Keesokan harinya, mentari pagi menyinari bangunan megah keluarga Hartawan. Namun bagi Naya, hari itu tak terasa berbeda. Ia bangun dengan kepala penuh kegelisahan. Pikirannya masih terjebak pada kejadian semalam. Sentuhan Adrian, tatapan matanya, ucapan yang penuh teka-teki—semuanya menghantui bahkan dalam tidurnya yang tak nyenyak.
"Apa aku sedang bermimpi buruk?" gumamnya sambil menatap cermin kecil di kamarnya yang sempit.
Wajahnya tampak pucat, mata sembab karena kurang tidur. Ia menggeleng pelan, memaksa dirinya kembali fokus pada tugas-tugas harian yang menantinya.
Namun hidup Naya tak semudah itu kembali normal.
Saat ia sedang menyapu taman belakang, suara berat itu kembali mengganggunya.
"Naya."
Tubuhnya menegang seketika. Ia memalingkan wajah, dan di sana, berdiri Adrian dengan pakaian kasual yang jarang ia lihat sebelumnya. Tanpa jas, tanpa dasi, hanya kaus putih polos dan celana training hitam. Tapi meskipun berpenampilan santai, aura Adrian tetap memancarkan kekuasaan yang tak bisa diabaikan.
"Tuan Muda..." Naya menunduk, mencoba mengendalikan suaranya.
"Aku butuhmu menemaniku hari ini."
Naya mengerutkan kening, mengira ia salah dengar.
"M-maksudnya, Tuan?"
Adrian mendekat, menatapnya lurus dengan sorot mata yang serius.
"Kau dengar. Aku butuh seseorang yang mengatur jadwalku di luar. Sopir dan sekretarisku cuti. Aku... lebih suka kau yang ikut."
Naya menelan ludah. Ini tak masuk akal. Kenapa dia? Di rumah ini ada banyak pelayan lain yang lebih senior, lebih berpengalaman. Kenapa harus dia?
Namun sebelum sempat ia mengajukan protes, Adrian sudah melangkah menuju mobil sport hitamnya.
"Kalau kau tak mau, bilang saja. Aku cari yang lain," ucap Adrian datar tanpa menoleh.
Naya terdiam. Ia tahu, menolak perintah Tuan Muda bisa berarti bencana bagi kariernya. Dengan langkah ragu, ia mengikuti Adrian masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan, suasana hening mencekam memenuhi kabin mobil mewah itu. Hanya suara musik klasik lembut yang mengalun, membuat Naya semakin canggung.
Ia mencuri pandang ke arah Adrian yang menyetir dengan santai namun fokus. Wajah pria itu tampak tenang, namun dari sorot matanya Naya bisa menangkap kelelahan yang tersembunyi. Sesekali Adrian menghela napas panjang, seolah menyimpan beban yang berat di pundaknya.
"Kenapa kau selalu menunduk?" tiba-tiba Adrian membuka percakapan.
Naya tersentak. Ia buru-buru mengangkat wajahnya.
"M-maaf, Tuan. Saya... saya terbiasa begitu."
Adrian meliriknya sekilas, senyum sinis terukir di bibirnya.
"Kalau kau terus begitu, aku bisa bosan. Aku ingin tahu... bagaimana wajahmu saat menantangku."
Ucapan itu lagi-lagi membuat wajah Naya memanas. Ia menunduk, menggigit bibirnya menahan emosi. Apa sebenarnya yang diinginkan pria itu darinya? Kenapa selalu mempermainkan emosinya?
Adrian tertawa kecil, seolah menikmati keterkejutan Naya.
"Menggemaskan," bisiknya pelan.
Mereka berhenti di sebuah kafe mewah di pusat kota. Naya mengikuti Adrian masuk, mencoba menahan rasa gugup yang mulai kembali menguasainya. Namun, di tengah keramaian itu, Naya bisa merasakan sesuatu yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, Naya melihat sisi Adrian yang lain.
Pria itu duduk di sudut ruangan, menatap kosong ke arah luar jendela. Tatapannya tampak kosong, penuh kesepian yang tak pernah ia perlihatkan di rumah. Naya mengamati dari kejauhan, menyadari bahwa mungkin... Tuan Muda yang selama ini terlihat sempurna itu pun menyimpan luka yang tak terlihat.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Adrian, memecah lamunannya.
Naya menggeleng cepat. "T-tidak, Tuan."
Adrian menyandarkan tubuh di kursi, menatapnya tajam.
"Kau tahu... semua orang menganggapku monster. Termasuk kau, kan?"
Naya terdiam. Ia ingin berkata tidak, tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri.
"Tapi kau salah. Aku cuma... terbiasa dikhianati. Jadi aku lebih suka membuat orang takut... daripada aku yang terluka," lanjut Adrian, suaranya pelan, nyaris seperti pengakuan yang jujur.
Kata-kata itu menusuk hati Naya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Adrian bukan sebagai Tuan Muda yang sombong dan arogan, tapi sebagai pria yang rapuh, yang berusaha melindungi dirinya sendiri dengan tembok yang tinggi.
"Saya... saya tidak tahu apa-apa tentang Tuan," bisik Naya, jujur.
Adrian menatapnya lama. "Mungkin... aku ingin kau yang tahu, Naya."
Kalimat itu membuat hati Naya bergetar. Apa artinya itu? Apakah... Tuan Muda benar-benar ingin membuka hatinya? Atau ini hanya permainan baru yang lebih berbahaya?
Naya menggenggam erat roknya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tapi ia tahu... hari itu, hatinya mulai membuka pintu kecil untuk pria yang selama ini ia benci.
Dan mungkin... itu adalah awal dari kehancurannya sendiri.