dengan lapang d**a. Setelah hancur di depan publik, ia mengasingkan diri selama beberapa bulan. Tapi selama masa itu, ia membangun kekuatannya kembali... dari dalam bayangan. Adrian tahu, menyerang Naya secara terang-terangan hanya akan memperkuat posisinya sebagai korban. Maka, ia mulai memanipulasi opini publik dari balik layar. Ia menyewa konsultan citra, membayar media untuk memutarbalikkan fakta, dan memunculkan berita-berita yang menggiring opini bahwa Naya adalah dalang di balik skandal yang menghancurkan keluarganya. "Dia cuma pembantu rendahan yang haus perhatian," ujar salah satu headline yang membuat Naya muak saat membacanya. Arman mencoba menenangkan Naya, tapi ia tahu... permainan ini baru saja dimulai. Suatu malam, Naya mendapat pesan misterius. Isinya foto rumah kecil mereka... diambil dari sudut yang membuat bulu kuduknya meremang. "Aku tahu di mana kamu bersembunyi, Naya." Pesan itu hanya ditandatangani dengan huruf A. Arman langsung mengamuk. Ia tahu, Adrian sudah menemukan mereka. "Kita harus pergi lagi, Naya. Jangan menunggu sampai dia datang." Tapi Naya menggeleng. "Tidak, Arman. Kalau kita terus lari, dia akan mengira kita takut. Aku nggak mau hidup seperti buronan selamanya." Mereka akhirnya memutuskan untuk melawan. Dengan bantuan Rendi, yang kini juga menjadi target intimidasi, mereka mengumpulkan bukti baru tentang upaya Adrian membersihkan namanya secara ilegal. Namun Adrian bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Ia memanfaatkan pengaruhnya di aparat, bahkan menggandeng pengacara licik yang siap membungkam semua orang yang berani membuka mulut. Di tengah tekanan itu, hubungan Naya dan Arman diuji. Arman mulai merasakan ketakutan yang selama ini disembunyikannya. "Apa kamu yakin kita bisa menang, Naya? Lawan kita bukan orang biasa." Naya memegang tangan Arman erat. "Kita nggak sendiri, Arman. Dan aku... nggak akan menyerah." Tapi di balik keyakinannya, Naya menyimpan rasa lelah yang dalam. Ia merindukan kehidupannya yang sederhana dulu. Ia merindukan senyuman ibunya yang kini telah tiada. Ia merindukan dirinya yang dulu... sebelum semua ini terjadi. Suatu malam, Naya berdiri di depan cermin. Ia menatap wajahnya sendiri yang kini penuh luka batin. "Apa yang sudah kau lakukan, Naya? Apa semua ini sepadan?" bisiknya pada bayangannya sendiri. Tapi sebelum ia tenggelam dalam rasa putus asa, sebuah pesan dari Rendi masuk. "Naya, aku punya berita baik. Ada seorang jaksa yang tertarik membuka kembali kasus penggusuran yang dilakukan keluarga Wicaksana. Tapi kita harus memberikan bukti yang lebih kuat." Naya menarik napas panjang. Ini mungkin kesempatan mereka. Mereka memutuskan kembali ke Jakarta secara diam-diam. Mereka menyelinap ke arsip lama di gedung pemerintahan, mencari dokumen asli yang membuktikan penggusuran dilakukan secara ilegal. Tapi seperti yang diduga, Adrian sudah menunggu. Saat Naya dan Arman berhasil menemukan dokumen itu, mereka disergap anak buah Adrian di lorong gelap. "Berani sekali kau kembali ke kotaku, Naya," ujar suara dingin Adrian yang tiba-tiba muncul dari balik kegelapan. Naya berdiri tegak. "Kota ini bukan milikmu, Adrian." Adrian mendekat, menatap mata Naya dengan tatapan penuh obsesi. "Aku akui, kau gadis yang keras kepala. Tapi kau harus tahu... aku tidak akan berhenti sampai kau berlutut di depanku." Arman maju, berdiri di depan Naya. "Kau sentuh Naya, aku akan pastikan semua orang tahu siapa dirimu yang sebenarnya, Adrian." Adrian tertawa sinis. "Kau pikir ancaman seperti itu cukup? Dunia ini milik orang yang berani bermain kotor, Arman." Tapi di saat Adrian lengah, Naya menekan tombol di ponselnya. Percakapan mereka direkam dan langsung dikirim ke Rendi, yang sudah menyiapkan siaran langsung rahasia. Seluruh ucapan Adrian terdengar jelas di media sosial. Warga yang dulu percaya pada citra baiknya kini melihat sosok asli Adrian... seorang monster yang haus kuasa. Adrian terdiam. Untuk pertama kalinya... ia kalah telak. Naya menatap Adrian penuh kemenangan. "Permainan sudah berakhir, Adrian." Tapi di hatinya, ia tahu... ini baru awal dari kehidupan yang sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN