bc

Cinta di Balik Status

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
arrogant
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
lighthearted
city
small town
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Naya Pramesti hanya seorang pembantu biasa yang harus tunduk di bawah aturan keras keluarga Wicaksana. Namun dunia kecilnya berubah saat sang tuan muda, Adrian Wicaksana, mulai mengusik kehidupannya.

Adrian yang dingin, sombong, dan terbiasa memerintah mulai tertarik pada sosok sederhana Naya yang berani menantangnya. Cinta tumbuh di tengah jurang status sosial yang curam, memaksa keduanya menghadapi luka masa lalu, dendam yang membara, dan permainan kekuasaan yang mematikan.

Akankah cinta mereka bertahan? Atau status akan memisahkan mereka selamanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 - Tatapan yang Tak Terlupakan
Derit lembut sepatu Naya terdengar menyusuri koridor panjang yang sepi. Sore itu, langit di luar mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang masuk melalui jendela kaca besar, memantulkan bayangan pucat di lantai marmer yang berkilau. Bangunan megah keluarga Hartawan memang selalu tampak menakutkan bagi siapapun yang baru menginjakkan kaki di dalamnya. Tapi bagi Naya, rumah ini lebih dari sekadar menakutkan. Rumah ini adalah pengingat nyata bahwa ia hanyalah gadis biasa yang tak seharusnya berada di dunia megah penuh kemewahan dan kekuasaan ini. Naya menarik napas panjang, berusaha menenangkan gemuruh dalam dadanya. Nampan perak di tangannya bergetar pelan, menahan cangkir teh melati dan sepiring kecil kue tart yang tampak lebih mahal dari gaji tiga bulan pekerjaannya. Tangannya basah oleh keringat dingin, meski AC yang menyembur dari langit-langit membuat ruangan nyaris membeku. "Jangan sampai tumpah... jangan sampai tumpah..." gumamnya berulang-ulang, seolah itu mantra penyelamatnya. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, Naya tahu satu aturan tak tertulis yang semua pelayan tahu: jangan pernah berurusan langsung dengan Adrian Hartawan, Tuan Muda yang dikenal kejam dan dingin seperti patung es. Tapi hari itu, takdir tampaknya ingin menguji nyali Naya lebih awal. Saat berbelok di lorong yang menghubungkan dapur dengan ruang baca pribadi, langkah Naya terhenti. Di ujung lorong yang temaram, seorang pria berdiri membelakangi cahaya. Siluetnya tampak tegas, gagah, memancarkan aura otoritas yang begitu kuat bahkan tanpa kata-kata. Pria itu memegang ponsel, jemarinya yang panjang tampak mengetik sesuatu di layar. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, namun garis rahangnya yang tegas dan postur tubuh yang tinggi membuat Naya langsung mengenalinya. Adrian Hartawan. Pria itu seperti dalam lukisan—dingin, sempurna, dan jauh dari jangkauan gadis sepertinya. Namun yang membuat Naya menahan napas bukan hanya sosok itu, melainkan kenyataan pahit bahwa lorong itu adalah satu-satunya jalan yang harus ia lewati. Mau tak mau, ia harus berjalan tepat di depan pria yang paling ingin ia hindari sejak hari pertama. Langkahnya pelan, hampir tanpa suara. Ia menunduk dalam, seperti seekor anak kucing yang mengendap di hadapan singa lapar. Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, suara berat itu memecah keheningan. "Kamu siapa?" Nada bicaranya datar, namun mengandung tekanan yang membuat tubuh Naya nyaris membeku. "I-iya, Tuan... saya Naya... pembantu baru," jawabnya gemetar, tanpa berani mengangkat wajah. Adrian menatapnya dengan sorot tajam. Ia mendekat, langkahnya begitu pelan tapi mengintimidasi. Naya merasakan setiap getaran lantai yang diinjak pria itu, seolah menyatu dengan detak jantungnya yang berlari tak terkendali. "Saya bilang... lihat aku," perintah Adrian dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan namun penuh perintah. Naya menelan ludah. Dengan pelan, ia mendongakkan wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Dan saat itulah waktu seperti berhenti. Mata pria itu... gelap, tajam, namun menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Seperti perangkap yang menariknya masuk, semakin dalam, dan semakin dalam. Naya ingin memalingkan wajahnya, namun ia tak sanggup. Ia terpaku di tempat, dadanya berdegup begitu keras hingga ia takut Adrian bisa mendengarnya. "Ternyata... kau punya mata yang menarik," gumam Adrian, suaranya berubah lebih pelan, hampir seperti memuji. Naya nyaris kehabisan napas. Wajahnya memanas, pipinya merona, tapi ia tak bisa berpaling. Adrian semakin mendekat, kini hanya sejengkal darinya. Jemarinya yang dingin menyentuh dagu Naya, mengangkat wajah gadis itu sedikit lebih tinggi. "Jangan pernah menunduk lagi di depanku, mengerti? Kalau tidak, kau akan benar-benar membuatku penasaran." Naya mengangguk gugup, tapi matanya masih terpaku pada sorot mata pria itu yang kini menatapnya dengan cara yang aneh. Seolah... tertarik? Atau hanya permainan seorang pria kaya yang bosan? Adrian menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang membuat Naya semakin kehilangan kendali atas dirinya sendiri. "Menarik... sangat menarik," bisik Adrian sebelum membalikkan badan dan berjalan menjauh. Naya berdiri kaku, jantungnya masih berdebar keras. Tangannya gemetar, hampir menjatuhkan nampan yang sejak tadi nyaris lepas dari genggamannya. Dalam hatinya, Naya tahu... apa yang baru saja terjadi bukanlah kebetulan. Tatapan itu... senyum itu... akan menjadi awal dari kisah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan mungkin... awal dari mimpi buruk atau mimpi indah yang akan mengubah hidupnya selamanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
63.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook