"Mak...jangan nangis, mana yang sakit?bilang sama saya," bisik Xander dengan suara bergetar, menandakan ia pun menahan air mata. Bulan tak menjawab, ia tahu bahwa saat ini Xander ada di belakangnya, bukan hanya ilusi atau mimpi. Bulan tambah sesegukan. Xander yang tak sabar, membalikkan pundak Bulan, menjadi terlentang. Xander mengusap air mata mak Bulan dengan lembut. Bulan masih menutup matanya, satu sisi dia merasa sedih, namun di sisi lain Bulan merasa sangat bahagia, Xander ada di dekatnya. Seakan inilah yang diinginkan, bayi dalam perutnya. Ajaib, dalam seketika sakit kepala Bulan sembuh. Namun, air matanya masih mengalir deras. "Ck, apaan sih bocah? Udah sana!" sentak Bulan pada Xander. "Udah jangan nangis lagi, jangan ngambek melulu, kasian dede bayinya kalau mak nangis gini,

