Selepas redanya pertengkaran antara aku dan Monika. Banyak pegawai yang langsung menolong dan bersimpati kepada perempuan itu, sedangkan aku tidak memiliki penolong satu pun kecuali Pak Kastara. Pria itu menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam ruangannya.
Sesampainya di sana, dia menarik ikat rambutku dan membiarkan rambutku tergerai sempurna. "Kepalanya sakit ya?" tanyanya dengan khawatir, "tadi saya lihat Monika narik rambut kamu kencang sekali," lanjutnya.
Aku menggeleng pelan lalu kedua mataku memandanya lekat."Pak, tadi saya yang narik rambut Monika duluan. Seharusnya Bapak yang menyalahkan saya, bukan malah Bapak yang menolong dan khawatir sama saya."
Pria itu menggeser duduknya lebih dekat denganku. "Letak kesalahannya bukan siapa yang lebih dahulu narik rambut, tetapi siapa yang lebih dahulu memulai pertikaian," ada jeda sebentar, "bukan kamu kan yang memulai?"
Aku terdiam cukup lama sampai akhirnya kedua mataku berkaca-kaca. Aku ingat kata-kata Monika yang menurutku sangat menyakitkan dan juga para pegawai lain yang bersikap tidak enak kepadaku.
"Bapak, saya mau cerita."
"Iya. Saya siap mendengarkan," balasnya cepat.
Setetes air mata turun dari pelupuk mataku. "Bapak. Saya udah enggak nyaman kerja di sini," aku terisak pelan, "suasananya bikin saya enggak nyaman. Saya udah tahan-tahan beberapa hari ini, tapi saya udah enggak kuat lagi, Pak. Mau resign aja."
Pak Kastara mengambil beberapa helai tissue lalu memberikannya kepadaku. "Hapus dulu air matanya," aku mengambil tissue itu lalu mengelap air mataku, "setelah lebih tenang lalu lanjutkan ceritanya."
Aku mengelap air mataku lagi lalu mengenggam tissue. "Tapi kalau saya cerita, saya takut dibilang pengaduan."
"Enggak. Enggak ada yang bilang begitu, Gia Anggita," ucapnya. Eh ternyata dia masih ingat nama panjangku.
"Kan takutnya," cicitku pelan.
"Cerita. Saya mau dengar."
Aku meneguk ludah lalu menatapnya dengan takut-takut. "Bapak. Banyak pegawai lain yang mengira kita dekat. Saya sampai dicap sebagai penggoda. Soalnya dimata mereka kita dekat banget," aku mengigit bibirku berusaha menahan isak tangis, "padahal kan mereka enggak tahu aja. Saya enggak pernah menggoda Bapak. Saya professional. Saya cuma ikuti perintah Bapak yang notabenenya atasan saya."
Pak Kastara terdiam sambil menatapku tanpa berkedip. Mungkin dia kaget dengan rumor ini.
"Bapak, saya enggak nyaman, bahkan didivisi marketing aja saya udah enggak nyaman. Rekan kerja saya bersikap enggak baik sama saya, kalau sudah begitu saya takut saya jadi enggak profesional dalam bekerja," lanjutku.
Pak Kastara mengangguk-angguk kecil. Sebelah kakinya menumpu di satu kakinya yang lain. "Kamu mau pindah posisi?" tanyanya,
Aku mengerutkan kening, tidak paham. "Maksudnya, Pak?" tanyaku meminta penjelasan.
"Ga perlu resign. Kamu ganti posisi dari divisi marketing menjadi sekretaris direktur. Bagaimana?" penawarannya yang begitu santai.
"Emangnya bisa, Pak?"
"Saya bosnya. Ya, bisa."
Aku menunduk sambil tersenyum kikuk. Kalau aku kekeuh ingin resign sekarang, aku belum tahu kedepannya akan bekerja dimana. Lagi juga zaman sekarang mencari pekerjaan susah. Aku butuh uang untuk kehidupanku.
"Terus Monika gimana? Jangan dipecat, Pak. Kasihan," ucapku mengingat nasip perempuan itu. Meskipun dia sudah menyakitiku, tetapi aku masih memikirkan karirnya.
"Dia turun jabatan."
Luar biasa sekali memang Bapak direktur utama ini, mengganti posisi pegawainya semudah membalikkan telapak tangan.
Aku ingin buru-buru menyetujui tawaran itu, tetapi seketika aku teringat pegawai lainnya. Takut semakin menjadi omongan kalau aku pindah jabatan karena permasalahan sepele ini.
"Bapak, saya mau sebenarnya, tapi takut kalau rumor itu semakin mereka percayai kalau saya diperlakukan istimewa seperti ini."
Pak Kastara terdiam sambil mengetuk-ngetuk kakinya di lantai. "Untuk memperbaiki nama baikmu, bilang saja kamu tunangan saya."
Seketika mataku membulat.
"Maksudnya, Pak?"
"Mau kamu yang deklarasikan hal itu atau saya?"
"Maksudnya, Pak?"
"Mulai sekarang, akui ya kalau kamu tunangan saya. Demi nama baik dan juga agar kamu lebih dihormati sama mereka."
Sumpah. Asli. Enggak paham banget.
"Kita pura-pura doang, Pak?"
"Kamu mau ini jadi serius?" aku hanya terdiam sambil terus menatapnya, "kalau iya, saya enggak keberatan."
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap di k********a!
Bagi yang ingin baca cepat, bisa diakses di sana ya, Luv!
Terdiri dari:
- Full e-book Mr. Controller and Me (54 Part ; 181 Halaman)
- Bagian Tambahan versi podcast/audio [Eksklusif di k********a]
Hanya dengan Rp29.000 kalian bisa akses semuanya tanpa menunggu
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ E-book _ Mr. Controller and Me _ TheDarkNight_)
3. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
4. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".