Malam turun dengan cepat di rumah Hartawan. Lampu-lampu gantung kristal menyala temaram, menyebarkan cahaya lembut yang menyelimuti setiap sudut ruangan mewah itu. Namun bagi Naya, rumah ini tetap saja dingin, sunyi, dan menyesakkan.
Di kamarnya yang sempit di lantai bawah, Naya terduduk lemas di tepi ranjang. Bayangan Tuan Muda Adrian masih mengganggu pikirannya. Sorot mata dingin itu, suara beratnya yang memerintah, sentuhan jemari dinginnya di dagunya... semua terpatri jelas di benaknya.
"Kenapa dia... melihatku seperti itu?" bisiknya sendiri.
Ia menggigit bibir bawah, berusaha mengusir bayangan itu dari pikirannya. Tapi semakin ia menolak, semakin kuat ingatan itu menjeratnya. Ia sadar, ini salah. Ia hanya pembantu rendahan. Ia tak seharusnya membiarkan dirinya terjebak dalam pesona pria sekelas Adrian Hartawan.
Namun hatinya... bodohnya, hatinya tak bisa berbohong.
Pikiran itu terhenti saat bel kamar kecilnya berbunyi. Suara itu menandakan bahwa salah satu majikan memanggilnya. Dengan cepat, Naya bangkit dan merapikan seragamnya. Jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat pada layar kecil di samping pintu: Tuan Muda yang memanggil.
Kenapa harus dia? Naya menelan ludah.
Ia melangkah menuju ruang kerja Adrian di lantai dua. Ruangan itu terkenal sebagai tempat paling pribadi dan tak banyak pelayan yang diizinkan masuk. Bahkan kepala pelayan pun pernah bilang, hanya Adrian yang menentukan siapa yang boleh menginjakkan kaki di dalam sana.
Tangannya sedikit gemetar saat mengetuk pelan pintu kayu mahal itu.
"Masuk," suara Adrian terdengar dari dalam, tenang namun menekan.
Dengan hati-hati, Naya mendorong pintu. Ruangan itu penuh dengan rak buku, sofa kulit hitam, dan aroma kopi yang menguar lembut bercampur dengan aroma maskulin khas Adrian. Pria itu duduk di kursi kerja besar, tubuhnya bersandar santai namun tetap memancarkan aura dominan. Setelan jasnya dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kokohnya.
"Ambilkan aku kopi hitam," ucap Adrian tanpa menoleh.
"I-iya, Tuan."
Naya segera melangkah menuju mesin kopi di sudut ruangan. Namun sebelum sempat menyentuh cangkir, suara Adrian kembali memanggilnya.
"Kenapa masih gemetar?"
Naya terdiam. Ia memalingkan wajah, menemukan mata tajam itu menatapnya lurus. Tatapan yang membuat lututnya nyaris lemas.
"S-saya... tidak, Tuan..." bohongnya sambil menunduk.
Adrian bangkit dari kursinya, mendekatinya perlahan. Naya bisa merasakan aura pria itu memenuhi seluruh ruangan, membuat udara menjadi sesak.
"Apa aku sebegitu menakutkan bagimu?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan yang menggetarkan.
Naya menelan ludah, tak mampu menjawab.
Adrian tersenyum miring. Ia berdiri di belakang Naya, membuat gadis itu membeku di tempat. Jemarinya terulur, menyentuh rambut Naya yang terurai rapi.
"Kau berbeda," gumam Adrian. "Kau... menantangku tanpa sadar."
Naya menahan napas. Apa maksudnya? Apa ini hanya permainan iseng Tuan Muda yang terbiasa mempermainkan pelayan? Ia ingin berkata sesuatu, namun suaranya hilang.
"Kalau aku ingin... aku bisa membuatmu berlutut di kakiku, Naya," bisik Adrian pelan di telinganya. "Tapi... aku lebih suka melihatmu melawan rasa takutmu."
Naya menutup mata, tubuhnya bergetar. Apa ini yang disebut kekuasaan? Seorang pria seperti Adrian... hanya dengan kata-katanya saja, sudah mampu membuatnya kehilangan kendali diri.
"Aku... aku hanya pelayan, Tuan," akhirnya Naya bersuara, suaranya lirih namun mencoba tegar.
Adrian terkekeh ringan, suaranya dalam namun menggoda.
"Itu yang membuatmu menarik. Kau tahu batasmu... tapi aku ingin lihat... sejauh mana kau berani melewati batas itu."
Mata Naya membulat. Apa artinya itu? Apakah Tuan Muda benar-benar sedang... mempermainkannya?
Adrian memalingkan wajah, berjalan kembali ke meja kerjanya. Ia duduk santai, menatap Naya yang masih terpaku.
"Kau boleh pergi," ujarnya datar. "Tapi ingat... aku selalu melihatmu, Naya."
Ucapan itu seperti ancaman yang manis namun menakutkan.
Dengan langkah gontai, Naya keluar dari ruangan itu. Dadanya bergemuruh hebat. Kakinya terasa lemas, tapi ia tahu... malam itu telah menandai perubahan besar dalam hidupnya. Batas yang selama ini ia bangun mulai runtuh. Dan ia tak tahu apakah ia bisa membangunnya kembali.
Di balik pintu, Adrian menyandarkan tubuh di kursinya. Senyum tipis terlukis di bibirnya.
"Permainan baru dimulai, Naya..."